Aku hampir tersedak air putih yang baru saja kuteguk. "Apa?" Tristan menyandarkan punggungnya di kursi. "Kamu tidak menjawab pertanyaanku." Pipiku terasa hangat. Kenapa dia menanyakan hal seperti itu? Ditambah ekspresinya membuatku tak bisa berkutik. Dingin tapi perhatian! Pesona macam apa ini. Ya Tuhan, rasanya aku ingin berlari sekencang-kencangnya dari sini. "Saya... tidak punya," jawabku pelan. Tristan mengangguk, entah puas atau justru semakin penasaran. "Kenapa?" Aku menghela napas. "Saya sudah cukup sibuk mengurus anak saya. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu." Tatapan Tristan melembut. Aku tidak pernah melihat ekspresi itu sebelumnya. "Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Maya." Aku menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Tristan benar-benar aneh hari

