27

1667 Kata
Cuaca panas berangsur-angsur berubah dingin. Angin pun berembus meniup kotoran-kotoran yang berserakan di jalanan. Kesunyian itu sangat mencekam. Namun, Cloud dan kawan-kawan tidak juga memutuskan pergi. Mereka terpaku di sana, menyelisik keadaan sekitar. "Ada apa dengan kota ini?" tanya Splash, setengah bergumam. Eton menggeleng. "Aku sering bepergian menjalankan tugas, tetapi belum pernah sekalipun aku ke kota kecil ini. Aku juga belum pernah dengar kota kecil ini." "Apakah ini kota hantu?" Splash tampak ketakutan seraya mengedarkan pandangan, takut-takut. Mendengar itu Milk terkekeh. "Kamu seorang ilmuwan, tapi percaya dengan hantu?!" Splash mendengkus kesal. "Masih banyak misteri yang belum diketahui ilmuwan, termasuk hantu." "Ah, sudahlah." Cloud menengahi. Meski begitu, Splash masih terlihat kesal, sementara Milk berusaha menahan tertawa. "Sekarang bagaimana? Apakah kita tetap di sini, atau kita lanjutkan perjalanan?" tanya Eton. "Menurutku kita pergi saja. Lagi pula tidak ada listrik di sini. Percuma, kita tidak bisa mengisi energi Orange dan Orreo," tukas Splash. "Kalau menurutku kita beristirahat sebentar. Walaupun tidak bisa mengisi energi Orange dan Orreo, kita tetap butuh istirahat. Aku khawatir kalau kita memaksa melanjutkan perjalanan, justru akan berbahaya," ujar Cloud. Milk mengangguk setuju. "Aku sependapat dengan Cloud." Splash menghela napas. "Terserah ...." Mereka duduk di teras sebuah bangunan. Perjalanan panjang yang mereka tempuh membuat mereka kelelahan. Cloud, Milk, dan Eton terlelap, sementara Orange dan Orreo pun dalam mode "rest", hanya Splash yang masih terjaga. Ia tidak bisa tidur lantaran merasa ketakutan, karena mendengar suara orang yang melangkah menghampiri mereka. Buru-buru ia nyalakan Orange. "Orange, aku mendengar sesuatu." "Tidak ada apa-apa, Spla—" Brak! Tiba-tiba atap bangunan jebol dan membuat Cloud dan kawan-kawan sontak terbangun. Namun, belum sampai kesadaran mereka pulih, sesosok bayangan hitam menyerang mereka. "Awas!" Beruntung! Orange berhasil menghalau serangan itu. Cloud dan kawan-kawan melihat sosok di hadapannya. Ia adalah seorang perempuan berambut panjang. Seluruh tubuhnya dibalut baju latex berwarna hitam. Bagian hidung dan mulutnya tertutup kain berwarna hitam. Perempuan itu menatap Cloud dan kawan-kawan dengan mata menyala-nyala. "Siapa kamu dan apa maumu?" bentak Eton. Perempuan itu terkekeh. "Seorang perampok tentu saja menginginkan harta." "Perampok ...." Eton mengamati perempuan itu dari ujung kaki ke ujung kepala. "Perampok tanpa kelompok yang berkeliaran di daerah ini. Jangan-jangan kamu adalah buronan pemerintah Belgia yang disebut "Shadow"?!" "Itulah aku!" Shadow berkelebat dan merangsek Cloud dan kawan-kawan dengan serangan tajam. Namun, Cloud dan kawan-kawan tidak tinggal diam. Mereka menerjang Shadow dengan serentak. Eton mengeluarkan kemampuannya. Tangannya bergerak membentuk lingkaran-lingkaran dan merangsek ke depan. Sementara itu sebelah tangannya menembakkan energi yang melesat ke arah Shadow. Namun, dengan sigap Shadow menepis serangan itu. "Kemampuanmu memang hebat! Tapi jangan remehkan kami!" teriak Splash yang sudah berada di dalam ruang kemudi Orange. Tangan kiri Orange melakukan gerakan berputar. Sedangkan tangannya yang lain melancarkan tinju yang sama-sama cepat. "Ayo! Mari kita habisi sama-samq!" Clouf tak tinggal diam dan kembali merangsek. Ia menembakkan energi-energi ke arah Shadow. Serangan demi serangan dari Cloud dan kawan-kawan tak membuat Shadow limbung, semangatnya justru terpantik. Pedangnya diangkat ke udara. Seluruh tubuhnya diselimuti cahaya yang berpendar sangat terang. Kemudian mengibaskan pedang ke arah Milk dan Orreo. Dari pedangnya melesat cahaya secepat kilat. Mendapati serangan mendadak, Milk dan Orreo tak sempat mengelak. Mereka terhempas ke belakang sejauh tiga meter. "Aaargh!" Dari bibir Milk mengalir darah segar. Sementara Cloud terpaksa mengeluarkan energi yang selama ini disimpan, meski harus menanggung risiko terluka. "Cih! Kamu memaksaku!" seru Cloud melompat ke atas sejauh dua meter. Kedua tangan Cloud diangkat ke udara. Perlahan-lahan tubuhnya yang diselimuti asap tebal. "Bagus! Akhirnya kalian membuat pertarungan ini menarik! Tapi tetap bukan lawanku!" Shadow berteriak seraya melesat dengan pedang terarah ke Orange. Shadow melemparkan cahaya-cahaya energi ke arah Eton yang sedang berputar di tempat. Saat cahaya-cahaya tersebut tinggal berjarak satu meter, Eton berkelebat sambil mengibaskan tangan. Energi Shadow bertenaga besar, tetapi tampak tak berarti bagi Eton. Semuanya pupus dikibas tangannya. Meski sudah menduga Eton Mess menyimpan energi besar, tetap saja Shadow terkejut. Kehebatan Eton di atas perkiraannya. Apalagi Eton bergerak cepat dan merangsek ke arahnya. Tangannya dialiri aliran energi yang berkilatan dan siap menerjang Shadow. Alih-alih surut melihat serangan dahsyat yang datang, Shadow justru tergelak. "Benar-benar menyenangkan! Sudah lama aku tidak mendapat lawan sehebat kalian!" Shadow mengentakkan kaki ke lantai hingga amblas, lantas menyambut serangan Eton. Eton dan Shadow bergerak bagai kilat. Pertarungan keduanya tak sanggup ditangkap Cloud dan kawan-kawan. Sampai beberapa saat keduanya berimbang. Karena tak sabar meringkus Eton, Shadow meningkatkan energinya. Pedangnya bergerak ke lima arah angin, membentuk energi yang mengurung Eton. Meskipun berupaya lepas, Eton tak bisa bergerak. Sesaat kemudian, cakar Shadow mendera Eton dan menghempaskannya. Eton tak menyangka Shadow menyerang dengan cakar sehingga menjadi korban keganasannya. "Hahaha! Kamu pikir aku hanya mengandalkan pedang saja?!" seru Shadow seraya mendekati Eton yang terluka dalam dan menyeret tubuhnya menjauh. Cloud dan kawan-kawan tidak tinggal diam. Mereka merangsek Shadow yang bersiap menyambut. Pertarungan Cloud dan kawan-kawan dengan Shadow pun makin memanas. Sementara itu, diam-diam Eton memantik tombol manual di tangannya untuk mengisi energi. Ia bersiap-siap untuk melawan Shadow kembali dengan energi yang lebih besar daripada sebelumnya. Hanya Eton yang tahu siapa Shadow sebenarnya sehingga ia terpaksa mengeluarkan energi yang jaranh dikeluarkan. Mengetahui Cloud dan kawan-kawan meningkatkan serangan, Shadow tak berani meremehkan. Ditingkatkannya energi yang berkekuatan lebih besar. Shadow melanting ke atas sejauh tiga meter, lalu menukik deras ke arah Orange. Pedangnya bergerak cepat ke segala penjuru, hingga terlihat seperti ratusan. "Siapa kamu sebenarnya?" seru Cloud sambil berkelit dan menepis serangan yang dilancarkan Shadow. "Jangan lupakan aku!" teriak Milk. Milk menyerang dari arah depan. Tangannya diselimuti asap putih lalu menerjang cepat. Aura yang mengelilingi Milk menunjukkan kalau ia tengah mengeluarkan energi ke tingkat yang lebih tinggi. Serangannya tidak hanya kuat, tetapi juga cepat. Diserang dua Cloud dan Milk, sama sekali tidak membuat Shadow takut. Segera dikerahkannya energi di pedangnya. Pedangnya bergerak lembut seperti mengikuti angin, tetapi sesungguhnya sangat berbahaya. Perlahan-lahan angin di sekitar mulai terhimpun membentuk selubung angin dan mengurung Cloud, Orange, Milk, dan Orreo. "Jangan pikir kami menyerah, Shadow!" Milk mengubah gerakan. Serangannya berbelok ke atas mengarah ada atap selubung angin. Tiba-tiba menguar asap dari sangkar, membuat tenaga Cloud dan kawan-kawan melemah. Beruntung, Orange dan Orreo merupakan android dan tidak terpengaruh asap itu. Mereka segera menghancurkan selubung angin. "Terima kasih, Orreo, Orange," tukas Cloud, tersengal-sengal. Akan tetapi semua sudah diperhitungkan Shadow yang segera lmengangkat pedang ke udara, tak lama kemudian tubuhnya diselimuti cahaya yang berpendar sangat terang. Sedetik kemudian dikibaskannya pedang, lalu meluncur cahaya secepat kilat ke arah Cloud dan kawan-kawan. Blar! Serangan Shadow berbelok dan mendera bangunan. Rupanya Eton telah kembali dan menghalau serangan Shadow. "Kamu ...." Shadow kembali menerjang. Melihat serangan dahsyat datang, Eton Mess pun tak tinggal diam. Ia mengolah tenaga ke tingkat yang lebih tinggi. Tangan kanan Eton mengeluarkan cahaya kuning. Setelah itu ia mengombinasikannya dengan tangan kirinya yang diselimuti cahaya biru. Perpaduan serangan kedua tangan Eton bergulung hebat ke arah Shadow. Cloud dan kawan-kawan pun ikut menyerang Shadow. Orange dan Splash tak ingin tertinggal. "Terima ini, Shadow" Splash mengendalikan Orange dan mensinergikan energinya. Tubuh Orange berputar di tempat seperti gasing hingga menimbulkan pusaran angin yang dahsyat dan mengisap daerah sekitar. Shadow menyambut serangan ganas Orange yang tertuju ke arahnya. Pertarungan di antara Orange, Orreo dan Eton dengan Shadow berlangsung seimbang. Sudah puluhan menit dilalui, tetapi belum ditemukan yang lebih unggul. Diam-diam Cloud dan Milk memperhatikan pertarungan itu sambil mengisi energi yang cukup terkuras. Keduanya menyaksikan pertarungan itu dari jarak yang cukup aman. "Cloud, bagaimana kondisimu?" tanya Milk. Cloud mengangguk. "Jangan khawatirkan aku. Pulihkanlah energimu terlebih dahulu, supaya nanti kita bisa membantu teman-teman kita." "Benar. Kita harus membantu mereka. Kalau dilihat dari pertarungan yang seimbang, dengan bantuan kita pasti dapat mengalahkan perampok gila itu." "Seimbang? Tidak. Pertarungan ini berat sebelah," tukas Cloud, mengejutkan Milk. "Apa maksudmu, Cloud?" "Lihatlah Shadow. Dia lebih banyak menyerang dengan berhati-hati. Artinya ia sedang mengamati untuk mendapatkan kelemahan Eton, Orange dan Orreo. Sebaliknya dengan mereka." Cloud melayangkan pandangan pada teman-temannya. "Cukup separuh tenaga kita pulih, lalu kita bertarung." Milk mengangguk. "Oke, Cloud." Sementara itu, di dalam pertarunga, Shadow mulai terlihat sedikit di lebih unggul. Tebasan pedangnya menyulitkan Orange dan Orreo. Sebagai android yang dapat menganalisis, mereka tahu kalau keadaan tetap seperti ini, mereka akan terancam. Demikian pula dengan Eton yang berpengalan dalam pertempuran. "Hei, teman-teman. Energi kita tidak serasi, sehingga ia dapat memanfaatkannya," tukas Splash. Orreo menjawab dari kotaknya, "Benar. Sebaiknya kita mengeluarkan energi yang serasi." Eton mengangguk. "Aku setuju. Keluarkanlah energi lain, aku akan menyusul dan menyesuaikan agar serangan kita serasi." "Kalau begitu aku duluan!" Orange melesat ke atas sejauh lima meter kemudian menukik ke arah Shadow. "Perampok busuk! Kamu berhasil memaksaku mengeluarkan energi terkuat! Rasakan sendiri akibatnya!" Kedua tangan Orange terapit dan berputar seperti topan. Perlahan-lahan dua tangannya dialiri energi listrik yang berkilatan. "Cerdas. Ia mengeluarkan energi yang dapat selaras dengan Orreo. Baiklah, kalau begitu ...," gumam Eton lantas berkelebat ke arah Shadow sambil mengeluarkan kemampuan andalannya. Kali ini perpaduan jurus Eton, Orange dan Orreo tak bercelah. Serangan mereka bergulung-gulung tanpa jeda dan mendesak Shadow. Orange segera mengeluarkan sinar energi yang mengurung Shadow. Beberapa saat berikutnya, tinju Eton dan tembakan Orreo berhasil membuat Shadow terhempas keras ke lantai ruangan. Meski dalam keadaan unggul, Eton, Splash dan Orreo tak menurunkan kewaspadaan. Mereka segera mengeluarkan energi susulan. Namun, lawan mereka justru tergelak. "Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini!! Tapi asal kalian tahu! Aku belum mengerahkan kemampuan terbaik." Usai berkata demikian, separuh tubuh Shadow mengeluarkan asap hitam dan tebal. Setelah itu perlahan-lahan kulit dan dagingnya menguap hingga menampilan separuh tubuh android. Separuh wajah, leher, hingga badan tampil tanpa daging dan kulit—memperlihatkan besi-besi. Seluruh tubuhnya diliputi api hitam yang berkobar dan menyala-nyala. Shadow menyelisik lawan-lawannya seraya menyeringai. "Hari ini sangat sempurna sebab kalian memaksaku mengeluarkan kemampuan ini. Tapi itu artinya ...." Shadow melesat dengan kecepatan mengerikan, dan seketika telah berada di hadapan Eton, Orreo, dan Orange. "Terima kematian kalian!" Blar! Ledakan besar terjadi. Tanah berguncang. Debu dan asap memenuhi udara. Bangunan-bangunan di sekitar pun hancur berantakan. Namun, pada saat asap memudar, Shadow tersentak. Dilihatnya Cloud dan Milk menghalau serangannya dengan sempurna. "Apa?!" seru Shadow terkejut. Cloud tersungging. "Jangan pernah meremehkan kami, Shadow." "Kamulah yang akan merasakan kekalahan. Bersiap-siaplah!" bentak Milk, merasa berang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN