NWE PLAN

1829 Kata
Baskara dan Raina langsung pergi ke rumah Pak Meggy, setelah Raina curhat melalui chat tentang bagaimana keputusan laporan itu. Pak Meggy segera menyuruh mereka untuk ke rumahnya dan merencanakan rencana baru untuk memecahkan kasusnya. Di perjalanan tiba tiba Baskara mendapatkan telpon dari Dara, mereka menepi dan Baskara mengangkat telponnya dari Dara dulu. "Hallo, ada apa Dara?" sahut Baskara langsung Raina di belakangnya mendekat ke arah abangnya itu, penasaran dengan apa yang akan Dara sampai kan di telpon. "Aduh aku yakin banget sih mba Dara pasti udah kangen sama abang, ya iya dong masa engga udah beberapa hari engga ketemu sama abang. Kalau aku juga bakal gitu sekali pun bukan sama pacar dan masih baru deket tapi kalau cowonya seganteng abang sih yaa pasti aku pepet terus haha" gerutu Raina dalam hatinya "Eh halo Baskara, kamu di luar yaa?" tanya Dara Baskara lantas refleks mengangguk "Iya nih, hmm emangnya kenapa?" "Engga sih, kalau kamu lagi diluar engga papa kok. Tadinya aku mau minta kamu jemput aku malam nanti karena sopir pribadi aku engga bisa jemput, dia pulang kampung mendadak tadi sore dan karena mendadak jadinya belum ada penggantinya gitu. Eh tapi gak papa kalau kamu lagi sibuk aku bisa naik taksi atau naik Go jeg aja nanti" jelas Dara lagi dengan senyum di wajahnya Baskara tersenyum merekah saat tau inilah peluang untuk bertemu dengan Dara lagi, di sela sela kesibukannya dia juga sangat merindukan Dara namun tidak bisa dia ungkapkan pada siapa pun apa lagi pada Dara yang jelas masih berstatus teman kebetulan itu. Baskara menjauhkan ponselnya supaya Dara tidak mendengar percakapan ke duanya, Baskara menatapi Raina seakan bertanya dia harus bagaimana. Saat itu Raina langsung mengangguk angguk. "Jemput aja bang, gaspol! ini bisa jadi tahap pendekatan abang" bisik Raina pada abangnya itu dengan senyuman menggoda "Tapi kan kita mau ke rumah Pak Meggy, tapi abang juga kasihan sama Dara kalau pulang malam naik taksi" jelas Baskara pelan pada adiknya Raina mengangguk angguk paham "Ya makanya kita nanti langsung balik aja bang, engga akan lama kan di rumah pak Meggy nya. Kita nanti cari ide sama sama pasti sebelum jam 9 udah selesai ko" jelas Raina menatapi Baskara serius "Hmm oke oke, kalau gitu abang iyain aja yaa sama Dara nya" angguk Baskara tersenyum Raina tersenyum melihat tingkah abangnya yang lucu dan baru jatuh hati itu "Iya bang, sekarang cepet bilangin ke Mba Dara nya" ujarnya "Iya iya" angguk baskara lalu langsung mendekatkan ponselnya lagi ke arah telinganya "Hallo.. Hallo.. Baskara?' sahut Dara dari sana mungkin sejak tadi dia memanggil nama Baskara namun tidak nyaut "Eh iya iya Dara, Hallo" jawab Baskara segera Dara membuang nafasnya berat "Hahh ada rupanya, aku kira gangguan di sananya. Eh gimana? hmm kalau engga bisa engga papa ko, aku juga engga mau ngerepotin kamu" jelas Dara lagi terdengar tidak enak "Dara aku bisa ko, kamu pulangnya jam 9an kan?" tanya Baskara Dara refleks mengangguk "Iya aku jam 9 pulang malam ini" jelas Dara "Oke kamu nanti tunggu aja yaa, aku pasti jemput" senyum Baskara sangat tulus padanya Dara pun sangat tenang dengan jawaban dari Baskara "Oke, makasih yaa sebelumnya dan maaf kalau aku malah ngerepotin" gerutu Dara pelan "Engga ko Dara, kamu kan juga suka bantuin aku dan Raina" tambah Baskara Dara mengangguk angguk "Hmm oke kalau gitu aku tutup telponnya yaa, itu kamu lagi ada di jalanan deh takutnya kenapa napa kalau malah aku ganggu telpon" jelas Dara "Kamu engga ganggu ko Dara tenang aja, lagian barusan aku udah dari kantor polisi sama Raina untuk menanyakan kejelasan kasus yang sudah aku laporin seminggu yang lalu" jelas Baskara dengan suaranya yang berat Dara terlihat sangat serius "Oh kalian dari kantor polisi? terus gimana katanya keputusannya?" tanya nya penasaran "Mengecewakan Dara, seperti pas di hari itu aku lihat masyarakat yang bersaksi melihat orang orang berpakaian hitam dan polisi menolak kasusnya di usut. Hari ini pun aku juga mengalami hal yang sama, Laporan ku di tolak mentah mentah, mungkin mereka hanya pencitraan menyebut butuh waktu 7 hari supaya terlihat lebih serius" ujar Baskara kecewa "Ya ampun, seriusan? berarti memang kasus kebakaran ini ada sesuatunya dong yang harus di pecahkan, terus mereka bilang kenapa kasusnya engga bisa di angkat?" tanya Dara saat kesal Baskara membuang nafasnya sangat berat "Alasan yang sama Dara, nanti deh aku jelasin ya sekarang aku sama Raina mau ke rumah atasannya Raina dulu dia juga geram dengan keputusan polisi. Dia katanya mau bantuin kita buat pecahin kasus dan alasannya kenapa mereka mencoba menutup nutupi fakta. Setelah aku pulang dari sini aku langsung ke sana yaa jemput kamu dan bicarin ini semua" jelas Baskara "Iya mba Dara nanti abang aku suruh langsung jemput mba Dara yaa" tambah Raina dari belakangnya dengan suaranya yang lantang Dara tersenyum lalu refleks mengangguk angguk "Iya iya ya udah kalian hati hati yaa aku juga mau lanjut cek pasien lagi nih" jelas Dara "Oke oke, udah dulu yaa aku tutup telponnya" jelas Baskara "Oke" jawab Dara langsung Mereka pun memutuskan sambungan telponnya, Baskara masih tersenyum manis dan memasukan ponselnya ke dalam saku celananya lagi. Raina mendekat ke arah Baskara dengan senyuman merekah "Ciee yang lagi salah tingkah nii" senyum Raina menggoda abang nya "Apaan sih? iya lah" jawab Baskara nyolot sembari tersenyum percaya diri padanya "Haha udah udah, yuk kita langsung ke rumah pak Meggy aja" ajak Raina langsung memukul abang nya itu Baskara mengangguk angguk dan langsung menyalakan kembali motornya, mereka langsung kembali melewati jalanan dan menuju ke rumah pak Meggy. ◇◇◇◇ Dara kembali menyimpan ponselnya, senyuman di wajahnya terpancar sangat manis karena Baskara mau menjemputnya. "Hmm apa aku engga terlalu keliatan suka banget ya ke dia? aah tapi kan aku sama Baskara dan mba Raina emang udah deket sih bukan berarti aku suka dia jadi aku pengen deket terus tapi kan kata dia juga kalau ada apa apa hubungi Baskara" gerutu Dara dalam hatinya dengan tersenyum senyum Dara membuang nafasnya pelan teringat tentang perkataan Baskara di mana para polisi yang menolak keras kasus itu untuk di usut. "Hah ini bisa bikin aku gila sih, sebenarnya kenapa mereka mencoba untuk sembunyiin semuanya? ada apa? padahal sudah jelas korban korban berjatuhan bukan 1 2 aja lhoo. Gila kalau semuanya memang di dalangi seseorang, aku harus bantuin Baskara dan mba Raina untuk menuntaskan semuanya hanya mereka harapan yang bisa memecahkan kasus kebakaran ini" jelas Dara pelan mengepalkan tangan nya kuat kuat "Oke stop bicaranya, ayo sekarang aku harus selesaikan semuanya sebelum Baskara datang jemput aku hehe" ujar Dara lagi pelan lalu pergi dari sana dan segera menyelesaikan semua pekerjaannya ◇◇◇◇ Baskara dan Raina sudah sampai di depan rumah Pak Meggy yang megah bernuansa putih itu. Baskara menatapi Raina serius. "Dek serius ini rumahnya pak Meggy?" tanya Baskara melihat bangunan berlantai 4 itu Raina langsung mengangguk "Iya bang, masa iya aku kirim abang ke rumah orang sih ya kali aja" ujar Raina menatapi abangnya aneh "Ya bukan gitu Raina, cuman ini rumah megah banget. Hampir mirip kayak gedung tau! emangnya berapa anaknya pak Meggy banyak yaa?" tanya Baskara heran Raina menatapi Baskara sendu lalu menggelengkan kepalanya "Pak Meggy tidak bisa memiliki keturunan, dan istrinya selalu setia padanya sampai sekarang, hubungan mereka selalu harmonis dan bahagia. Mereka tinggal bersama beberapa pelayan, rumahnya yang megah itu karena semua fasilitas di dalam nya lengkap! pokoknya engga bisa aku jelasin semuanya tapi intinya gitu! udah ayo kita masuk ke dalam bang, sejak kapak abang jadi kepo gini.. Ayoo" ajak Raina lalu melangkahkan kakinya dengan tatapan datar "Hmm oke oke" ujar Baskara memutar bola matanya kesal karena ucapan Raina Di pintu utama rumah megah itu di jaga oleh 2 security, di mana ke duanya langsung menunduk ketika melihat ke datangan Raina dan Baskara. "Selamat datang bu Raina, anda bersama tuan Baskara sudah di tunggu di dalam silahkan masuk" ujar salah satu penjaga Raina dan Baskara pun mengangguk dan tersenyum "Baik pak terima kasih banyak" jawab Raina Mereka pun masuk ke dalam rumah megah pak Meggy itu dan di arah kan oleh seorang pembantu di dalam untuk menuju ke ruangan Pak Meggy yang sudah menunggunya. ◇◇◇◇ Dara terlihat kocar kacir ke sana kemari membawa berkas berkas berisi list pasien, dia sangat kencang berjalan tanpa melihat ke jalanan. Yap, seperti biasanya Dara selalu berjalan seperti itu. Di arah berlawan dokter Zean menatapi Dara terpukau, melihat Dara yang kelelahan dan penat bekerja membuat dia ingin memberikan sesuatu padanya. Dokter Zean masih berdiri di sana menatapinya hingga Dara menubruk tubuhnya. Dara terkejut dan langsung menatapi Dokter Zean kaget. "Eh maaf maaf ya Dokte" ujar Dara menatapinya merasa bersalah Dokter Zean mengangguk dan tersenyum "Engga papa Dara, seperti biasa kamu selalu tidak memperhatikan jalanan. Jadwal kamu masih padat?" tanya dokter zean yang sudah mulai terbiasa berbicara dengan Dara Dara menatapi berkas itu dan mengangguk "Iya dok, ini masih padat banget. emangnya kenapa?" tanya Dara "Hmm nanti kalau kamu udah selesai kamu ke ruangan saya ya" jelas Dokter Zean membuat Dara sangat terkejut menatapnya Dara menggaruk kepala belakangnya "Ehh ke ruangan bapak? hmm ada apa ya pak?" tanya nya bingung "Pokonya kamu ke sana ya kalau sempat nanti saya kasih tau" jelas dokter Zean tersenyum manis padanya lalu meninggalkan Dara Dara mengerutkan keningnya heran lalu menatapi dokter Zean dengan membalikkan badannya "Dokter Zean kenapa? kok jadi bener bener aneh banget?" gerutu Dara pelan kebingungan Dokter Zean lalu menuju ke ruangannya "Hmm bagus aku memang harus mendekati Dara, tapi harus dengan cara yang klasik sesuai dengan caraku. Pada akhirnya aku yakin kok Dara juga akan sadar dengan pendekatan ini" jelas Dokter Zean lalu duduk di kursinya "Aahh bodo amat deh, nanti aku ke sana dan lihat aja apa yang Dokter Zean mau! hmm bikin orang penasaran aja" gerutu Dara lalu kembali melangkahkan kaki nya kesal ◇◇◇◇ "Ini benar benar harus privat lhoo Baskara, bapak pikir ini memang ada sangkut pautnya sama pemerintahan. Hahh agak sulit sih yaa kalau udah melawan pemerintah" gerutu pak Meggy setelah mendengarkan semua cerita yang Baskara dan Raina jelaskan pada saat di kantor polisi "Iya pak, makanya saya juga memikirkan gimana caranya supaya kasus ini terpecahkan dan terungkap siapa dalang di balik semua ini. Bahkan saya rasa pekerjaan saya juga akan terancam, saya yakin itu" jelas Baskara sembari menunduk dengan sangat bingung Raina mambuang nafasnya berat "Lalu kita harus merencanakan apa ke depannya? gimana kalau abang bener bener di berhentikan?" gerutunya sangat kebingungan Pak Meggy menatapi Baskara serius "Baskara kamu engga usah takut soal itu! kamu berada se tim dengan bapak! kita akan berjuang bersama sama untuk segalanya. Jadi kamu engga usah khawatir soal ini ya" jelas Pak Meggy Istri pak Meggy yang ada di sampingnya ikutan mengangguk "Iya nak, kami ada di sini. Ibu juga mendukung kalian semua, hati kalian bersih dan kita akan membersihkan ketidak adilan di negeri ini" jelasnya serius pada Raina dan Baskara "Terima kasih pak bu" angguk Baskara tersenyum manis pada ke duanya Raina berkaca kaca "Sekarang kami merasa kalian benar benar ibu dan bapak untuk kami, terima kasih" angguk Raina "Iya sama sama" angguk bu Yessa tersenyum manis pada ke duanya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN