Puluhan kilometer dari Grotte du Crane. Seorang pria memacu kecepatan dengan kencang. Peluh membasahi seluruh badannya. Wajahnya pucat, matanya menunjukkan perasaan takut luar biasa! Pakaian militer yang ia kenakan terlihat robek-robek. Tiba-tiba empat buah pisau laser meluncur cepat dan menancap di kedua kaki android yang ia tunggangi, membuat android itu jatuh dengan keras. Pria itu terlempar ke tanah. Kaget bukan kepalang, ia mendongak. Di hadapannya berdiri sesosok bertubuh tinggi yang mengenakan topeng dan pakaian merah. Tangannya memegang lima buah pisau laser, masing-masing dijepit di sela-sela jarinya. Walaupun ia mengenakan pakaian tertutup, pada bagian d**a, bajunya sedikit menonjol. Jelas sudah, kalau jati diri orang bertopeng ini adalah seorang perempuan.
"Biarpun nyawaku melayang, rencana kalian tetap akan gagal!"
"Jangan banyak bicara! Aku kirim kamu ke neraka!"
Pisau laser-pisau laser di tangan sosok bertopeng melejit dan memecahkan kepala pria itu. Pria itu berteriak, lalu meregang tanpa nyawa.
Pada waktu yang bersamaan, di sebuah rumah di daerah lain. Tampak seorang pria kekar sedang merebahkan diri sambil matanya mengamati gadis yang menghampirinya. Gadis itu berambut panjang lurus dan berwarna kemerahan. Umurnya sekitar dua puluh lima tahun. Wajahnya lonjong membingkai matanya yang indah. Hidungnya yang mancung sangat serasi dengan bibirnya yang tebal dan merona merah. Kecantikan gadis itu benar-benar luar biasa.
"Selamat tinggal...," gumam gadis cantik.
Pria kekar terkejut, tetapi terlambat. Seenergi kemudian, tangan gadis cantik menghunjamkan pisau laser ke jantung pria kekar tanpa ampun. Pria kekar terbelalak meregang nyawa. Tamatlah riwayat pria kekar yang tak lain adalah petinggi Pemerintah Jerman. Sebenarnya petinggi tersebut memiliki kemampuan dan energi yang tinggi. Namun, keadaan tadi benar-benar tidak ia duga, sehingga ia tidak sempat mempertahankan diri.
Seperti tak terjadi apa-apa. Gadis itu berkelebat meninggalkan tempat itu. Kematian dua orang anggota penting Pemerintah Jerman sontak membuat geger. Apalagi pembunuhnya tidak diketahui, membuat motif dibalik pembunuhan itu tetap menjadi misteri.
***
Cloud dan kawan-kawan duduk di sebuah rumah makan sambil menyantap makanan mereka. Perjalanan panjang membuat mereka kelaparan. Pantas saja, kali ini mereka mengisi perut di sebuah rumah makan.
"Cloud, makananmu belum habis?" tanya Splash sambil menyantap makanan di piringnya dengan lahap.
Cloud tidak menjawab, ia keheranan melihat nafsu makan Splash. Sudah tiga tumpuk piring Splash habiskan.
"Ka-kamu mau makan? Kalau tidak, biar aku habiskan!" ujar Splash seraya mengambil makanan Cloud tanpa menunggu jawaban.
Cloud ternganga melihat Splash menghabiskan makanannya. "Splash. Hati-hati nanti kamu sebulay Orange!"
"Hmm ... mmph ... mana mungkin!"
Cloud menghela napas. Dialihkan pandangannya pada dua orang yang berada di seberang meja. Sayup-sayup ia mendengar percakapan mereka soal kejadian menggegerkan akhir-akhir ini. Karena tertarik, ia pun mempertajam pendengarannya.
"Kamu tahu? Petinggi Lasagna ditemukan tewas dalam keadaan yang sangat mengenaskan! Dan anehnya, kematiannya bersamaan dengan tewasnya petinggi Tiramisu! d**a Tiramisu juga berlubang! Ia tewas dalam keadaan yang juga sama mengenaskannya."
"Aneh ... mereka terkenal akan kehebatannya. Kira-kira siapa pelakunya?"
"Justru itu susahnya! Tidak ada saksi mata yang melihat kejadian itu."
"Iya. Dan sampai sekarang tujuan pembunuhan itu belum diketahui."
"Hmmmm ... mereka berdua adalah orang penting Pemerintah Jerman. Apa mungkin tujuannya untuk melemahkan pemerintah? Mungkin saja pembunuh mereka adalah utusan dari Para pemberontak atau Prancis yang ingin menyerang Pemerintah Jerman, atau mungkin juga akan ada dari negara lain."
"Mungkin juga. Tapi biarlah, toh itu urusan pemerintah. Bukan urusan rakyat miskin seperti kita."
"Ya, kamu benar."
Cloud tertegun setelah mendengar percakapan kedua orang itu. Perasaannya mengatakan bahwa Pemerintah Jerman sedang terancam.
"Cloud ... Cloud!" Suara Splash membuyarkan lamunan Cloud. "Ditanya dari tadi diam saja." Splash kesal.
"Iya, maafkan aku. Memangnya tadi kamu tanya apa?"
"Setelah ini kita mau ke mana?"
Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah belakang. Sontak keadaan rumah makan menjadi ramai, banyak orang-orang penasaran ingin tahu ada kejadian apa di sana. Cloud dan kawan-kawan juga tak luput dari rasa penasaran. Mereka bergegas menghampiri suara keributan berasal.
"Gadis kurang ajar! Tempo hari kamu sudah membunuh saudaraku! Dendamku sedalam lautan! Groupe Jaune tidak akan melepaskanmu! Jangan harap kamu keluar dari sini ini hidup-hidup!" bentak pria tinggi besar dan berambut perak pada orang di hadapannya. Pria itu tidak sendiri, ia bersama empat orang kawannya mengelilingi seorang gadis.
Perempuan itu kira-kira berusia sekitar delapan belas tahun. Rambutnya hitam lurus dengan potongan rambut pendek seperti laki-laki. Pada wajahnya yang oval, terdapat sepasang mata lebar, bulu mata lentik, alis tebal dan hidung yang pipih mungil serta bibir yang tipis, membuat wajahnya terlihat manis. Kulit sawo matang membungkus tubuhnya yang tinggi. Celana merah gadis itu panjang dan gombrong menutupi kakinya yang jenjang. Tangannya memegang lima pisau laser kecil yang masing-masing pisau laser dijepit di sela-sela jari.
"Kalau kalian mau menyusul saudara kalian ke neraka, akan aku kabulkan! Bersiaplah menerima energiku!" Gadis itu mengentakkan kaki dan melesat keluar rumah makan sambil mengibaskan kedua lengannya. Ia memang sengaja keluar dari rumah makan, agar ia bisa lebih leluasa bergerak.
Groupe Jaune melesat dan langsung menerjang gadis manis tersebut. Kaki gadis itu berputar di tempat, lengannya menyabet ke berbagai arah. Mulanya lambat, lama kelamaan menjadi semakin cepat. Serangan itu membuat Groupe Jaune ragu-ragu untuk menyerang. Melihat lawannya tak berani menyerang, perempuan itu mengentakkan kakinya, membuat tanah yang ia pijak melesak tiga jari. Lalu senjata yang sedari tadi dijepit di jari-jarinya melesat cepat menerjang Groupe Jaune.
Cloud, Eteon, Bleu, dan Splash yang melihat kemampuan gadis berbaju merah terkesiap. Lebih-lebih, baru kali ini mereka melihat serangan yang dilancarkan gadis itu.
"Hebat sekali serangannya. Tapi baru kali ini aku melihatnya."
"Itu serangan khas Fete de la Rouge. Partai itu sudah lama tidak muncul. Wajar kalau banyak orang tidak tahu serangan gadis itu." Eton menerangkan. Ia bukan hanya berkemampuan tinggi, tetapi juga berwawasan luas.
Pertempuran antara gadis baju merah dan Groupe Jaune mulai berjalan tidak seimbang. Serangan gadis itu benar-benar membuat lawannya pontang-panting.
"Dasar gerombolan perampok busuk! Terimalah ajal kalian!"
Teriakan gadis itu menghenyak Groupe Jaune, mereka melanting berusaha menghindar. Namun, ternyata tak satu pun serangan yang mengejar mereka. Melihat kesempatan tersebut, gadis baju merah melesat meninggalkan tempat itu dengan kemampuan meringankan tubuh yang luar biasa.
"Gadis pengecut!"
Tanpa pikir panjang Groupe Jaune melesat mengejar gadis baju merah.
"Kalian tunggu di sini! Aku mau mengikuti mereka!" seru Eton.
"Tapi kita harus segera mencari Volenthium!"
Eton tak mengacuhkan kata-kata Cloud, lantas ia melesat. Baru beberapa saat, ia kembali lagi ke tempat itu.
"Cepat sekali larinya gadis itu. Gerombolan itu juga tak berhasil menemukannya," ujar Cloud memberitahu. Melihat wajah Splash yang penuh tanda tanya, Cloud melanjutkan.
"Kita tunda dulu keberangkatan kita. Nanti di penginapan akan aku jelaskan alasanku."
Cloud dan kawan-kawan mengangguk. Kemudian keduanya berjalan mencari penginapan. Sesampainya di penginapan, Eton menjelaskan alasannya menunda keberangkatan mereka.
"Jadi menurutmu ada bahaya yang mengancam Pemerintah Jerman?" tanya Splash setelah mendengar penjelasan Eton.
"Begitulah. Setelah mendengar pembicaraan di rumah makan dan melihat kemunculan anggota Fete de la Rouge, makin menguatkan keyakinanku. Pemerintah Jerman menentang Prancis dan Belgia. Ketua kami sedang mencoba bekerjasama denmgan mereka. Gara-gara masalah ini aku khawatir semuanya berantakan.” Eton menerangkan.
"Maksudmu Fete de la Rouge ada di balik pembunuhan Tiramisu dan Petinggi Lasagna?" tanya Cloud.
Eton mengangguk, lalu melanjutkan, "Fete de la Rouge adalah partai kejam yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Moon. Partai itu kekejiannya tak terukur. Mereka tega berbuat apa saja demi tujuan mereka. Aku pernah melihat dua desa menjadi korban mereka. Semuanya tewas mengenaskan, termasuk anak-anak dan perempuan. Ada yang ususnya terjurai, ada yang kepalanya terpotong tiga, macam-macam. Yang jelas mereka kejam sekali."
Bleu bergidik sekaligus geram mendengar kekejian Fete de la Rouge. Tapi ia melihat satu kejadian janggal. "Kalau memang katamu mereka kejam, lantas kenapa gadis tadi tidak membunuh Groupe Jaune, padahal kemampuannya jauh di atas mereka?"
"Kalaupun perempuan tadi tidak menghabisi Groupe Jaune, aku yakin karena ia tak ingin keberadaan Fete de la Rouge terbongkar. Bisa-bisa pembunuhan Tiramisu dan Petinggi Lasagna dituduhkan pada mereka sehingga bisa membuyarkan rencana yang telah mereka susun."
Kata-kata Eton memang masuk akal. Pantas saja gadis tadi menghindari pertempuran. Padahal kalau ia mau, bisa dengan mudah menghabisi nyawa gerombolan itu.
"Aku rasa kalau kita bisa meringkus Moon, maka kejadian yang tidak kita harapkan akan dapat dicegah. Waktu kita memang tidak banyak, tapi aku yakin masih cukup untuk menguak tabir Fete de la Rouge."
"Energi kita belum pulih sepenuhnya. Bagaimana mungkin menghadapi mereka?"
Mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Splash, Eton tersenyum. "Jangan takut kalau kita benar Kawan. Kejahatan akan selalu dikalahkan oleh kenbaikan. Baiklah, nanti malam aku mau mencari tahu mengenai Fete de la Rouge. Sebaiknya kalian tidak usah ikut."
"Kita harus pergi bersama. Energimu belum terisi. Jelas tidak mungkin kamu sanggup menghadapi orang berkemampuan tinggi. Kamu pasti ingat ketika di Grotte du Crane? Kalau kita tidak melawannya bersama, mungkin kini jasad kita sudah dimakan burung gagak di sekitar Grotte du Crane. Memang nanti kita hanya menyelidiki, tapi bisa saja kita dihadang orang dan android berkemampuan tinggi."
Kata-kata Cloud memang benar. Langkah apa pun tidak bisa diputuskan dengan gegabah. Apalagi mereka sedang menjadi buruan banyak orang.
Pada malam harinya. Di dalam sebuah istana modern. Tampak seorang gadis berwajah manis berbaju merah mengayunkan kakinya yang jenjang, berjalan melewati koridor modern. Di kedua sisi koridor, berbaris belasan wanita cantik mengenakan pakaian merah dan berkerudung. Belasan wanita cantik merunduk ketika gadis itu berjalan melewati mereka. Sepertinya gadis berbaju merah cukup disegani di tempat itu. Setelah belasan langkah, gadis jangkung berkulit sawo matang menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari batu modern. Ia melihat seorang gadis berwajah ayu telah menunggunya di sana. Wajahnya yang lonjong dibingkai rambut panjang lurus berwarna kemerahan. Gadis itu memiliki tinggi rata-rata perempuan kebanyakan, tetapi dibandingkan gadis sawo matang, tingginya belum seberapa. Gadis itu tak lain adalah orang yang telah merenggut nyawa Tiramisu.
"Ketua telah menunggu kita di dalam, Sun."
"Baik Star."
Kemudian dua orang gadis menawan memasuki ruangan di balik pintu modern. Ruangan itu besar sekali. Selain dinding-dinding minimalis, terdapat berbagai macam hiasan yang berwarna emas tertata apik di ruangan itu. Di kanan kiri, belasan wanita berbaju merah berdiri dengan meter di tangan. Di ujung ruangan, berdiri sebuah ranjang emas bertakhta berlian. Di atasnya terdapat seorang wanita. Wajah wanita itu berbentuk oval. Matanya lebar dan memiliki bulu mata lentik. Hidungnya yang mancung berpadu dengan bibirnya yang merah dan tebal. Ia adalah sang pemimpin yang bernama Moon.
"Kalian tahu? Apa yang selama ini kita rencanakan adalah demi sebuah tujuan besar."
Kata-kata Moon bergema di ruangan itu. Kakinya melangkah mendekati sebuah lukisan yang tergantung di salah satu dinding. Di dalamnya terdapat gambar seorang wanita cantik berparas ayu berambut hitam lurus dan panjang.
"Bertahun-tahun pendiri partai kita mengabdi pada Pemerintah Jerman. Namun justru pemerintah itu mengkhianatinya. Begitu dianggap sudah tidak berguna, beliau dibuang seperti sampah! Dikhianati Tiramisu dan Lasagna! Hingga akhirnya beliau melarikan diri ke hutan ini, memperdalam kecerdasan dan kemampuan, lalu mendirikan Fete de la Rouge. Semua itu beliau lakukan demi satu tujuan! Membuat Pemerintah Jerman rata dengan tanah!"
***