"Jendral, selama ini Jendral yang tahu betul bagaimana saya. saya pikir Jendral Hans akan mengerti keadaan saya. Anda harus tahu apa alasan saya" jelas Baskara mencoba untuk membuat Jendral Hans paham
"Stop Baskara! kami mengerti bahwa kamu sudah cukup gila karena kehilangan orang tua kamu di insiden itu, maka dari itu kemiliteran tidak bisa menerima kamu. Menerima orang dengan gangguan mental" jelas Jendral Hans sangat amat melukai hati Baskara
Baskara menahan air matanya karena selama ini baginya Jendral Hans adalah bapak ke duanya bagi Baskara, namun hal itu hancur sia sia. Dadanya terasa sangat sakit, dia tidak bisa membayangkan ternyata Jendral Hans bisa melakukan hal ini padanya.
"Baik, saya permisi" ujar Baskara lalu membalikkan badannya dan pergi dari markas masih dengan sorot mata yang kecewa dan sudah berkaca kaca
Semuanya hanya menatapi kepergian Baskara dengan tatapan sendu, apa lagi dengan rekan rekan Baskara. Selama ini mereka tahu bahwa Baskara orang baik namun keadaan yang membuat Baskara melakukan hal hal yang menurut mereka gila. Komandan Pandu datang dan berdiri di samping Jendral Hans, dia dengan senyuman puas menatapi Jendral Hans.
Pandu lalu menunduk dan memberi hormat padanya "Anda sudah sangat adil pada kami Jendral, terima kasih" Ujar Pandu dengan suara gagahnya
Jendral Hans tak bereaksi apa pun pada Pandu, dia pergi dari sana tanpa sedikitpun melirik Pandu. Sebenarnya ada sedikit rasa kecewa pada dirinya sendiri yang terasa di pikiran Jendral Hans.
"Maafkan bapak Baskara, tapi bapak harus adil pada semuanya" gerutu Jendral Hans dalam hatinya sembari masuk ke ruangannya
Sementara itu semua rekan Baskara bubar, Pandu di sana masih berdiri dan tersenyum puas. "Selamat datang di kehidupan hancur mu Baskara" ujar nya dalam hati
Baskara pulang dengan langkah lesu dan tatapan mata kosong, dia lalu membuka pintu kontrakannya dan terjatuh di lantai. Raina yang sedang santai memainkan ponselnya lantas sangat terkejut.
"Abang" teriak Raina khawatir dan langsung memegangi bahu Baskara
"Raina, dugaan kita benar. Tapi ada satu yang membuat abang hancur, Jendral Hans. Dia.." gerutu Baskara lirih
Raina menatapinya sangat khawatir perlahan air matanya mengumpul di sudut matanya "Kenapa bang? ada apa?" tanya Raina lirih
"Dia mengatakan kalau abang sudah hilang akal! abang gila" lirihnya dengan mata yang sudah memerah
Raina langsung memeluk abangnya dengan perasaan yang sama sama hancur, karena dia sendiri pun tahu bagaimana hubungan Baskara dan Jendral Hans sebelumnya.
"Sabar bang, sabar! kita harus kuat! kita harus buktikan pada semuanya kalau kita benar! kita akan membuat mereka yang tidak mempercayai kita malu" jelas Raina sembari mengelus punggung Baskara lembut
Baskara hanya mengangguk angguk dengan pikiran dan hati yang masih hancur, sangat sulit baginya menerima semua ini dengan tiba tiba.
◇◇◇◇
Malam berganti terasa begitu cepat bagi Dara, dia kini baru selesai dengan semua pekerjaannya di rumah sakit. Setelah mencuci muka dan membereskan tas bawaannya, Dara berjalan cepat untuk keluar dari sana sembari melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 20.45 dia sangat senang karena malam ini dia pulang lebih awal.
Karena sangat antusiasnya Dara dia tidak sadar bahwa dia melewati dokter Zean begitu saja, Dokter Zean yang awalnya hendak menyapanya dia langsung mengurungkan niatnya saat tahu Dara terlihat sangat buru buru.
"Dara?" sahut Dokter Zean sangat pelan sembari senyumannya yang merekah perlahan hilang di raut wajahnya
Dokter Zean diam diam mengikuti Dara dan bersembunyi di belakang tiang tembok. Dara di sambut oleh Baskara di depan sebuah mobil hitam. "Baskara? hmm maaf ya aku bikin kamu nunggu" senyum Dara sangat malu saat menatapnya
"Dia lagi lagi sama Baskara? tapi kok sekarang dia jemput Dara pakai mobil ya?" gerutu Dokter zean pelan
"Iya gak papa, ayo masuk" ajak Baskara
Baskara pun lalu membukakan pintu untuk Dara tepat di kursi belakang "Makasih Baskara" ujar Dara tersenyum
"Iya" senyum Baskara lalu menutup pintu mobilnya rapat rapat
Baskara pun duduk di kursi depan, tepat di kursi sopir. Hal itu membuat Zean sangat kebingungan. "Tunggu tunggu, kok? kok Dara duduk di belakang dan Baskara duduk di depan apa mungkin?" gerutu dokter Zean pelan sembari berpikir cukup keras
Mobilnya pun pergi dari area rumah sakit dan meninggalkan tanda tanya di benak Dokter Zean.
"Apa mungkin Baskara yang jadi sopir pribadinya Dara sekarang?" ujarnya yang sudah tak habis pikir itu
"Hah mana mungkin dia kan.. seorang tentara" jelas Dokter Zean semakin bingung
"Terus apa dong ya" sahutnya lalu menatapi ke arah jalanan padat dengan pikiran yang masih melayang
◇◇◇◇
Mereka segera menuju ke lokasi kebakaran, Dara duduk di kursi belakang bersama dengan Raina di sampingnya. Sementara itu Baskara duduk di samping Pak Meggy si pemilik mobil yang merupakan atasan Raina.
"Mba Raina udah mendingan sekarang?" sahut Dara menatapi Raina serius
Dia segera mengangguk sembari tersenyum padanya "Iya aku udah mendingan kok Mba, besok juga udah mau kerja lagi" jelas Raina
"Hm oke deh syukurlah ya mba" jawab Dara
Baskara menatapi mereka dari kaca yang berada tepat di atas kepalanya "Eh Dara kenalin ini Pak Meggy, yang merupakan atasannya Raina dan dia juga yang bersedia untuk membantu kita memecahkan kasus ini" jelas Baskara tersenyum
Dara langsung mengangguk dan menatapi pak Meggy, Pak Meggy juga segera menatap ke belakang dengan senyuman di wajahnya. Mereka pun bersalaman tanda perkenalan.
"Kenalin pak saya Dara, perawatnya mba Raina saat di rumah sakit" jelas Dara masih dengan senyuman manis di wajahnya
Pak Meggy mengangguk "Iya bapak tau dari Baskara dan Raina, kalian sudah sangat dekat ya. Kenalin bapak Meggy atasannya Raina" jawab Pak Meggy segera
"Oke sepertinya kita sebentar lagi sampai" gerutu Baskara pelan ketika mereka sudah memasuki area kampung Baskara yang terkenal tanahnya paling subur di area pantai yang biasanya jarang subur.
Mereka kembali menatap ke depan dan menyiapkan diri untuk menghadapinya. Karena area kampung kebakaran itu masih di batasi oleh garis polisi. Namun rupanya sebagian warga yang tak bisa mengungsi karena pengungsian sudah penuh, dengan terpaksa mereka harus meninggali rumahnya yang bekas kebakaran itu dan hanya beralas karpet. Baskara memarkirkan mobilnya di area belakang rumahnya supaya lebih tertutup dan tidak begitu terlihat saat ada orang yang lewat.
"Sebelum kita keluar, kita harus pakai ini dulu" ujar Baskara lalu mengeluarkan sebuah bingkisan
Mereka menatapinya sembari mengangguk berbeda dengan Dara yang terlihat kebingungan "Oke" jawab pak Meggy dan Raina bersama
"Jika mba Dara bingung, biar Raina jelasin. Ini beberapa pakaian berwarna hitam. Kita harus memakainya supaya tidak ada orang yang bisa melihat kita dengan jelas, karena di luar gelap itu akan semakin memudahkan kita" jelas Raina menatapi Dara serius
Dara pun tersenyum dan mengangguk "Hmm oke aku paham mba, ya udah kita pakai sekarang" jelas Dara bersemangat
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk mengenakan pakaian hitam mereka di luar pakaian yang sebelumnya mereka pakai. Mereka pun keluar satu persatu dari dalam mobil, dengan langkah mengendap.
"Hati hati" bisik Baskara yang lalu memegangi tangan Dara refleks saat Dara hampir terjatuh ke tumpukan kayu di sana
Raina pun menatapi ke duanya dengan tersenyum "Hm keadaan lagi gini malah ngeromance mulu nih" gerutu dia dalam hatinya
"Oke Baskara, makasih ya" jawab Dara segera menatapi Baskara dengan penuh ketulusan
Pak Meggy lalu melangkahkan kakinya dengan senyum di wajahnya, Raina di belakangnya dan mengikuti langkahnya sama sama mengendap. Baskara lalu menarik tangan Dara untuk mengikutinya.
"Ayo, kamu harus lebih berhati hati ya" ujar Baskara pelan
Dara mengangguk "Iya Baskara" jawabnya
Mereka melewati beberapa rumah yang gelap, tanpa listrik dan hanya ada beberapa rumah yang di cahayai oleh lilin karena di dalamnya ada beberapa orang korban yang menetap di sana.
"Kasihan sekali mereka harus tinggal di rumah hangus seperti ini" gerutu Baskara pelan
Perjalanan mereka pun berlanjut dengan langkah pelan, hingga Dara menunjuk sebuah rumah yang waktu itu pernah dia temui. Mereka kini berada di sebuah rumah yang jaraknya tak jauh dari rumah itu dan terhalang sebuah halaman. Di halaman itu terlihat beberapa orang polisi yang berada di sana, entah sedang apa mereka namun sepertinya mereka hanya sedang berjaga.
Baskara, Pak Meggy, Raina dan Dara berhenti sejenak. "Kenapa ada polisi di sini?" gerutu Baskara dengan suara pelan
"Entahlah Baskara, mungkin mereka berusaha untuk mencegah ada orang mencurigakan masuk ke area sini. Artinya mereka sedang menyembunyikan sesuatu kan?" gerutu Pak Meggy dengan tatapan yang serius pada Baskara
Raina dan Dara pun mulai berpikir "Atau mereka juga sedang mencari sesuatu?" gerutu Dara dengan tatapan yang serius
"Benar!" jawab Raina dan Baskara bersamaan
"Entah apa yang mereka cari intinya kita harus dapatkan klu itu, dompet itu! dompet yang sempat Dara lihat" jelas Baskara
Semuanya mengangguk setuju, hingga saat saat yang mereka tunggu pun datang. Di mana para polisi itu pergi ke arah berlawanan. Setelah mereka cukup jauh, Baskara, Raina, Dara dan Pak Meggy pun kembali bergegas. Mereka segera menuju ke rumah yang sudah Dara arahkan. Baskara yang berada di paling belakang dia menyalakan senter karena menuju ke area sana semakin gelap.
"Aku yakin di sini, ayo kita mulai cari" gerutu Dara yang baru sampai di halaman rumah hangus itu
Mereka pun mengangguk dan mulai menyebar untuk mencari bersama sama, Mereka kini memegangi senter masing masing untuk bersama sama mencari. Halaman rumah itu sudah di penuhi tumpukan debu dan sampah bekas kebakaran. Jelas sangat berbeda saat pertama kali Dara ke sana. "Di sini udah berantakan banget beda pas aku ke sini waktu itu" gerutu Dara pelan lalu dengan lihay nya dia mulai mengobrak abrik kayu kayu itu
"Gila sih, susah banget nyarinya!" gerutu Raina pelan sembari masih mencarinya
Pak Meggy juga nampaknya sudah sangat kecapean, dia lalu duduk sebentar untuk berehat. Baskara, Dara dan Raina masih begitu rajin mencari. "Tunggu..." gerutu pak Meggy pelan sembari memfokuskan matanya ke sebuah pecahan pot bunga, dia lalu menyoroti senternya ke arah itu.
Semuanya lantas menghentikan pencariannya dan menatapi Pak Meggy dengan tatapan yang serius, Pak Meggy langsung mengambil sesuatu yang terlihat terkubur di sana. Setelah terbuka, itu benar benar dompet hitam yang tergeletak di sana.
"Ini dia" ujar Pak Meggy dengan tatapan mata yang membelalak dan bangga atas penemuannya
Dara, Baskara dan Raina langsung mendekat ke arah pak Meggy. Dara tersenyum saat melihat dompet yang pak Meggy pegang itu. Dia pun berjongkok dan melihatnya lebih detail lagi. Dompet yang sudah usang dan kotor "Ini pak Meggy, benar! ini yang saya lihat waktu itu" jelas Dara
Baskara dan raina pun ikutan berjongkok dan menatapi serius dompet yang kini pak Meggy pegang "Oke sekarang lebih baik, kita bawa ini ke mobil! kita balik sekarang. Kalau kita lama lama di sini, bisa jadi polisi itu kembali lagi ke sini dan tau keberadaan kita" jelas Baskara
Semuanya mengangguk setuju dan bangun "Iya Baskara! ayo" ujar Pak Meggy bersemangat