33

1693 Kata
Dua sosok bertopeng merah berjongkok di dahan sebuah pohon. Kedua sosok bertopeng itu tak lain adalah Star dan Sun. Mata mereka mengamati ke bawah. Lima orang pengendara motor berpakaian tentara Jerman melintas. Pengendara motor yang berada di tengah memiliki badan paling besar di antara yang lain. Rambutnya panjang menjuntai. Wajah pria itu persegi dengan rahang yang kukuh, sedangkan dagunya ditumbuhi jenggot tipis. Sorot matanya tajam melihat lurus ke depan. Hidungnya mancung dan agak bengkok ke dalam. Alis matanya tebal dan hitam. Kulit pria itu berwarna cokelat. Walaupun berbadan lebih besar di antara yang lain, usianya lebih muda, sekitar 27 tahun. Dialah Comet, Petinggi tentara Jerman termuda selama negara Jerman berdiri. Jantung Sun berdegup kencang melihat Comet. Hatinya perih mengingat pria itulah yang harus ia habisi. Pria yang pernah menyelamatkannya dari cengkeraman Ice. Kekaguman akan sifat kesatria dan kegagahan pria itu tak pelak membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Tetapi apa daya, pria itu berada di pihak musuh. "Sun, itu buruan kita,s Comet!" Setelah berkata demikian, Star melesat dan menerjang kelompok pengendara motor. Melihatnya melesat, mau tak mau Sun mengikuti dari belakang. "Tentara Jerman! Serahkan nyawa kalian!" Dengan garang Star melibaskan pisau-pisau laser ke arah para pengendara motor, sedangkan Sun berputar-putar menerjang lawan-lawannya. Para pengendara motor bukan prajurit rendahan, mereka memiliki energi yang tak bisa diremehkan. Pedang laser mereka menghambur dan menusuk-nusuk ke arah perempuan-perempuan bertopeng. Tetapi Star dan Sun masih terlalu tangguh bagi mereka. Dalam beberapa saat, keempat prajurit tentara Jerman tewas meregang nyawa. Comet murka, ia menebaskan sebilah pedang laser besar ke arah kedua perempuan bertopeng. Gerakan pedang laser Comet penuh tenaga dan lincah. Berputar dan menusuk-nusuk, seolah-olah membuat pedang laser itu menjadi banyak. Energi Comet setingkat dengan Ice. Terang saja, kedua perempuan bertopeng terdesak. Tetapi Star tahu, Sun tidak benar-benar mengerahkan kemampuannya. "Cih! Cepat habisi laki-laki ini!" Baru saja Star selesai bicara, pedang laser besar Comet menyabet ke arah kepala Star dan Sun. Cepat sekali. Kedua perempuan itu berkelit, tetapi kedua topeng mereka berhasil dicabik pedang laser Comet. Comet terkejut bukan kepalang. Bukan karena penyerangnya adalah dua perempuan cantik, tetapi salah seorang di antara mereka adalah perempuan yang pernah ia selamatkan. Gadis manis yang wajahnya selalu membayanginya. Melihat Comet terkejut, Star tak membuang-buang waktu. Lima buah pisau laser meluncur deras ke arah Comet. Untung olah energy Comet begitu tinggi. Kelima pisau laser itu berhasil ia tepis dengan pedang laser besar. Namun, ia tak sempat menghindar ketika Star langsung merangsek dengan menembakkan energinya. Tiba-tiba Sun menyeruak dan menangkis serangan Star. "Sun! Kenapa menghalangiku?" "Cukup Star! Aku tidak sanggup menjadi alat pembunuh ketua lagi!" Star geram mendengar jawaban Sun. Ia mengentakkan kaki dan menyerang Sun tanpa ampun! "Berani melanggar perintah ketua! Kalau begitu, kalian rasakan akibatnya!" Energi yang dikeluarkan Star menerjang Sun dengan hebat! Sun berkelit sambil melancarkan energi yang luar biasa. Serangan Sun tak kalah hebat. Dengan cepat kedua tangan Sun mengarahkan pisau laser ke depan, menariknya, menghunus lagi, menarik lagi, terus seperti itu. Kaki dan badannya berputar-putar ke depan. Namun, sebagai anak buah yang paling dipercayai Moon, hampir semua energi ketuanya sudah ia kuasai. Sehingga tingkat olah energi Star masih berada di atas Sun. Dalam beberapa saat, serangan Star berhasil merepotkan Sun. Comet yang melihat Sun terdesak, merangsek ke arah Star. Diserang dari dua arah oleh dua orang berenergi tinggi, kini giliran Star yang kewalahan! Akhirnya sebuah sabetan pedang laser Comet menyayat kulit Star. Star melompat ke belakang sejauh tiga meter. Mata Star menyala-nyala menatap Sun dan Comet. Namun ia tidaklah bodoh. Kalau pertarungan dilanjutkan, sudah jelas ia yang kalah. "Sun! Berani-beraninya kamu berkhianat! Tunggu sampai aku beritahu ketua!" Setelah berkata demikian, Star melanting, lalu melesat masuk ke dalam hutan. Sun memandangi kepergian Star dengan cemas. Kalau sampai berita ini didengar ketuanya, tentu ia tak akan selamat. "Terima kasih telah menyelamatkanku," kata Comet seraya berjalan mendekati Sun. Sun menoleh dan tersenyum. Sekilas Comet bisa menangkap kegelisahan di hati perempuan manis di hadapannya. "Karena menolongku, kamu dalam masalah." Sun terdiam, ia tundukkan wajahnya dalam-dalam. Kemudian berkata, "Tak apa Petinggi tentara Jerman. Sebenarnya semenjak dulu aku menyimpan dendam seribu karat pada ketuaku. Walaupun aku diasuh dan dirawat sejak kecil, ketuaku telah membantai seluruh keluargaku pada saat menyerang desaku. Ketika itu, hanya aku yang tidak dibunuh. Ia membawaku ke markas Fete de la Rouge dan menjadikanku murid. Usiaku masih terlalu kecil saat itu, sehingga tak mempunyai pilihan. Kehebatan ketua benar-benar luar biasa, sampai dewasa aku hanya bisa menyimpan dendam dalam-dalam di dalam hati. Tapi tadi …." Sun tak meneruskan kata-katanya. Sebagai seorang perempuan, ia malu untuk mengakui bahwa perasaan cinta pada Comet yang memberikannya keberanian untuk menentang perintah Moon. "Petinggi tentara Jerman, ketahuilah, Fete de la Rouge yang dipimpin oleh ketuaku, merencanakan p*********n terhadap pemerintah Jerman. Selagi belum terlambat, aku sarankan, bawa pasukan dalam jumlah besar ke dalam hutan. Letaknya tepat di mana air terjun berada. Sesampainya di sana, baca syair di permukaan plakat besi berwarna hitam. Aku yakin tak susah bagimu untuk memahami syair di besi itu. Di balik air terjun itulah letak markas Fete de la Rouge." Comet mengangguk. Ia sama sekali tidak mencurigai gadis manis di hadapannya akan menjebaknya. Ia tahu bahwa Sun berkata tulus. Terkadang cinta memang sulit diterka. Berada di pihak berbeda; tak berkawan; menjadi lawan, hati tetap bergetar merasakan cinta yang merayap. Demikianlah yang terjadi pada keduanya. Namun, tak ada yang tahu akankah cinta mereka berbuah manis suatu hari kelak? Karena tanpa sepengetahuan mereka, ada bahaya yang kelak mengancam. Bahaya yang sesungguhnya dekat, dan sangat keji itu kini sedang berjalan menuju markas Fete de la Rouge. Pengkhianatan Sun masih menyulut kemarahannya. Wajahnya merah padam sambil berlari menuju markas Fete de la Rouge. "Terima kasih. Kenalkan aku Comet." Sun tersipu-sipu. Kemudian Sun berkata, "Usia kita sepertinya terpaut jauh. Tak sopan bagiku menyebut hanya dengan nama. Bagaimana kalau kupanggil grand frère (kakak laki-laki) saja?" Comet tersenyum seraya mengangguk. Memang benar kata Sun, usia mereka terpaut hampir sepuluh tahun, tetapi dalamnya cinta mampu menepiskan perbedaan usia di antara mereka. "Sun, setelah ini kamu hendak ke mana?" Sun diam tak menjawab. Pertanyaan mudah, tetapi susah untuk dijawab. Kampung halamannya telah dibumi hanguskan belasan tahun lalu oleh Fete de la Rouge. Kembali ke markas Fete de la Rouge jelas bukan pilihan. "Setelah apa yang tadi kamu lakukan, tentunya Fete de la Rouge akan mencarimu. Jerman sudah tidak aman lagi. Serangan yang akan dilakukan tentara Jerman ke markas Fete de la Rouge belum diketahui hasilnya. Pergilah ke Ile de Glace dan temui ketuaku. Untuk sementara kamu bisa menetap di sana." Kemudian Comet mengambil sebuah perangkat elektronik kecil yang menggantung di pinggangnya. "Berikan perangkat elektronik ini pada guruku dan ceritakan semua yang kamu ketahui. Beliau pasti akan percaya. Sun, setelah urusanku selesai, aku akan segera menyusulmu. Mudah-mudahan sebelum kamu sampai di Ile de Glace. Kita sudah bisa bertemu." Sun menatap lekat-lekat wajah Comet. Sebetulnya hati Sun merasa berat harus berpisah dengan Comet. Namun, mungkin ini adalah jalan terbaik untuk keduanya. "Ile de Glace demikian luas. Bagaimana caranya aku bisa mencari ketua Grand frere?" "Tanyalah pada orang-orang di Ile de Glace tempat tinggal Glacier. Semua orang di sana tahu di mana tempat tinggal ketuaku." Pantas saja energi Comet begitu tinggi, sebab ia berguru pada salah seorang dari lima orang terhebat dunia. Bagi para perampok dan penjahat, mendengar nama Glacier disebut saja sudah membuat nyali ciut. "Baik Grand frere, terima kasih. Sun mohon diri." Tanpa menunggu jawaban, Sun melesat pergi meninggalkan Comet. Kembali ke Star. Perempuan cantik itu melesat dengat raut wajah marah. Pengkhianatan rekan sesame anggota Fete de la Rouge itu tentu tak dapat diterima. Setelah menempuh perjalanan panjang, kini ia telah tiba di sebuah air terjun di dalam hutan. Cepat saja baginya membuka pintu di balik air terjun, lalu melesat masuk. Setibanya di dalam markas Fete de la Rouge matanya terbelalak. Ia melihat tubuh-tubuh para anggot Fete de la Rouge tergeletak tak bernyawa. Khawatir akan keadaan sang ketua, ia melesat masuk. Namun, apa yang ia lihat sungguh di luar dugaan. Moon yang begitu hebat tergeletak tewas. Amarahnya meluap, sedihnya tak terperi. Baru saja Sun berkhianat, kini ia menemui kenyataan ketua dan teman-temannya tewas mengenaskan. Star berteriak meronta-ronta. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Dendamnya sedalam lautan. Tapi ia tidak tahu kepada siapa ia membalaskan dendam. Tak ada saksi, tak ada bukti. Orang yang bisa membunuh ketuanya pasti orang hebat. Makin bertanya dan menduga-duga, Star makin tak menemukan jawaban. Akhirnya ia mengambil sebuah kesimpulan. "Sun, Comet! Dan seluruh rakyat Jerman! Aku akan menuntut balas! Kukoyak negara ini! Kucabik-cabik para petingginya! Tunggu saatnya! Kalian akan merasakan akibatnya!" *** Di tempat lain, Cloud dan kawan-kawan baru saja tiba di sebuah bukit. Pandangan mereka menyelisik sekitar. Daerah itu merupakan sebuah perbukitan yang tandus. Pohon-pohon dan tanaman yang ada di sana tidak berdaun dan berdahan kering. Sengatan matahari terasa seperti membakar kulit. Bahkan Orang sekalipun merasakan mesinnya memanas karena sengatan matahari tersebut. “Kita sudah sampai,” tukas Eton, lalu menunjuk sebuah goa yang berada lima meter dari tempat mereka berdiri. “Di sana tempat Volenthium.” Splash mencerna pikiran selama beberapa saat. “Tampaknya tidak ada yang aneh. Tapi menurut yang kita dengar bukankah ada makhluk mengerikan di sini.” Eton mengangguk. “Pasti makhluk itu ada di dalam goa. Aku tidak pernah melihat kekuatannya secara langsung, jadi aku tidak bisa memperhitungkan kemampuannya.” Splash tersenyum. “Tenang saja. Biar Orange yang mendeteksinya.” “Aye.” Orange berputar di tempat. Tak lama kemudian, muncul cahaya yang menyelimuti tubuhnya diikuti suara putaran yang makin cepat. Selang beberapa detik, ia berhenti. “Apa yang kamu ketahui, Orange?” tanya Cloud, merasa penasaran. “Saranku kita menyerah,” jawab Orange. “Menyerah? Tidak akan!” seru Cloud, tidak setuju dengan usul Orange. Splash dan Eton bertukar pandang. Meskipun mereka tahu Cloud tidak akan mau menyerah, mereka juga paham kalau Orange tidak akan salah mendeteksi. “Profesor Reufille, makhluk di dalam goa tidak pernah ada di bumi sebelumnya.” Cloud dan kawan-kawan tersentak. “Maksudmu ia makhluk luar angkasa?” Splash bertanya. “Benar. Bukan sembarang makhluk luar angkasa, tetapi ia memiliki energi yang sangat mengerikan. Selama ini belum pernah aku melihat ada kekuatan sebesar yang ia miliki,” terang Orange. Alih-alih surut, Cloud menatap tajam ke arah goa. “Aku tidak peduli. Akan kuhancurkan makhluk itu demi Sodda.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN