26

1503 Kata
Cloud dan kawan-kawan tiba di pasar gelap. Pasar gelap merupakan tempat yang terletak di bawah tanah. Tidak banyak orang yang tahu mengenai pasar ini, sehingga tidak banyak yang berkunjung ke sana. Akibatnya harga barang-barang pun melambung tinggi. Cloud dan kawan-kawan mencari Volenthium dari satu toko ke toko lainnya, tetapi tak satu pun yang menyediakan bahan tersebut. Hingga akhirnya mereka tiba di toko terakhir. "Jadi di sini juga tidak ada Volenthium?" tanya Cloud terlihat kecewa. Pelayan toko menggeleng. "Semua Volenthium habis dibeli seseorang, beberapa hari lalu." "Apakah akan ada pengiriman Volenthium baru di pasar gelap ini?" tanya Milk. Pelayan toko menghela napas. "Sepertinya tidak ada lagi. Volenthium diambil di Gunung Morva. Belakangan ini muncul makhluk menyeramkan di gunung tersebut. Awalnya banyak yang mencoba ke sana, tetapi tak satu pun yang kembali dengan selamat. Sekarang tidak ada yang berani bertambang di sana." Cloud mencerna pikiran cukup lama. "Baiklah, terima kasih atas informasinya. Cloud dan kawan-kawan pun keluar dari dalam toko. Mereka berkumpul di ujung jalan, dan membahas rencana selanjutnya. "Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Splash. "Aku harus mendapatkan Volenthium. Ini bukan sekadar memasang bagian tubuh Sodda ke tubuhku. Ini juga bukan sekadar untuk membangkitkan Sodda. Yang tak kalah penting, kalau Volenthium tidak bisa kita dapatkan, kita tidak mungkin bisa melawan mereka," jawab Cloud. "Apakah kalian bermaksud ke Gunung Morva?" tanya Sand. Cloud menangguk, membenarkan. "Iya. Kami harus ke sana." "Tapi kita tidak tahu makhluk mengerikan apa yang ada di sana," tukas Potato. "Aku akan menemani mereka," celetuk Eton, yakin, "kebetulan aku tahu lokasinya." "Maaf, aku dan Potato tidak bisa ikut," ujar Sand, "kami ada rapat anggota yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya." Cloud mengangguk. "Tidak masalah. Kami sudah terlalu banyak merepotkan kalian." Sand tersenyum seraya memakai mantel merah. "Berhati-hatilah. Setelah mendapatkannya kembalilah ke tempatku. Nanti kita temui Gold bersama-sama." Cloud mengangguk. Setelah itu Sand dan Potato pergi meninggalkan mereka. *** Di tempat lain, sosok bermantel merah melesat cepat di dalam hutan yang berada di wilayah pinggir Kota Ath, tepatnya di hutan yang bernama Loth. Hutan tersebut sunyi, dan berkabut. Di dalamnya terdapat pohon-pohon tinggi yang berdahan kurus dan runcing—seperti jari tengkorak. Tanah di sekitarnya tampak kering, dan pecah-pecah. Belum lagi bau bangkai yang menyengat, menguar dari celah-celah pecahan tanah, kian menambah kesan angker hutan itu. Namun, sosok bermantel tak ambil pusing dengan suasana tersebut. Ia terus melesat dengan kecepatan tinggi, menyibak asap di sekitarnya. Puluhan kilometer telah ditempuh, hingga akhirnya ia tiba di jalanan menurun yang curam, menuju sebuah lembah. "Akhirnya aku telah sampai," gumam orang berkerudung merah seraya mendarat di depan sebuah gerbang tinggi yang dijaga belasan orang. "Kami tidak mendapatkan perintah untuk mengizinkan seorang pun melewati gerbang ini! Kecuali—" Sosok bermantel mencengkeram kerah pemimpin para penjaga. "Apakah kamu tidak mengenalku?" tukasnya, seraya menarik kain yang menutupi wajahnya. Kontan penjaga tersebut pucat, dan gemetar. "Maafkan kelancangan kami, Monsieur." Ia pun berteriak memberi perintah pada anak buahnya, "Cepat buka pintu pagar!" "Hari ini kumaafkan, tapi tidak di waktu lain." Sosok bermantel berjalan memasuki gerbang. Nuansa mencekam di balik pagar sangat kentara. Jauh lebih suram dibandingkan di luar. Hewan-hewan seram bertebaran. Harimau bertanduk rusa, dan berbadan ular, ulat raksasa bersisik, serta berbagai hewan janggal lainnya terlihat di sana. Demikian pula dengan tanaman-tanaman yang bergigi runcing, dan berduri, tumbuh di sekitar area tersebut. Kedatangan sosok bermantel menarik perhatian para penjaga yang sedang berkeliling. Namun, tak ada satu pun yang berani mendekat. Sosok bermantel melintasi jalanan berbatu, menuju sebuah kastil besar, dan gelap. "Trasverum!" Hormat penjaga di depan pintu kastil. Sosok bermantel menatap penjaga dengan dingin, lalu berkata, "Aku ingin menghadap Dewan Aether." Kedua penjaga membungkuk, lantas memberi jalan kepada sosok tersebut. "Silakan." Ia mengangguk, lantas menyususri koridor panjang, hingga tiba di suatu ruangan besar. Di hadapannya, duduk orang-orang paling dihormati di kelompok pemberontak beraliran kiri tersebut. Kelompok itu berseberangan dengan Liberte, Bannière Rouge, dan pemerintah. Orang-orang yang duduk di dalam ruangan megah itu adalah Dewan Aether, yang terdiri dari lima orang. Semuanya mengenakan jubah, dan tudung hitam, sehingga wajah mereka tak terlihat. "Akhirnya kamu datang," sambut Ketua Dewan Aether yang duduk di tengah. "Trasverum, Dewan Aether Yang Mulia. Aku menghadap." Sosok bermantel membungkuk. Dewan Aether yang berada paling kiri pun berbicara, "Kudengar sekarang mereka menuju Gunung Morva, benarkah?" Sosok bermantel mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Mereka sedang dalam perjalanan ke sana. Salah satu orang kepercayaan Gold turut mendampingi mereka." "Orang kepercayaan Gold? Siapa orang yang kamu maksud itu?" tanya orang yang duduk di sebelah kiri Ketua Dewan Aether. "Eton Mess, Yang Mulia." "Ah, Eton Mess, manusia separuh android itu ...." Ketua Dewan Aether mengangguk repetitif. Orang berkerudung yang baru datang tadi mengangguk. "Sepertinya rencana kita sulit dilaksanakan karena Eton menjaga mereka." "Aku tidak peduli! Itu urusanmu untuk mempercepat penangkapan para buronan itu!" bentak Dewan Aether di sebelah kanan. "Benar. Apalagi energi Zardan semakin menguat. Hanya ia yang kelak dapat mengendalikan Zardan, dan berada dalam pengaruh kita." Ketua Dewan menerangkan. "Maaf Yang Mulia. Kita tidak boleh gegabah. Kalau sampai salah melangkah, bukan hanya Liberte dan Bannière Rouge yang akan mengejar kita. Pemerintah pun akan mengejar kita. Sementara ini pertikaian pemerintah drngam kedua kelompok itu, berhasil mengalihkan perhatian mereka pada kita. Hamba tidak bermaksud lancang, tetapi menurut hemat hamba, sebaiknya kondisi sekarang kita manfaatkan dengan baik." Kata-kata sosok bermantel membuat Dewan Aether berpikir. Mereka tahu kalau tiga kelompok tadi menyerang, kelompok mereka hanya tinggal sejarah. Kendati memiliki pengikut besar, kelompok mereka tidak akan mampu melawan tiga kelompok sekaligus. "Sudah bertahun-tahun kelompok kita bersembunyi seperti seekor kura-kura. Sebenarnya aku muak dengan kondisi kita. Tapi aku tahu kalau kita tidak bisa gegabah." Ketua Dewan Aether tercenung. "Meskipun Gunung Morva berbahaya, kita harus mengirim salah satu utusan terkuat kita ke sana." "Tapi makhluk apa sebenarnya yang ada di Gunung Morva. Menurut kabar yang beredar, makhluk itu berukuran raksasa. Dan tidak seorang pun yang pernah melihat makhluk seperti itu di tempat lain," timpal orang di samping kiri Ketua Dewan Aether. "Kalau tidak ada yang pernah melihat makhluk semacam itu, apakah mungkin kalau makhluk itu tidak berasal dari bumi?" celetuk oranh di sebelah kanan Ketua Dewan Aether. Semua yang ada di sana terdiam seraya mencerna pikiran. Satu kemungkinan itu membuat mereka khawatir sekaligus memancing rasa penasaran. Namun, semua itu baru dugaan. Tidak ada yang bisa memastikan kemungkinan itu sampai saat ini. Meskipun, kemungkinan itu bisa saja terjadi. "Hmm ... sangat mungkin. Walaupun belum dapat dipastikan. Satu-satunya cara adalah menyelidikinya secara langsung." "Gunung Morva berada tidak jauh dari tempat tugasku. Serahkan tugas tersebut padaku, Yang Mulia." Sosok bermantel, mengajukan diri. "Baik. Tapi jangan kamu sendiri yang melakukannya. Ingat, posisimu di dalam Liberte sangat strategis untuk mendukung rencana kita. Lagi pula, kalau sampai kedokmu terbongkar, semua yang kita rencanakan akan sia-sia." Ketua Dewan berkata. "Jangan khawatir, Yang Mulia. Akan kupikirkan cara yang tepat, tanpa aku turun tangan." "Bagus! Sekarang lekaslah kembali ke markas Liberte. Rencana kita harus segera dijalankan!" Sosok bermantel kembali membungkuk. "Aku tidak akan mengecewakan, Yang Mulia." Rencana gelap telah digagas sejak lama, tetapi agenda baru pun telah disusun. Tanpa diketahui banyak orang, markas Liberte menjadi tempat sentral pengendalian rencana tersebut. *** Pada malam harinya, Cloud dan kawan-kawan melintasi gurun sambil berjalan kaki. Setelah terbang cukup jauh, mereka memilih menyimpan energi meskipun akibatnya rasa lelah mereka makin berlipat-lipat. Mereka tidak mau energi mereka terbuang sehingga sulit menghadapi lawan yang bisa muncul tiba-tiba. Meskipun hari telah larut, anehnya, cuaca saat itu begitu panas, seolah-olah mereka berada di siang hari. "Apakah masih jauh, Eton?" tanya Splash sambil menyeka keringat di keningnya. Eton mengangguk. "Kita belum sampai setengah perjalanan." Kata-kata itu membuat Splash tersentak. "Apa?! Rasanya hampir seharian kita sudah menempuh perjalanan, tetapi kita belum sampai perjalanan. Ini benar-benar gila." Milk melirik Splash yang dibasahi peluh. Sebenarnya bukan hanya Splash yang merasa lelah, mereka semua pun demikian. "Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar?" usul Milk. Eton menggeleng. "Di sini bukan tempat yang aman untuk beristirahat. Di daerah ini banyak hewan-hewan buas yang bersembunyi dan menunggu mangsanya lengah. Selain itu juga banyak kelompok perampok." "Apakah ada tempat singgah di dekat sini?" tanya Cloud. Eton mengusap layar hologramnya. Tak lama kemudian muncul peta hologram di hadapannya. "Ada Kita Yerth, kurang lebih jaraknya dua kilometer dari sini. Aku tidak tahu kota apa itu. Tapi sepertinya itu kota kecil dan merupakan kota baru." "Ah, aku tidak peduli itu kota baru atau lama. Aku hanya ingin beristirahat sebentar," tukas Splash. Milk mengangguk setuju. "Selain itu kita harus mengisi tenaga Orreo dan Orange." "Kita tidak bisa memaksakan diri. Kalau tetap dipaksakan justru akan berbahaya," timpal Cloud. Eton mengangguk. "Baiklah. Menurutku kita terbang saja. Lagi pula sampai sana kita bisa mengisi energi." Cloud dan kawan-kawan mengangguk. Kemudian mereka terbang dan melesat ke arah barat. Mereka memacu kecepatan cukup tinggi, menyibak udara. Jarak yang ditempuh untuk tiba di Kota Yerth pun terasa pendek. Hanya kurang dari lima belas menit, akhirnya mereka sampai di Kota Yerth. Namun, keadaan kota itu tidak seperti yang mereka bayangkan. Kota itu sangat gelap tanpa ada satu pun cahaya yang menerangi. Tidak ada seorang pun yang terlihat di dalam kota itu. Bangunan-bangunan di dalamnya sudah rusak dan tak terawat. Ya, mungkin kota itu sudah lama ditinggalkan penduduknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN