Di dalam perjalanan, Cloud dan kawan-kawan berhenti di sebuah kota untuk beristirahat sekaligus mengisi energi para android mereka. Mereka pun masuk ke pekarangan rumah sederhana yang berada di dekat gerbang kota kecil itu.
“Permisi.”
Laki-laki pemilik rumah menoleh. Dilihatnya Cloud dan kawan-kawan berdiri di halaman rumahnya. Cloud dan kawan-kawan tampak kelelahan. Begitu pula demgan Orreo dan Orange yang lampunya meredup.
“Silakan,” jawab Ray, laki-laki pemilik rumah.
“Apakah ada penginapan di kota ini?” tanya Cloud sopan.
Ray memperhatikan Cloud dan kawan-kawan. Ia merasa pernah melihat mereka, tetapi tidak ingat kapan dan di manakah ia pernah bertemu. “Ini hanya kota kecil yang jarang dikunjungi, sehingga tidak ada penginapan di kota ini. Kebetulan saya Walikota. Ada keperluan apa datang ke sini? Mungkin saya bisa membantu.”
“Kami dalam perjalanan ke Prancis dan kelelahan di perjalanan. Karena itulah kami butuh beristirahat sekaligus mengisi energi android kami,” terang Cloud.
Ray diam seraya berpikir. “Rumah ini krcil, tapi kalau mau silakan bermalam di sini,” ujar Ray, menawarkan.
Light—istri Ray— terkejut mendengar tawaran sang suami. “Kita tidak kenal mereka.”
“Tidak apa-apa. Sepertinya mereka orang baik-baik. Alangkah bagus menolong orang yang sedang susah,” bisik Ray pada Light.
“Terima kasih, Walikota,” tukas Milk.
Ray tersenyum, kemudian mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam, mereka dipersilakan duduk oleh pemilik rumah.
“Mohon ditunggu sebentar, biar kami siapkan hidangan,” kata Ray lantas melayangkan pandangan ke tabung yang berada di pojok ruangan. “Silakan android Anda mengisi energy di tabung itu.”
Cloud dan kawan-kawan mengangguk. Orange, Orreo, dan android yang lain pun masuk ke dalam tabung pengisi daya energi.
“Light, tolong bilang Dust supaya menyiapkan makanan tamu kita. Setelah itu temani saja anak kita tidur,” ujar Ray pada Light, lalu menoleh pada tamunya. “Anak saya masih berusia tiga bulan. Biasanya tengah malam ia terbangun mencari ibunya. Jadi mohon maaf jika istri saya tidak bisa menemani berbincang di sini.”
“Tidak apa-apa, Walikota. Kami justru merasa telah banyak merepotkan,” kata Cloud.
“Justru sebaliknya, aku merasa senang kedatangan tamu. Squishy Cake merupakan kota terpencil, jadi kami jarang kedatangan tamu dari luar kota,” tukas Ray.
Tak lama kemudian seorang perempuan yang baru saja datang. Perempuan itu memiliki perawakan dan wajah yang mirip dengan Light. Wajar saja, karena perempuan bernama Dust tersebut adalah adik kandung Light.
“Silakan diminum Kawan,” ujar Ray, lalu menyeruput minumannya. “Ngomong-ngomong, perkenalkan saya Ray Bright.”
Cloud dan kawan-kawan pun memperkenalkan diri. Namun, mereka tidak mengungkapkan nama yang sebenarnya, lantaran khawatir Ray berada di pihak pemerintah.
Ray diam beberapa saat sambil mengamati mereka. Firasatnya mengatakan kalau mereka tidak memperkenalkan diri mereka yang sebenarnya. Apalagi Ray merasa pernah melihat mereka, meski tidak dapat mengingatnya secara persis.
Dipandang dengan tatapan menyelidik, Weather segera membuka pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Ray.
“Walikota, bolehkah saya bertanya?” tanya Weather.
“Tentu saja. Silakan.”
“Setelah memasuki Squishy Cake, kami melihat banyak penduduk yang dalam keadaan miskin, padahal Squishy Cake terkenal akan hasil bumi. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” tanya Weather.
“Benar sekali. Squishy Cake memang terkenal akan hasil buminya yang unggul, tetapi belakangan ini kami tidak dapat menikmati hasilnya,” terang Ray.
“Ah, berarti kabar yang kami dengar benar,” celetuk Potato.
“Memangnya kabar soal apa?”
“Kami mendengar kalau Gubernur Big Hammer memungut pajak tinggi kepada penduduk, sehingga menyebabkan kemiskinan melanda Squishy Cake. Semula kami berpikir, mungkin kabar tersebut ada kaitannya dengan kabar mengenai rencana pemberontakan Esprit Libre,” jawab Potato.
Ray terkejut mendengar jawaban itu. Kalau mereka rakyat biasa, tidak mungkin menaruh perhatian besar terhadap masalah rumit seperti itu. Mereka lebih kehidupan sehari-hari. Sudah jelas baginya kalau tamunya bukanlah orang sembarangan. Ia memperhatikan Cloud dan kawan-kawan dengan saksama, sambil berusaha menggali ingatannya. Kali ini Ray mulai dapat menerka jati diri mereka.
“Profesor Cloud Reufille, Profesor Milk, Eton Mess, Splash, dan ….”—Ray menatap Weather dan Potato—“Weather dan Potato, dua orang petinggi Liberte.”
Cloud dan kawan-kawan terkejut. Weather yang tak ingin keberadaan mereka terbongkar segera mengerahkan energi di tangannya. Tangannya pun berpendar dan diselimuti energi putih.
Ray tersenyum kemudian berkata, “Tenanglah. Aku berada di phak kalian. Dari dulu aku benci dengan pemerintah Belgia. Dan menurutku hanya Liberte, pemberontak Belgia yang memiliki tujuan mulia.”
Cloud dan kawan-kawan saling bertukar pandang. Mereka percaya kalau Ray tidak memiliki niat buruk lantaran melihat kondisi mereka justru dirugikan oknum pemerintah seperti Gubernur Big Hammer. Selain itu, mereka mendengar kalau Walikota Squishy Cake tersebut sangat menentang kebijakan Gubernur Big Hammer yang semena-mena.
“Aku lega mendengarnya Walikota. Jika memang Walikota mendukung Liberte, bisakah membantu kami?” tanya Weather.
“Tentu saja. Apa yang bisa aku bantu?” tanya Ray.
“Pemungutan pajak di Squishy Cake mungkin berkaitan dengan pemberontakan Esprit Libre. Kalau Walikota bersedia memberikan informasi yang dapat menjelaskan kebenaran kabar tersebut, tentu kami akan sangat berterima kasih,” ujar Weather.
Ray Bright menghela napas. “Terus terang aku tidak tahu persis kebenaran kabar tersebut. Tapi berdasarkan kabar yang kudengar, akhir-akhir ini Gubernur sering berkunjung ke Kota Leuven.”
“Pergi ke Kota Leuven? Dari mana Walikota tahu kalau Gubernur pergi ke Kota Leuven?” tanya Potato.
“Aku punya teman yang bekerja di kediaman Gubernur. Dari sanalah aku tahu kabar itu. Tapi hanya itu kabar yang ia sampaikan.”
Potato diam berpikir selama beberapa saat, sebelum akhirnya bertanya, “Walikota, apakah hanya itu kabar yang bisa kami dapatkan?”
“Ah, hampir saja aku lupa. Mungkin ini bisa menjadi petunjuk. Tadi pagi saat aku beradu mulut dengan Gubernur, di dekatnya ada seorang pria tua, berambut putih panjang, dan bermata sipit. Kudengar Gubernur memanggilnya Blue Sapphire.”
“Blue Sapphire,” gumam Weather, seraya mencerna pikiran.
“Siapa dia?” tanya Ray.
“Dia adalah adik Kolonel Beef,” jawab Eton, mendahului Weather.
“Adik Kolonel Beef?! Pasti ia memiliki kemampuan yang luar biasa.” ujar Ray.
“Benar. Mungkin hanya setingkat di bawah Kolonel Beef,” jelas Eton.
“Kalau ternyata Esprit Libre diam-diam didukung pemerintah Prancis, berarti pemerintah Belgia dibodohi selama ini. Tapi bagi kita sama saja. Kedua pihak itu sama-sama buruk,” tukas Weather.
Mereka merasa khawatir akan bahaya yang mengancam. Saat mereka tengah tenggelam dalam kecemasan, tiba-tiba terdengar suara deru mesin di halaman rumah.
“Biar aku lihat siapa yang datang.” Ray beranjak dari kursinya.
“Tidak apa-apa. Kami penasaran, biar kami ikut,” sahut Cloud, seraya mengisyaratkan agar para android keluar dari dalam tabung pengisi daya energi.
Ray mengangguk, lantas bergegas ke luar diikuti oleh Cloud dan kawan-kawan dari belakang. Sesampainya di sana, mereka melihat beberapa orang yang naik di atas android berbentuk kuda. Mereka terdiri dari empat orang berwajah angker dan seorang laki-laki yang sudah sangat dikenal Ray.
“Big Hammer!” seru Ray Bright, terkejut melihat salah seorang di antara mereka.
Pria tersebut berperut buncit dan bertubuh pendek. Wajahnya bundar dengan kumis tipis melintang di atas bibirnya. Kepalanya yang gundul plontos, berkilat diterpa cahaya bulan. Matanya yang sipit menatap Ray dengan angkuh. Hidungnya yang pesek mendungis, meremehkan Walikota Squishy Cake itu.
“Aah, rupanya kamu masih menganggapku seorang Walikota setelah kejadian tadi pagi,” tukas Walikota Big Hammer dengan sinis.
“Siapa mereka?” tanya Ray pada Big Hammer, seraya melemparkan pandangan pada keempat orang lainnya.
Mendengar pertanyaan Ray, keempat orang berwajah seram itupun tergelak.
“Orang ini benar-benar bodoh,” ledek seorang pria berpakaian kuning.
Pria berpakaian kuning itu memiliki tubuh yang mungil. Kepalanya ditumbuhi rambut tipis tidak beraturan. Wajahnya bulat membingkai sepasang mata yang mencuat, seakan mau keluar dari lubang mata, hidung mungil, dan kumis tebal berantakan.
“Yellow Iron, kalau dia pintar tidak akan jadi pemimpin di kota miskin ini.” sahut seorang pria berpakaian hijau.
Pria berpakaian hijau menyeringai menunjukkan deretan gigi yang busuk dan bau. Tidak hanya giginya, dari tubuhnya yang kekar dan besar juga tercium bau busuk. Wajahnya berbentuk persegi, dengan sepasang mata bulat kecil, hidung besar dan lebar, serta bibir tebal. Pada dagunya yang kukuh terdapat jenggot lebat semerawut.
“Green Iron, orang bodoh seperti dia jadi Walikota saja tidak pantas. Pantasnya jadi pesuruh,” ejek seorang pria di sebelah Yellow Iron.
Pria tersebut bertubuh kurus dan jangkung, sehingga pakaian hitam yang dikenakannya terlihat kebesaran. d**a bagian atasnya yang tidak tertutup baju memperlihatkan tulang yang menonjol terbungkus kulit. Rambutnya panjang, hitam, dan tak terurus. Di wajahnya yang tirus, terdapat sepasang mata berukuran sedang dengan kelopak mata cekung, hidung pipih, serta bibir tipis berwarna hitam. Kulitnya hampir sehitam pakaian yang ia kenakan. Pria itu bernama Black Iron.
“Ah, Black Iron benar. Ia hanya orang rendahan!” sahut Green Iron diikuti tawa Gubernur Big Hammer, Yellow Iron dan Black Iron.
Tidak seperti keempat orang tadi, seorang pria berpakaian merah hanya tersenyum dingin. Pria tersebut memiliki rambut merah lebat yang dikepang rapi. Wajahnya berbentuk persegi dengan rahang yang kukuh. Ia memiliki sepasang mata lebar, hidung pesek, bibir tebal, serta kumis dan jenggot merah yang tertata rapi. Penampilannya berwibawa, tetapi aura yang menyelimutinya begitu kelam dan kejam. Menilik kewibawaan dan penampilannya, bisa dipastikan dialah pemimpin kelompok perampok yang disebut Demon de Fer.
“Apa tujuan kalian datang ke sini?” seru Ray, geram.
Gubernur Big Hammer terkekeh. “Masih berani bertanya?! Malam ini kematianmu akan menjadi peringatan bagi orang yang berani menentangku!”
“Gubernur, sebut saja siapa di antara mereka yang harus kami habisi terlebih dahulu,” tukas Green Iron seraya turun dari androidnya.
Melihat hal tersebut, diam-diam Cloud dan kawan-kawan mengolah energinya.
“Berhati-hatilah. Mereka kelompok Demon de Fer yang terkenal kejam di seluruh Belgia,” bisik Ray.
“Tentu. Untuk apa perampok seperti mereka bersama Gubernur Big Hammer?”
“Entahlah. Yang jelas bukan untuk tujuan baik.” jawab Ray.
Mendengar kegaduhan tersebut, Light dan Dust keluar dari dalam rumah. Kemunculan kedua perempuan cantik tersebut membuat kekhawatiran Ray bertambah.
“Ada apa ribut-ribut?” tanya Light resah sambil menggendong anaknya.
“Tidak ada apa-apa. Hanya keributan kecil,” ujar Ray berusaha menenangkan sang istri.
Light tahu Ray hanya berusaha menenangkannya. Merasa khawatir dengan keselamatan anak mereka, ia pun merapatkan diri pada Ray.
“Ray ….”
“Light, jangan cemas. Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Ray.
Yellow Iron melesat ke arah Cloud dan kawan-kawan seraya mengepalkan tinjunya yang berpendar kuning. “Bagus! Semua berkumpul untuk kami habisi!”
Saat Ray mau menarik pistolnya, tiba-tiba Milk dan Orreo melesat, menyambut Yellow Iron.
Kedua telapak tangan Milk diselimuti cahaya putih terang dan penuh energi. Tanpa membuang waktu kedua tapaknya merangsek cepat ke arah Yellow Iron. Melihat serangan datang, Yellow Iron menyambut dengan energinya yang berkekuatan luar biasa. Yellow Iron mengepalkan kedua tangannya yang kini telah berubah menjadi sekeras besi dan berwarna kuning, kemudian bergerak lurus ke depan dengan ganas. Kepalan tangan Yellow Iron merangsek bak puluhan pedang dan mengurung Milk dari berbagai sisi. Milk terus berkelit sambil menangkis serangan-serangan yang datang.
***