Ruang penyekapan

1711 Kata
"Gila pak? tapi kenapa bisa, dimana dia sekarang?" tanya Willson serius "Dia.. hmm dia... di kurung" ucapnya lalu tertidur Polisi lainnya juga mulai akan tertidur "Pak jadi para senior itu terlibat dalam kebakaran itu kan? tapi siapa yang nyuruh? siapa dalangnya pak?" tanya Willson dengan suara yang cukup kencang karena mereka malah tertidur "Uang! uang yang suruh" jawabnya hampir menutup matanya "Ya, terus pak Sam dimana dia sekarang?" tanya Willson lanjut dengan suara yang masih keras "Di kurung, gak jauh kok" ucapnya lagi lalu tertidur pulas "Dimana pak? pak" ujar Willson lagi sembari menggoyahkan tubuh ke duanya "Pak!" teriak Willson namun tak ada respon dari ke duanya Willson membuang nafasnya berat dan memegangi ke dua kepalanya "Sialan mereka malah tertidur" gerutu Willson kesal "Tapi setidaknya kita udah dapet klunya Willson, katanya dia di kurung dan engga jauh!" ucap Gio lalu mematikan rekaman di ponselnya "Ya benar Willson" tambah Ben Willson menyipitkan matanya "Artinya....." gerutu Willson pelan lalu mulai berpikir keras Begitu pun dengan Ben dan Gio yang sama sama berpikir "Apa mungkin engga jauh dari kantor polisi?" gerutu Ben "Atau bahkan..." gantung Wilson menatapi ke dua sahabatnya serius "Di kantor ini?" ucap ke tiganya bersamaan Semuanya mengangguk setuju dan beranggapan bisa saja mereka memang mengurung pak Sam di sana. Willson, Ben dan Gio langsung berkumpul dan mulai merencakan sesuatu. "Bentar gue mau coba kirimin rekamannya ke bang Baskara dulu, biar mereka gercep juga bisa bantuin kita" ujar Willson sembari mengambil hapenya di tangan Gio dan langsung mengirimi Baskara pesan Setelah itu Willson, Ben dan Gio kembali bergegas ke beberapa ruangan yang memang jarang mereka gunakan. Tentu saja mereka melakukannya di saat para senior lengah. Satu persatu ruangan mereka telusuri dengan perasaan tegang dan ambisi yang kuat di setiap langkah mereka. ◇◇◇◇ Baskara duduk di ruangannya dia sedang mengerjakan beberapa berkas yang telah Pak Meggy percayakan padanya. Mendengar notifikasi masuk ke ponselnya, dia langsung mengecek ponselnya. "Willson?" sahut Baskara lalu mengerutkan keningnya serius Dia lalu membuka layar kunci di ponselnya dan membuka pesan daru Willson yang berupa rekaman. "Rekaman?" gerutu Baskara lagi Baskara lalu mendengarkan semua yang ada di dalam rekaman itu, mengenai bukti dari polisi senior yang mengatakan bahwa pak Sam gila dan sedang di kurung oleh mereka. Mereka tidak menjelaskan siapa pesuruhnya dan di akhir kata mereka mengatakan pak Sam di kurung tidak jauh. Baskara langsung bangun dari duduknya dan segera menelpon Willson. "Hallo Willson?" "Ya hallo pak" jawabnya "Saya rasa yang mereka maksud itu masih seputar di kantor polisi, kamu coba cari dulu saya dan yang lainnya akan segera ke sana" jelas Baskara "Iya pak, ini saya sama dua rekan saya juga lagi cari. Kami akan tunggu kedatangan bapak" jawab Willson cepat "Baiklah, saya tutup telponnya. Nanti akan saya telpon setelah kami sampai di depan kantor polisi" ucap Baskara segera "Iya pa" jawabnya dengan sangat singkat Baskara segera menutup sambungan telponnya dan dia bergegas ke ruangan Pak Meggy untuk menjelaskan semuanya. Setelah itu Pak Meggy dan Baskara langsung keluar dari kantor tak lupa untuk mengajak Raina bersamanya. Mereka masuk ke dalam mobil yang sama. "Itu bukannya mereka ketua!" ujar salah satu pesuruh Jack dan langsung menatap ke arah mobil yang baru keluar dari area kantor percetakan "Iya ketua! itu mobil mereka ayo kejar" "Yash! akhirnya mereka ada pergerakan, ayo susul mereka gue mau langsung nelpon bos Jack" jelas si ketua Tentu saja mobil yang di tumpangi Baskara, Raina dan Pak Meggy langsung mereka ikuti dari jarak yang cukup jauh supaya tidak di sadari. Baskara di sana langsung menelpon Dara, berharap Dara bisa ikut bersama mereka. "Bang mba Dara nya engga angkat telponnya? mungkin dia lagi sibuk, ini kan masih jam malam dinasnya bang" ucap Raina menatapi abangnya yang sedang mengemudi sekaligus mencoba untuk menelpon Dara "Iya Baskara jika Dara masih dinas, biar kita aja yang ke sananya. Kasihan nanti kalau Dara sampai terbebani" jelas Pak Meggy menatapi Baskara serius "Hm iya sih kayaknya dia lagi dinas yaa, engga lagi pegang ponsel kali. Ya udah kita ke sananya bertiga aja sekarang, nanti kita hubungi Dara lagi" ucap Baskara lalu menyimpan ponselnya setelah sambungan telponnya putus Mereka pun segera melanjutkan perjalanannya dan menuju ke kantor polisi. Waktu menunjukkan pukul 21.30 tak seperti malam malam kemarin ternyata Dara ada dinas malam malam ini sehingga tak bisa membuatnya pulang seperti hari hari kemarin, mau pun bisa menggunakan ponsel kapan pun dia mau. ◇◇◇◇ "Oprasinya akan berlangsung jam 22.00 benar dok?" tanya Dara sembari membawa beberapa berkas yang di pegangi oleh ke dua tangannya Dokter Anna langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Dara "Iya Dara, tolong ingatkan saya" jawabnya sembari tangannya sedang sibuk memeriksa pasien lain "Baik dok, saya permisi dulu" angguk Dara lalu menuliskannya di berkas itu dan pergi dari ruangan itu Dara berlari lari ke ruangan lain untuk memeriksa pasien gawat darurat, akibat kecelakaan. "Hahh, ini akan menjadi malam yang panjang banget" gerutu Dara dengan suara pelan sembari membuang nafasnya cukup berat ◇◇◇◇ Sementara itu di gedung mewah lainnya, Jack sedang duduk di balkon tepat berada di ruangan pribadinya. Dia di temani oleh dua wanita seksi berpakaian minim dan duduk di pangkuan Jack. Jack tersenyum puas setelab beberapa pesuruhnya mulai mengikuti mobil Baskara dan yang lainnya. Dia berharap mereka bisa berhasil melancarkan aksi yang sudah Jack perintahkan sejak beberapa hari yang lalu. Salah satu wanita berpakaian minim itu mendekatkan secangkir gelas berisi alkohol ke depan mulut Jack, Jack langsung meminumnya dengan perasaan yang tak bisa dia ungkapkan lagi. "Setidaknya gue bisa tangani masalah si Baskara dulu, setelah semua permainan yang dia buat untuk menantang gue selesai. Gue harus pastikan satu masalah lagi selesai, ibu nanti harus bisa lepas dari si p****************g itu" gerutu Jack dalam hatinya "Kalian ingin bersenang senang dengan ku?" senyum Jack pada ke duanya yang segera di beri jawaban anggukan oleh ke duanya Jack tersenyum puas "Baik ayo, di luar sangat dingin!" ucapnya ◇◇◇◇ Mereka hampir sampai di depan gedung kepolisian, sampai Willson langsung memberi Baskara informasi bahwa mereka bisa langsung masuk ke kantor polisi. Dengan begitu mereka langsung masuk ke dalam kantor polisi dengan langkah yang mengendap. Sementara itu para orang suruhan Jack membuang nafasnya kesal "Sial, mereka malah ke dalam" gerutunya "Tunggu tunggu, kok mereka ke dalam kantor polisi sih? apa mungkin mereka menemukan sebuah petunjuk?" ujar si ketua dengan tatapan serius pada semuanya "Kita harus segera hubungi boss ketua!" ucap yang lain "Benar!" angguk yang lainnya lagi setuju Baskara, Raina dan Pak Meggy masuk ke dalam sana dan langsung di sambut oleh Willson, Gio dan Ben yang juga terlihat mengendap endap di antara para polisi senior yang sedang ketiduran. Sebelum ke datangan mereka, Willson dan kawan kawan sudah mematikan kamera cctv di setiap sudut untuk menjaga keamanan. Mereka bergegas ke lantai atas karena memang di sana banyak ruangan yang tak terpakai. "Kalian belum menemukan tanda apa apa?" tanya Baskara dengan suara pelan "Belum pak, kami sangat kesulitan" jawab Willson segera "Oh ya pak kenalkan ini Ben dan Gio sama sama polisi Junior, sekaligus mereka adalah rekan saya" ujar Willson Baskara mengangguk "Salam kenal untuk kalian, senang sekali karena kalian bisa berpihak pada kami. Ini adek saya Raina dan atasan saya Pak Meggy" jelas Baskara "Iya pak, kenalkan kami" ujar Ben dan Gio lalu bersalaman dengan mereka semua Mereka melanjutkan pencarian sampai menghabiskan waktu yang cukup lama, namun hasilnya nihil hingga mereka mulai khawatir dengan para senior yang bisa saja bangun kapan saja dan memergoki mereka. "Hahh sepertinya bukan di sini tempatnya" gerutu Gio sembari membuang nafasnya berat "Sepertinya memang bukan di sini" ucap Ben menambahkan Willson tiba tiba teringat sesuatu "Tunggu, kita melewatkan satu ruangan!" ujarnya membuat mereka semua gempar Willson langsung melangkahkan kakinya dan diikuti oleh semuanya. Willson memasuki ke ruang rapat yang di dalamnya ada sebuah ruangan dan di ruangan itu ada satu ruangan lagi yang biasanya di pakai untuk gudang. "Di sini" ujar Willson lalu menghentikan langkahnya di depan pintu yang terlihat di gembok Wilson, Gio dan Ben mengerutkan keningnya "Sejak kapan sebuah gudang di gembok kayak gini?" gerutu Gio dengan tatapan curiga "Setua gue dulu ruangan ini engga pakai gembok gembokan segala deh" tambah Ben Willson membuang nafasnya berat "Nah makanya" jawab dia segera Baskara segera mendekat dan mencoba untuk membuka gembok dengan sebuah besi kecil yang dia bawa. Mereka menatapinya dengan sangat serius. Sementara Willson mengetuk ngetuk pintunya pelan dari luar. "Apa di dalam ada orang?" tanya Willson dengan suara lirih "Haloo" tambah Ben "Apa ada orang?" ujar Raina yang juga ikut serta Baskara terus berusaha untuk membukanya namun besi yang dia gunakan malah patah "Gemboknya kuat banget, ini harus pakai kunci khusus" ujarnya dan mulai berkeringat Tuk... tukk... Suara ketukan tiba tiba terdengar dari dalam ruangan dan lantas membuat semuanya terkejut dan saling bertatapan. "Apa di dalam pak sam?" tanya Willson langsung Namun suara itu tidak kembali muncul "Jika benar pak sam, tolong ketuk lantai 3 kali" ujar Ben mencoba mencari jawaban Mereka pun menunggu reaksi dari dalam ruangan itu. Hingga suara ketukan itu kembali terdengar. Tuk.. Tuk.. Tuk.. Semuanya semakin terkejut dengan suara itu "Kami ingin memastikan, jika anda benar pak Sam tolong ketuk lantai sebanyak 5 kali" ucap Baskara Tuk.. Tuk.. Tuk.. Tuk.. Tuk.. "Gue rasa pak Sam bener bener ada di sini woy" gerutu Gio dengan tatapan serius pada ke dua sahabatnya Willson mengeratkan pegangan tangannya, sebelumnya dia tidak pernah menyangka para senior itu akan melakukan semua ini pada rekannya sendiri. "Sekarang yang harus kita lakulan adalah mencari kunci ini" ujar Willson dengan tatapan marah "Ya kau benar willson" angguk Baskara setuju Tiba tiba suara langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah mereka. Hal itu membuat semuanya panik dan mencari cara untuk tidak ketahuan. Baskara melihat sebuah jendela dan langsung berjalan pelan ke sana, di bawah jendela ada sebuah balkon kecil yang gelap. Baskara melambaikan tangannya pada mereka untuk ikut ke sana bersamanya. Mereka satu persatu turun ke bawah jendela dan menutup pintu jendela dengan sangat berhati hati. Seorang senior saat itu juga masuk ke ruangan tadi dan menatap ke sekeliling. "Aku mendengar sesuatu tadi, tapi kok ternyata engga ada apa apa? Hah sialan mungkin itu cuma perasaan ku saja, atau mungkin si gila Sam mengetuk ngetuk lantai terus menerus!" gerutu dia Ungkapan dari senior itu terdengar jelas oleh Willson dan yang lainnya, semuanya semakin jelas bahwa memang Sam di kurung di ruangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN