Next Day

1722 Kata
"Oke, kita coba besok aja temui saudaranya pak Sam ya karena sekarang udah malam banget" tambah Baskara menatapi semuanya khawatir Dara, Raina dan Pak Meggy mengangguk setuju "Iya lagian kita harus siap siap buat kerja besok kan bang" jawab raina menatapi abangnya serius "Ka- kamu kerja di mana Baskara?" tanya Dara menatapi Baskara serius Baskara lalu menatapi Dara "Aku kan udah di berhentiin di ketentaraan. Aku bakal kerja bareng sama Pak Meggy tapi engga di kantornya sih kayaknya ya pak" ujar Baskara lalu menatapi Pak Meggy serius Pak Meggy langsung mengangguk "Ya, kamu kerjanya pokonya jadi asisten bapak. kemana mana kamu ikut bapak, kita harus saling jaga soalnya sekarang Baskara. Keadaan kamu dan Raina sekarang udah engga aman apa lagi dengan kedatangan kalian waktu itu ke kantor polisi. Jika nanti mereka tau kamu juga kerja di kantor bapak, bisa jadi mereka nanti tau tentang rencana kita semua" jelas pak Meggy menatapi Baskara serius Baskara mengangguk setuju "Iya benar pak, lebih baik saya ikut bapak aja" jawab Baskara segera "Oke sekarang kita pulang bang, kasihan juga mba Dara udah kemalaman banget" tambah Raina menepuk bahu Baskara Dara tersenyum lalu menggelengkan kepalanya "Eh engga papa kok mba Raina, lagian di rumah aku engga di batasin harus pulang kapan kok. Engga ada yang nyariin juga soalnya" jelas Dara masih dengan senyum polos di wajahnya "Mba Dara" lirih Raina dengan tatapan sendu padanya Begitu pun dengan Pak Meggy, apa lagi Baskara yang merasa tersentuh dengan pernyataan Dara. "Padahal dia mengatakan rasa sakitnya yang sebenarnya, tapi dia malah terlihat polos saat mengatakannya. Mungkin karena sudah terbiasa jadi ini bukan luka besar baginya" gerutu Baskara dalam hatinya "Eh kenapa kalian liatin aku kayak gitu" sahut Dara terkejut dan menatapi semuanya malu "E- engga mba Dara aku cuma" gantungnya sembari masih menatapinya sendu "Kenapa mba Raina?" tanya Dara menatapinya polos Baskara tersenyum canggung menatapi ke duanya "Sekarang kita pulang aja yu!" ajaknya lalu menyalakan mobilnya "Let's goo" semangat Pak Meggy Raina dan Dara pun teralihkan dan mengangguk setuju dengan apa yang mereka katakan. Mereka pun pulang dan lebih dulu mengantar Dara ke rumahnya, setelah itu Raina dan Baskara di suruh menginap di rumah pak Meggy. "Pak kita kok jadi di suruh nginep, kita engga mau ngerepotin lhoo. Kita sekarang pulang aja sekarang yaa, kan ada motor Baskara di sini" ujar Baskara menatapi Pak Meggy serius Raina ikut mengangguk "Iya pak lagian ini baru jam 11 malam kok. Kita balik aja sekarang yaa" tambah Raina "Heh kalian ini engga ngerti apa yaa, justru ini sekarang udah malam banget tau! makanya bapak ajak kalian nginep aja di sini. Sudah bapak jelaskan kan dari tadi keadaan kalian engga seaman dulu, yang pasti musuh kita pasti engga akan membiarkan kita aman apa lagi setelah kalian berdua yang bilang akan menyusut tuntas kasus ini. Bisa aja malam malam begini mereka nyerang kalian, bapak engga bisa biarin itu! udah kalian nginep di sini pokonya jangan ngelak lagi ayoo" ajak Pak Meggy terlihat sedikit marah menatapi ke dua kakak beradik yang sudah dia anggap sebagai anaknya itu Pak Meggy lalu melangkahkan kakinya segera dan masuk ke dalam "Ayo kalian ikutin bapak" perintahnya sembari berjalan Baskara dan Raina saling bertatapan mereka lalu mengangguk dan mengikuti langkah pak Meggy, mereka menuruti apa yang Pak Meggy mau karena dia pun sangat khawatir pada ke duanya. "Benar, kehidupan ku dan Raina tidak akan seaman dulu. aku yakin mereka pasti akan mengincar kita" gerutu Baskara dalam hatinya sembari memasuki rumah megahnya pak Meggy ◇◇◇◇ "Benar, keadaan Baskara dan adiknya itu sekarang engga akan pernah bisa aman lagi, setelah ke dua kakak beradik so berani itu mengancam kubu gue lihat saja apa yang akan terjadi. Nyawa mereka akan hilang sebelum kasus yang sedang mereka selidiki terpecahkan" gerutu Jack pelan sembari tersenyum jahat Tangannya memegangi gelas berukuran kecil berisi minuman keras, dia duduk di ruangan pribadi yang ada di kamarnya. Ruangan itu sangat gelap dan hanya di soroti oleh satu lampu redup yang hanya menyinari kursi yang Jack duduki sekarang. "Mari kita lihat Baskara, siapa yang jauh lebih kuat. serangga jangan coba coba melawan monster lhoo" tambahnya lagi lalu meneguk minuman itu dengan puasnya Jack lalu bangun dari duduknya dan keluar dari kamarnya, dia menuju ke dapur untuk memeriksa apa ibunya sudah pulang. setiap malam dia selalu melakukannya namun orang orang tidak menyadari apa yang Jack cari. "Sepertinya perempuan itu masih belum pulang, kenapa harus menyiksa diri seperti ini karena seorang pria b******n?" gerutu Jack setelah sampai di dapur dan dia tidak melihat ibunya berada di sana "Bang" sahut Dara gugup Jack hanya melihat Dara yang sudah memakai pakaian santai, dia sedang memasak bersama dengan beberapa pelayan di sampingnya. Jack hanya terdiam dan menatapi adiknya itu dengan tatapan seperti biasa. Setelah tahu ibunya tidak ada di sana, jack lalu membalikkan badannya lagi dan hendak pergi dari sana. "Adik t***l, dia berpura pura tidak tahu apa apa. Padahal ibu saat ini sedang terluka oleh ayah! pria b******n itu, cih! apa masih pantas di sebut ayah" gerutu Jack dalam hatinya Dara menunduk dengan tatapan sendu, lagi dan lagi abangnya bersikap seperti ini padanya. Jack selalu mengabaikan kehadiran Dara di mana pun itu. "Sebenarnya apa yang abang pikirkan tentang aku? kok dia sedatar itu sama aku?apa aku tidak pantas untuk menjadi adiknya? mengingat Baskara dan mba Raina hah.. hubungan kakak beradik yang hangat dari mereka membuatku kadang iri" gerutu Dara dalam hatinya dengan perasaan yang terasa hancur Seorang pembantu di samping Dara kini menatapi Dara sendu dan kasihan, dia tahu bagaimana selama ini hubungan mereka. Pembantu itu lalu menatapi Jack dan menghampirinya segera "Tuan? mau makan malam dulu sekarang? makanannya udah siap, mumpung masih angat" jelas si pembantu Jack masih melangkahkan kakinya semakin jauh dari dapur, tanpa jawaban dari pertanyaan si pembantu. Mereka pun hanya menatapi kepergian Jack dengan tatapan sendu. "Ada apa sebenarnya dengan bang Jack? kenapa dia terus seperti ini" ujar Dara lagi dalam hatinya ◇◇◇◇ Sementara itu di ruang kerja Donita yang ruangannya sudah agak redup, terlihat Donita yang tertidur dengan posisi kepala dan badannya yang menyender ke meja. Di depannya ada telpon yang sejak tadi dia tunggu kabar dari sang suami. Donita tertidur sangat pulas, ya hari ini dia sudah sangat lelah. Bukan hanya karena pekerjaan, hubungannya dengan sang suami pun membuatnya sangat lelah. Tiba tiba seseorang membuka pintu dia sangat terkejut setelah melihat Donita yang malah tertidur. Dia adalah salah seorang suster. "Hmm bu Donita udah tidur, ya udah deh kasian kalau saya ganggu" ujar dia lalu kembali menutup pintunya lagi dengan sangat berhati hati Donita lalu membuka matanya perlahan, matanya yang lembab dan masih merah bekas tangisan sebelumnya yang sampai membuatnya tertidur lelap. Dia lalu meraih ponselnya dan melihat apakah ada notifikasi masuk dari suaminya, ternyata tidak! masih Nihil. Donita menghembuskan nafasnya teramat berat, dia lalu bangun dan menyimpan ponselnya lagi di meja. Donita memegangi ke dua kepalanya yang terasa sangat sakit. "Aku engga tau lagi harus melangkah seperti apa di hubungan kita mas, aku harus apa sekarang" lirih Donita pelan Perlahan air matanya kembali berjatuhan, rasa sakit di kepalanya seakan semakin menusuknya terus menerus seiring dia semakin menangis. "Pulang mas, mumpung masih ada waktu. Mumpung pintu rumah kita masih terbuka buat kamu, dan hati aku juga. Tolong mas, aku engga sanggup lagi melihat Jack dan Dara yang kecewa pada kamu. Tolong tunjukkan ke mereka kalau kamu masih ayah dan suami aku yang dulu" lirihnya lagi semakin dalam menangis ◇◇◇◇ "Wanita ini.. dia.. apa nyawa nya saja bisa mengembalikan ayah?" gerutu Jack pelan sembari memegangi beberapa foto berisi foto ayahnya bersama seorang wanita yang sama di setiap foto. Ada lima lembar foto yang Jack pegang, dua diantara nya foto bugil antara ayah Jack bersama wanita itu. Mata Jack memerah, ketakutannya sejak kecil ternyata terbukti sekarang. Alasan kenapa ayahnya hanya pulang setahun sekali ke rumahnya, itu pun hanya 3 hari dia menetap. Dugaan Jack selalu benar dan tidak pernah salah. "Pramugari ini harus membayar semua rasa sakit yang ibu rasakan selama ini, yang gue dan Dara juga rasain. jadi gue jangan cepat cepat membunuhnya. Gue harus menyiksa sisa sisa hidupnya" gerutu Jack menatapi tajam ke arah foto foto itu "Cih! ayah terbaik apanya! ayah yang selama gue kecil selalu gue sebut super hero terkuat. Cih apa apaan" ujar Jack lagi lalu menaruh foto foto itu di bagasi di bawah mejanya Jack lalu kembali duduk dan menyenderkan tubuhnya di kursinya. Dia membuang nafasnya berat dengan tatapan kosong ke depan. "Selama ini ibu menemani ayah dari 0 tapi pramugari itu dengan mudahnya menggoda ayah dan mendapatkan ayah. hingga ayah rela meninggalkan kami" gerutu Jack dengan tekanan di setiap katanya "Kalian akan mendapat balasan yang setimpal untuk rasa sakit yang ibu rasakan selama ini" tambahnya "Gue akan menguasai dunia, dan membunuh siapapun yang tidak gue inginkan untuk hidup" ujar Jack lagi dengan tatapan yang semakin marah ◇◇◇◇ "Nah ini kamar kamu Raina, dan untuk kamar Baskara di sana yaa" ujar Pak Meggy tersenyum pada mereka berdua Jarak kamar Baskara dan Raina tidak cukup jauh "Baik pak, makasih yaa" jawab ke duanya bersamaan "Iya iya udah, kalian sekarang bersihin diri kalian dan nanti kita makan bareng yaa! mungkin ibu udah tidur bapak mau cek dulu yaa" ujar Pak Meggy Baskara dan Raina pun mengangguk "Iya pak" jawab Raina "Awas pak jangan sampe kebangun nanti marah ibunya" tambah Baskara tersenyum Pak Meggy mengangguk setuju "Iya iya, jangan sampai deh! bisa bisa nama bapak di masukin ke buku death note haha" ujar Pak Meggy lalu pergi dari hadapan mereka "Bang, Raina masuk ke kamar dulu yaa" ujar Raina "Iya, abang juga mau masuk ke kamar itu dulu! gerah banget" gerutu Baskara segera "Oke bang" jawab Raina segera Mereka pun memasuki kamarnya masing masing dan membersihkan diri. Setelah selesai mereka langsung keluar dan di ajak pak Meggy untuk makan bersama di lantai bawah. Mereka terlihat seperti benar benar keluarga pada umumnya. "Rasanya seperti dulu lagi, ada kehangatan keluarga di hati ini" gerutu Baskara dengan senyuman tulus menatapi Pak Meggy dari belakangnya Raina pun menatapi Pak Meggy dengan tatapan yang sama "Rasanya dia hampir sama dengan bapak dulu, meskipun bapak kami tidak bisa tergantikan.. Tapi Pak Meggy mampu membuat kami nyaman dan terasa lebih hidup" ujar Raina dalam hatinya Mereka sampai di dapur dan langsung duduk di sana. Beberapa pelayan segera menyajikan masakan hangat yang baru saja mereka masak untuk majikannya. "Makanannya tuan" ujar salah satu pelayan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN