Kecemburuan Zean

1730 Kata
Dara pun mengangguk "Hm oh ya, tadi abang aku sempet telpon dan ajak kita buat dinner bareng sama pacarnya abang juga katanya. Tapi kayaknya malam ini kita engga bisa yaa" gerutu Dara "Ajak Dinner, tumben? atau abang kamu emang suka sesuatu yang tiba tiba?" senyum Baskara tidak percaya "Ya makanya aku juga bingung, hehe. tapi gak papa itu bagus supaya aku bisa deket sama Abang, tapi lain kali aja yaa" jelas Dara Baskara mengangguk refleks "Iya lain kali aja, setelah semua penyelidikan ini selesai yaa dara" jelas Baskara "Iyaa" jawab Dara Dokter Zean menatapi Dara sejak tadi, perasaannya sangat bercampur aduk ketika melihat Dara yang sangat bahagia saat menelpon dengan Baskara. "Kenapa Baskara bisa membuat Dara sebahagia itu sih" gerutu dia dalam hatinya "Ya ampun lama lama aku engga sanggup lihat drama cinta segi tiga ini. Kasihan juga dokter Zean, tapi mau gimana lagi. Cinta engga bisa di paksakan" gerutu Linda dalam hatinya yang menatapi dokter Zean yang terlihat menahan api cemburu Dara dan Baskara selesai berbincang bincang di telpon, Dara kembali pada teman temannya dan menaruh ponselnya lagi di meja. "Udah?" tanya Ahmad dengan senyuman menggoda Dara "Udah kok, maaf ya lama" gerutu Dara sedikit tersenyum tidak enak pada mereka, dia pun juga menatapi dokter Zean yang sekarang sedang menatapinya sendu. "Iya iya gak papa Dara" jawab Arfan "Santai aja Dar" tambah Ahmad dan Linda Dokter Zean mengangguk dan tersenyum padanya "Ayo makan lagi Dara, yang banyak ya" ujarnya "Hm iya dok" jawab Dara langsung tersenyum padanya ◇◇◇◇ Jack masih duduk di ruangannya, setelah berbincang dengan para sekutunya dia kini menyendiri dan kembali memikirkan tentang masalah orang tuanya. Kebencian pada ayahnya seakan terus memuncak seiring dia mengingat kejadian itu. Ayahnya bersenang senang bersama wanita lain, sementara ibunya banting tulang untuk mencoba melupakan kesedihan dan rasa sakitnya. "Kapan gue bisa bicarakan ini sama nyokap ya? apa gue telpon sekarang aja, tapi.. apa mungkin dia bakal percaya ke gue? hah gue gak usah takut, gue kan punya bukti berupa video itu" ujar Jack sembari mengangguk angguk "Iya gue harus coba telpon" ujarnya lagi lalu meraih ponselnya dan mencoba menelponnya Suara sambungan terdengar beberapa kali cukup lama ibunya tidak mengangkatnya. "Ibu kemana sih? kok engga di jawab" gerutu Jack kesal Tak lama setelah itu ibunya pun mengangkat telponnya, rupanya ibu Jack sedang tertidur di ruangannya dengan mata sembab. Tidak ada yang berani membangunkannya karena kasihan padanya. Apa lagi posisi Donita sangat tinggi di rumah sakit itu. "Hallo Jack, ada apa nak" ujar sang ibu dengan suara parau dan lesu Jack terkejut mendengar nada bicara ibunya "Ibu kenapa?" tanya Jack segera "Hm ibu gak papa nak, sedikit pusing aja. Ada apa?" tanya Donita dengan senyuman manis, suara Jack mampu membuat perasaan nya jauh lebih tenang dari pada sebelumnya. Apa lagi Jack mencarinya dan menelponnya. Jack terlihat kebingungan dengan perasaan yang semakin sakit setelah mendengar suara ibunya "Gue gak mungkin bilang semuanya sekarang ke nyokap, dia lagu down banget" gerutu Jack dalam hatinya "Engga, Jack heran aja kenapa ibu lembur terus dan engga pulang" tanya Jack refleks Donita tersenyum dan mengangguk "Iya nak, maafin ibu ya. ibu banyak kerjaan banget" jelas Donita "Banyak kerjaan, atau banyak pikiran?" tanya Jack dengan suara dingin nya "Kamu jangan khawatirin ibu ya Jack, besok ibu pulang kok ke rumah. malam ini terakhir ibu lembur" jelas Donita lagi berusaha membuat Jack mengerti "Hm ya udah, pulang bu Jack udah lama engga lihat ibu masak di dapur" ucap Jack setelah sekian lama, ini adalah pertama kalinya Jack meminta sesuatu lagi pada ibunya. Donita tersenyum semakin merekah meski wajahnya sangat pucat dan sakit "Iya nak, makasih yaa" jawab sang ibu Jack lalu segera mematikan sambungan telponnya. Dia membuang nafasnya berat dan menyender di kursi kerjanya dengan kepala berat. "Gue udah gak bisa lihat ibu kayak gini, gue engga kuat! tapi gue juga engga mau kalau ibu ngerasa sendiri" jelas Jack dengan suara khawatir Tiba tiba ponsel Jack bergetar menampilkan seseorang yang mengirimkannya pesan, Jack segera mengeceknya ternyata itu adalah Dara. Jack menatapi sinis, raut wajahnya kembali terlihat kesal. "Bocah ini, kirim pesan apa dia" gerutunya pelan Jack membaca pesan yang Dara kirim padanya, ternyata berisi bahwa Baskara tidak bisa ikut dalam acara dinner yang di buat buat oleh Jack. Tangan Jack mencengkram erat ponselnya. Dia lalu bangun dari duduknya dan berdiri dengan tatapan menyeramkan. "Sialan, udah gue duga nih kayaknya si Baskara lagi rencanain sesuatu! gimana caranya gue bisa nemuin dia! hahh" ujarnya penuh kekesalan Jack lalu menelpon para suruhannya yang langsung mengangkat telpon dari Jack "Hallo boss" sahut mereka yang masih mencari keberadaan Baskara "Gimana sekarang? udah becus belum nemuin Baskara?" tanya Jack dengan penuh ancaman Mereka sangat ketakutan dengan kemarahan Jack "Be- belum boss, kita masih belum menemukannya" jawabnya dengan suara yang gemetaran "b*****t! engga ada gunanya kalian hah, sekarang balik dan berkumpul di ruangan gue" perintahnya dengan amarah yang benar benar sudah memuncak "Baik boss" jawab mereka segera Jack langsung mematikan sambungan telponnya, rasanya suhu tubuhnya berubah menjadi panas sekali. "Aaargghh!" teriaknya lalu menyeret kursinya ke lantai "Tunggu..." ujar Jack dengan tatapannya yang berubah, dia lalu tersenyum dan menatapi ponselnya "Dara pasti punya nomor telponnya Baskara kan, gue bisa lacak keberadaan Baskara dari nomornya. Ya!" ujar Jack lalu tersenyum Jack segera mengirimi Dara pesan untuk meminta nomor telpon Baskara, namun sepertinya Dara tidak memegangi ponselnya sehingga tidak langsung membalasnya. ◇◇◇◇ Dara kembali bekerja dan lagi lagi Dokter Anna menempatkan Dara untuk mendampingi dokter Zean malam ini dalam pemeriksaan. Selama bersama dengan Dara, Dokter Zean terus memerhatikan Dara di setiap kesempatan. "Cantik sekali, meski pun sudah lelah begini Dara tetap saja cantik" gerutu Dokter Zean dalam hatinya Waktu berjalan terasa cepat, akhirnya pekerjaan Dara sudah selsai dan waktunya dia pulang. Dara menatapi Dokter Zean dengan senyum canggung. "Dok, saya pulang sekarang ya hmm Baskara udah nungguin deh kayaknya" jelas Dara Raut wajah Dokter Zean lalu berubah seketika menjadi datar, ia lalu mengangguk dan sedikit tersenyum pada Dara. "Ya udah, pulang sama Baskara lagi ya?" tanya nya "Iya dok, katanya dia kebetulan lewat ke area sini" jelas Dara Dokter Zean hanya mengangguk angguk dan tersenyum padanya "Hmm kebetulan apa sengaja sih" gerutu dia dalam hatinya "Iya deh, kamu hati hati yaa" ujarnya "Iya dok permisi" jawab Dara lalu pergi dari hadapannya Dokter Zean hanya menatapi kepergian Dara dengan tatapan sendu "Dara selalu aja lebih memilih Baskara" gerutunya dalam hatinya ◇◇◇◇ "Kalian udah di sini dari kapan?" tanya Dara setelah masuk ke dalam mobil mereka Pak Meggy, Raina dan Baskara tersenyum "Baru 5 menit" jawab Baskara segera "5 menit bagi dia yang sangat menyu-" ucapan raina terpotong saat Baskara lalu menutup mulutnya Dara dan Pak Meggy tersenyum menatapi tingkah mereka berdua "Hmm lagi lagi nih kedua bocah" gerutu Pak Meggy "Raina jangan bicara sembarangan" gerutu Baskara memelototi adiknya itu "Kalian ini kenapa sih?" senyum Dara pada ke duanya Baskara pun melepaskan tangannya dari Raina "Hm engga papa Dara, sebaiknya kita berangkat sekarang ya" ujar Baskara "Iya Baskara ini waktu yang sangat tepat" ujar Dara Raina hanya menatapi abangnya kesal "Ih abang sekarang main bungkem bungkem mulut Raina aja, ngeselim tau" kesal Raina "Kamu sih" ketus Baskara sembari mengendarai mobilnya Mereka pun keluar dari area rumah sakit, tanpa mereka tahu sejak tadi dokter Zean menatapi mereka dari belakang tembok. "Hmm sekarang Dara duduk di depan sama Baskara, terus kemarin kenapa Dara duduk di belakang ya?" gerutunya penasaran "Hahh.. mereka sedekat itu, upaya apa lagi yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan Dara?" gerutunya pelan lalu kembali masuk ke dalam rumah sakit ◇◇◇◇ Mereka sampai di depan kantor polisi, seperti malam kemarin mereka memarkirkan mobilnya lagi di sana sembari menunggu para polisi pulang. Beberapa polisi sudah keluar dari kantor menggunakan kendaraannya. Baskara dan Dara melihat seorang polisi yang mengenakan motor dan langsung menjadi target mereka. "Kayaknya dia orang yang tepat" ujar Dara menatapi Baskara yang duduk di sampingnya Baskara segera mengangguk "Iya Dara, aku setuju" ujarnya lalu segera menyalakan mobilnya dan mengikuti motor itu "Kasihan juga sih dia harus kita introgasi" gerutu Raina sembari tersenyum "Jangan kasihan Raina, mereka semua terlibat lho dalam puluhan nyawa yang hilang" jelas pak Meggy menatapi raina serius Raina mengangguk dan menatapi Pak Meggy "Iya benar pak, dan Evan termasuk di dalamnya" jelasnya dengan kekesalan yang mendalam Hingga sampai di area yang sunyi, Baskara segera mempercepat laju mobilnya dan menghalangi jalan si polisi. Polisi muda itu terlihat menatapi ke arah mobil dengan tatapan bingung. "Siapa? kok halangi jalan saya sih" kesal si polisi bernama Wilson itu Baskara dan Pak Meggy turun dari mobil lalu di susul oleh Raina dan Dara di belakang. "Ikut bersama kami sekarang" perintah Baskara dengan tatapan tajam padanya "Kamu? yang waktu itu bikin kisruh kantor polisi kan" ujar wilson terkejut, seketika saja dia merasa sekarang posisinya tidak aman. "Jangan menanyakan pertanyaan yang tidak penting" ujar Baskara lalu segera memegangi polisi itu Wilson mencoba untuk melawan namun, Pak Meggy langsung membantu Baskara memeganginya. Baskara menutup mulut Wilson menggunakan kain. Mereka pun berhasil memasukan Wilson ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang dengan di jaga oleh Baskara dan Pak Meggy. Sementara Raina yang mengendarai mobil bersama dengan Dara yang duduk di sampingnya. "Ikat yang keras bang" ujar Raina kesal Dara menatapi Baskara "Yang kenceng Baskara" ujar nya setelah melihat Baskara yang sedang mengikat ke dua tangan dan kaki Wilson sementara Pak Meggy menutup mulut Wilson rapat rapat dengan kain. Setelah merasa semuanya aman kini Baskara pun melepaskan kain itu dari mulut Wilson. Wilson menatapi Baskara marah dan mulai mengumpat. "Kenapa anda hah? kenapa bawa saya? kalian sudah gila?" teriak Wilson memelotot "Stop mengoceh! ini tentang jiwa jiwa manusia yang sudah mati dengan sia sia" tegas Baskara menatapi Wilson dengan tatapan marah "Maksudnya?" tanya Wilson sangat kebingungan Pak Meggy langsung mencekik leher Wilson cukup kuat "Jangan banyak mengelak! sekarang jelaskan pada kami kenapa polisi di sini terlibat dengan kebakaran tragis malam itu" tegasnya penuh penekanan di setiap katanya "Ke- ke kebaran? yang benar saja" gerutu Willson dengan suara tidak jelas karena sakit di cekik oleh pak Meggy Baskara menatapi pak Meggy "Pak tenang dulu, kita harus menanyainya lebih jelas lagi" jelas Baskara "Iya Baskara" jawab nya lalu melepaskan Willson "Apa maksud kalian hah? jadi kalian benar benar mencurigai pihak polisi tentang kebakaran itu? yang benar saja bung, kami tidak sekejam yang kalian pikirkan" jelas Wilson menatapi Baskara serius Raina menatapinya dengan memelotot "Stop mengoceh kebohongan! dan katakan yang sebenarnya!" tegasnya lalu kembali fokus ke jalanan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN