"Di mana Bimo?" tanya Tristan padaku. Aku yang berjalan di belakangnya terasa kikuk, karena teringat dengan janji yang kuucapkan kemarin. "Maaf, Pak. Bimo di rumah." Jantungku berdegup kenjang karena mendadak pria itu berhenti dan berbalik ke arahku. "Bukankah kemarin kamu bilang akan membawa anak itu ke kantor hari ini." Dia mengucapkannya dengan dahi sedikit berkerut. Kutenggak salivaku dengan paksa. Aku mengangguk pelan. Ada perasaan bersalah karena mengingkari janji yang kubuat sendiri. "Iya, Pak. Tapi kondisi Bimo kurang baik pagi ini. Dia sulit beradaptasi dengan perubahan mendadak, dan saya tidak ingin memaksanya." Pria itu menatapku dengan ekspresi yang sulit ditebak. Aku bisa melihat rahangnya mengeras sejenak, lalu dia menghela napas panjang. "Aku mengerti," katanya akhirnya

