Pria itu tidak menjawab pertanyaanku. Dia langsung melengos meninggalkanku begitu saja. aku dibuat terperangah dengan sikapnya yang tak acuh tersebut. Kuggigit bibir, menekan rasa kesal yang mulai menguar dalam dadaku. Pria itu, dengan wajah datar dan sikap dinginnya, berjalan begitu saja tanpa menunggu. "Kita ngobrol di ruanganku," ucapnya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Aku hanya bisa menghela napas, mencoba mengatur langkah agar tidak tertinggal jauh. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku, seukuran butiran jagung. Ruangan kantor yang seharusnya terasa sejuk malah terasa menyesakkan. Langkahnya lebar dan cepat, seolah dia ingin segera menyelesaikan pembicaraan ini. Aku bisa merasakan ketegangan yang menggantung di udara, membuat tengkukku meremang tanpa sebab. Setelah bebe

