Raina menatapi abangnya dari belakang dengan sorot matanya yang bangga "Abang adalah orang yang berani dan selalu menegakkan ke adilan, abang sangat mirip dengan bapak. Hahh aku jadi merindukan kalian pak bu, dan Evan" gerutunya dalam pikirannya
Tak lama akhirnya mereka pun sampai di kantor polisi. Dengan langkah berani Baskara melangkahkan kakinya bersama dengan Raina di sampingnya, Mereka terlihat sangat memukai dengan fostur tubuh yang ideal, mereka juga mengenakan pakaian serba hitam yang menambah aura keren dari ke duanya. Bahkan beberapa polisi yang bertugas langsung menengok ke arah mereka di sela sela kesibukannya. Mereka menatapinya sangat terpukau hingga lupa waktu kerja dan lupa berkedip.
"Mereka model?" tanya seorang polisi wanita berbisik ke temannya
Temannya lalu menggelengkan kepalanya masih dengan mulut yang menganga "Entahlah, tapi sepertinya iya. Mereka sangat ideal dan rupawan. Hmm aku sangat terpana dengan lelaki itu aahh ya tuhan" gerutu dia dengan hayalan di kepalanya yang mulai meliar
"Dia benar benar sangat tampan" tambah satunya lagi sama sama mulai berhalu
Baskara dan Raina berhenti di depan meja seorang polisi yang hari itu pernah Baskara jumpai. Seorang polisi berada di sana dan terlihat membelakangi meja, ia sedang menelpon seseorang. polisi itu merupakan polisi yang sama saat Baskara mencoba memberi laporan.
"Permisi!" ujar Baskara lalu mengetuk mejanya cukup keras
Si Polisi lalu menengok ke belakang, dia terkejut saat tahu Baskara kembali ke sana bersama dengan seseorang gadis. "Eh anda? iya sebentar!" ujar polisi itu lalu kembali menatap ke belakang dengan raut wajah yang berubah drastis
"Sialan, untung aja gue engga bicara sembarangan di telpon. Apa lagi ini lagi telponan sama atasannya dia, Sekata aja gue sembarang bicara, bisa bisa ketauan sama si Baskara" Gerutu polisi itu dalam hatinya lalu langsung menutup telponnya tanpa mengatakan apa pun pada pak Pandu
Dia lalu mengetikan sesuatu padanya dengan cepat.
Sebentar, ada si Baskara ke sini. Gue akan rekam obrolannya.
Ketiknya dan langsung dia kirim ke pak Pandu, si polisi itu tak lama mendapat balasannya.
Oh haha si Baskara panjang umur ya! oke oke, lo rekam!
Polisi itu lalu mengembalikkan chatannya dan mulai ke perekam suara. Dia lalu memulai rekaman di ponselnya dan kembali membalikkan badannya menatapi Baskara dan Raina dengan senyuman tipis. "Selamat sore, hmm pak Baskara ya?" sapa dia
"Ya" angguk Baskara segera dengan tatapan yang tajam padanya
Polisi itu mengangguk angguk "Baik, bapak bawa siapa sekarang? dia
...?" ujarnya menggantung sembari menatapi Raina sedikit terkunci karena terpukau dengan kecantikannya
"Adik saya, yang merupakan korban dari kebakaran itu dan saksi atas melihatnya orang orang berseragam hitam itu tepat sebelum kebakaran terjadi" jelas Baskara menatapi Polisi dengan tatapan yang tajam
Polisi itu langsung menelan salivanya kuat kuat lalu membuang wajahnya dan berhenti menatapi Raina yang seakan semakin tajam menatapnya.
"Oh iya iya saya inget, anda waktu itu menjelaskannya. jadi dia sudah sembuh dari koma nya?" tanya nya Basa basi
Baskara sudah muak dengan celotehan polisi itu, dia lalu mendekatkan wajahnya ke arah Polisi dengan tatapan tajam penuh dengan ancaman. Polisi itu terlihat sangat takut dan mundur perlahan, Nyalinya sangat ciut melihat reaksi marahnya Baskara apa lagi setelah dia tahu dia adalah anggota militer yang kuat dan hampir merebut kursi Pandu. Beberapa polisi di sana lantas menatap ke arah Baskara dengan tatapan bingung dan saling bertanya tanya.
"Jangan banyak basa basi, cepat jelaskan apa kasusnya sudah bisa di ajukan atau tidak!" tegas Baskara penuh penekanan di setiap katanya
Semuanya seakan semakin bertanya tanya "Apa mungkin mereka membicarakan kasus kebakaran itu?"
"Gila, ini sih bahaya kalau sampai kasusnya di ajukan"
Ujar beberapa orang polisi yang juga ikut bergabung ke line nya gubernur dan Jack. "Maaf pak! sopan lah, ini di kantor polisi" jelas polisi itu mencoba untuk seberani mungkin menatapi Baskara
"Cepat jawab" teriak Baskara lalu menggertaknya, layaknya singa yang sedang menerkam mangsanya
Raina membuang nafasnya berat dan memutar bola matanya, sebenarnya satu yang dia takutkan. Dia takut Baskara hilang kendali di sini. Beberapa polisi yang merupakan masih bawahan mereka terlihat kebingungan karena mereka tidak ikut terlibat dengan rencana rencana seniornya itu.
"Sebenarnya ada apa ya antara mereka? dan kasus apa yang mereka bicarakan?"
"Entahlah, aku juga bingung. Kayak pertama kalinya gitu kasus harus lama di ajukan untuk pelaporan" gerutu mereka yang tidak tau apa apa
"Kasusnya dicabut! tidak bisa di ajukan karena sudah saya peringati sejak awal pak, kasus itu bisa menyebabkan fitnah besar ke pemerintahan mau pun ke pihak polisi. Mohon tenang dan patuhi peraturannya" jelas polisi itu dengan jawaban yang lantang dan percaya diri
Baskara tidak percaya dengan hasil keputusannya dia mengerutkan keningnya "Apa?" gerutunya serius
Raina juga sangat terkejut menurutnya hal ini sangat tidak masuk akal sama sekali "Sebentar pak? kami di sini ingin melapor supaya kasus kebakaran itu terpecahkan teka tekinya tentang siapa orang orang yang berpakaian hitam dan apa mereka memang terlibat jika memang terlibat mereka di suruh siapa, kami hanya ingin misterinya terpecahkan lhoo! di dalam laporan kami jelas jelas tidak mencantumkan nama pemerintahan mau pun pihak kepolisian di dalamnya. Kenapa kasus ini bisa memfitnah ke duanya? apa kalian sebaper itu sebagai pemimpin dan aparatur negara?" tanya Raina dengan tatapan tajam pada polisi itu dan polisi polisi lainnya
Semuanya lantas terdiam apa lagi dengan para polisi senior yang memang terlibat di dalamnya. Beberapa polisi junior yang memang tidak terlibat mereka seakan bertanya tanya.
"Benar juga ya, kenapa kasus ini kayak sulit banget di pecahkan. Ada beberapa masyarakat yang melapor malah laporannya engga di terima dan mereka malah di sebut trauma dan tidak sadarkan diri saat mengatakan kesaksiannya" bisik polisi junior lain ke rekannya
"Hal ini juga mengganggu aku sudah lama, padahal masyarakat terlihat jujur kok. tentang kesaksiannya terhadap orang orang berbaju hitam itu" tambahnya lagi yang juga berbisik
Polisi yang duduk di kursi itu lalu menatapi Raina takut namun dia membuang wajahnya supaya reaksinya tidak terlalu jelas terlihat. Baskara menarik pakaian sang polisi dengan kasar.
"Jangan membalikkan badan! cepat jawab kenapa kasus ini tidak bisa di proses? apa kalian sebaper itu? kami tidak memfitnah kalian lho dalam pengajuan kasusnya, kami hanya ingin semuanya real! masalahnya bukan adik saya saja yang menyaksikan orang orang itu, beberapa orang juga tau akan kehadiran orang orang itu" jelas Baskara mencengkram kerah baju polisi itu dengan kasarnya
Semuanya mencoba untuk menenangkan Baskara dan melepaskan cengkramannya dari polisi itu, Raina sama sekali tidak khawatir dia justru sekarang tersenyum menatapi beraninya sang kakak.
"Mohon tenang pak, ini adalah peraturan dari pemerintah. Saya harap anda memakluminya" ujar seorang polisi senior yang mendekat dan mencoba menenangkan Baskara
Baksara tersenyum sinis "Oh, peraturan baru ya? yang jelas sangat tidak adik bagi korban kebakaran dan sangat tidak memiliki nurani pada kami. hah ternyata pemerintahan memang seperti itu ya, pantas saja bapak ini mengatakan kasus itu bisa menjadi fitnah bagi pemerintah. Saya sadar sekarang, bukan tertuju dan takut terfitnah! yang jelas saya rasa sekarang kalian mulai mencurigakan dengan menutup nutupi kasus ini. oke" ujar Baskara lalu melepaskan polisi itu dengan mendorongnya cukup kasar
Semua polisi senior di sana bertatapan sedikit takut, mereka rasa apa yang mereka lakukan akan terbongkar oleh pria yang kini berdiri di hadapan mereka.
"Pak bukan seperti itu permasalahnya, anda sama sekali tidak mengerti situasinya sekarang. Pemerintahan sedang di terpa beberapa masalah makanya kami menyarankan untuk tidak mengangkat kasus ini" jelas polisi yang duduk itu
Baskara menatapinya datar "Takut kena masalah lagi? dengan cara menutupi penderitaan rakyat ya? Haha lucu sekali negeri ini" ujar Baskara lalu membalikan badannya dan hendak keluar dari sana
Raina menatapi semua polisi itu dengan senyuman manis penuh ancaman "Jangan anggap kami berhenti di sini, langkah kami baru di mulai. Dan dengan pernyataan kalian semua yang mencurigakan menjadi salah satu bukti kuat bahwa kami perlu mencurigai orang orang yang kalian sebutkan tadi takut di fitnah itu! permisi" ujar Raina masih dengan senyuman di wajahnya
Semuanya terdiam, keadaan seakan mencekam semuanya. Baskara lalu membalikkan badan nya dan menatapi semuanya kembali "Saya militer disini, yang bekerja untuk negara dan masyarakat yang bersih di dalamnya. Sekali pun saya kehilangan pekerjaan saya untuk membantu masyarakat supaya keadilan tertegak saya tidak takut, bahkan nyawa pun akan saya korbankan. Untuk kalian berhati hatilah, jangan pernah ingin masuk ke jalan setan jika kalian tidak siap untuk siksaan yang akan setan rasakan" ujar Baskara dengan senyuman di wajahnya
Baskara dan Raina pun pergi dari sana dan segera naik ke motornya kembali untuk pulang dan mulai mengumpulkan rencana ke dua. Para polisi senior terlihat panik dan pergi ke ruangan khusus senior. Sementara itu polisi yang duduk di meja tadi dia terlihat sedikit panik dan membuang nafasnya berat. Dia lalu membawa ponselnya dan menghentikan rekamannya.
"Sialan, Baskara terlalu kuat" gerutu dia dalam hatinya
"Bagaimana pun, dia tetap harus di taklukan. Tapi dia sama sekali tidak takut kehilangan pekerjaannya, sepertinya dia peramal" tambahnya lagi sembari mengoprasikan ponselnya lalu mengirim rekaman itu ke Pandu yang merupakan atasan Baskara
Setelah itu dia bangun dan membenarkan kerah seragamnya, dia pun langsung menuju ke ruangan senior di mana yang lainnya sudah berkumpul. berbeda dengan polisi polisi junior yang justru curiga dengan para seniornya namun apa boleh buat tugas mereka hanya mendengarkan perintah dari pada senior.
Di ruangan para senior mereka mulai mengadakan rapat dan menelpon pak Gubernur. Pak gubernur sangat terkejut saat tahu satu pemuda militer yang mengganggunya. Mereka mulai merencanakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan tragis untuk Baskara.
◇◇◇◇
Setelah mereka selesai rapat rahasia, salah satu diantara mereka masuk ke sebuah ruangan tertutup dan terkunci rapat. Saat masuk ke dalam ruangannya sangat gelap dan pengap. Seseorang di sekap di sana. Polisi itu lalu membuka lakban yang di gunakan untuk menutup mulutnya.
"Aahhh bagaimana sekarang mereka? kalian.. jangan bilang kalian melakukannya juga?" gerutu dia dengan tangisan di wajahnya, pria itu masih memakai seragam polisi dengan nama Sam di baju tugasnya
Polisi itu mendekat ke arahnya dan langsung memelototinya "Mereka sudah lama mati, terbakar! anak, istri mu tidak ada yang selamat. Sekarang lupakan mereka dan makan ini" jelasnya memelototinya lalu membawa roti roti itu di piring yang tergeletak di sampingnya sejak tadi
"Aku tidak mau makan, aku ingin berjumpa dengan anak dan istriku" jelas dia masih menangis. Karena ruangan yang pengap dan tak berjendela itu membuat suara dia tidak terdengar sampai luar
Polisi itu terlihat kesal menatapi Sam yang gila karena dia satu satunya senior yang menolak untuk rencana pembunuhan masal karena kebakaran itu, dia tidak mau karena itu kampung halamannya. Sam sempat di bujuk dan para rekannya bilang bahwa rumah dan keluarganya tidak akan di bakar, hingga Sam pun mengiyakan dengan hati yang berat dan terpaksa namun sam di bodohi. Saat dia ingin mengecek rumah dan keluarganya semuanya sudah hangus terbakar tanpa terlihat sisa sisa kehidupan di sana. sejak itu Sam mulai gila dan kehilangan segalanya.
"Kenapa kalian mau di suruh membunuh hanya karena uang hah? kalian tidak memikir kan aku, aku bekerja untuk keluargaku di sini dan kalian membunuhnya, kalian membunuh kehidupanku" teriak Sam dengan tangisan yang terus menerus bercucuran
Polisi itu lalu membawa roti rotinya dan memasukannya dengan paksa ke dalam mulut pria gila itu yang dulu adalah rekannya. "Maafkan aku Sam, tapi aku juga tidak bisa menolak! sekarang kamu harus terima keadaan nya" ujar dia dengan tatapan benci pada rekannya itu
Sam hanya menangis dengan mulut yang di penuhi oleh roti. Istri dan satu anak lelakinya sudah pergi meninggalkannya karena kebakaran itu, dan dia sudah tidak bisa hidup lagi.