Sudah berapa pekan terlewati Via merasa hatinya perih mungkin dirinya sudah Merindukan Andrian pertemuan singkat tapi susah untuk di lupakan Via. Apalagi jika membahas c****n itu, hatinya mulai merindukan Kehadiran Andrian yang begitu hangat dan menyenangkan. Sudah lama sekali juga Via tidak berhubungan dengan Saddam, setelah mengenal Andrian sebagai Tama sepertinya Via tidak pernah lagi memikirkan sahabatnya itu. Harini kelas tari tradisional, Via membawakan tarian India klasik. Tarian Kathak tarian ini berasal dari India bagian utara dan Pakistan Kata Kathak berasal dari bahasa Sanskerta. Kathak menceritakan Radha dan Krishna dalam gaya Natwari. Via menari dengan lincah dan cepat mengikuti musik seakan – akan dirinya seperti alunan musik yang bernyawa sangat indah dan memukau.
Setelah kelas selesai Via langsung bergegas ke kamar ganti mengganti pakaian tarian nya dengan kaos dan celana jeans. Setelah selesai berpakaian Via menuju lobi kampus. Harini sudah tidak ada kelas lagi, Via juga sudah tidak bekerja paruh waktu lagi karena masa liburan panjang sudah berakhir. Saat ini Via hanya mempercepat semua tugas – tugas nya biar secepatnya dia bisa menyusul ibunya yang sudah kembali 2 hari lalu ke Indonesia. Olivia benar – benar merasa kesepian di Amsterdam tak ada kekasih, ibu apalagi keluarga.
******
Andrian berjalan menuju ke kamar kakeknya. Seperti janji nya pada kakek untuk bertemu keluarga perempuan yang akan di jodohkan dengan dirinya. Sejujurnya Andrian sudah menolak dan kakek sudah 2 kali mengganti jadwal pertemuan dengan keluarga sahabatnya itu. Andrian merasa cinta sudah terpaud pada Olivia dewasa. Dan dia juga masih penasaran dengan gadis itu, tapi mau bagaimana lagi, kakek mengancam tak mau makan dan minum sehingga kakek jatuh sakit. Andrian tidak mau kehilangan keluarga satu – satunya yang hanya ia miliki. Kali saja dia bisa membuat kesepakatan untuk menolak perjodohan ini.
“ Kek aku sudah sampai, mau jalan sekarang?”
“Oh kau sudah sampai Andrian... Kalau kau sudah siap juga mari kita langsung jalan saja”
Kakek di bantu Andrian untuk jalan menuju ke dalam mobil Andrian, tidak butuh waktu lama mereka sudah di dalam mobil. Andrian menginjak gasnya untuk menuju rumah yang sudah di kasih alamatnya oleh kakek. Sekitar 1jam mereka sampai di kediaman keluarga sahabat kakek. Andrian yang berusaha untuk sopan walau hatinya sangat kacau.
“ Assalamualaaikum”
“ Wallaikum salam, om Anwar sudah lama kemala tidak ketumu om, bagaimana kabar om sekarang”
“alhamdulillah ya begini seperti kau lihat, aku masih bisa bergerak kesana kemari” Ucap kakek Anwar sambil tertawa lepas. Terlihat nenek Fiana berjalan mendekati mereka.
“Wah kau sudah sampai War, siapa pemuda tampan ini?” Andrian yang merasa dirinya di bicarakan, berjalan menuju nenek Fiana dan mencium tangan sama juga di lakukannya dengan kemala yang mungkin seumuran dengan almarhum ibunya.
“Dia cucu ku satu – satunya” Nenek Fiana dan anaknya Kemala juga Andrian dan kakeknya memasuki ke diaman Kemala mamanya Olivia.
“Sekarang kau hidup di Jakarta apa akan kembali lagi ke Amsterdam Kemala?” kakek Anwar memulai pembicaraan.
“Aku akan menetap di Jakarta om, kasihan mama sendirian di kampung Satria, dan aku berpikir lebih baik kami di Jakarta, karena jika anakku selesai kuliah dia berencana ingin hidup di Jakarta. Dan tidak ada salahnya untuk di coba kan”
“Ya, biar aku juga bisa sering berkunjung tidak kesepian lagi”
“Oh ya War kenapa kau meminta aku dan kemala bertemu dengan mu?”
“Oh itu, kau ingat Fiana aku dan suami mu pernah berjanji jika cucu ku laki – laki dan cucunya perempuan kami akan menjodohkannya” Andrian yang sedari tadi mendengar ketiga orang tua ini berbincang merasa tidak nyaman dan memilih untuk diam. Tapi Andrian menatap wajah nenek Fiana yang seakan pernah ia lihat dimana, kampung Satria siapa nenek Fiana ini.
“ Ya Allah Anwar saya hampir lupa dengan perjanjian itu”
“perjanjian apa ma? Kok kemala enggak tau ya?” mama Kemala yang bingung dengan obrolan ibu serta temannya ini.
“Ayah mu meminta om Anwar untuk menjodohkan anak mu kelak jika anak mu perempuan dan cucunya laki – laki”
“Astaga ma, apa Via mau? Dia membahas pria saja tidak pernah, kecuali sahabatnya Saddam yang ibunya teman kemala, apa Via mau menerima perjodohan ini?” mama Via yang kaget dengan perjanjian yang baru dia ketahui sama dengan Andrian yang kaget dengan nama Via apa Via itu sama seperti yang dia Fikirkan atau mungkin kebetulan sama.
“ Ya kita lihat nanti bagaimana perkembangan mereka berdua, jika Via dan Andrian bisa bersatu aku rasa aku akan tenang jika ajal ku telah tiba” kakek berusaha meyakinkan Kemala untuk bisa membujuk anak gadisnya menerima perjodohan ini, Andrian yang berusaha berpikir keras apa mungkin semua ini kebetulan, diatak sabar ingin melihat gadis yang akan di jodohkan padanya.
“ Tante apakah tidak keberatan jika saya melihat foto anak tante?” Kakek yang melihat gelagat Andrian yang aneh, tadinya dia berusaha untuk tidak menemui keluarga ini tapi sekarang seperti tidak sabar melihat gadis yang akan di jodohkan padanya.
“ Oh bentar tante sepertinya masih ada fotonya terakhir kami di bandara saat tante hendak kembali ke Jakarta” Mama Via membuka ponselnya dan mencari di galeri foto anak gadis semata wayangnya itu, ponsel nya ia berikan ke Andrian dan Kakek Anwar.
“ Ini anak ku om, Olivia Zein” Astaga hati Andrian seperti baru menang lotre miliaran rupiah bagaimana bisa sebegitu kebetulan semua ini, sepertinya Dewi Fortuna lagi berbaik hati pada Andrian.
“Tan Olivia teman SD ku dan kami baru bertemu di Amsterdam, aku setuju dengan perjodohan ini, aku sudah jatuh hati tan padanya selama di Amsterdam” Andrian begitu membara saat mengutarakan hatinya pada Mama Via. Dan Andrian bukan jodoh yang buruk untuk Olivia, bahkan mama merasa bangga jika Andrian menjadi mantunya, ia yakin Via akan bahagia dengan pemuda ini yang sudah jelas latar belakang keluarganya, dan baru saja dia mengutarakan hatinya yang sudah jatuh hati pada Olivia.
“Ya kalau tante setuju saja, selama Via mau, tapi bagaimana membujuk anak itu, dia tidak akan setuju dengan perjodohan ini, dia terlalu muda pasti dia akan menolak” mama yang sudah tau watak anak nya itu.
Kakek Anwar yang kaget ketika cucunya tiba – tiba mau dan sangat bahagia mendengar bahwa cucunya yang meminta. Nenek Fiana yang sedari tadi mendengar obrolan mereka akhirnya berbicara.
“Urusan Olivia biar aku yang urus, aku yakin dia akan mengabulkan keinginan almarhum kakek nya, sekarang sebaiknya kita makan siang bersama dan sambil berbincang untuk langkah selanjutnya.
Mereka semua menyetujui ucapan Nenek Fiana dan berjalan ke ruang makan yang sudah rapi tertata makanan yang sudah di siapkan sebelumnya.