Sebuah dompet

1708 Kata
"Pimpin bang takutnya ada polisi di depan" ujar Raina pelan Baskara mengangguk lalu melangkahkan kakinya, Dara di belakangnya dan di belakang Dara ada Raina dan Pak Meggy. Mereka berjalan dengan sangat pelan dan hampir menuju ke sebuah bangunan yang tadi di jadikan mereka tempat untuk mengintai rumahnya. Tiba-tiba sebuah senter mengarah ke arah mereka. Lantas hal itu membuat semuanya sangat terkejut. "Siapa itu?" gerutu Pak Meggy bingung "Pura pura tidak dengar saja dan terus jalan" ujar Baskara lalu kembali melangkahkan kakinya Mereka pun mengikuti arahan dari Baskara dan kembali berjalan. Ke dua polisi itu menatapi saling bingung. "Hey, siapa kalian" ujar mereka semakin curiga Baskara, Raina, Dara dan Pak Meggy sudah berada cukup jauh dari mereka. "Mungkin penduduk sini yang tidak kebagian tenda kali" ujar salah seorang polisi lain yang ada di sampingnya "Hm ya udah deh, lupain aja" ujar si polisi yang menyenteri lalu mereka pergi dari sana dan berjalan ke arah lain Baskara dan semuanya sudah kembali ke dalam mobil dan segera mengendarai mobilnya jauh keluar dari area sana. Di dalam perjalanan Dara yang kini memegangi dompet itu terlihat sangat serius menatapinya. Baskara menatapi nya dari kaca "Dara, sebaiknya buka aja sekarang" perintah Baskara Dara lalu menatapi semuanya serius, Raina dan Pak Meggy mengangguk setuju dengan apa yang Baskara sarankan. Dara pun mengangguk dan kembali menatapi dompet itu, dia perlahan membuka dompetnya. Keadaan terasa sangat tegang, apa lagi dengan Raina yang sekilas demi sekilas terbayang saat saat malam mengerikan itu berlangsung. "Semuanya.. hangus saat itu, tapi tidak dengan dompet ini" gerutu Raina dalam hatinya dengan tatapan yang serius pada dompetnya Dara pun sudah membukanya, dia melihat identitas si pemilik dompet bersama dengan sebuah foto keluarga di sampingnya. "Pemilik dompetnya siapa Dara?" tanya Baskara yang masih fokus mengendarai mobil "Identitasnya bernama Sam Mahaputra, di sini tertulis dia adalah seorang polisi senior. Di sini juga ada foto keluarganya, istri dan satu anaknya." jelas Dara dengan suara lirih masih menatapi foto itu dengan seksama Raina membelalak saat Dara mengatakan semuanya, dia lalu mendekat ke arah Dara dan mengecek dompet itu. "Pak Sam?" ujar Raina sangat sangat terkejut seakan dia tidak percaya "Tunggu tunggu, bukannya dompet itu juga terletak di depan rumahnya pak Sam kan? apa mungkin.. jika memang pak Sam terlibat, apa dia setega itu sama keluarganya?" ujar Baskara dengan tatapan tidak percaya Raina dan Dara juga semakin bingung dengan klu yang baru mereka dapat itu "Raina? apa kamu tau istri dan anaknya pak Sam ini? selamat atau tidak dari kebakaran itu?" tanya Pak Meggy serius menatapi Raina Raina menggelengkan kepalanya "Saya rasa tidak ada yang selamat dia area kami pak, apa lagi letak rumahnya pak Sam tidak jauh dari rumah kami" jelas Raina dengan tatapan serius dan mata yang sudah berkaca kaca "Yang kami tahu selama ini pak Sam itu adalah ayah dan suami yang baik, kami kayak engga percaya gitu kenapa pak Sam bisa setega ini" gerutu Raina lagi Baskara mengangguk dan membuang nafasnya sangat berat "Ya, pak Sam sangat baik. Kayaknya engga pernah terpikirkan bagi kami kalau dia juga terlibat" jelas Baskara lagi "Tunggu, dari klu ini.. Artinya memang mungkin para polisi lah yang malam itu memakai seragam hitam seperti apa yang Raina lihat, soal pak Sam terlibat atau tidak dalam kejahatan ini itu masih harus di pertanyakan dan belum ada bukti pasti tentang pak Sam sebelum kita harus menemui pak Sam terlebih dahulu dan menginterogasinya. Dia satu satunya orang yang akan kita jadikan saksi, apa lagi dengan bukti dompet ini yang akan menguatkan kita" jelas Dara menatapi semuanya serius Semuanya mengangguk setuju "Benar mba Dara, yang harus kita cari sekarang adalah pak Sam! dia harus mengatakan semuanya kenapa dompet itu berada di sana tepat di malam itu" jelas Raina mengangguk "Apa mungkin pak Sam masih di kantor polisi?" tanya Baskara "Sepertinya iya, jam 10 malam biasanya mereka para polisi pulang. Kita akan menunggu pak Sam pulang dan keluar dari kantor polisi" jelas Pak Meggy Baskara mengangguk, sementara itu ada hal lain yang dia pikirkan. "Tapi kenapa para polisi itu tadi berdiri di area perumahannya pak sam? apa kalian melihat? sepertinya mereka sedang mencari sesuatu" jelas Baskara "Entahlah Baskara, ini masih sangat membingungkan" gerutu Pak Meggy membuang nafasnya Dara pun menutup dompet itu dan memberikannya pada Raina "Mba Raina sebaiknya mba yang simpen kalau ada di saya saya takut ilang" jelas Dara "Hm baiklah" angguk Raina sembari meraihnya Mereka terlihat masih bingung dengan apa yang terjadi di malam itu, kenapa para polisi terlibat. "Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah kenapa para polisi itu mau terlibat dalam hal keji ini? Puluhan orang meninggal dunia di malam itu, apa yang sedang mereka incar? siapa dalangnya?" gerutu Baskara yang langsung membuat semuanya juga kembali berpikir "Kita masih belum tahu, dan tidak akan mudah untuk mengungkap semuanya. Tapi yang pasti dia adalah orang kuat, orang besar yang bisa membayar para polisi itu dengan harga mahal. Tentang apa tujuan dan niatnya kita masih belum tau, saya rasa semuanya perlahan akan terungkap. Kita selediki dan terus ikuti saja alurnya" jelas Pak Meggy yang langsung mendapat anggukan setuju dari semuanya. ◇◇◇◇ Jendral Hans duduk termenung di kursinya yang berada di ruangannya. Bayangannya masih seputar tentang kedekatan dirinya dan Baskara. Namun keadaan yang membuatnya harus melakukan ini semua pada anak didik yang paling dia sayangi. "Perlu kamu tahu Baskara, Bapak tidak pernah ragu atas apa yang kamu ucapkan. Tapi kekuasaan Bapak di pertanyakan, saat ini keadaan begitu genting. Jika bapak salah bertindak maka kepolisian dan ketentaraan bisa berakhir dengan hubungan buruk. Bapak juga di anggap pilih kasih dan terlalu menyayangi kamu sebagai bawahan bapak karena bapak bingung memutuskan bagaimana akhirnya. Maafkan bapak Baskara, berjuanglah! jika memang apa yang kamu katakan benar adanya. Bapak Yakin kamu akan bisa melaluinya" gerutu Jendral Hans dengan sorot matanya yang kosong Betapa bingungnya keadaan dia saat ini, karena dia pun tahu betul bagaimana hancurnya Baskara. Kehilangan ke dua orang tua dan pekerjaannya di jeda waktu yang berlangsung tidak jauh pasti membuatnya sangat terpukul dan drop. "Jangan berhenti Baskara! bapak yakin kok sama kamu, kamu berbeda dari orang orang biasa" senyum Jendral Hans merekah ◇◇◇◇ Sebuah mobil terparkir di pinggir jalan yang menghadap ke kantor kepolisian, lebih tepatnya mobil yang Baskara kendarai bersama dengan 3 orang rekannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.48 "Mereka sepertinya masih di dalam" jelas Pak Meggy menatapi serius ke arah kantor polisi yang jaraknya cukup jauh dari mereka supaya menghindari kecurigaan Raina menatapi arloji di tangan nya "Pasti bentar lagi deh" ujarnya "Iya kita tunggu aja" jawab Baskara lalu membawa sebotol minuman dan sandwich yang tersimpan di depannya Dia lalu memberikannya pada Dara dengan senyuman manis "Kamu minum dan makan dulu ya" ujar Baskara padanya "E- eh iya iya Baskara, makasih ya" jawab Dara lalu meraih nya dengan senyuman manis Baskara pun mengangguk "Iya Dara sama sama" jawab Baskara segera masih menatapi Dara dengan senyuman di wajahnya Pak Meggy yang juga sedang minum itu tersenyum menatapi ke dua pasangan muda yang sama sama masih memendam perasaan, berbeda dengan Raina yang menatapi abangnya kesal. "Bang ambilin juga buat Raina dong!" jelas nya merengek seperti anak kecil "Ya ampun Raina! iya iya bentar" kesal Baskara sembari sedikit memelotot menatapi adiknya itu dan membawa sebotol minuman dan sandwich untuknya Dara pun hanya tersenyum sambil mengunyah sandwich yang Baskara berikan "Ini Adikku!" ujar Baskara memberikannya pada Raina Raina tersenyum manis dan lega "Hmm makasih abang, gitu dong adil! sama adik sendiri dan saka calon kakak iparnya Raina" ujar Raina sembari menyender di bahu Dara Dara terkejut dan menatapinya dengan senyuman yang kaku, berbeda dengan Baskara yang memelototi adiknya itu. "Raina apa apaan sih kamu" kesal Baskara "Ih kenapa jadi marah bang, kan abang sendiri yang bilang.." ucapan Raina langsung terpotong kala abangnya dengan segera menutup mulut Raina Namun disaat itu lah Baskara malah tersungkur dan terjatuh di tubuh Dara "Ya ampun" gerutu Pak Meggy lalu pura pura tidak melihat dan dia memilih untuk menatap ke luar jalanan "Ekhemm, dan terjadi lagi...." gerutu Raina dengan nada menyanyi sambil sedikit menjauh dari Dara Baskara menatapi Dara dengan tatapan terpukau bagaimana tidak menatapi Dara yang secantik itu dari jarak yang dekat bisa membuat siapa pun tidak bisa mengedipkan matanya. Berbeda dengan Dara yang lebih dulu sadar dan membuang wajahnya dengan senyuman canggung. "Ya ampun Dara, hmm ma- maafin aku ya" sahut Baskara langsung menjauh dari Dara dan kembali duduk di kursinya Dara pun kembali menatapi Baskara masih dengan tatapan canggung lalu mengangguk "I- iya gak papa Baskara" jawabnya gugup "Lagian abang sih kenapa coba tiba tiba bungkem mulut adek! jadinya gitu kan malu maluin" ujar Raina menatapi abangnya dengan tersenyum manis menggoda abangnya Baskara kembali memelototi Raina "Stop Raina stop, ini gara gara kamu lho" jelas Baskara memperingati "Hmm udah gak papa kok, lagian kan Baskara engga sengaja" ujar Dara mencoba untuk menghentikan cek cok antara kakak beradik itu Baskara mengangguk dan tersenyum lega "Dara dari jarak yang deket cantik banget ya ampun" gerutu Baskara dalam hatinya "Hmm iya mba Dara maafin abang aku yaa" tambah Raina menatapi Dara serius "Iya iya gak papa" jawab Dara segera Pak Meggy tiba tiba melihat sesuatu dan menunjuk ke sana "Lihat! mereka sepertinya udah pada pulang" ujar nya dengan menatapi ke arah sana serius "Hmm iya pak! Raina siapkan mata tajam kamu dan jangan sampai Pak sam lolos" ujar Baskara menambahkan Raina mengangguk dan mulai menatapi ke arah sana dengan serius. Hingga setelah cukup lama melihat para polisi yang berlalu lalang, mereka belum menemukan hasil apa pun. "Kayaknya pak Sam engga masuk kantor polisi deh bang" ujar Raina membuang nafasnya cukup berat Dara ikut berpikir "Kenapa ya? apa mungkin dia trauma dengan apa yang di lakukannya pada keluarganya? sehingga dia engga masuk kerja?" tanya Dara menatapi serius pada semuanya "Hmm entah lah Dara, bagaimana dong ini? jika Pak Sam ini engga ada di sini terus dia di mana dan bagaimana cara kita menemukan lokasinya" tanya Pak Meggy dengan tatapan yang serius pada Baskara Baskara terlihat berpikir dengan serius "Apa kita coba temui sanak saudaranya pak Sam? dan coba kita tanya dimana Pak Sam berada?" tanya Baskara pada semuanya "Itu harus di coba bang, tapi jika kita tidak menemukan hasil dengan cara itu. Kita dengan terpaksa harus coba interogasi polisi lain dengan cara yang kasar!" jelas Raina Semua mengangguk setuju dengan apa yang Raina katakan "Ya, benar kata mba Raina" ujar Dara
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN