"Jika memang kamu di berhentikan dari ketentaraan, besok kita harus mulai bergegas. Kita bergerak di malam hari untuk menyusuri bekas bekas kebakaran di kampung kalian itu. Saya yakin pasti ada sebuah klu apa pun itu sekecil apa pun itu untuk membuat kita melangkah lebih jauh lagi ke kasus ini" ujar pak Meggy serius menatapi Baskara dan Raina
Baskara mengangguk setuju dengan apa yang Pak Meggy katakan "Ya, kita harus memulai semuanya pak, saya sangat setuju dan saya sangat yakin sekarang kita tak bisa bergerak sembarangan pasti kita akan di hadapi oleh beberapa gangguan. karena yang kita hadapi sekarang adalah orang orang berparas bijak namun sangat mudah diinjak oleh uang" jelas Baskara menatapi nya serius
"Oke pak, kalau gitu besok malam kita akan kembali kesini dan menyiapkan semuanya lebih matang lagi" tambah Raina sembari mengangguk
Pak Meggy juga setuju "Oke saya akan siapkan beberapa hal yang akan kalian butuhkan nanti saat penyelidikan" jelas pak Meggy serius
"Baik pak" angguk Raina dan Baskara bersamaan
Setelah cukup lama berbincang bincang akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang karena waktu sudah cukup malam dan Baskara pun harus menjemput Dara seperti yang sudah dia rencanakan. Mereka kini berjalan untuk keluar rumah Pak Meggy. Raina dan Baskara diantar pak Meggy sampai keluar rumah.
Beberapa pelayan langsung membukakan pintu rumah pak Meggy yang megah dan besar itu, mereka sembari memberi hormat pada Pak Meggy saat membuka pintunya. saat sampai di luar, Mereka pun berhenti dan saling bertatapan.
"Kalian hati hati yaa, bapak sarankan untuk lebih menutupi diri saat keluar rumah. Karena seperti yang kamu bilang tadi Baskara, kita siap melawan mereka dan artinya mereka juga siap kapanpun untuk melawan kita. Mereka siap membunuh ratusan ribu jiwa dalam aksi kebakaran itu. Bukan hal yang tidak mungkin jika mereka juga membunuh kita kapan pun itu" jelas Pak Meggy terdengar seperti berbisik
"Baik pak, kami akan lebih berhati hati" jawab Baskara segera
Raina pun mengangguk "Ya sudah pak, kami pergi dulu yaa" ujarnya
"Oke, selamat berjumpa besok yaa. Siapkan mental kalian, jika memang Baskara masih dibekerjakan kamu masih siapkan untuk melakukan penyelidikannya lusa?" tanya Pak Meggy serius pada Baskara
Baskara langsung mengangguk "Ya, saya siap pak!" jawabnya segera
"Oke sekarang kalian pergi dan sekali lagi hati hati jika ada apa apa langsung telpon bapak ya" ujar pak Meggy
Ke duanya mengangguk, mereka pun pergi dari teras rumah Pak Meggy lalu menuju ke garasi untuk pulang.
◇◇◇◇
Dara sudah selesai dengan semua pekerjaannya, waktu sudah menujukkan pukul 20.40 sebentar lagi jamnya untuk pulang. Namun sembari menunggu kedatangan Baskara dia ingat dengan suruh dokter Zean yang menyuruhnya untuk ke ruangannya sebentar.
"Ahh iya tadi dokter Zean suruh aku ke ruangannya, engga tau mau ngapain tapi aku ke sana deh takutnya dia mau omongin hal yang serius kali" gerutu Dara pelan lalu berjalan menunu ke ruangannya dokter Zean
Dara menatapi arloji di tangannya hingga dia sampai di depan pintu ruangannya pak Zean, Dara langsung mengetuk pintunya pelan. "Permisi dokter Zean, saya Dara" ujar Dara dari luar sembari mengetukan pintunya
"Oh iya iya, masuk aja Dara engga di kunci kok" jelas pak Zean langsung menjawabnya
Dara pun membuka pintu ruangannya perlahan lalu masuk ke dalam. Dia melihat dokter Zean yang sedang duduk di kursinya, namun ada yang aneh di mana makanan kini memenuhi meja dokter Zean.
"Dara silahkan duduk" jelas Dokter Zean tersenyum manis padanya
Dara mengangguk dan duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter Zean dan hanya terhalang meja yang di penuhi makanan dan minuman itu. Dara menatapi ke meja itu dengan tatapan bingung.
"Dok, tadi kan dokter suruh saya ke ruangan dokter. Ada apa yaa?" tanya Dara perlahan dengan tatapan polosnya
Dokter Zean mengangguk lalu menunjuk ke arah meja "Saya mau ajak kamu makan bareng" jelasnya
Dara membelalak, matanya tak berkedip melihat Dokter Zean tak percaya dengan apa yang di ungkapkan dokter itu padanya. "Dok, hmm kok tiba tiba sekali?" tanya Dara kebingungan lalu menggaruk kepala belakangnya pelan
"Tadi kan saya lihat kamu kecapean banget dan kurang fokus, dan saya juga lihat kayaknya kamu kurang makan banyak pas istirahat jadi deh saya mau kamh makan dulu di sini yaa" jelas doktee Zean dengan senyuman di wajahnya
Dara tersenyum kaku dan sangat bingung harus berbuat apa "Ta- tapi kok mendadak banget sih dok" gerutunya sangat malu
"Engga perlu repot repot gini juga kok dok, saya baik baik aja kok. Emang bener kalau kurang fokus saya orangnya emang gitu" jelas Dara berusaha untuk membuat dokter Zean paham dan tidak salah paham
Dokter Zean tersenyum malu dan bingung sebenarnya dia melakukan ini hanya untuk bisa dekat dengan Dara dan ya dia juga khawatir dengannya "Aduh kok dia malah bilang gitu, jadinya kan saya bingung harus jawab gimana" ujar dokter Zean dalam hatinya dan sangat kebingungan
"Ehehe gitu yaa, saya cuma khawatir aja kamu kenapa napa. Terus ini makanannya gimana dong, sayang kan kalau di biarin dan mubazir gitu aja" ucapnya pada Dara dengan tatapan sendu
Dara pun tersenyum "Gak papa dok, dokter yang makan aja yaa. Saya jadi engga enak gini kalau dokter malah nyiapin ini semua buat saya" jelas Dara
"Lagian kenapa sih tiba tiba banget ini orang ngasih perhatian ke aku gini? apa mungkin dia... pengen apa apa dari aku? tapi apa yaa?" gerutu Dara dalam hatinya kebingungan
Dokter Zean langsung menggelengkan kepalanya "Engga bisa kalau saya makan sendiri, ini banyak banget lhoo. Kamu engga mau ya makan sama saya?" tanya dokter Zean
"Hmm bukannya engga mau sih dok, Dara cuma engga enak aja rasanya saya ngerepotin dokter gitu" jawab Dara segera
Dokter Zean langsung menggelengkan kepalanya "Eh engga engga kok justru saya seneng banget kalau kamu mau" jawabnya segera
"Seneng banget yaa dok?" polos Dara menatapi dokter Zean
Dokter Zean malah terdiam dan menatapi lucunya Dara saat menatapnya polos itu, sementara itu Dara malah teringat bagaimana saat dia menawari Baskara untuk membantunya mengantarkannya pindahan ke kontrakan barunya saat itu. "Kok ucapan yang dokter Zean bilang, kayak aku waktu itu ke Baskara. Jadi, apa mungkin??" lirih Dara dengan pikiran yang mulai berkeliaran ke mana mana
"Menyukai ku? sama seperti aku menyukai Baskara?" tambahnya dalam hati kecilnya itu dengan tatapan membelalak kini ke dokter Zean
Dokter Zean lalu membuyarkan lamunannya dan menatapi Dara kaku "I- iya seneng banget Dara. Saya tipe orang yang apa apa harus di habiskan harus di tuntaskan. Kalau engga rasanya mubazir banget kan apa lagi di luar sana banyak sekali orang orang yang justru harus bersusah payah untuk mendapatkan sesuap nasi" jelasnya berbicara sangat lancar setelah menemukan sebuah alasan klasik.
Dara lalu mengangguk angguk paham sembari tersenyum "aah iya iya saya paham, betul juga ya kata dokter Zean. Ya sudah deh, hmm saya.." potong Dara sembari menatapi makanan yang tersaji banyak di sana itu
"Kamu??" tanya dokter Zean menatapi Dara serius menunggu jawaban nya
Dara lalu mengangguk dan tersenyum pada dokter Zean "Yaa saya mau dok" jawabnya segera
Dokter Zean seakan melayang seketika setelah mendapat jawab Ya dari Dara. Pikirannya mulai berkeliaran tak tentu arah.
◇◇◇◇
Khayalan Dokter Zean saat menatapi Dara
"Jadi kamu mau kan terima cinta saya Dara? karena sejak dulu saya sudah memerhatikan kamu dan mulai menyukai kamu di pandangan yang pertama" ujar dokter Zean sembari berjongkok di hadapan Dara sembari memegangi kotak cincin di tangannya dan di saksikan oleh semua yang bekerja di rumah sakit
semua yang melihat berteriak "Ya Ya Ya! Terima! Terima! Terima"
Dara pun mengangguk dan tersenyum manis pada dokter Zean "Ya dok" jawabnya hal itu membuat Dokter Zean tersenyum bahagia dan langsung memakaikam cincin untuknya dan memeluk Dara dengan erat
◇◇◇◇
Dara lalu menatapi dokter Zean dengan tatapan aneh apa lagi dengan tingkah dokter Zean yang tiba tiba tersenyum senyum menatapinya itu. dokter Zean memang sangat tampan dan tak jauh berbeda dengan Baskara, tapi entahlah kenapa di mata Dara dia terasa sangat biasa saja.
"Dok?" sahut Dara yang segera membuyarkan lamunan anehnya itu
Dokter Zean pun tersadar lalu membuang wajahnya dan menatap ke arah lain. "Sial kok saya jadi berkhayal yang engga engga sih" gerutu nya dalam hatinya
"Dokter Zean engga kenapa napa kan?" tanya Dara menatapi nya serius
Dokter Zean lalu tersenyum dan menatapi Dara lagi dengan senyum di wajahnya. "Eh engga engga, ayo kita mulai makan aja" ajaknya
Dara pun hanya mengangguk dan masih menatapi dokter Zean dengan tatapan yang aneh. "Serius? apa dia bener bener suka sama aku? kok tingkahnya aneh gitu, jika iya hmm bagaimana ya? bagaimana cara aku jelasin kalau aku udah menyukai seseorang yang akan sangat sulit untuk tergantikan" gerutu Dara dalam hatinya
Mereka pun mulai makan bersama dengan situasi yang kaku dari ke duanya. Namun makan bersamanya tetap berlanjut.
◇◇◇◇
Baskara dan Raina sudah sampai di depan kontrakannya mereka. Raina lalu segera turun dari motor dan menatapi abangnya itu.
"Bang hati hati yaa di jalannya, dan bilangin salam dari calon adek ipar nya yang paling cantik dan gemoy ini" senyum Raina terlihat menjijikan bagi Baskara
Baskara hanya tersenyum menyungging "Apaan sih dek!" kesalnya
"Udah udah sana, kasian nanti mba Dara nya udah nungguin. Abang engga perlu khawatir sama Raina yaa, Raina bakal kunci pintu kontrakannya kok dan nunggu di dalem kalau abang udah pulang nanti ketok ketok aja yang kenceng ya" jelas Raina tersenyum
Dia pun mengangguk angguk dan tersenyum "Iya adek ku yang bawel" jawab Baskara segera
Raina mengangguk "Oke sana, byee"
"Oke abang berangkat yaa. Byee" ujar Baskara lalu kembali menghidupkan mesin motornya dan pergi dari sana
Raina pun segera masuk ke dalam kontrakan dengan membuka kunci pintu kontrakannya terlebih dahulu.
◇◇◇◇
"Aahh akhirnya sudah habis ya, sekarang kan engga jadi mubazir" senyum Dokter Zean menatapi Dara karena mereka sudah menghabiskan makanannya
Dara mengangguk "Iya syukurlah semuanya sudah habis, terima kasih ya dokter Zean atas semuanya" ujar Data menatapinya manis
"Iya sama sama Dara, lain kali kamu makan yang banyak yaa minum air putih yang banyak juga biar kamu lebih fokus lagi dan engga nabrak saya terus" jelas Dokter Zean sembari tersenyum menggodanya
Dara pun tersenyum merekah "Hehe iya iya dok" jawabnya
"Kamu mau langsung pulang?" tanya Dokter Zean
Dara langsung mengangguk "Iya dok, saya mau ada yang jemput nih" jelasnya segera
"Oh sopir pribadi kamu itu ya? yang biasanya jemput kamu" tanya dokter Zean
Dara langsung menggelengkan kepalanya "Bukan dok, dia kebetulan pulang kampung mendadak tadi jadi saya suruh seseorang buat jemput saya" jelas Dara segera
Dokter Zean seketika terdiam dengan tatapan bingung dan menebak siapa yang akan menjemputnya itu "Baskara ya?" ujar dokter Zean bertanya
"Lhaa kok dia bisa tau anjir? udah kayak peramal aja" gerutu Dara dalam hatinya
Dara langsung mengangguk dan tersenyum padanya "Iya dok" jawabnya tak sepanjang kalimat di pikirannya
"Baskara? bisa bisanya, jadi ok lain kali saya harus ajak Dara pulang bareng nih" gerutu dokter Zean dalam hatinya
"Ya udah yuk saya anterin kamu sampai luar, takutnya Baskara sudah nungguin kamu di luar" ujar dokter Zean
Dara langsung menggelengkan kepalanya "Engga usah dok, saya engga mau ngerepotin lagi" jawab Dara cepat
"Udah yuk, sekalian saya mau ke ruangannya dokter Anna" ajak dokter Zean lalu berdiri