Baskara dan Dara melewati jalanan malam untuk menuju ke rumah Dara, sepanjang perjalanan Baskara hanya terdiam. Dia tidak berniat untuk mendiamkan Dara, tapi pikirannya terus terbayang saat Dokter Zean memegangi bahu Dara.
"Apa mungkin dia sengaja?" gerutu Baskara dalam hatinya
Dara di belakangnya juga terdiam dan hanya menatapi Baskara. "Kenapa dia diem aja ya? apa mungkin dia kesal? atau memang cemburu?" tanya Dara pada dirinya sendiri
"Baskara" sahut Dara menyapanya setelah sekian lama terdiam sembari menepuk bahunya pelan
Baskara perlahan menoleh ke belakang sekejap "Eh kenapa Dara?" ujar Baskara lalu kembali menatap ke depan jalanan
"Ehm engga, aku cuma mau tanya apa aku engga ngerepotin kamu nih?" tanya Dara pelan dengan berhati hati
Baskara lalu tersenyum "Engga dong Dara, kenapa kamu nanya itu terus sih? aku engga keberatan" jelas Baskara
"Hm beneran? aku cuma.." ujar Dara menggantung dan menatap ke lain arah
"Kenapa? kamu kenapa Dara?" tanya Baskara bingung
Dara menarik nafasnya "Engga sih, aku cuma engga enak aja hehe" ujar Dara tersenyum kaku padanya
"Engga enak gimana sih Dara, kan aku udah bilang jangan sungkan sama aku mau pun sama Raina yaa Dara" jelas Baskara
Dara pun mengangguk angguk "Hmm iya kalau giti makasih ya" senyum Dara padanya
"Iya iya" angguk Baskara
Tak lama mereka pun sampai di rumahnya Dara, Baskara lalu menghentikan motornya dan langsung membukakan helm dari kepala Dara dengan lemah lembut. "Biar aku lagi ya yang bukain" ujar Baskara tersenyum
"Hm iya" jawab Dara sembari mengangguk
Tatatapan Dara justru tertuju ke arah mata Baskara yang sedang serius menatapi kait helm yang Dara pakai dan sedang dia buka itu "Pria ini, manusia atau bukan sih?" gerutu Dara dalam hatinya
"Berada di dekatnya membuat aku merasa aman dan tau apa artinya kehidupan" tambahnya lagi dengan senyuman yang semakin merekah
Di atas sana tepat di balkon yang sama seperti saat pertama kali Baskara datang ke rumah Dara, pria itu berdiri di sana dengan tatapan tajam ke arah ke duanya yang berdiri di bawah. Jack tersenyum menyeringai saat melihat tatapan dari ke dua insan itu terlihat jelas ada perasaan yang menggebu satu sama lain.
"Adikku yang malang, hmm mau bagaimana ya tetap saja kamu yang akan jadi korbannya" gerutu Jack pelan
"Gue sih bukannya engga kasihan sama adik gue sendiri, tapi ya mau bagaimana lagi ini semua salah takdir bukan salah gue. Apa apa pasti korbannya si Dara" ujar Jack lagi pelan
"Hari ini dia sangat berani menyerang kepolisian, dia berani mengancam sekutu gue. Oke, kita akan lihat sampai mana keberaniannya terus berlanjut. Mungkin benar, sampai dia mati. Baiklah dengan senang hari gue bisa membawakan kematian itu sama lo" gerutu Jack lagi dengan tatapan tajam ke arah Baskara, Jack melangkahkan kakinya pergi ke dalam kamarnya.
Baskara sudah melepaskan helmnya dan menaruhnya di jok motornya "Dara kayaknya aku langsung pulang aja deh" ujar nya sembari tersenyum manis pada Dara
"Mau langsung pulang nih? engga ke dalam dulu?" tanya Dara serius
Baskara lalu menggelengkan kepalanya "Engga, aku takut ngerepotin mama kamu lagi" jelas Baskara lalu tersenyum manis pada Dara
Dara mendekat lalu membisikan sesuatu pada Baskara, hal itu langsung saja membuat Baskara dag dig dug ser "Katanya kamu mau ceritain soal masalah tadi sama aku" bisik Dara pelan karena takut seseorang mendengarkan ucapan nya
"Oh iya, aku lupa" sahut Baskara menepuk jidatnya pelan
Dara pun kembali menjauh dan tersenyum pada Baskara "Terus? mau masuk dulu kan ke rumah aku?" tanya Dara serius
"Hmm oke pasti aku ceriatin Dara, tapi kamu tau sendiri kan Dara semua ini privasi kita. Maksudnya hanya kamu, aku, Raina dan pak Meggy atasan Raina yang tau. Aku cuma takut kalau ada orang lain yang denger pembicaraan kita, hmm aku juga engga bermaksud curiga ke keluarga kamu atau apa.. tapi kan seperti yang aku bilang, ini sangat sangat harus di rahasiakan" jelas Baskara dengan suara yang pelan
Dara mengangguk dan tersenyum pada Baskara "Ya aku tau hal itu Baskara, aku udah mikirin itu kok nanti aku sama kamu masuk ke perpus mini pribadi aku aja yaa" jelas Dara masih dengan suara bisikannya itu
"Oh, perpus mini? hemm oke oke" angguk Baskara segera
"Oke kalau gitu ayo ke dalam" ajak Dara
Mereka pun melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam rumah megah Dara itu, saat si dalam ternyata lumayan sepi hanya ada beberapa pelayan yang sedang bolak balik dapur. Dara menatapi mereka heran "Kalian lagi masak?" tanya Dara
"Iya Nona Dara" jawab salah seorang pelayan yang langsung menghentikan langkah itu
Dara berjalan ke dalam dapur dan mencari cari sosok seseorang "Ibu belom pulang ya?" tanya Dara bingung
Mereka lalu saling bertatapan dan menggelengkan kepalanya "Belom Non" jawabnya
Dara pun membuang nafasnya cukup berat "Hmm gitu ya" ujarnya
"Nona mau makan? sama tuan Baskara nya?" tanya si pelayan
Dara lalu menatapi Baskara serius "Kamu mau makan dulu?" tanya Dara refleks
"Engga Dara, engga usah" jawab Baskara segera
"Hm oke, nanti aja ya bi kita makannya" ujar Dara pada para pelayan nya itu
Mereka pun mengangguk segera dengan senyuman yang manis pada ke duanya. Dara pun keluar dari dapur dan kembali melangkahkan kakinya untuk menuju lantai atas, Baskara masih mengikutinya dan sedikit melirik lirik ke arah dinding saat dia lihat beberapa foto keluarga terpajang di sana.
"Dara sangat mirip dengan ayahnya" gerutu Baskara pelan
Dara lalu menengok sebentar ke arahnya "Kenapa Baskara?" tanya Dara
"E- engga aku cuma bilang kamu mirip banget sama ayah kamu" jelas Baskara segera
Dara lalu tersenyum manis dan mengangguk angguk "Iya, banyak banget orang yang bilang gitu! dan katanya aku engga terlalu mirip sama abang karena dia cenderung lebih mirip ke ibu. Kata orang orang sih" ujar Dara sembari tersenyum menatapi deretan foto keluarganya dan masih berjalan menaiki anak tangga
Baskara mengangguk angguk setuju dengan apa yang Dara jelaskan "Iya sih bener" jawabnya segera
Setelah mereka sampai di anak tangga terakhir Dara terkejut saat melihat abangnya yang berdiri di sana dengan tersenyum tipis pada adiknya itu. "Eh... hmm.. abang?" sahut Dara sangat kaku menatap abangnya itu
"Udah pulang Dar?" tanya Jack
Baskara menatapi Dara yang terlihat sangat canggung pada abangnya itu, Dara mengangguk "Iya bang" jawabnya sangat datar
"Kamu bawa dia lagi?" tanya Jack yang lalu menatapi Baskara masih dengan senyumannya yang tipis
Dara kembali mengangguk "Iya, aku ada hm.." ujar Dara dengan ucapan tergantung karena bingung harus menjawab apa
"Maaf bang, saya datang ke sini karena ada keperluan sama Dara. Saya mau pinjam beberapa buku kesehatan di perpus pribadi Dara, yang bisa membantu untuk kesembuhan adik saya supaya bisa lebih fit! Dara bilang ada beberapa rekomendasi buku yang bisa Adek saya baca untuk proses penyembuhannya" jelas Baskara dengan senyuman manis di wajahnya pada Jack
Dara pun mengangguk "Untunglah Baskara nyelametin aku, mana aku susah banget kalau ngomong sama abang apa lagi kalau bohong. Gak bisa banget aku" gerutu Dara dalam hatinya
"Oh mau pinjam buku toh" angguk Jack sembari tersenyum pada Baskara
"Iya bang" jawab Baskara segera
"Kenapa engga langsung ke toko buku aja?" tanya Jack sangat menyudutkan ke duanya
Dara menatapi Jack serius "Karena bukunya cukup langka, dan engga akan tersedia di toko buku" jelas Dara
"Hmm cukup berani juga adek gue, intinya dia berbohong! pasti karena mau m***m nih mereka. Gak nyangka gue si Baskara semudah itu bisa dapetin adek gue, padahalkan Dara jelas jelas susah banget jatuh hati" gerutu Jack dalam hatinya
Jack pun mengangguk angguk "Oh gitu ya, ya udah gih" ujar Jack pada mereka
Dara dan Baskara pun mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya "Permisi bang" ujar Baskara sembari melewatinya
Jack hanya mengangguk dan menatapi kepergian mereka dari sudut matanya, Ia juga melangkahkan kakinya dan menuruni anak tangga.
"Hahh.. biarkan saja adikku itu bersenang senang dengannya untuk sekarang. Karena sebentar lagi keterpurukan kekasihnya akan menerpanya, dan jelas adik ku tidak akan bisa bersenang senang dengan bebas lagi dengannya. Jadi untuk Dara, berpuas puaslah" senyum Jack dalam hatinya sembari menuruni anak tangga
◇◇◇◇
Raina membaringkan tubuhnya di kasur yang berada tepat di kamarnya yang agak minim. Dia sedang memainkan ponsel yang baru saja atasannya itu berikan padanya hari ini, Raina membuka aplikasi i********: miliknya setelah beberapa hari ini dia tidak membukanya. Saat melihat akunya dia melihat beberapa foto yang dia pajang sebelumnya, di mana foto itu berisi dirinya dan sang kekasih di saat saat kebersamaanya di masa itu.
"Evan.. aku rindu.." lirih Raina dalam hatinya
Dia melihat foto di mana dirinya dan Evan yang sedang berada di sebuah pantai dengan senyuman tulus dari ke duanya. Raina mengelus pipi Evan pelan, air matanya pun perlahan berjatuhan.
"Mendengar semuanya dari ibu dan dia menyalahkan ku atas kematian mu. Aku menjadi sangat merasa bersalah, maaf Evan.. maaf karena aku engga tau kalau kamu malah pergi ke rumah ku di saat saat berbahaya seperti itu. Aku engga tau karena di dalam rumah aku juga sangat kesulitan untuk keluar aku sangat takut malam itu. Tapi ternyata ada hal yang jauh lebih menakutkan yang membuat aku sulit melupakannya. Yaitu kehilangan orang tuaku, dan kamu Evan. Kenapa? kenapa harus kalian" lirih Raina lalu semakin menangis sesenggukan
Tak ada satu kenangan pun yang bisa dia simpan bersama Evan mau pun ke dua orang tuanya. Semuanya hangus terbakar di malam itu. "Semoga kalian tenang di sana ya, aku selalu mendoakan kalian" lirih Raina lagi dengan air mata yang bercucuran
◇◇◇◇
Ckelkkk...
Pintu kamar Dara terbuka, menunjukkan kamar bernuansa hitam dengan foster foster Anime hitam putih di dalamnya. Kamar Dara terlihat bertema gammers apa lagi beberapa unit komputer lengkap tersusun rapi di sana yang juga bernuansa hitam, putih abu sesuai dengan tema kamarnya. Baskara sangat terkejut saat tahu dia malah memasuki kamar Dara dan nuansa kamar Dara yang unik dan jelas berbeda dengan kamar perempuan perempuan lainnya.
"Kamar kamu Dara?" sahut Baskara pelan dan menatapinya bingung
Dara mengangguk lalu menyimpan beberapa tas yang dia bawa lalu dia simpan di atas meja. Dara mengangguk "Iya Baskara ini kamar aku, dan maaf jika kamu terkejut. Karena perpus pribadi aku berada tepat di sini juga" jelas Dara tersenyum padanya
"Oh gitu" angguk Baskara tersenyum manis
Baskara kembali menatapi kamar Dara dengan seksama "Dara kamu suka Anime?" tanya Baskara
"Ya, suka sih. Karena kalau di rumah aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar dan di kamar yang aku sering lakukan adalah melihat Anime. asli deh seru banget" jelas Dara dengan wajah cerianya
Baskara tersenyum "hmm gitu yaa, bagus dong!" jawabnya
"Iya hehe, ya udah yuk ke perpus pribadi aku" jelas Dara lalu melangkahkan kakinya ke sebuah pintu di sebelah pintu kamar mandinya
"Hmm jadi ke sana ya" ujar Baskara pelan
"Iya" angguk Dara tersenyum