"Ya, sebelumnya perkenalkan nama saya Jack dan saya abangnya Dara, salah satu perawat di sini" jelas Jack
Dokter Zean sangat terkejut dengan apa yang dia katakan "Abangnya Dara? hm iya ada perlu apa?" tanya Zean
"Kalau boleh tau, Dara pekerjaan nya udah selesai belum ya? dia dari tadi engga balas chat dari saya" ujar Jack kembali menatapi ke sekeliling
Dokter Zean mengerutkan keningnya "Kenapa abangnya nanyain Dara ya? jadi Dara engga pulang langsung ke rumah?" gerutu dia dalam hatinya
"Terus dia sama Baskara ke mana dulu ya, semoga engga terjadi apa apa sama mereka" ujar Dokter Zean dalam hatinya lagi
"Dara sih udah pulang beberapa menit yang lalu, emang nya Dara belum sampe rumah?" tanya Zean menatapi Jack serius
Jack menggelengkan kepalanya "Engga tau juga karena saya dari kantor langsung ke sini sih. Hm oke mungkin dia udah nyampe rumah kali yaa" ujar Jack sembari mengangguk angguk
Dokter Zean segera mengangguk "Iya sepertinya kalian tadi berpapasan deh di jalan" gerutu Zean
"Oke makasih infonya ya" ucap Jack tersenyum tipis sembari menatapinya
Dokter Zean kembali mengangguk "Iya sama sama" jawabnya
"Saya permisi" tambah Jack lalu segera pergi dari sana
Dokter Zean pun menatapi kepergian Jack dengan raut wajah serius. Pasalnya abang Dara ini selama dia bekerja di rumah sakit, Jack belum pernah antar jemput Dara atau apa pun.
"Abangnya Dara katanya, tapi kok saya engga terlalu percaya sama dia ya? malah lebih percaya sama Baskara, ya maksudnya Baskara selalu jemput Dara untuk pulang tiap malam. Sedangkan abangnya? hmm meskipun saat ini saya engga tau Baskara dan Dara pergi kemana tapi saya jangan menyebabkan pertikaian antara siapa pun. Saya engga mau terlibat dalam hal ini. Apa lagi abangnya terlihat sedang menunggu mereka sekali" gerutu dokter Zean pelan lalu ia berjalan kembali untuk masuk ke ruangannya
◇◇◇◇
Jack memutuskan untuk pulang ke rumahnya, karena memang semua pekerjaan di kantornya sudah selesai. Ia juga berharap Dara sudah sampai di rumahnya dan di antar Baskara ke sana. Sehingga nanti para suruhannya bisa kembali mengikuti Baskara.
"Gue harap si Baskara sama Dara udah sampe ke rumah" gerutu Jack sembaru mengemudi
Beberapa menit di perjalanan akhirnya Jack sampai di rumahnya, saat dia masuk yang dia lihat bukanlah Baskara mau pun Dara. Melainkan para pesuruhnya yang sedang berjajar di sana. Jack bisa menilai dari raut wajah mereka apa yang akan mereka laporkan. Dia lalu menatapi ke garasi dan Dara nampaknya belum pulang.
"Tunggu.. Dara balik sama siapa ya? Baskara? jika emang sama si Baskara kenapa mereka belum sampe sini? apa yang mereka lakuin sekarang, dan di mana mereka" gerutu Jack mengerutkan keningnya bingung
Jack membuang nafasnya berat lalu menatapi ke arah kaca mobilnya di maha para pesuruh itu yang masih memasang wajah takut "Wajah wajah takut mati tuh, artinya mereka masih belum bisa menemukan Baskara! sialan" kesal Jack lalu keluar dari dalam mobilnya
Dia lalu menghadap ke arah mereka dengan tatapan datar yang mematikan. Mereka semua menunduk takut menatapi Jack berbeda dengan ketua mereka.
"Boss mohon maaf kami masih belum menemukan keberadaan Baskara" lapor si ketua mencoba untuk seberani mungkin menatapi Jack
Jack tersenyum dengan tatapan sinis lalu mendekat ke arah ketua dan berhenti di dekat telinganya. "Gue kasih waktu sampai besok malam, kalau kalian semua masih bekerja engga becus kayak gini. Gue pastikan anak, istri dan nyawa kalian tidak akan bisa di perpanjang lagi" bisik Jack dengan suara yang membuat semuanya merinding
Mereka semua menunduk dengan tatapan takut, Diantara mereka ada beberapa orang yang tangan bergetar hebat karena takut. Jack lalu pergi dari hadapan mereka dan langsung masuk ke rumahnya. Para pesuruh Jack lalu menatapi satu sama lain.
"Kita harus melakukan pencarian lagi sekarang ketua" ujar salah satu dari mereka
si ketua lalu menggelengkan kepalanya "Tunggu sampai nona Dara pulang dan kita akan lihat siapa yang akan mengantarnya pulang, firasat gue Baskara yang akan mengantarkannya" ujar si ketua lalu mendapat anggukan dari semuanya
Jack masuk ke dalam rumah megahnya, dia tiba tiba mencium aroma masakan yang sangat wangi. Berbeda dari malam malam kemarin, aroma masakan yang beberapa malam ini sudah dia cari cari. "Ibu?" gerutu Jack dalam hatinya lalu melangkahkan kakinya dan segera pergi ke dapur
Dugaannya benar, ternyata ibunya sedang memasak di dapur. Dengan wajah pucat dan lesunya dia terlihat tersenyum dan menikmati saat saatnya memasak. Hal itu menyentuh perasaan Jack begitu dalam, Selama ini dia selalu menjadi anak yang keras dan gila kedudukan semata mata semuanya demi ibunya. Sejak kecil saat ayahnya sudah berubah drastis Jack selalu berbuat curang untuk mendapatkan apa pun demi dirinya, tapi sekarang dia menjadi gila harta dan curang demi ibunya. Ya, dia selalu berharap ibunya berhenti menjadi dokter dan hidup dengan uang miliknya saja.
"Ibu selalu mencoba terlihat baik baik saja di depan kami padahal dia sangat lelah dan sakit, bukan hanya badan tapi hatinya jauh lebih sakit. Sedangkan si b******n itu.." gerutu Jack dalam hatinya penuh kebencian pada Ayahnya itu
Donita tiba tiba menatap ke arah Jack lalu dia tersenyum padanya, berbeda dengan Jack yang langsung memalingkan wajahnya. "Nak, sudah pulang? mari duduk ibu udah masakin semuanya buat kamu sama Dara, tapi kayaknya Dara belum pulang ya" gerutu Donita menatap ke belakang Jack
Jack berjalan ke arah kursi dan duduk di sana "Ya, Dara belum pulang. Lama lama dia bisa menjelma seperti ayah" gerutu Jack dengan suara lirih dan menunduk
Donita membuang nafasnya sangat berat dan menatapi anaknya sendu "Jangan seperti itu nak, udah bentar lagi Dara pulang kok. Kita makan duluan aja ya" ucap sang ibu padanya
"Iya" angguk Jack
Sejak makan malam pertama itu bersama dengan semuanya dan di tambah Baskara, Jack seakan semakin rindu suasana makan malam dari masakan ibunya. Dia tidak bisa mengelak betapa enaknya masakan buatan ibunya.
"Hmm bentar ibu hidangkan yaa" ujar Donita sembari membereskan semuanya di meja
Jack menatapi ibunya sendu, masih terbayang dengan jelas bagaimana si pecundang itu bersama dengan wanita lain. "Bu, kenapa ibu pucat begitu?" tanya Jack dengan tatapan yang datar
Donita langsung menatap ke arah Jack dan tersenyum padanya "Hmm ibu engga papa Nak, mungkin karena kecapean" jawabnya segera
Jack pun terdiam dan hanya menatapi ibunya masih dengan tatapan yang sendu.
◇◇◇◇
"Hmm sebelumnya maaf Wilson, kami malah memperlakukan kamu seperti itu" gerutu Baskara menatapi Wilson yang kembali naik ke motornya
Pak Meggy, Raina dan Dara juga mengangguk. "Maaf dan terima kasih atas semua info dan kemauan anda karena mau bergabung bersama kami" jelas pak Meggy
"Maaf ya pak Wilson" ujar Raina segera sembari tersenyum kaku padanya
Wilson mengangguk dan tersenyum pada mereka "Iya tidak papa soal masalah yang tadi, saya juga terima kasih berkat kalian saya sekarang tahu tentang semua pertanyaan di benak saya yang akhir akhir ini mengganggu saya" jelas Wilson