Tristan menatapku penuh arti, sedangkan aku menelan saliva dengan paksa. Kenapa dia memberitahuku jika yang menelpon adalah Mas David, mantan suamiku? Lalu, kenapa dia meminta pendapatku untuk mengangkat telepon itu atau tidak? Sekarang, aku dibuat mati kutu olehnya. Aku menjadi serba salah untuk merespon pertanyaannya. Tristan masih menunggu jawaban dariku, tapi aku hanya bisa terdiam. Aku tidak ingin bicara dengan Mas David, tapi aku juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja. "Saya tidak tahu, Pak," jawabku akhirnya dengan suara pelan. "Terserah Bapak saja, mau diangkat atau tidak." Tristan mendengus kecil, tampaknya tidak puas dengan jawabanku. Ia mengangkat ponselnya dan menatap layar sebentar sebelum akhirnya menekan tombol terima panggilan. "David," ucapnya santai, tapi sorot m

