Anak Manja

1238 Kata
"Pernikahan kalian tinggal 3 hari lagi," "APA?!!" "YANG BENAR, MA?" "YEEEEE ...," Tebak saja, reaksi siapa yang paling terkejut saat Alice memberi tahu kalau pernikahan Alexa dan Brayn akan dilaksanakan dalam waktu 3 hari lagi. Tentu saja ekspresi terkejut itu pasti Brayn, ekspres tak percaya itu Alexa dan ekspresi senang bahagia itu Bella. Saat ini Alice, Alexa, Brayn dan juga Bella sedang duduk bersama di ruang keluarga. Alice menyuruh Brayn Dan Alexa untuk mengajak Bella bermain. Dan Alice sebagai pemantau disini. Bukan karena apa-apa, Alice melakukan ini semua agar Bella, Brayn dan Alexa punya rasa sayang satu sama lain. Alice ingin menciptakan keharmonisan di keluarga kecil mereka kelak. "Bella senang banget deh, sebentar lagi Bella akan punya keluarga yang lengkap. Bella bakalan punya daddy dan mami, Bella gak bakalan dibully sama teman-teman lagi," Bella bersorak-sorai, hatinya sangat bahagia saat Alice bilang kalau pernikahan Brayn Dan Alexa akan segera dilaksanakan dalam waktu 3 hari lagi. "Mama, please ... jangan buru-buru dong. Brayn masih mau menikmati masa muda, ma. Brayn belum mau menikah. Mama ... Brayn gak mau, ma ...," Brayn terus saja merengek pada Alice. Saat ini Alice sedang duduk di atas sofa. Sementara Brayn, Bella dan Alexa duduk di bawah, di atas karpet dengan setumpuk dan bermacam-macam mainan Bella. Alice melipat kedua tangannya di d**a, "Gak ada yang bisa membantah keputusan mama, kalau mama bilang gitu ya pasti gitu, gak bakalan berubah jadi gini," Alice tetap mantap dengan keputusannya. Tak akan ada yang bisa mengubah keputusan, walau Brayn sekali pun. Bryan menatap mamanya dengan raut wajah sedihnya. Lalu dia menggeret tubuhnya mendekati Alice. Dekat cepat Brayn langsung memeluk kedua kaki Alice. "Mama ... please, ma, jangan dipercepat nikahnya. Brayn belum siap, ma," Brayn terus merengek-rengek sambil memeluk kedua kaki mamanya. "Dasar drama king, ngedrama mulu sih. Dikiranya mamanya mau apa nurutin kemauan dia, ya pasti mamanya nolak lah," Alexa bicara dalam hati. "Daddy, daddy kok kayak anak-anak yang gak dibeliin mainan gitu sih? Bella aja jarang-jarang ngerengek sampai segitunya. Daddy mah malu-maluin aja ihh," Bella menegur Brayn. Dia aneh melihat daddy-nya yang biasanya kuat dan berwibawa serta dihormati semua orang, kini malah menggelupur sambil merengek-rengek di kaki sang oma. "Aunty, liat tuh daddy gak tau malu. Masa iya daddy mohon-mohon di kaki oma kayak orang gak dibeliin mainan," Bella mengadu pada Alexa. Alexa tertawa cekikikan, "Iya kan, sayang. Kasihan banget sih daddy kamu, kayak yang gak di kasih uang jajan aja. Merengek-rengek gak tau malu gitu," Alexa ikut-ikutan meledek Brayn. Brayn menatap Alexa tajam, "Diam deh lo! Jangan heboh banget jadi orang. Ini juga semua gara-gara lo. Kalau aja lo gak maksa buat gue nikahin, gak bakalan tuh gue nikah dalam jangka waktu 3 hari lagi," Brayn menyalahkan Alexa. Dia sudah puyeng, Alexa membuat hidupnya semakin menderita dan juga susah. "Heh, aku gak pernah maksa kamu buat nikahin aku kok. Aku mah selalu santai aja, santai nunggu dihalalin sama kamu. Gak pernah tuh aku mohon-mohon sambil bilang, 'Mas Brayn, plase nikahin aku dong, aku uda ngebet nikah nih'. Gak pernah!! Gak pernah sama sekali!" Alexa melotot, dia tak suka dengan ucapan Brayn barusan. "Kan emang iya! Kalau lo gak ngebet pengen gue nikahin, sana pergi dari rumah ini. Jangan mau dijodohin sama gue. Jangan mau nikah sama gue, sana pergi!" Brayn mengusir Alexa dia sudah hilang akal bagaimana caranya dia tak jadi menikah. "Eh-eh, apaan sih?! Ngapai pake bertengkar gitu? Pake acara usir-usiran lagi. Uda mau nikah tapi malah ribut. Apaan gitu? Gak bagus tau, harusnya kalian tuh senang sebentar lagi bakalan halal. Ini bukannya senang kok malah mau gulat," Alice langsung melerai Alexa dan Brayn. Alice tau jika dibiarkan, Brayn dan Alexa pasti akan bertengkar semakin parah. "Mama ... liat tuh si cewek gak tau malu itu, usir dia dari rumah ini, ma," Brayn merengek pada Alice dan meminta Alice untuk mengusir Alexa. "Yaudah aku pergi, gak tinggal di rumah kamu juga aku gak apa-apa. Aku juga masih punya rumah kok. Walaupun rumah aku kecil, kumuh dan gak sebanding dengan rumah kamu yang seperti istana ini," Alexa mencoba berdiri dengan berpegang pada sofa. "Ehh tunggu," Alice langsung menghampiri Alexa. Tanpa berpikir panjang dengan nasib Brayn yang sejak tadi ada di kakinya. Malang sekali nasib Brayn, saat Alice berdiri, Brayn lagtu terjatuh. "Kamu mau kemana, Alexa? Jangan aneh-aneh deh, jangan ada-ada aja. Kamu nih masih sakit, jalan aja belum bisa. Jangan pergi dari rumah ini. Lagi pula 3 hari lagi kalian akan menikah," Alice memegang tubuh Alexa, lalu Alice mendudukkan Alexa di atas sofa. "Tap-" "Gak ada tapi-tapian, kamu di rumah ini aja. Jangan kemana-mana. Kamu juga uda mama anggap sebagai anak mama sendiri kok," Alice mencoba merayu Alexa. "Mama, kan yang anak mama itu Brayn. Seharusnya mama belain Brayn dong," Bryan langsung menyambung, dia panas saat mamanya bilang sudah menganggap Alexa sebagai anakya sendiri. "Brayn mau pergi dari rumah ini kalau mama gak mau membatalkan pernikahan ini," Brayn mengancam mamanya. "Yaudah sama kamu pergi, mama gak perduli kamu mau pergi kemana. Dasar anak durjannah!" semua tak berjalan seperti apa yang diinginkan Brayn. Brayn berharap mamanya akan membujuk dirinya agar tak pergi dari rumah, seperti mamanya yang membujuk Alexa. Namun ternyata Brayn tertampar kenyataan, mamanya bahkan malah setuju dan terlihat ikhlas bila dirinya pergi dari rumah. Brayn menatap kecewa pada sang mama, "Mama beneran? Beneran mama gak ada bujuk Brayn sama sekali?" tanya Brayn pada Alice. "Kok waktu si Alexa mau pergi mama bujuk-bujuk. Sementara kenapa waktu Brayn mau pigi mama malah keliatan ikhlas banget," "Brayn ini anak mama bukan sih? Kok Brayn sekarang ngerasa jadi anak tiri semenjak kedatangan si Alexa ini," Brayn menyampaikan semua unek-unek yang ada di hatinya. "Terserah kamu mau bilang apa, yang penting pernikahan kalian akan tetap dilaksanakan dalam waktu 3 hari lagi," Alice tak ingin tertipu dengan tipu muslihat Brayn. Alice sudah hapal dengan anaknya ini, jadi Alice tak akan tertipu dengan raut wajah sedih Brayn. "Oke kalau gitu, aku aja yang ngalah. Aku bakalan pergi dari rumah ini," Brayn bicara dengan dingin, dia berdiri tegak tanpa rasa ragu. "Yaudah sana pergi, gak mama larang kok," Alice sama sekali tak berniat membujuk Brayn. "Oma, daddy mau kemana? Jangan pergi dong daddy," Bella sudah khawatir, takut kalau keluarganya akan terpecah belah. "Uda, sayang, tenang aja. Semua akan baik-baik aja," Alice berusaha menenangkan Bella. Brayn memandangi Alice dan Bella lekat-lekat, lalu tatapan bencinya jatuh pada Alexa yang saat ini sedang diam melihat apa yang sedang terjadi. "Aku pergi," Brayn membalikkan badannya, dia langsung berjalan pergi meninggalkan mereka yang ada di ruang keluarga. "Oma ... daddy pergi, gimana ini?" Bella merengek saat sudah tak melihat Brayn di dalam rumah. "Udah sayang, tenang aja. Semuanya akan baik-baik saja kan, oma bilang," Alice mengendong Bella, lalu mendudukkan Bella di samping Alexa. Alice berdiri di hadapan Alexa, "Kaki kamu uda mendingan? Sini tante periksa dul-" "Mama!!!!" baru saja Alice ingin membungkuk untuk memeriksa kaki Alexa. Tapi tiba-tiba seseorang memeluknya dengan erat dari belakang. "Mama ... mana mungkin aku bisa jauh dari mama," Brayn memeluk mamanya dengan sangat erat. Ternyata Brayn lah yang berlari masuk ke dalam rumah dengan sangat kencang dan langsung memeluk mamanya erat. Alice tersenyum, sudah dia katakan, dia lah yang paling mengenal Brayn di dunia ini. "Aku gak bisa jauh-jauh dari mama, kenapa sih mama gak mencegah atau membujuk aku? Aku sedih tau," Brayn masih memeluk mamanya erat. "Dasar anak manja," ujar Alice dalam hati. Tapi tak bisa dipungkiri, Brayn benar-benar berarti dalam hidup Alice. Itu sebabnya Alice selalu ingin yang terbaik untuk kehidupan Brayn.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN