Dua Hari Lagi

1231 Kata
Brayn masih setia di samping sang mama. Tinggal dua hari lagi Brayn akan menikah. Rasanya Brayn belum bisa melepaskan statusnya sebagai lajang yang akan beralih sebagai suami. Brayn merasa kalau dirinya masih anak kecil yang tak butuh seorang istri. Brayn selalu merasa dirinya hanya butuh mama dan Bella saja. Berbeda dengan Brayn, Alice malah merasa kalau putranya sudah dewasa, sudah pantas untuk menikah dan membina rumah tangga. Alice hanya khawatir, saat dirinya yang semakin menua, usianya yang tak tau sampai mana, Brayn masih menjadi anak manja. Alice senang dengan Brayn yang masih tak melupakan kebiasaan kecilnya dan masih tetap mau bermanja-manja dengannya. Tapi yang Alice takutkan adalah keadaan Brayn beberapa tahun lagi. Alice ini sudah tua, Alice juga tak mungkin bisa selalu ada di samping Brayn. Brayn butuh seseorang yang bisa menggantikan posisi Alice saat Alice sudah tidak ada nanti. Itu sebabnya Alice selalu memaksa Brayn untuk menikah walaupun Brayn tidak mau. Alice berusaha mencarikan wanita yang menurutnya sangat mirip dengannya. Alice mencari wanita yang mampu menyayangi dan mencintai Brayn sepenuh hati. Dan pilihan Alice itu jatuh kepada Alexa. Menurut Alice, Alexa adalah orang yang cocok untuk menjadi istri Brayn. Bukannya asal pilih, selama Alice mengenal Alexa Alice diam-diam juga sudah mengintip keseharian Alexa. Jadi Alice sudah tau baik buruknya Alexa. "Utuu utuu utututu ... bentar lagi anak mama mau nikah ini ya. 2 hari lagi statusnya uda berubah sebagai seorang suami," Alice mengelus puncak kepala Brayn yang saat ini ada bahunya. "Mama ... Brayn takut, ma. Brayn belum siap," Brayn mengeluh, dia benar-benar merasa belum siap. "Belum siapnya dimana sih, sayang? Kamu aja memimpin beratus-ratus bahkan beribu karyawan bisa kok. Masa iya sih kamu memimpin satu istri aja gak bisa," Alice mencoba memberi semangat pada Brayn. "Mama, rasanya itu beda, ma," Brayn kembali merengek. "Beda apanya sih, sayang? Gak ada yang beda kok. Cukup jadi pemimpin yang baik, benar dan adil. Mama yakin rumah tangga kamu dan Alexa akan berjalan dengan lancar." "Tapi ma-" "Uda deh, Brayn. Kamu itu udah dewasa, teman-teman kamu aja uda banyak yang punya anak. Masa iya sih kamu mau gini-gini aja, mau sendiri-sendiri aja," Alice memotong ucapan Brayn. "Siapa bilang aku sendiri? Aku gak sendirian kok. Aku punya mama dan juga Bella. Tanpa menikah juga aku uda punya Bella kan," Brayn memang benar-benar keras kepala dan tak mau kalah. "Brayn ... apa kamu gak mau merasakan punya anak sendiri? Apa kamu gak pengen merasakan punya keturunan yang benar-benar darah daging kamu? Apa kamu gak mau punya keluarga harmonis seperti keluarga kita bersama papa dulu?" Alice bertanya pada Brayn. Brayn menghela nafasnya kasar, "Ya mau lah, ma. Aku mau, tapi aku belum siap," lagi-lagi jawaban itu yang terlontar dari mulut Brayn. "Belum siapnya dimana? Bahkan kamu uda ngomong belum siap sejak beberapa tahun yang lalu. Kalau nunggu kamu siap, mau kapan lagi? Nunggu umur kamu 50 tahun baru nikah?" tanya Alice. "Enggak kan, gak mau nikah pas udah kakek-kakek kan?" Alice kembali bertanya. Brayn menggelengkan kepalanya, "Gak mau lah, ma," jawabnya. "Nahh ... yaudah, jangan ngeluh kalau mama nikahin kamu sekarang," "Lagi pula kamu ini seperti anak cewek aja. Biasanya yang gini tuh anak cewek, ini malah terbalik. Alexa yang kuat malah kamu yang melambai." Brayn menghela nafasnya kasar, "Yaudah deh, ma. Aku pasrah, lagi pula aku bisa apa kalau mama uda berkata," Brayn memeluk mamanya erat. "Omaaa!!!" tiba-tiba Bella yang baru saja menuruni tangga langsung berlari ke arah Alice dan Brayn. "Itu Oma Bella!! Jangan peluk-peluk Oma Bella! Bella hajar mau?!" Bella langsung menantang Brayn. Dia tak suka melihat Alice di peluk-peluk orang lain. "Ya ini mamanya daddy, daddy mau peluk mama daddy. Masa iya kamu larang-larang. Aneh kamu tuh," Brayn tak mau kalah. Dia tak ingin melepaskan Alice. Dia masih mau bermanja-manja dengan mamanya sebelum pelepasan masa lajangnya. "Iih!! Gak mau!! Itu Oma Bella!! Awas! Jangan peluk-peluk Oma Bella!! Sana pergi! Hush hushh!" Bella mengusir Brayn. Dia tak mau kalah dengan Brayn. Yang seharusnya berada di posisi Brayn itu Bella. Yang seharusnya bermanja-manja dengan Alice itu Bella. "Gak mau, daddy mau manja-manja sama mama daddy dulu. Sana kamu pergi, jangan ganggu," Brayn memeluk Alice seperti anak kecil. "Daddy!!!!!" Bella menjerit sekuat-kuatnya. Lalu kemudian Bella langsung menangis. Brayn dan Alice refleks langsung menutup telinga mereka. Sementara Alexa yang masih susah berjalan langsung berjalan dengan tongkatnya untuk melihat mengapa Bella menangis. "Awas, Brayn. Bella nangis itu, mama mau diamin Bella dulu," Alice ingin menggeser Brayn yang sejak tadi menempelinya. "Gak!! Gak mau, mama kan mama aku, bukan mama Bella. Kali ini mama sama aku, Bella yang harus ngalah," Brayn tak mau melepaskan Alice. Alice menghela nafasnya lelah, kepalanya pusing melihat Bella yang nangis seperti orang digebukin. Sementara Brayn terus menempelinya, entah apa yang haru dilakukan Alice saat ini. "Bella ...," Alexa datang. Walaupun kali Alexa sakit, tapi Alexa tetap saja memaksakan berjalan demi mengetahui apa yang sedang terjadi sampai-sampai Bella menangis. "Aunty ...," Bella yang melihat Alexa, langsung berlari dan memeluk Alexa. "Aunty, daddy jahat," Bella mengadu pada Alexa dengan bergelimang air mata. Alexa menatap ke arah Brayn masih santai memeluk mamanya. Alexa mengerutkan dahinya bingung, "Jahat kenapa? Emang kamu diapain?" tanya Alexa bingung. "Daddy ambil oma dari Bella, daddy jahat. Daddy peluk-peluk Oma Bella," Bella mengadu sambil menangis sesenggukan. Alexa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia bingung ingin memberi tanggapan apa. "Aunty, bilang ke daddy buat jauh-jauh dari oma. Bella mau peluk-peluk oma, Bella mau ajak oma shopping," Bella menatap Alexa dengan mata bulatnya yang penuh dengan air mata dan hidungnya yang kini memerah. "Bella mohon, aunty," Bella memohon pada Alexa. Alexa yang tak tega pun langsung mengiyakan permintaan Bella. "Mas Brayn, ayo geser sana, Bella mau ajak mama ke mall," Alexa menyuruh Brayn untuk melepaskan Alice. Brayn menatap Alexa tajam, "Brayn, no mas!!" tolaknya tak suka dengan panggilan Alexa padanya. "Suka-suka gue dong, ini kan mama gue. Gue mau manja-manja sama mama. Bella dong yang disuruh ngalah. Kan Bella uda sering, gue baru minta sekali ini doang," Brayn menolak. Bella saja ditolaknya, apalagi Alexa. "Huwaaaa ... oma ...," Bella kembali menangis dengan volume yang sangat memekakkan telinga. Alexa menutup telinganya yang dengung karena tangisan Bella, "Sayang, kesana dulu yuk. Kita main di kamar kamu dulu," Alexa mencoba membujuk Bella. "Gak mau ... Bella maunya oma," Bella masih menangis. Alexa tak tahan dengan suara tangisan Bella, telinganya benar-benar sakit. "Mas Brayn, buruan awas. Bella uda nangis gini," Alexa kembali menyuruh Brayn bergeser. "Gak mau!" Brayn kembali menolak dengan keras. "Brayn, nanti lagi dong. Bella kasian itu," Alice berusaha melepaskan pegangan Brayn pada lengannya. "Gak mau, mama," Brayn kembali menolak. Alexa sudah geram, mendengar suara berisik tangisan dan perdebatan membuat emosinya memuncak di ubun-ubun. "Mas Brayn awas!!! Kalau gak geser, bakalan aku peluk kamu seharian!! Awas aja ya, aku gak main-main!!" Alexa berteriak sambil mengancam Brayn. Brayn melotot, membayangkan dirinya dipeluk Alexa saja sudah membuat Brayn muak. Apa lagi bila Alexa benar-benar memeluknya secara nyata. "Aku gak main-main ini ya," Alexa menatap Brayn serius. "Aku hitung sampai tiga, satu ...," Alexa berjalan mendekati Brayn. "Duaaa ...," Alexa semakin dekat dengan Brayn. "Ti-" "Iya gue jauh," Brayn langsung melepaskan pelukannya pada Alice. Dan saat itu juga Bella langsung berhenti menangis. Alexa menghela nafasnya lega, "Akhirnya ... terompet sangkakala berhenti juga," ujarnya lega. Bella langsung berlari dan memeluk Alice, "Omaa ...." Sementara Brayn, dia hanya menatap Alexa dan Bella dengan tatapan tidak suka. Setelah semaunya kembali normal, Alexa kembali ke ke ruang TV. Alexa ingin melanjutkan tontonannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN