Mabuk

999 Kata
Malam ini benar-benar membuat Anandita merasa malu. Ketika ia mengenakan jubah mandi yang di sediakan pihak hotel ketika hendak menggunakan toilet. Daniel benar-benar tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya, yang selalu sibuk dengan poselnya. Begitu pentingkah dengan pesan-pesan yang ada di ponselnya. Dan ketika Anandita menggunakan toilet tanpa terhalang apapun, hingga memakai bathtub pun Daniel masih berada di tempat yang sama. Teringat kejadian tadi membuat Anandita malu sendiri, drama ranjang dan masalah permandian, padahal kan itu masalah sepele. Ia melirik Daniel yang sibuk dengan makanannya. Sekarang mereka sedang makan malam di cafe yang tersedia di hotel tempat mereka menginap. Anandita memikirkan, mungkin di mata Daniel ia kekanak-kanakan, berbeda jauh dengan Rini tunangannya yang mungkin memiliki sifat dewasa dan anggun, atau mungkin lebih membosankan dan kaku seperti laki-laki di depanku sekarang batin Anandita. Anandita memperhatikan Daniel dalam diam, ia melirik dengan ekor matanya saja, tidak benar-benar menatap dengan terang-terangan, ia masih memikirkan liburan atau bulan madu bohongan ini, bagaimana mungkin selama dua minggu mereka bersama, mereka bukan pasangan suami istri normal pada umumnya, yang tidur dalam ranjang yang sama dan melakukan hal-hal... ya ampun memikirkannya saja Anandita merona. Tidak mungkin mereka akan melakukan layaknya bulan madu pada umumnya, bersenang-senang layaknya pengantin baru, memadu kasih dengan penuh ke intiman, keromantisan yang akan Daniel berikan, malam-malam yang panas layaknya pengantin baru yang sedang memadu kasih. Secara sadar mereka hanya melakukan pernikahan kontrak, yah bulan madu ini terjadi karena ketidak sengajaan Daniel yang sudah memesan kamar hotel saat ia dan Rini bertunangan. Tidak bisa di salahkan juga, mau bagaimana lagi sudah terlanjur di pesan tiket liburannya. xxxxxxxxx Anandita tiba-tiba memanggil waiter dengan mengangkat sebelah tangannya, membuat Daniel mendongak menatap Anandita, Seolah-olah ia akan membuat Daniel kesal, apa lagi yang di inginkan perempuan ini. Waiter muncul di hadapannya dengan membawa notesnya. "Aku ingin memesan minuman beralkohol ada?" tanya Anandita kepada waiter itu. "Ada bu," sambil mengangguk kan kepala. "Tolong bawakan daftar menu minuman beralkohol," Anandita tanpa memandang Daniel. Waiter itu mengangguk ramah berlalu. "Kamu gak makan?" ucap Daniel, menatap piring Anandita belum tersentuh. "Nanti. Aku mau minum dulu, biar rileks. Kita mesti merayakan malam pertama sebagai suami istri bohongan ini, dengan sedikit minum." ucap Anandita yang malu mengingat sikapnya tadi di kamar, sungguh kekanak-kanakan sekali. Kemudian waiter tadi datang membawakan daftar menu minuman yang di inginkan Anandita. Daniel memandangi Anandita yang sibuk membaca daftar minuman. Karena bingung dengan macam-macam minuman yang ada di daftar menu itu, Anandita memesan semua minuman yang istimewa yang tersedia di kafe itu. "Bawakan semua minuman ini," sambil menunjuk menu yang tertera di buku tersebut. "Semua?!" ucap Daniel keras. Waiter mengangguk ramah meninggalkan mereka. Anandita menutup daftar menu tersebut, dan menaruhnya disamping piring makan. Dia masih tidak mau menatap Daniel. Ia hanya pura-pura memakan makanannya yang hanya di sendok sedikit kemulutnya. "Dinikmati saja, kapan lagi kita minum-minum seperti ini? dan setelah kita meminum semuanya, kita akan terlalu mabuk untuk melakukan sesuatu." "Jika melihat apa yang sedang kamu lakukan sekarang, dan memesan semua minuman tadi, aku malah curiga, kamu ingi sesuatu terjadi di antara kita malam ini," balas Daniel tenang. Sontak Anandita mendongak dan menatap Daniel sambil memicingkan matanya. Sedangkan suami gadungannya menatap Anandita kesal, lalu mereka melanjutkan makan malamnya. XXXXXX Anandita bersenandung kecil, ntah apa yang di nyanyikannya, ia sangat mabuk sekali. Telunjuk Anandita ada di depan bibir Daniel. Ia mengikik geli sementara tangannya memeluk leher Daniel, kepalanya pening. Ia digendong oleh Daniel ala bridal style yang sama-sama mabuk. Daniel menendang kasar pintu hotelnya. Tadinya Anandita yang mau membuka pintu, tetapi dia sudah tidak punya kekuatan lagi, efek mabuk dan sibuk memandangi wajah Daniel sambil menempelkan jarinya ke bibir Daniel. Tas tangan yang di pegang Anandita sudah di lempar oleh Daniel ke sembarang tempat. Mereka masuk kamar dan mengabaikan karyawan hotel yang mengantarkan mereka yang begitu mabuk sampai ke kamarnya. Daniel pun berceloteh tidak jelas sepanjang mereka berjalan hingga ke kamar mereka. Akibat banyak minum hingga mereka mabuk. Meski sempat mendengar Anandita kesakitan ketika kakinya menghantam pinggiran pintu saat di gendong Daniel tadi, Daniel tidak menghiraukannya dan melempar pelan Anandita ke tempat tidur. Anandita terbaring dan menatap Daniel yang ingin berjalan meninggalkannya, dengan cepat Anandita memegang tangan Daniel. "Mau kemana?" sambil memegang tangan Daniel ia tidak sadar sedang mabuk. "Aku mau mandi," geram Daniel. Daniel meninggalkan Anandita yang mau mengomel lagi. Ia belum sempat mandi tadi saat adanya drama ranjang dan tempat mandi yang di persoalkan Anandita. Anandita merasa sangat pusing. Ia berharap langit-langit kamar berhenti berputar saat ia berusaha berdiri. "Jangan tinggalkan aku! aku akan duduk menonton kamu, seperti tadi sore yang kamu lakukan ketika aku sedang mandi!!" ucap kesal Anandita yang berbicara sambil berdiri sempoyongan. Hampir saja Anandita terjatuh kalau dia tidak berpegangan dinding kaca kamarnya. Anandita mencari keberadaan kursi yang tadi di duduki Daniel saat ia mandi, Anandita berusaha meraihnya untuk duduk disana. "Dasar! Tunggu aku akan duduk disini." Anandita menghempaskan tubuhnya ke kursi dan berbalik menatap kamar mandi. Daniel dimana ? Anandita mencoba berdiri dari kursi. Ia berpegangan ke dinding, namun jatuh ke lantai. Ia melihat pakaian Daniel sudah terserak dimana mana. Anandita mengomel dalam mabuknya, ia meracau tidak jelas sambil bersendawa dan mencium bau alkohol yang keluar dari mulutnya sendiri. "Sekarang aku akan membalas kamu, tadi sore kamu nontonin aku mandi." Karena sudah tak sanggup berdiri lagi, Anandita merangkak mencari keberadaan Daniel dan keluar ke arah bathtub tapi Daniel tidak ada disana. Terdengar suara kucuran air. Tetapi sepertinya Anandita tidak memedulikan itu . Sekarang Anandita berada persis di depan pintu shower, ia menemukan celana dalam Daniel dan mengangkatnya. Ia melihat Daniel ada di dalam Shower, ia terhalang pintu kaca Shower yang transparan. "Ternyata kamu disini," tunjuk Anandita dengan tangan memegang celana dalam Daniel. "Aku akan duduk disini," ucap Anandita dalam keadaan mabuk. "Aku akan menungguimu mandi. Sama seperti yang kamu lakukan ke aku tadi sore," Anandita berbicara seolah olah Daniel mendengarkan, ia berbicara di depan pintu shower. " Ya ampun!! itu apa?" tunjuk Anandita, kemudian kembali bersendawa, Anandita tepat menunjuk ke arah bagian tubuh Daniel yang terekspos dengan jelas dari pintu kaca shower yang terbuka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN