Kekhawatiran

1629 Kata
Willson dan kawan kawannya sudah selesai dengan semua perintah dari para senior, saat mereka keluar dari ruang bawah tanah para senior sudah tidak ada di sana. Willson membuang nafasnya berat dan memutar bola matanya. "Sesuai dengan dugaan kita semua, mereka pasti sudah memindahkan pak Sam! Ini semua pengalihan buat kita! ayo kita cek ke ruangan itu" jelas pak Willson lalu berlari ke lantai atas Semua rekannya mengikuti langkah Willson, hingga sampailah mereka di depan ruangan yang gemboknya sudah terbuka itu. Jeffan menendang pintu itu dan menampilkan lantai yang penuh dengan darah. Mereka tidak tega menatapnya, apa lagi Pak Sam adalah atasan yang baik bagi mereka. Tidak bisa terbayang bagi mereka bagaimana Pak Sam di siksa di dalam sana. "Sialan, atasan atasan kita sudah sebegitu gilanya karena uang" gerutu Sonny terlihat sangat jijik "Mereka sampai melakukan semua ini pada rekannya sendiri, pak sam!" kesal Gio membuang nafasnya begitu berat Ben segera menatapi Willson yang masih menatapi ruangan itu sendu "Segera chat pak Baskara Willson" perintahnya "Iya lo bener" jawab willson segera lalu memainkan ponselnya dan mengirim Baskara sebuah pesan ◇◇◇◇ Baskara segera membuka pesan yang di kirim Willson padanya. "Ada apa Baskara?" tanya Pak Meggy serius "Mereka bilang ruangan itu kosong dan di dalam ruangan itu banyak darah. Pak Sam sudah di pindahkan" jelas Baskara mengeratkan pegangannya pada ponselnya Pak Meggy memutar bola matanya kesal "Astaga!" umpatnya "Pak sepertinya itu mobil yang membawa pak Sam" ujar seseorang body guard yang melihat sebuah mobil keluar dari area belakang polisi "Bersiaplah" ujar Baskara dengan tatapan tajam Seketika bayangan Baskara tertuju pada lingkungan kampungnya yang hancur, bayangan tentang bapak dan ibunya di masa lalu yang selalu menyayangi dirinya dan Raina dengan tulus. Semua itu seakan membakar ambisi besar pada diri Baskara. ◇◇◇◇ Sementara itu Jack sudah menunggu kedatangan Baskara dan yang lainnya. Dia duduk santai di balkon lantai dua tepat di bangunan tua yang berada di tengah tengah hutan, sembari merokok santai. Jack menatapi ke depan tepat ke alam bebas, pepohonan lebat di sana dengan angin malam yang terasa begitu dingin. Dia bersama dengan satu orang berpakaian serba hitam di sampingnya. Dia memegangi sebuah senjata di tangannya. "Boss, mereka sudah melaporkan bahwa mobil yang berisi Sam sudah berangkat. Sejak 20 menit yang lalu, para polisi itu juga memastikan bahwa Baskara dan rekannya mengikuti mereka dengan jarak yang cukup jauh" jelas dia menatapi Jack serius Jack mengangguk dan tersenyum sembari menghembuskan asap rokok yang penuh dari dalam mulutnya. "Ahh gue sudah tidak sabar, tapi saat Baskara dan semuanya tertangkap gue tetap harus merahasiakan identitas diri gue dulu. Sebelum lahan itu semuanya menjadi milik gue, baru tepat di hari itu gue akan menemui mereka dan memperlihatkan siapa gue sebelum 5 menit kematian mereka. Gue sempet berpikir untuk langsung membunuh mereka malam ini, tapi kayaknya jauh lebih seru jika kita menyiksa dan menyekap mereka bersama dengan pria gila itu hahaha" ujar Jack lalu tertawa lega dengan semua yang dia ucapkan Anak buahnya itu lalu mengangguk dan ikut tersenyum "Ya Boss itu jauh lebih baik, dan ya sebentar saya akan bawakan laptop yang berisi tentang pengintaian Baskara di sinyal gps" jelasnya "Ya Bawa!" perintah Jack segera Dia pun membawakan laptop pada bossnya dan menarurhnya di sebuah meja lusuh. Anah buah Jack lalu mengoprasikan laptopnya dan terlihat jelas di layar laptop menunjukkan lokasi keberadaan mobil Baskara dan para polisi senior "Seperti yang boss lihat, jarak dari si Baskara ini cukup jauh dari para polisi. Mereka pikir kita tidak bisa melacaknya?" gerutu dia tersenyum puas "Hmm mereka terlalu bodoh untuk berhadapan dengan gue, engga akan sebanding lah" gerutu Jack lalu kembali menghisap rokoknya ◇◇◇◇ Berada di sebuah mobil berkapasitas 5 penumpang. Kini para polisi senior itu mengendarai mobilnya bersama dengan Pak Sam yang di ikat dengan mulut di tutup lakban. Bukan hanya di perlakukan seperti itu, Sam juga mengalami luka luka kecil di tangan dan kakinya. Air matanya terus berjatuhan, meski pun kewarasannya sudah hilang dia tetap merasakan rasa sakit yang pedih dan teringat dengan istri mau pun anaknya. "Boss Jack bilang katanya Baskara berada jauh dari kita!" ucap seorang polisi yang sedang mengendarai mobilnya "Iya kita pura pura engga tau aja, karena emang dari jarak pandang yang kita lihat. Mobil Baskara bener bener engga bisa kita pastikan lokasinya ada di mana. Tapi Jack bisa memantaunya dari jarak yang jauh, jadi kita semua tenang saja" ujar polisi lain yang duduk di samping si sopir Mereka pun mengangguk dan tersenyum puas dengan rencana mereka yang nyaris berhasil 86% itu. Tentu saja mereka bahagia, karena memang sebelum Jack berhasil mendapatkan semua lahan itu mereka sudah di bayar banyak oleh Jack. Apa lagi jika sampai lahan itu berhasil Jack kuasai, bayaran yang akan Jack berikan pada mereka jelas akan berlipat lipat. ◇◇◇◇ Raina berada di rumah Pak Meggy, dia berada di halaman luar rumahnya dan duduk di sana dengan perasaan khawatir pada abang dan atasannya itu. Raina menatapi layar ponselnya sejak tadi dan berharap mendapat kabar bahwa abang dan atasannya berhasil dalam penyelidikan pak Sam. Dia membuang nafasnya sangat berat, setelah cukup lama dia menunggu pesan dari abangnya masih saja belum masuk. "Ya tuhan, semoga misi mereka berhasil dan mereka pulang dengan keadaan selamat" gerutunya lalu membuang nafasnya berat dan menatapi langit malam yang hitam pekat Tiba tiba seseorang datang ke arahnya dan membawa senampan teh hangat dan camilan untuk gadis yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri. "Aamin, kamu jangan khawatir nak percayakan semuanya pada tuhan! insyaalloh mereka akan bisa melewati semuanya dan pulang dengan selamat" gerutu istri pak Meggy lalu langsung duduk di samping Raina Raina tersenyum dan menatapi beliau dengan tatapan tulus. "Iya bu, Raina berharap mereka berhasil ya. Raina hanya khawatir karena musuh yang mereka hadapi itu sangat kuat, Raina gelisah aja bu" lirih dia dengan mata yang sudah berkaca kaca Dia lalu memegangi tangan Raina erat "Sudsh sayang, percaya aja mereka itu orang orang baik ko. Mereka pasti akan di lindungi oleh tuhan meski apa pun yang terjadi pada mereka, yaa kamu harus percaya sama mereka yaa" ujarnya lagi sembari tersenyum tulus padanya Raina pun mengangguk angguk setuju dengan raut wajah yang mulai tersenyum "Iya bu, raina percaya sama mereka. Mereka semua orang baik" ujar Raina ◇◇◇◇ Di langit yang sama Dara duduk di balkon rumah sakit dan menatapi ponselnya dengan tatapan yang khawatir. Banyak yang sangat dia khawatirkan saat ini, karena Baskara yang enggan memberikannya kabar padahal mereka sudah pergi dengan waktu yang cukup lama. "Kenapa Baskara masih belum memberi aku kabar ya? apa mereka belum berhasil menemukan pak Sam? Ahh iya padahal sebelumnya aku juga minta nomor Willson bukan hanya Baskara yang punya. Kalau gini kan jadi ribet urusannya" gerutu Dara dengan suara pelan dan penuh dengan rasa khawatir Dara membuang nafasnya sangat berar dan menatapi langit, berharap apa yang di harapkannya bisa terkabul. Tiba tiba seseorang mengetuk pintu dan membuat Dara langsung membalikkan badannya untuk mengecek siapa yang mendatanginya. "Eh dokter Zean" gerutu Dara lalu tersenyum canggung di saat saat kekhawatirannya yang melanda "Boleh saya ke sana?" tanys dokter Zean menatapi Dara serius Dara langsung mengangguk "Iya iya dok, boleh kok lagian ini kan tempat umum" jelas Dara "Hm baiklah, terima kasih" ujarnya lalu berjalan mendekat ke arah Dara Setelah berdiri bersampingan dengan Dara, dokter Zean menatapi Dara dengan tatapan sendu. "Dara kamu kenapa? kok kayak tegang gitu? apa Baskara belum ngasih kamu kabar?" tanya dokter Zean khawatir, dia sudah mengetahui semuanya dari Dara. "Iya dok, Baskara belum memberi kabar apa pun. Saya jadi khawatir banget sama mereka" lirih Dara sembari menatapi dokter Zean dengan tatapan takut Dokter Zean sangat khawatir saat Dara menatapinya dengan tatapan yang seperti itu "Dara kamu tenang dulu, kamu coba berpikir positive dulu! mungkin aja mereka lagi masih berusaha buat dapetin info tentang polisi gila itu" jelas dokter Zean "Iya sih dok, tapi kan ini sudah lama banget setelah mereka pergi. Tapi masih aja belum ngasih info apa apa. Mana aku lupa engga minta nomor polisi Willson, cuma Baskara yang punya" jelas Dara membuang nafasnya berat "Kamu mau coba cek aja ke kantor polisi? kalau mau biar saya yang antar" jelas Dokter Zean menatapi Dara dengan tatapan yang serius Dara langsung menggelengkan kepalanya "Engga dulu deh dok, kalau kita datang ke sana sekarang bisa bisa kita nanti tanpa di sengaja menggagalkan rencana yang sudah Baskara susun. aku mau tunggu sampai jam 3 pagi deh, kalau Baskara masih belum memberi kabar maka subuh sekali kita harus mulai cari dia ke kantor polisi" jelas Dara Dokter Zean pun tersenyum dan mengangguk "Baik lah saya akan siap kok anter kamu, eh sekalian adeknya Baskara juga kita ajak aja. Kan dia engga ikut? dia sekarang pasti juga sedang khawatir" jelasnya Dara mengangguk dengan sorot mata yang sendu "Iya dok, pasti dia khawatir banget" gerutunya "Sabar yaa Dara" ◇◇◇◇ Mobil yang di dalamnya di tumpangi oleh Baskara masih mengikuti mobil polisi dari jarak yang cukup jauh. Suasana semakin terasa tegang saat mereka sadar bahwa mereka memasuki area perhutanan. "Baskara apa ini tidak berbahaya?" gerutu Pak Meggy menatapi Baskara serius "Saya kurang tahu pak, meski pun memang ini jebakan untuk kita. Tapi kita tetap harus siap menghadapinya kan? kalau engga nyawa pak Sam bisa aja terancam dan itu artinya kita engga bisa dong menuntaskan kasus ini jika tanpa dia" jelas Baskara dengan tatapan serius Semuanya mengangguk setuju dengan apa yang Baskara ucapkan. Apa pun resikonya harus mereka hadapi malam ini. "Jarak kita sudah cukup jauh dari mobil mereka. saya kurang tahu apa mungkin mobil lainnya ada di belakang kita dan mengikuti kita" gerutu Baskara menatap ke belakang jalanan Mereka pun lantas menatap ke arah yang sama "Sepertinya engga ada yang ngikutin kita deh, soalnya dari tadi sudah kami perhatikan memang tidak ada mobil atau pun kendaraan apa pun yang mengintai kita" jelas si anak buah pak Meggy
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN