35

1717 Kata
Beberapa jam kemudian, di kantor kepresidanan, tepatnya di ruangan Presiden Storm. Jendral Volt baru tiba di depan ruang Presiden Storm. Keraguan dan kecemasan tampak di wajahnya, lalu dia mengetuk pintu, takut-takut. Sedetik kemudian terdengar seruan dari dalam ruangan yang memintanya masuk ke dalam. Jendral Volt pun masuk ke ruangan. Di dalam ruangan, Presiden Storm menatapnya tajam; wajahnya merah padam, jelas sekali kalau kekesalannya sedang meradang. “Kamu tahu kenapa aku memanggilmu?” tanya Presiden Storm, sedikit membentak. Jendral Volt hanya bisa menunduk dalam-dalam, kemudian bicara lirih, “Maafkan keteledoranku, Presiden Storm.” “Sudah aku katakan kalau bekerja yang becus! Tapi kenyataannya kesalahan yang sama selalu diulangi. Aku bingung harus bilang bagaimana supaya perintahku benar-benar bisa dijalankan dengan baik. Coba lihat ini!” Presiden Storm menekan remot lalu muncul gamar di layar hologram di hadapan mereka. “Lihat! Pekerjaan macam apa itu!” Jendral Volt melihat layar itu, takut-takut, lalu berkata, “Aku mohon diberi kesempatan memperbaikinya.” Presiden Storm menghela napas kasar. “Baik. Tapi ini yang terakhir kalinya dan kamu tetap akan aku berikan sanksi. Kalau sekali lagi melakukan kesalahan, jangan harap sanksinya sekadar denda. Paham?” Jendral Volt mengangguk. “Baik< Presiden Storm.” "Hanya burnonan seperti mereka anak buahmu tidak bisa menangkap mereka?! Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kamu dan anak buahmu membuatku malu!" bentak Presiden Storm, dengan nada gusar. "Maaf, Presiden Storm. Kami tidak menduga Gold mengirim Eton untuk membantu mereka. Lagi pula Belgia tidak benar-benar mau membantu kita, Presiden." Jendral Volt memberi alasan. Kening Presiden Storm mengerut, sambil jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Pikirannya pun melayang, mencoba mencari penyebab kejanggalan tersebut. "Bagaimana kalau kita putuskan hubungan kerja sama dengan pemerintah Belgia?" usul Jendral Volt, tiba-tiba. Presiden Storm mencoba menimbang saran Jendral Volt, tetapi pada akhirnya ia tetap pada keputusannya. "Tidak mungkin kita memutuskan kerja sama . Situasi politik kita dengan Jerman sedang memburuk, dan kita butuh dukungan bElgia. Kalau sampai kita memutuskan hubungan dengan Belgia, mereka bisa mengalihkan dukungan pda Jerman." Presiden Storm mengeluarkan kotak hitam kecil dari sakunya. "Antarkan kotak ini ke Alpha, malam ini juga." "Presiden Storm, Alpha tidak bisa dikendalikan. Ia selalu bertindak sesuka hati." "Aku tahu apa yang kulakukan, Jendral Volt." Presiden Storm menatap tajam pada Jendral Volt. "Ba-baik, Presiden Storm. Aku akan segera ke Bukit Xiera." Jendral Volt membungkuk, kemudian keluar dari ruangan Presiden Storm. “Aku tidak habis pikir, Presiden Storm meminta bantuan Alpha. Dan yang paling menyebalkan, akulah yang harus menemuinya,” gumam Jendral Volt berjalan di koridor, sampai tiba di halaman. Jendral Volt menjentikkan jari tiga kali, tak lama kemudian Ampere terbang lalu mendarat di dekatnya. Ampere adalah android berbentuk naga. "Ada apa Jendral Volt?" "Kita ke Bukit Xiera!" "Dari sekian banyak tempat, kenapa harus ke sana?!" keluh Ampere, yang lantas tubuhnya membesar sampai bisa ditunggangi Jendral Volt. "Ini perintah Presiden Storm. Sudahlah kita ikuti saja." Ampere tak mengatakan apa-apa, seraya mengepakkan sayapnya, melesat di udara. Diam-diam ada seseorang yang memperhatikan kepergian Jendral Volt dari balik tirai. Sudut bibirnya terangkat, setengah menyeringai. "Bagus, sesuai yang direncanakan." *** Ampere mengepakkan sayap, menyibak udara di sekitarnya. Meskipun pemandangan indah terhampar di bawah, sorot matanya tak teralihkan. Tidak demikian dengan Jendral Volt, kendati sudah belasan kali mengunjungi Bukit Xiera, ia selalu merasa terpukau. Gundukan-gundukan bukit hijau terhampar luas bagai diselimuti permadani. Pohon-pohon raksasa berdiri dengan jarak berjauhan. Hewan-hewan lucu dan indah pun tersebar di hamparan zamrud tersebut. Namun, rasa takjubnya memudar, tatkala Ampere melayang rendah, lalu mendarat di pekarangan rumah kecil yang di kelilingi taman bunga. "Jangan bertengkar dengan Omega, Amp," tukas Jendral Volt melayangkan pandangan pada seekor android kelelawar yang menggantung di dahan pohon. "Tentu, asal dia tidak memulai pertengkaran." Ampere memandang tajam pada kelelawar bernama Omega tersebut. Omega mengepakkan sayapnya tiga kali. "Untuk apa kalian datang?! Pergi! Pulanglah! Kalian tidak pantas berada di sini!" "Dasar android tidak tahu balas budi! Tidak ingatkah dulu kami menyelamatkanmu?!" bentak Ampere marah. "Aku pun telah menyelamatkan kalian!" Omega mengepakkan sayapnya dengan cepat, menunjukkan gestur marah. "Amp, tidak usah meladeninya supaya kita tidak berlama-lama di sini." Jendral Volt berusaha menenangkan, kemudian berseru, "Alpha! Keluarlah!" Berulang kali Jendral Volt memanggil, tetapi tetap tak mendapatkan jawaban. Jendral Volt belum menyerah, dan terus memanggil, "Aku datang atas perintah Presiden Storm!" Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka. Rupanya teriakan terakhir Jendral Volt, berhasil memancing penghuni rumah ke luar. Ia adalah seorang laki-laki berbadan kurus dan berkulit pucat. Rambutnya hitam, dan panjang hingga ke punggung. Wajahnya tirus, dengan mata cekung, hidung mancung, dan jenggot panjang yang menjuntai sampai d**a. "Masuk," ucap pria bernama Alpha tersebut dengan nada beku. Setibanya Jendral Volt di dalam, ia menyerahkan kotak hitam dari Presiden Storm kepada Alpha. Alpha mengamati kotak hitam dengan saksama. Setelah usai, dimasukkannya kotak hitam tersebut ke sakunya. "Tidak usah lama-lama di sini. Jawab dua pertanyaanku, lalu pulanglah." Meskipun kesal, tetapi demi memenuhi perintah Presiden Storm, Jendral Volt mencoba bersabar. "Apa saja pertanyaanmu?" Alpha mengambil kotak perak dari dalam lemari di sudut ruangan. "Ah, menyiapkan jawaban penolakan untuk Presiden Storm?" tanya Jendral Volt sinis. Alpha tak menghiraukan pertanyaan Jendral Volt, seraya memutar kotak tersebut. "Mengapa kalian yakin Gold membantu mereka?" "Menurut cerita anak buahku, banyak saksi yang melihat Eton bersama para buronan itu. Dan kamu pasti tahu bagaiamana kehebatan Eton Mess, ‘kan?!" Mendengar jawaban itu, Alpha tersenyum. "Bodoh." "Apa maksudmu?" Alih-alih menjawab, Alpha mengajukan pertanyaan berikutnya. "Maksudku jelas. Kalau ada yang menganggap Eton Mess luar biasa, berarti ia sangat bodoh. Bagiku, ia tidak ada apa-apanya." Jendral Volt menatap Alpha sesaat. Meskipun terkesan sombong, Alpha memang dikenal memilikimkekuatan yang mengerikan. Bahkan ia merupakan salah satu mantan Jendral terkuat yang pernah mengabdi pada Prancis. "Ceritakan sampai mana usaha kalian menangkap mereka," tukas Alpha, dengan nada memaksa. Walaupun masih diselimuti rasa kesal, tetapi Jendral Volt mengikuti keinginan Alpha. Ia menceritakan detail, kejadian yang dilihatnya melalui layar hologram, menunjukkan laporan yang didapatkan dari anak buahnya kalau jejak mereka susah ditemukan . Selain itu mereka juga mendapat laporan kalau Eton bergabung bersama Cloud dan kawan-kawan. "Kalau memang anak buahmu kesulitan menemukan mereka, kenapa kamu tidak menyusul mereka? Atau jangan-jangan kamu takut menghadapi Eton Mess?” tanya Alpha. "Hah! Takut? Tidak ada takut dalam kamusku! Selama Presiden Storm belum memerintahkanku, aku tidak mungkin melakukannya!" Alpha tergelak. “Itu karena Pr3esiden tahu kamu tidak akan sanggup, Karena itu ia menyuruhku!” “Apa katamu?!” Jendral Volt melotot, marah. Alpha menyeringai, dan tampak tak peduli. "Berikan kotak ini pada Presiden Storm." Jendral Volt mengambilnya dari tangan Alpha. "Kalau bukan karena menghormati Presiden, sudah kurobek-robek mulutmu!" "Lekas pulang." Alpha membuka pintu rumah. "Kamu masih menyebalkan, seperti dulu," gerutu Jendral Volt, ke luar dari kediaman Alpha. *** Setelah sampai di markas Liberte pada malam hari, keesokan harinya Cloud dan kawan-kawan telah berada di depan kediaman Sand. Mereka sedang menunggu Sand di sana. "Sepertinya Sand sedang sibuk," tukas Splash. "Beliau memang sedang ada keperlu—" "Itu dia!" Orange menginterupsi Potato. "Siapa yang bersamanya?" tanya Cloud, melihat seorang perempuan berjalan di sebelah Sand. Perempuan itu memiliki rambut hitam sebahu, dan berombak. Pada wajahnya yang oval, terdapat sepasang mata lebar, dengan pupil safir, hidung mancung dan pipih, serta bibir yang melengkung sempurna. Ditambah lagi dengan tinggi dan lekuk tubuh yang proporsional, kian menunjang kesempurnaannya. "Mungkin dia senior yang akan menemani kita ke menemui Gold," terka Splash. Dugaan Splash tidak meleset. Setelah Sand tiba, ia menjelaskan kalau perempuan itu adalah Weather, salah seorang Jendral Liberte yang akan turut serta menemani mereka bertemu dengan Gold. "Kurasa kalian belum saling mengenal," ujar Sand. "Weather adalah salah satu Jendral tertinggi di Liberte, tentunya selain Potato. Jadi kalian akan mendapat teman perjalanan yang dapat diandalkan. Maaf, semula aku berniat menemani kalian, tetapi ada keperluan mendesak yang tidak bisa aku tinggalkan. Tapi jangan khawatir, ada Potato dan Weather.” Weather mengedarkan pandangan pada Cloud dan kawan-kawan. "Kalian tidak boleh bergantung pada kami. Aku sudah meminta izin ketua untuk menguji kalian. Ah, maksudku hanya menguji kalian tanpa Eton Mess, tentunya.” Sand tersenyum. "Kalian tidak perlu khawatir. Tes ini hanya untuk menilai kesiapan kalian. Kalau belum sanggup mengalahkannya, terpaksa perjalanan harus ditunda." "Kamu tahu kalau energi kami menurun, ‘kan?!" Cloud berkata. "Benar. Tapi bukan itu tujuan tes ini," jawab Sand, “kalian akan tahu alasanku nanti. Apakah sekarang kalian takut pada Weather?" Cloud tersenyum. "Tentu tidak." "Bagus. Kalau begitu bersiaplah. Pada akhir hitungan mundur, pertarungan akan dimulai." Sand pun mulai menghitung. "Kalian jangan berharap aku akan menjadi pengasuh." Weather berkata sinis pada Cloud dan Splash. "Jangan-jangan nanti justru kamu yang kami asuh." Splash berkata, tak kalah sinis. Weather tak membalas. Sudut bibirnya terangkat. "Miserable, datanglah." Tak lama kemudian, seekor kupu-kupu android raksasa terbang, lalu melayang di samping Weather. "Bersiaplah." "Aku selalu siap, Weather," jawab Miserable. Sementara itu, Cloud dan kawan-kawan pun telah siap. "Tiga ..., dua ..., satu!" Bersamaan dengan akhir hitungan Sand, kedua pihak menghambur. Sebagai android andalan Weather, kekuatan Miserable tidak perlu diragukan. Akan tetapi Cloud dan kawan-kawan juga tak bisa diremehkan. Miserable melontarkan angin yang menggulung ke arah lawan-lawannya. "Ray Shield!" Cloud berseru, melindungi kawan-kawannya. "Saatnya menyerang balik!" Splash, Cloud, Milk, Orreo dan Orange turut menyerang serentak. Di serang dari empat sisi, Weather berputar di tempat, seperti gasing. "Tornado!" Weather berteriak, seraya putarannya membuyarkan serangan Cloud dan kawan-kawan. "Hanya itu serangan kalian?!" "Masih ada aku! Over Blast!" Weather berseru, saat meluncur deras ke arah Cloud dan kawan-kawan. Blar! Serangan itu menimbulkan ledakan dahsyat, mencerai-berai sekitar, dan menimbulkan asap tebal. Beruntung, Cloud dan kawan-kawan berhasil menghundari serangan itu. "Luar biasa ...." Cloud dan kawan-kawan tercengang menyaksikan energi Weather dan Miserable. Akan tetapi Weather tampak tak mengendurkan kewaspadaan. "Itu baru serangan awal.” “Kalian bersiaplah! Kita harus menyatukan semua kekuatan!" Cloud berseru pada temannya yang lain. "Cukup!" Sekonyong-konyong Sand menghentikan pertarungan. “Sudah selesai?” tanya Weather, tak puas. Cloud dan kawan-kawan pun merasa heran. "Tujuan latihan ini bukan untuk mengerahkan segenap kemampuan, tetapi untuk menilai kesiapan mental kalian. Kekuatan Weather dan Miserable kerap membuat ciut nyali lawan, tetapi kalian sama sekali tidak gentar." Sand menghentikan kalimat sejenak. "Lagi pula jangan sampai latihan ini melukai kalian, atau perjalanan kalian akan terganggu." Weather masih terlihat belum puas. "Lain kali kita lanjutkan latih tanding ini." "Tentu harus seizinku, Weath," ujar Sand. Merasa kesal Weather menjentikkan jarinya. Miserable pun berubah menjadi cahaya kemudian masuk ke dalam kantung bajunya. Perjalanan menemui Gold bukan perjalanan yang mudah. Meskipun tahu akan menghadapi rintangan berat, tetapi mereka tidak menyangka kehadiran mereka telah ditunggu sang pembawa petaka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN