31

1407 Kata

Aku mematung, otakku masih berusaha mencerna kata-kata pria di depanku. Dia tidak mungkin baru saja mengatakan itu, kan? Tidak, pasti aku salah dengar. Tapi ekspresinya begitu serius, matanya tetap menatapku lekat tanpa keraguan sedikit pun. "Pak Tristan..." suaraku nyaris berbisik, masih tak percaya. "Ya?" jawabnya santai. Aku menelan ludah, aku tidak mengerti dengan jalan pikir CEO-ku itu. "Bapak sadar kalau ini bukan sesuatu yang seharusnya dibahas antara atasan dan sekretarisnya, kan?" Tristan menyeringai kecil. "Tapi kita sedang di luar kantor sekarang, Maya. Dan yang sedang makan siang denganku ini bukan sekadar sekretarisku, tapi seorang wanita yang membuatku penasaran." Jantungku berdebar lebih cepat. Aku tak tahu harus merasa tersanjung, tersinggung, atau justru waspad

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN