Brayn Jadi Pembantu

1000 Kata
Hari ini Alice menyuruh Brayn untuk libur dan tidak ke kantor. Alice memberikan hukuman pada Brayn untuk menjadi pesuruh Alexa sampai Alexa sembuh kakinya. Awalnya Brayn menolak mentah-mentah hukuman dari Alice itu. Tapi karena Alice mengancam akan pergi dari rumah bersama Bella dan juga Alexa, maka Brayn tak bisa menolak. Brayn tak ingin kehilangan Alice dan juga Bella. Kalau Alexa, Brayn malah bersyukur kalau Alexa pergi dari hidupnya. "Mas Brayn!!! Sini," Alexa berteriak memanggil Brayn. Saat ini Alexa sedang duduk santai di atas sofa sambil menonton TV. Sementara Brayn, dia duduk di meja sudut untuk berjaga-jaga kalau Alexa menginginkan sesuatu. Itu adalah perintah Alice, kalau tidak Brayn juga ogah melakukannya. "Brayn!! No, mas!" Brayn masih tak ingin dan tak suka dipanggil mas oleh Alexa. "Sayang, sini dong, aku mau minta tolong nih," Alexa memanggil Brayn dengan nada manjanya. Brayn menghampiri Alexa dengan berat hati, "Apa? Lo mau apa? Buruan bilang, waktu gue bukan cuma untuk lo doang," ucap Brayn ketus. "Astaga, sayang ... kok galak banget sih? Kan aku manggil kamu bagus-bagus," Alexa menampilkan senyum manisnya. "Gak usah senyum-senyum, bukannya cantik malah geli!" "Ya ampun, kamu lagi pms ya, sayang? Marah-marah malu sih," Alexa memasang raut wajah sok sedihnya. "Lo mau apa? to the point aja deh, enek gue liat lo lama-lama," Brayn sudah tak sabar ingin pergi dari dekat Alexa. "Aku haus, sayang. Tolong buatin minuman dingin yang segar dong," Alexa menyampaikan keinginannya pada Brayn. Brayn menggeram kesal, dia menatap Alexa tajam, "Iya, nyonya ratu Alexa," balasnya penuh penekanan. Brayn langsung pergi ke dapur, dia langsung membuat kan sirup dingin untuk Alexa. Setelah selesai membuat minuman yang diminta Alexa, Brayn langsung kembali dengan segelas minuman yang sudah ada di tangannya. "Nihh uda jadi, silahkan diminum. Sekalian gelas-gelasnya juga di telan," desisnya tajam dengan raut wajah yang tak kalah sinis dengan ucapannya. Bukannya marah, Alexa malah tertawa. Alexa benar-benar merasa lucu saat melihat ekspresi kesal bercampur marah Brayn. Menurutnya, Brayn benar-benar menggemaskan kalau seperti itu. "Uda kan? Gak ada lagi kan? Gue malas jalan bolak-balik karena lo." "Enggak ada kok, sayang. Yaudah gih kalau mau balik, tapi kalau mau disini aja nemenin aku juga gak apa-apa. Aku terima dengan senang hati kok," tawar Alexa dengan senyum lebarnya. "Ogah gue, mendingan juga gue duduk di kandang sapi, dari pada harus duduk di samping lo," Brayn langsung melenggang pergi meninggalkan Alexa. "Hahaha ... dasar cowok batu," Alexa tertawa geli. Di balik dinding, Alice sejak tadi mengintip kegiatan Alexa dan Brayn. Bukannya Alice kepo, tapi Alice hanya ingin tau lebih dalam bahagianya hubungan antara Alexa dan Brayn. Alice tersenyum lebar menampilkan gigi-gigi putih rapinya, "Alexa itu benar-benar wanita tangguh seperti aku. Kalau liat Alexa dan Brayn jadi ingat ke masalalu ku dengan papanya Brayn. Alexa gak ada jenuh dan putus asa buat mendapatkan hati Brayn, walaupun Brayn tetap keras seperti batu," Alice berbicara pada dirinya sendiri. Menyaksikan Alice dsn Brayn seperti menyaksikan kisah cintanya dengan papa Brayn waktu dulu. "Ternyata buah emang gak jatuh jauh dari pohonnya yah," ujarnya sambil tak henti melihat Brayn dan Alexa. "Buktinya Brayn sama papanya mirip banget, tingkahnya benar-benar sama," lanjut Alice kemudian. "Tapi aku yakin kok, sekeras apa pun batu, pasti akan hancur dengan setetes air. Walaupun memakan waktu yang cukup lama. Aku yakin, Brayn juga nanti pasti bisa membuka hati untuk Alexa. Brayn dan Alexa pasti akan saling mencinta seiring berjalannya waktu," Alice menghela nafasnya lega. Tak sia-sia waktu itu dia langsung menempa Alexa sebagai calon menantunya. Ternyata Alexa adalah wanita yang cocok untuk Brayn. Banyak wanita yang lebih cantik, pintar, baik dibandingkan Alexa di luar sana. Tapi Alexa itu spesial, tak ada wania yang mampu seperti Alexa. Jika wanita lain yang sedang dijodohkan dengan Brayn saat ini, Alice yakin wanita itu langsung mundur. Tidak seperti Alexa yang tak pernah lelah dan terus berjuang. "Ehemm ehemm ...," Alexa berdeham kuat. Brayn sudah menggeram kesal, "Apa lagi?" tanyanya dari tempat dirinya duduk saat ini, kursi pojok yang berada jauh dibelakang Alexa. "Aku mau menikmati matahari pagi dong, sayang. Aku mau berjemur, yuk bantuin aku keluar," Alexa bicara tanpa rasa bersalah ataupun rasa malu sedikit saja. "Ngelunjak ya lo lama-lama, enak aja lo ngatur-ngatur gue sesuka hati lo. Gue ini Brayn, yang punya rumah ini! Bukan pembantu!" sungut Brayn dengan wajah merah padamnya. Karena Alexa susah untuk menolehkan kebelakang melihat Brayn, maka Alexa akan bicara menghadap depan saja. "Sayang, apaan sih? Kok marah-marah gitu? Aku kan gak minta yang aneh-aneh sama kamu. Aku kan gak minta kamu buat beliin aku berlian, permata, bukit, gunung dan lautan. Aku cuma minta kamu buat bantuin aku aja, aku mau berjemur. Berjemur di pagi hari itu kan sangat bagus untuk kesehatan, apa lagi aku lagi sakit gini. Yuk ahh ... jangan ditunda-tunda lagi," Alexa terus mendesak Brayn agar segera menggendongnya menuju tempat berjemur yang ada di dekat kolam renang. "Gak mau!! Sana jalan aja sendiri! Lo pikir gue babu lo apa?!" Brayn menolak mentah-mentah. "Ooh gitu ya? Gak mau nih? Yaudah deh, aku panggilin mama aja," Alexa bersiap-siap untuk berteriak memanggil Alice. "Ma-" "Iya-iya! Iya gue bantuin lo ke tempat berjemur sana!" Brayn menyetujui permintaan Alexa dengan berat hati. Kalau saja Alexa tak mengancam akan mengadu pada Alice, maka bisa Brayn pastikan dia tak akan membantu Alexa, tak akan pernah! Brayn berjalan menuju Alexa, sesampai di depan Alexa Brayn langsung mendengus kesal, "Huft!! Dasar cewek manja! Nyusahin aja tau lo!" Brayn masih menyempatkan untuk memaki Alexa. Alexa tak peduli Brayn akan memakinya seperti apa. Yang penting Alexa sudah merasa menang karena Brayn menuruti keinginannya saat ini. Brayn menggendong Alexa, dia langsung membawa Alexa menuju tempat berjemur. "Dasar!! Nyusahin aja tau lo!" Brayn kembali mencerca Alexa yang saat ini ada di gendongannya. "Sabar, Alexa, ini cobaan. Lo bakalan nikah sama si mulut cabe. So, lo harus jadi cewek tahan banting dong, seumur hidup lo bakalan ngadepin dia dan mulut pedasnya," ujar Alexa menguatkan dirinya dalam hati. Di balik dinding Alice masih setia mengintip Alexa dan Brayn. Alice tersenyum bahagia, "Alexa-Alexa, ada aja ide kamu biar bisa dekat sama Brayn," Alice menggelengkan kepalanya senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN