Jendral Hans

1861 Kata
Baskara pun mengikuti langkahnya, mereka masuk ke ruangan bernuansa yang berbeda dari kamar Dara sebelumnya. Di sana sangat cerah karena latar tembok berwarna putih, beberapa rak buku berjajar rapi di sana dengan jumlah yang cukup banyak. Dara lalu duduk di sofa santai yang terdapat di tengah tengah rak buku, sofa itu berukuran cukup besar dan bisa menampung dua orang. Dara lalu menepuk sofa di sebelahnya "Baskara kamu boleh duduk di sini" ajaknya "Hmm aku kok ngerasa engga enak ya, pertama aku masuk ke kamar Dara dengan sikap abangnya yang biasa aja, dia engga ngelarang aku sama sekali. Tapi kenapa aku harus engga enak toh kami engga akan melakukan apa apa ko" gerutu Baskara dalam hatinya Baskara pun mengangguk dan duduk di samping Dara. "Jadi.. aku langsung aja ya Dar! takutnya nanti kalau kelamaan orang orang di rumah kamu salah paham" jelas Baskara menatapi Dara serius "Iya Baskara" jawab Dara segera dengan senyuman "Sebenarnya aku seneng banget Baskara ke sini, tapi aku deg degan banget sampe gemeteran tangan aku. Semoga aja Baskara engga liat" gerutu Dara dalam hatinya dan berusaha untuk menyembunyikan tangannya Dia mulai menceritakan semuanya pada Dara, mulai dari apa yang tadi terjadi di kantor polisi dan apa yang akan mereka rencanakan. Dara sangat terkejut dengan semua penjelasan darinya. "Jadi.. kebakaran itu benar benar di sengaja?" tanya Dara dengan tatapn membelalak Baskara mengangguk dengan tatapan ragu "Bisa jadi Dara, dari semua yang kita lalui dan beberapa fakta yang kita dapat, Kebakaran itu memang harus di curigai apa yang sebenarnya menjadi penyebabnya" jelas Baskara pelan Dara seketika mengingat sesuatu, tepat di malam itu sebelum dia menemukan Raina dan rumah Baskara. Dara melewati jalanan dengan di sampingnya beberapa rumah sudah hangus terbakar, Dara melihat sekilas sebuah dompet tergeletak di sana. Namun anehnya dompet itu tidak terbakar dan hanya di bagian pinggirnya saja yang terbakar. Padahal jelas jelas semua rumah sudah hangus tanpa sisa. Dara tidak begitu melihatnya dengan jelas apa lagi dompetnya berwarna hitam jadi dia tidak begitu yakin dan memilih untuk mengabaikannya saja. Entah kenapa Dara tidak begitu terusik dengan hal mencurigakan itu saat malam itu. Dia pun memilih untuk pergi dan mengintai tempat lain. "Aku tau Baskara! pasti ada klu! ya, ucapan atasannya mba Raina bisa saja benar terjadi. Di malam itu sebelum aku menemukan rumah kalian dan akhirnya menemukan mba Raina, di depan sebuah rumah yang sudah hangus terbakar semuanya. Aku melihat sebuah dompet tergeletak di sana dan dompet itu engga terbakar! hanya terbakar sedikit. Tapi malam itu aku engga terlalu mikirin apa apa sih jadi aku lewat doang karena rumah itu pun masih ada api di dalamnya dikit jadi aku engga berani" jelas Dara menatapi Baskara sangat serius Baskara terdiam dan mulai memikirkan sesuatu "Dompet itu kan harusnya terbakar karena dompet memang sangat mudah terbakar, mengingat semua rumah yang ada di sana terbakar engga mungkin dompetnya engga kan! Berarti dompet itu di bawa oleh seseorang yang selamat dari kebakaran atau memang pelaku dari kebakaran ini. Tapi di area perumahan kami hanya Raina yang selamat, dia pun koma. jadi aku rasa engga mungkin kalau pemilik dompet itu warga di sana" jelas Baskara "Ya, artinya dompet yang aku lihat itu mungkin saja itu milik si pelaku! engga mungkin kalau milik pemadam kebakaran kan? dan anehnya saat kebakaran itu berlangsung di sana hanya ada beberapa polisi yang mengamankan! mungkin hanya ada sekitar 4 polisi. Jumlah yang sangat sangat sedikit kan, Masuk akal gak sih?" kesal Dara kembali mengusulkan opininya "Aku tidak mau menuduh polisi, tapi dari semua faktanya memang sepertinya mereka terlibat" tambah Baskara Dara mengangguk angguk setuju "Gini aja deh Baskara, besok malam aku ikut ya! besok jam 9 malam aku juga udah pulang, kamu langsung jemput aku dan aku akan tunjukan di mana letak dompet itu. aku akan ikut sama kalian, aku juga mau kasus ini terungkap karena bukan hanya 1 atau 2 orang yang menjadi korban" jelas Dara menatapi Baskara sangat serius "Kamu serius mau ikut Dara?" tanya Baskara Dara kembali mengangguk "Iya Baskara, kalau aku engga ikut gimana kalian mau dapet klunya. Seengganya kan aku udah dapet klu sebelumnya" jelas Dara dengan tatapan serius "Oke Dara, maaf yaa aku malah libatin kamu" jelas Baskara khawatir menatapinya "Engga usah minta maaf Baskara, lagi pula ini masalah serius dan menyangkut puluhan nyawa" jelas Dara Mereka pun sepakat untuk berangkat di malam besok, Meskipun hanya berempat namun keinginan mereka untuk menuntaskan kasus ini sangat besar. Mereka rasa berempat saja sudah cukup jika keempat nya kompak dan berjuang sampai akhir. ◇◇◇◇ Tak lama Baskara pun keluar dari kamar Dara bersama dengan Dara di sampingnya, Baskara memegangi bingkisan berisi beberapa buku sebagai pengalihan pada abangnya Dara itu, Dara tahu abangnya sedetail apa. "Semoga aja abang engga buka buku bukunya, karena buku bukunya banyak di toko buku. Mana ada aku punya buku langka" gerutu Dara dalam hatinya sembari menatapi buku buku yang Baskara bawa Mereka berdua pun kembali menuruni anak tangga untuk turun ke lantai bawah. "Baskara, kita makan dulu yaa" ajak Dara tersenyum menatapi Baskara Dia langsung menggelengkan kepalanya "Hmm engga deh Dara, aku engga mau ngerepotin kamu" jelas Baskara lalu menatapi arloji di tangannya "Udah yuk makan dulu" ajak Dara lagi Baskara lalu menggelengkan kepalanya lagi "Ini udah larut malam banget lagi, lain kali aja yaa" ujarnya Sementara itu Jack baru saja keluar dari area dapur dia baru selesai makan malam, Jack lantas menatapi ke duanya dengan tatapan datar "Kok bisa bisanya mereka cepet? gue kira bakal lama menghabiskan waktu di kamar" gerutu Jack dalam hatinya "Tadinya sih gue mau nunggu nyokap balik dan ngasih tau kalau si Dara bawa cowok ke kamarnya supaya Baskara kena samber nyokap. Hmm tapi sudahlah, lupain ide g****k nya" tambah Jack dalam hatinya lalu berjalan ke dekat mereka berdua Dara dan Baskara langsung menatapi ke arah Jack "Eh bang?" sapa Baskara dengan senyuman yang ramah "Udah mau balik aja nih? makan dulu gih" suruh Jack masih dengan raut wajah yang masih datar Dara hanya terdiam dan menatapi abangnya sungkan "Iya bang, saya mau langsung balik aja deh kayaknya. Ini udah larut malam banget soalnya" jelas Baskara dengan tersenyum manis "Oh gitu, ya udah. Bukunya udah?" tanya Jack masih dengan tatapan datar lalu menatapi bingkisan yang Baskara bawa Dara terlihat sangat tegang dan menatapi bingkisan itu takut, Baskara langsung mengangguk. "Iya bang udah" jawabnya segera "Hm oke" angguk Jack "Iya bang, saya permisi mau pulang ya" sopan Baskara Jack hanya mengangguk "Mari bang" ujar Baskara sembari berlalu pergi "Oke oke" jawab Jack datar Dara dan Baskara pun pergi melewati Jack yang masih berdiri di sana. Mereka segera bergegas untuk keluar dari rumah Dara yang sangat megah itu. Jack hanya menatapi kepergian mereka dengan tatapan datar. "Dara, aku pulang dulu ya. Kasian Raina, oh ya kamu dapat salam juga dari Raina" senyum Baskara pada Dara yang berdiri di depan motor Baskara itu "Oh ya? iya iya, salam juga. Besok kan kita juga ketemu" jelas Dara sembari tersenyum tidak percaya Baskara pun mengangguk lalu menyalakan motornya, ia segera memakai helm "Ya udah aku pulang ya Dara" senyum Baskara dengan sangat tulus "Iya, hmm.. hati hati ya" ujar Dara sedikit gugup "Iya, byee" sahut Baskara "Byee" Motornya pun melaju, Baskara pergi dari area rumah Dara. Sementara itu Dara masih menatapinya sampai Baskara benar benar sudah tidak terlihat lagi. "Hmm dari tadi aku engga fokus banget, apa lagi cuma berduaan aja lagi sama Baskara" gerutu Dara dalam hatinya ◇◇◇◇ "Ya udah abang berangkat dulu yaa Raina" ujar Baskara cukup lantang dari dalam kamarnya "Iya hati hati bang, semoga engga di pecat" teriak Raina dari dalam kamar mandi yang memang dekat dari kamar Baskara dan suara mudah memantul Baskara sudah memakai seragam tentara beserta dengan atributnya lengkap. Setelah memakai sepatunya dia pun berdiri dan bercermin. "Oke, apa pun yang terjadi! aku harus siap menghadapinya" jelas Baskara pada dirinya sendiri "Oke abang berangkat! kamu disini aja jangan kemana mana" "Iya bang" Baskara pun keluar dari kontrakannya dan segera menyalakan motornya. Dia terlihat sangat keren apa lagi dengan seragam tentara yang menambah kemacoannya. Tak lama dia pun sampai di markas tentara yang sudah di jadwalkan bahwa Baskara dan teman temannya mulai bertugas di sana, jaraknya tidak begitu jauh dari kontrakan Baskara mau pun rumah Baskara yang sudah habis terbakar itu. Sepertinya beberapa kendaraan yang rekan rekan Baskara gunakan sudah berjajar di area parkir. Baskara turun dari motornya dan menarik nafasnya berat, entahlah dia merasa perasaanya saat ini sangat tidak mengenakan. "Optimis Baskara!" ujarnya pelan kembali menguatkan dirinya sendiri Baskara pun masuk ke markas dan di sana beberapa rekannya sudah datang, mereka menatapi Baskara dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapan jijik, kasihan, datar dan yang lainnya yang tidak bisa di jelaskan lagi, intinya tatapan yang biasanya tidak mereka pancarkan padanya. "Perasaan ku semakin engga enak, sebenarnya kenapa mereka?" tanya Baskara dalam hatinya sendiri Tiba tiba tangan seseorang mencengkram dan menyeret Baskara cukup keras lalu ia mendorong tubuh Baskara ke lantai "Apa apaan kamu kesini Baskara" tegas seseorang yang jelas pangkatnya jauh dari Baskara mau pun Pandu atasan Baskara "Maksud Jendral?" tanya gugup Baskara sembari membenarkan dirinya untuk bangun tak percaya atas apa yang di lakukan Jendral Hans padanya Semua rekan Baskara kini menatapi Baskara dengan tatapan kasihan, Jendral bernama Hans itu lalu menatapi semua rekan Baskara dengan tatapan marah. "Apa kalian tidak memberitahu Baskara soal ini? Sudah saya bilangkan seharusnya salah satu dari kalian memberi tahunya lewat telpon!" tanya beliau dengan nada suara yang tinggi Mereka hanya terdiam, Baskara justru semakin bingung dan mengerutkan keningnya. Pasalnya hubungan Baskara dengan Jendral Hans sangat dekat dan tidak seperti hubungan Jendral Hans dengan tentara lain bahkan Pandu, Jendral Hans sangat baik pada Baskara. "Kenapa Jendral tiba tiba kasar begini?" gerutu Baskara dalam hatinya Jendral itu kembali menatapi Baskara "Pergi kamu Baskara, kamu sudah bukan anggota militer negeri ini lagi" jelas dia dengan tatapan kecewa Baskara sangat sangat terkejut, pada awalnya memang dia sudah mengira bahwa dia kemungkinan di pecat tapi oleh jendral Hans? itu jelas sangat di luar nalarnya. "Di pe- pecat?" gerutu Baskara dengan tatapan tidak percaya Semua rekannya semakin menatapi Baskara kasihan "Jelaskan! siapa pun jelaskan padanya apa kesalahan kesalahan terbesar yang akhir akhir ini dia lakukan, dan membuat pekerjaannya hilang sekaligus nama kita sebagai militer hampir tercoreng" jelas Jendral Hans "A- apa maksudnya Jendral?" tanya Baskara lagi semakin bingung "Baskara pertama melakukan kesalahan dengan pergi tanpa izin resmi dari komandan Pandu tepat di saat tugas di laksanakan, kesalahan itu fatal namun masih bisa di maafkan. Ke dua Baskara melakukan ancaman terhadap kepolisian meski pun tidak ada bukti namun beberapa saksi mengatakan nya dengan jelas bahwa Baskara telah melakukan ancaman dan memfitnah polisi atas kejadian kebakaran di kampungnya itu, kesalahan ini sangat sangat fatal dan tidak bisa di maafkan lagi. Artinya Baskara harus di berhentikan dari militer karena di anggap sudah kehilangan akal sehatnya akibat kehilangan keluarga dari insiden kebakaran, Baskara bisa memicu kesalah pahaman antara tentara dan kepolisian. Baskara yang sekarang sudah tidak bisa berpikir logis juga tidak bisa lagi di bekerjakan." jelas salah seorang rekan Baskara dengan tatapan kecewa pada Baskara Baskara mengerutkan keningnya dengan tatapan kecewa padanya "Iya itu semua memang terjadi, tapi kalian harus tau apa alasan saya melakukannya" jelas Baskara "TIDAK PERLU BASKARA!" jawab Jendral Hans dengan sangat lantang dan tatapan marah pada Baskara
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN