Cloud dan kawan-kawan masuk ke dalam goa. Setelah menelusuri goa, akhirnya mereka tiba di satu tanah lapang. Di sana terdapat sebuah pesawat besar. Menilik dari jenis pesawatnya, jelas kalau pesawat itu bukan berasal dari bumi. Bentuknya lonjong dan tumpul di kedua ujungnya, mirip seperti sebatang rokok. Cloud dan kawan-kawan pun mendekati pesawat tersebut, tetapi tiba-tiba melesat kabel besar yang menarik Cloud. Eton, Splash dan Orange terkejut. Mereka pun berusaha masuk ke dalam pesawat. Sia-sia! Berkali-kali menembak, bagian pesawat sama sekali tidak berlubang. Bahkan lecet pun tidak.
Saat mereka kebingungan, tiba-tiba Orange berseru, "Cepat ke sini! Kita bisa melihat Cloud di dalam!"
Eton dan Splash pun menghampiri. Mereka melihat Cloud berada di dalam ruangan. Ruangan itu sangat gelap, sehingga Cloud tidak bisa melihat apa-apa. Cloud memberanikan diri, kemudian masuk ke dalam ruangan. Begitu pintu ruangan tertutup, lampu-lampu menyala di setiap sudut ruangan. Maka tampaklah sosok hewan mengerikan penghuni ruangan.
"Oh, Tuhan!" Cloud memekik melihat penampilan menakutkan makhluk di hadapannya.
Hewan mengerikan itu adalah anjing berkepala tiga. Ukuran tubuhnya sepuluh kali lebih besar dari ukuran anjing kebanyakan. Dari mulutnya, mencuat taring-taring runcing yang mengerikan. Meskipun bulunya berwarna putih dengan tutul cokelat, tetap saja anjing itu terlihat menakutkan. Apalagi ia menatap tajam ke arah Cloud.
"Makhluk apa ini?" Cloud menjerit, saat anjing itu tiba-tiba berlari ke arahnya. Beruntung, ia cepat bereaksi sehingga terhindar dari serangan. Teman-temannya yang melihat dari luar pun bergidik ngeri.
Anjing berkepala tiga memutar badan, menghadap Cloud. Ia tampak marah, karena serangannya berhasil dihindari. "Kamu orang pertama yang ... grrr ... sanggup menghindar dari ... grrr ... seranganku. Tapi tidak kali ini!"
Kepala bagian tengah anjing tersebut menjulur ke depan seperti karet, dan menerjang Cloud. Cloud tidak menduga serangan itu, sehingga terhempas ke dinding. Cloud meringis, menahan sakit. Ia pun mencoba berpikir jernih. Ia menyelisik hewan buas di hadapannya dengan teliti dan berusaha mencari kelemahannya. Sayang, ia tidak memiliki data yang cukup untuk mengidentifikasi makhluk itu sehingga sulit menemukan kelemahannya.
Saat tengah berupaya mencari kelemahan anjing berkepala tiga, serangan kembali datang. Kali ini ketiga kepala melesat cepat. Untungnya Cloud dapat menghindar. Namun, kegagalan tersebut menyulut amarah anjing berkepala tiga semakin menjadi-jadi. Keadaan Cloud membuat teman-temannya khawatir. Mereka menyaksikan pertarungan itu dari kaca pesawat.
"Kenapa Profesor Reufille tidak berusaha melawan anjing itu?" tanya Splash, resah.
"Mungkin ia masih menyimpan tenaga untuk satu serangan yang mengakhiri pertarungan." Eton berpendapat.
Orange pun setuju. "Menurut kalkulasiku ia mempertaruhkan semua tenaganya untuk satu serangan nanti."
“Sepertinya tidak. Bagiku tidak masuk akal kalau ia mempertaruhkan hidupnya pada satu serangan,” ujar Splash.
Eton diam sejenak, lalu berkata, “Aku setuju dengan Orange. Kupikir Cloud merasa energinya telah terkuras, sehingga ingin mempertaruhkan pada satu serangan terakhir.”
"Jadi maksud kalian, Cloud tidak bisa benar-benar kehabisan energy karena itu ia mau mempertaruhkan semua pada satu serangan?" tanya Splash.
"Benar. Bukan hanya itu, anjing itu bukan berasal dari planet kita, sehingga Cloud tidak dapat menemukan kelemahannya. Satu-satunya yang paling masuk akal untuk melawannya yaitu dengan mengerahkan semua energi pada satu serangan," sahut Eton.
"Gawat! Kalau sekalipun nanti Profesor selamat ia bisa tewas karena kehabisan energi," ujar Splash.
Orange yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka, merasa harus menjelaskan hal yang ia ketahui. "Profesor Orang yang genius. Aku yakin ia tidak sekadar bertaruh, tetapi jugha memperhitungkan segala kemungkinan.”
“Tapi dalam setiap kemungkinan, tidak dapat dipastikan keberhasilannya, Orange,” tukas Splash.
"Kamu benar. Tapi daripada tidak memiliki perhitungan sama sekali." Eton menjawab.
Pandangan ketiganya kembali beralih pada Cloud dan anjing berkepala tiga. Cloud terengah-engah, seraya memandang hewan mengerikan di hadapannya. Sudah setengah jam ia hanya menghindar dari serangan anjing berkepala tiga. Bahkan luka di tubuhnya semakin banyak.
“Kalau hanya menghindar, aku tidak akan bisa mengalahkannya. Tapi aku juga tidak melihat kelemahannya …, tunggu …, sepertinya ada anjing itu selalu melindungi lehernya, ” gumam Cloud, menatap anjing tersebut.
Saat tengah berpikir, anjing berkepala tiga kembali menerjang dengan cepat. Cloud menghindar ke samping, tetapi hewan mengerikan tersebut tak memberi kesempatan bernapas. Ketiga kepalanya menjulur, dan menghantam Cloud, hingga menghempaskannya dengan keras.
"Aaaah!" Cloud menjerit. Lengannya berdenyut-denyut akibat serangan tersebut.
Kondisi Cloud yang semakin buruk, tak luput dari perhatian teman-temannya yang menyaksikan pertarungan tersebut dari luar pesawat.
"Gawat! Kalau pertarungan ini diteruskan, Profesor Reufille bisa terbunuh!" seru Splash, yang terlihat sangat cemas.
"Splash benar, Eton. Kita harus mencari cara untuk menerobos masuk," ujar Orange, seraya mengepalkan tangannya.
"Tunggu, Orange!" Eton berseru, menghentikan Orange.
"Tunggulah lima menit lagi. Aku yakin keajaiban akan datang."
Orange menatap Eton selama beberapa saat. Melihat keyakinan Eton, ia pun mengurungkan niat, dan kembali ke tempatnya.
Sementara itu, Cloud masih mengerang kesakitan. Untung saja anjing berkepala tiga tak melanjutkan serangan.
"Hmm ... grrr ... menyaksikan makhluk seperti kalian menderita ... grrr ... benar-benar membuat hatiku senang. Rasa sakit, dan luka hati kalian ... grrr ... sungguh hiburan terbaik bagiku. Namun, yang paling membuatku gembira ... grrr ... adalah keputusasaan," ujar anjing berkepala tiga, berjalan mendekati Cloud.
"Putus asa? Jangan harap!" Cloud berlari, berusaha menyerang hewan mengerikan itu. Namun, usahanya sia-sia. Anjing berkepala tiga tidak bergeming ketika tinju Cloud memukulnya berulang kali.
"Hahaha! Apa yang ... grrr ... kamu lakukan ... grrr ... hanya membuatku tergelitik!" Anjing berkepala tiga pun tergelak.
Cloud bukanlah laki-laki bodoh. Ia tahu kalau pukulannya tidak berarti bagi anjing berkepala tiga. Namun, ia memiliki tujuan lain.
“Dugaanku benar. Anjing ini terlalu sombong sehingga meremehkanku. Pertahanannya menjadi terbuka. Sekarang tinggal mempraktikkan kesimpulanku! Aku harus membuatnya lengah lalu menembak lehernya!” Cloud menarik tangannya ke belakang, lantas mengayunkannya ke depan dengan cepat. Kepalan tangan Cloud diselimuti bola api merah, dan menghunjam keras ke leher anjing kepala tiga yang di tengah. Pukulan itu membuat anjing berkepala tiga terjengkang.
Teman-teman Cloud yang menyaksikan pertarungan tersebut tersentak. Mereka bersorak melihat Cloud berhasil membalikkan keadaan.
"Wuhu!" Eton melompat, sambil mengepalkan tangannya di udara.
"Aku tidak menyangka Cloud menyimpan kekuatan sebesar itu!" teriak Splash, girang.
"Baru kali ini aku menyaksikan energi sekuat itu!" Eton pun turut kagum.
Mereka beramai-ramai memuji Cloud, tapi tiba-tiba Orange angkat suara, "Jangan senang dulu. Serangan itu belum cukup untuk mengalahkan anjing berkepala tiga."
Memang benar apa yang dikatakan Orange. Hewan mengerikan tersebut bangkit kembali. Matanya menatap Cloud dengan tajam. Napasnya menderu. Kemarahan anjing berkepala tiga sudah memuncak. "Grrrm ..., kamu menipuku!" bentak anjing berkepala tiga.
Cloud pun tersenyum. "Aku tidak menipumu. Tapi memanfaatkan kesombonganmu."
"Grrrr ..., jangan banyak bicara! Grrr ..., kita akhiri saja pertarungan ini!"
"Baiklah, kalau itu maumu!"
Cloud, dan anjing berkepala tiga sama-sama berlari. Keduanya mengerahkan segala kemampuan. Asap kuning menyelubungi seluruh tubuh hewan mengerikan tersebut. Kekuatannya pun meningkat puluhan kali. Sementara itu, kedua tangan Cloud diselimuti cahaya api yang sangat terang.
Saat jarak keduanya semakin dekat, tiga kepala anjing menjulur, bertepatan dengan tangan Cloud yang mengayun ke depan. Pertemuan kedua mengerikan menimbulkan ledakan dan dentuman hebat. Lantai di tempat ledakan menjadi berserakan. Dinding yang dihempaskan energi mengerikan pun menjadi rusak. Pemenang pertarungan itu belum diketahui, karena keduanya terhalang asap tebal. Eton dan Splash menjadi resah, menanti hasil. Segala kemungkinan berkecamuk di kepala mereka.
Sesudah beberapa menit, asap berangsur-angsur memudar. Sosok Cloud, dan anjing berkepala tiga mulai tampak. Hingga di saat seluruh asap menghilang, Cloud dan anjing berkepala tiga tengah berdiri kukuh. Mereka terengah-engah. Mengerikan yang dikeluarkan tadi, telah menguras seluruh tenaga.
"Hahaha! Grrr ... tidak kusangka ... grrr ... sejak berada di planet ini ... grrr ... akhirnya ada yang mengalahkanku ... grrr ... kamulah orang pertama ... grrr ...setelah ... grrr ... yang mengalahkanku ...." Anjing berkepala tiga terhuyung, kemudian jatuh dan tak lagi bergerak.
"Aku ... menang," ucap Cloud. Tubuhnya terasa lemas, sehingga ia pun jatuh terduduk di lantai ruangan.
Suasana menjadi sunyi. Eton dan Splash masih tercengang setelah menyaksikan ujian yang dilalui Cloud. Butuh waktu beberapa menit untuk menyadari kemenangan Cloud. Ketika itu terjadi, terdengar suara pintu tebuka dari pesawat. Mereka buru-buru masuk ke dalam pesawat.
“Profesor Reufille!” Splash berlari mendekati Cloud. “Masukkan ke dalam ruang kendalimu, Orange!”
Orange pun membuka ruang kendali, lalu Eton dan Splash memasukkan Cloud ke dalamnya.
Cloud mengerjap dan berkata lirih, “Jangan lupa ambil Volenthium.”
Eton mengangguk kemudian mengedarkan pandangan. Tak jauh dari tempat mereka berada terdapat bebatuan seperti permata yang berrwarna kuning, berkilauan. Eton dan Splash bergegas dan mengambil bebatuan itu dan memasukkannya ke dalam bagasi di tubuh Orange.
“Ayo. Kita harus segera kembali,” tukas Eton.
Mereka pun melesat dengan kecepatan tinggi ke luar dari dalam pesawat. Perjalanan yang harus mereka tempuh, cukup jauh. Namun, mereka tidak ingin berlama-lama mengingat kondisi Cloud yang makin lemah.
***
Sementara itu di tempat lain, Milk baaru saja keluar dari dalam tabung penyembuhan. Luka dalam yang ia alami berangsur-angsur pulih. Wajahnya tak lagi pucat seperti ketika baru mendapatkan luka itu. Potato dan Sand yang membantu perawatan Milk pun tampak senang melihat keadaan Milk yang membaik. Namun, tak ada yang lebih gembira dibandingkan Orreo. Lampu di tubuhnya berkalap-kelip cepat.
“Akhirnya kamu pulih,” ujar Orreo melalui kotak komunikasinya.
Milk tersenyum. “Terima kasih. Ini semua berkat kalian.
Sand balas tersenyum. “Kami senang bisa membantu.”
“Oh iya. Apakah ada kabar dari Cloud?” tanya Milk.
Potato menggeleng. “Aku juga heran,komunikasi kami terputus. Kami mencoba menghubungi mereka berkali-kali tetapi selalu tidak bisa terhubung.”
Mendengar itu Milk tampak gelisah dan tertegun selama beberapa saat. “Biar aku dan Orreo menyusul mereka.”
“Jangan tergesa-gesa, Kawan. Kamu masih perlu beristirahat delapan jam lagi. Tunggulah sampai besok. Kalau mereka belum juga datang, aku dan Potato akan menemanimu menyusul mereka.”
“Aku setuju dengan Ketua. Perjalanan ke sana sangat berbahaya. Kalau kita memaksakan berangkat sekarang, aku khawatir kita tidak dapat bertemu mereka, dan justru akan menemui masalah,” tukas Potato.
Milk mencerna pikirannya. “Baiklah. Kalau sampai besok mereka belum datang, kita harus menyusul mereka.”
Sand mengangguk. “Pasti. Setelah kita bertemu mereka, kami akan membawa kalian menemui Gold. Kita akan membicarakan rencana selanjutnya untuk menghadapi pemerintah Prancis dan Belgia.”
Milk, Potato, dan Sand tidak tahu kalau teman-teman mereka sedang dalam perjalanan. Namun, perjuangan mereka masih panjang dan penuh rintangan. Apalagi pihak lawan pun makin mempersiapkan diri dengan kekuatan yang lebih besar lagi.
***