Alice Pulang

1992 Kata
Hari sudah malam, Alexa, Brayn dan juga Bella sudah berada di meja makan untuk melaksanakan kegiatan makan malam. Sementara Alice, dia masih belum pulang ke rumah. Alice bilang jadwalnya padat, kemungkinan besar Alice akan pulang waktu jam makan malam. "Aunty, tadi aunty dapat nilai berapa? Dapat nilai tinggi gak? Drama aunty disukai sama bu guru enggak?" Bella bertanya dengan wajah polosnya. Alexa yang sedang ingin menyuapkan nasi ke mulutnya tiba-tiba langsung berhenti. Brayn yang sedang mengunyah makanannya pun berhenti seketika saat mendengar Bella berbicara. Bella menatap Alexa dan Brayn bergantian, "Loh, kenapa sih? Kok pada diam gini? Aunty dan daddy jadi diam gitu, kenapa sih? Ada yang salah dengan penampilan Bella, ya?" Bella bertanya pada Alexa dan Brayn. Alexa dam Brayn tak berkutik, mereka tetap memilih diam dan tak menanggapi Bella. "Aunty ..., kok diam aja sih? Kan Bella nanya sama aunty, aunty dapat nilai apa? Dapat nilai A,B,C atau D? Nilai aunty bagus atau jelek?" Bella kembali bertanya pada Alexa. "Katanya daddy tadi pas Bella mau nolongin aunty, aunty itu lagi main drama untuk tugas sekolah dan akan dinilai bu guru. Kalau nanti Bella nolongin aunty, alur ceritanya gak akan jalan seperti yang semestinya dan aunty bakalan dapat nilai jelek," Bella menjelaskan pada Alexa dengan serius. "Tapi Bella gak ngerti apa yang dimaksud sama daddy, Bella cuma heem-heem aja, iya-iya aja. Padahal mah Bella gak ngerti," Bella menggaruk kepalanya yang terasa sedikit gatal. Alexa menghela nafasnya kasar, Bella ini benar-benar merusak mood makannya kali ini. Yang seharusnya Alexa lahap makan karena masih terbayang-bayang mabuk kepayang karena Brayn seorang, kini malah jadi anjlok tak karuan. "Aunty, kok diam aja sih aunty? Ayo dong bicara aunty, jawab pertanyaan Bella. Bella sejak tadi uda nanya loh, aunty kok malah diam aja," Bella terus mendesak Alexa untuk menjawab pertanyaannya. "Aunty dapat nilai tinggi gak? Kan aunty tadi aktingnya uda bagus banget loh, uda pakai pewarna makanan untuk merah-merah darahnya, uda akting kesakitan juga, pokoknya semuanya uda bagus banget loh, aunty. Bella dan daddy juga gak jadi nolongin aunty demi aunty dapat nilai tinggi," Bella terus nyerocos tak henti-henti. Mulutnya terus saja bicara, walaupun sedang makan tapi Bella tak menunda segudang pertanyaan itu, dia sudah tak sabar menunggu jawaban dari Alexa. Brayn menahan tawanya, kelakuan Bella benar-benar membuat perutnya geli. Bella ini sangat polos, dicekokin A yang keluar juga A, dasar Bella gadis kecil kepo yang malang. "Emmm ... aunty tadi dapat nilai tinggi kok. Dapat nilai A, sempurna. Benar kata daddy kamu," Alexa menatap mata Brayn tajam. "Karena kamu dam daddy gak jadi bantuin tadi aunty jadi dapat nilai yang sangat bagus dari ibu guru," lanjut Alexa dengan sedikit geregetan. "Emang dasar bapak gak ada akhlak!! Anaknya polos malah dicekokin yang enggak-enggak!! Untung gue wanita cantik, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong. Kalau enggak, uda gue kasih tau tuh yang sebenarnya ke Bella, biar Brayn malu sekalian. Enak aja boong-boongin anak kecil. Anaknya oon, malah di oon-ooni lagi," Alexa terus menggerutu dalam hati. Dia benar-benar kesal melihat Brayn, Brayn ini memang akalnya akal licik dan buruk hati sekali. "Yeeee ... jadi aunty lulus ujian dong? Gak jadi tinggal kelas kan? Aunty jadi tetap nikah sama daddy kan?" tanya Bella bertubi-tubi. "Yeee ... asikk ... Bella punya mami baru, Bella gak akan diejekin teman-teman lagi karena gak punya mami. Yeeee ...," Bella bersorak gembira, dia sangat senang karena menurutnya Alexa sudah lulus ujian dan akan segera menikah dengan Brayn. Alexa mengerutkan dahinya bingung, "Apa? Kamu diejekin sama teman-teman kamu karena gak punya mami?" tanya Alexa pada Bella. Bella langsung menganggukkan kepalanya, "Iya, aunty. Bella selalu dibully karena gak punya mami dan juga daddy yang gak pernah ngantar Bella sekolah. Katanya Bella cuma anak pungut doang," Bella mengadu pada Alexa dengan raut wajah murungnya. "Apa?!!! Siapa yang bilang kamu begitu, hah? Berani sekalu mereka bilangin kamu gitu. Besok kalau aunty ke sekolah kamu, aunty bakalan ngomong sama mama mereka, enak aja anak mereka ngejek-ngejek calon anak aunty, gak ada yang boleh ngebully Bella," Alexa bertekad, dia tak ingin Bella kembali dibully teman-temannya. Karena dari segi apa pun bagi Alexa Bella tak pantas dibully. "Beneran aunty nanti mau marahin mereka yang ejek-ejekan Bella? Beneran aunty nanti mau ikut antar Bella?" tanya Bella memastikan. Alexa mengangguk cepat, "Iya beneran lah masa iya bohongny-" "Hallo ... mama pulang!!!" Brayn, Bella dan juga Alexa langsung menoleh ke arah sumber suara. "Omaaa ...," Bella langsung turun dari kursi makan dan langsung berlari menemui Alice. "Hallo, sayang .... oma bawa oleh-oleh untuk kamu," Alice langsung memeluk Bella. Karena sejak kecil Bella sudah bersamanya, satu hari tak bersama Bella saja rasanya seperti bertahun-tahun tak bersama Bella. "Waahh oma beneran bawain Bella oleh-oleh?" tanya Bella pada Alice. Alice tersenyum, "Ya iya lah, sayang. Masa oma bohong sih. Oma beneran beliin kamu oleh-oleh loh," Alice menunjukkan paper bag ke hadapan Bella. "Barang branded gak ini, oma?" tanya Bella lagi. Alice mendengus kesal, "Kamu ini kalau apa-apa aja yang dikasih orang pasti nanya barng branded atau enggak, gak boleh gitu tau, sayang. Kita harus menghargai apa pun yang orang beri untuk kita," Alice mencoba menasehati Bella. "Iya, om, maafin Bella," Bella menunduk lesu. "Uda ahh, ayo kita kesana. Oma mau kasih oleh-oleh ini buat aunty Alexa dan daddy kamu," Alice menuntun Bella, membawa Bella kembali ke meja makan. "Oma, oma tadi aunty Alexa lulus ujian loh," Bella meracau saat berjalan. Brayn yang mendengarkan ucapan Alexa langsung menegang, "Mampuss!! Tamat riwayat gue kali ini," ujar Brayn dalam hati. Alice mengerutkan dahinya bingung, "Lulus ujian? Emangnya aunty Alexa ujian apa?" tanya Alice sedikit curiga. "Tadi aunty Alexa sama Bella main, terus aunty Alexa nabrak dan akhirnya jatuh dari sepeda, itu juga karena daddy kejar-kejar Bella dan aunty, makanya aunty liat kebelakang dan akhirnya nabrak. Kakinya aunty Alexa berdarah, aunty Alexa juga minta tolong kesakitan. Tapi pas Bella mau nolongin aunty, daddy bilang aunty Alexa lagi main drama, darah di kakinya aunty Alexa itu sebenarnya pewarna makanan. Aunty Alexa cuma lagi ujian drama aja, nanti kalau Bella dan daddy nolongin, gurunya aunty Alexa marah dan bakalan kasih nilai jelek buat aunty. Terus aunty Alexa bakalan tinggal kelas dan gak jadi nikah sama daddy," Bella bercerita panjang lebar pada Alice. Alice menatap tajam tepat pada manik mata Brayn, Brayn yang ditatap seperti itu tak berani membalas, Brayn hanya bisa menunduk. "Terus daddy ngomong apa lagi, sayang?" tanya Alice mengorek informasi. "Daddy ngomong, kalau Bella nolongin aunty Alexa, nanti ceritanya gak bakalan berjalan seperti yang seharusnya. Nanti bu guru marah, itu sebabnya daddy ngelarang Bella buat bantuin aunty Alexa dan malah ajak Bella pulang ke rumah," Bella lanjut bercerita dengan lancarnya. Alexa mengamati ekspresi Alice yang benar-benar berubah sangat menyeramkan, "Bella mah ngomongnya lancar banget, gue yakin kalau macan bentar lagi ngamuk," ujar Alexa dalam hati. "Emmm ... sayang, kamu mendingan naik ke atas deh, masuk ke kamar ya. Tidur, udah malam, sekalian bawa ini oleh-olehnya," Alice memberikan paper bag pada Bella dan menyuruh Bella pergi dari situ. Bella mengambil paper bag yang diberikan Alice, "Terimakasih, oma. Good night, have a nice dream, oma," Bella mengucapkan selamat tidur pada sang oma. Alice tersenyum, "Iya sayang, good night too, nice dream," balas Alice penuh kasih sayang. Bella berjalan menuju tangga. Sementara Brayn sudah ketar-ketir menanti mamanya yang sudah pasti akan mengamuk padanya. Alice menatap tajam ke arah Brayn, "Brayn!! Apa yang uda kamu lakuin sama Alexa, hah?" Alice mulai membentak Brayn. "Apa kamu gak punya rasa kasihan sampai-sampai kamu ninggalin Alexa sendirian dalam keadaan seperti it-" "Oiya, oma," ucapan Alice terpotong saat Bella berlari kembali menuju dirinya. Alice language mengubah raut wajah menyeramkan saat di depan Bella, "Ada apa lagi, sayang?" tanya Alice lembut. "Bella lupa ceritain part selanjutnya." "Part selanjutnya? Cerita apa, sayang?" tanya Alice bingung. "Setelah Bella dan daddy pergi meninggalkan aunty Alexa, terus datang laki-laki yang nolongin aunty Alexa. Ehh tiba-tiba pas daddy tau, daddy malah ninggalin Bella dan daddy lari ke aunty Alexa. Daddy langsung gendong aunty Alexa. Terus abis itu daddy samperin Bella lagi, Bella juga di gendong kok. Tapi Bella digendong belakang dan aunty Alexa digendong depan," Bella lanjut bercerita. Alice kembali melihat Brayn yang sejak tadi tak berani balas melihatnya. "Ternyata anak gue gak sebajingann itu," ujar Alice lega dalam hati. "Uda sih, itu aja yang mau Bella sampaikan. Bella mau lanjut ke kamar lagi ahh, Bella ngantuk banget. Bye semua ... good night," Bella melambaikan tangannya pada semua orang yang ada disitu. Lalu Bella langsung berlari pergi menuju kamarnya. "Alexa, sana masuk ke kamar. Kamu tidur, uda malam," Alice menyuruh Alexa untuk masuk ke kamar. Alexa tau, Alice pasti akan bicara berdua dengan Brayn, itu sebabnya Alexa disuruh masuk ke dalam kamar. Karena tidak biasanya Alice menyuruh Alexa tidur secepat ini. "I-i-iya, mama-- ehh tante," Alexa merutuki mulut bodohnya ini. Alice tersenyum, "Gak apa-apa kok manggil mama. Kan kamu juga uda jadi anak tante." "I-iya, ma," Alexa menjawab dengan sedikit ragu. "Dasar cewek pembohong. Tadi pas sama gue dia bilang kalau dia panggil mama dengan sebutan mama, eh padahal di depan mama mah gak gitu. Dasar tukang kibul," Brayn terus mencerca Alexa dalam hati. Alexa mencoba berdiri walaupun kakinya sedang sakit. Dia tak mau terlihat berlebihan di mata Alice. Alexa berdiri dengan berpegangan pada meja makan dia berusaha melangkahkan kakinya yang sedang terkilir. Prangg!!! Satu piring terjatuh saat Alexa tak sengaja menyenggolnya karena mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang akan jatuh. "Ehh, Alexa," Alice langsung memegang tubuh Alexa. "Kamu sempoyongan? Kenapa? Kurang darah? Yukk kita ke dokter sekarang," Alice tak mengetahui kalau saat ini kaki Alexa sedang terkilir. "Enggak kok, Alexa gak sakit. Alexa baik-baik aja," Alexa mengelak, karena dia memang tak sakit seperti yang Alice pikir. "Yakin kamu?" tanya Alice meyakinkan. Alexa tersenyum," Yakin kok, ma," jawabnya dengan panggilan baru pada Alice. "Yaudah yuk, mama bantu ke kamar," Alice membantu Alexa untuk berjalan. "Loh, kamu kok pincang sih jalan-" "Kaki kamu kenapa?!!" tanya Alice shock saat melihat kaki Alexa yang saat ini sedang bengkak dan lututnya yang di perban. "Ter-terkilir, ma," jawab Alexa takut-takut. "Apa?!! Sampai separah itu?!" tanya Alice dengan suara lantangnya. Alice langsung beralih menatap Brayn, "Brayn!! Gendong Alexa, antar ke kamarnya," perintah Alice dengan raut wajah dinginnya. "Tapi, ma-" "Gak ada tapi-tapian!! Gendong Alexa, antar ke kamarnya, s-e-k-a-r-a-n-g!!" Alice memotong ucapan Brayn, memerintah Brayn dengan tegas dan penuh penekanan. Brayn melihat Alexa sekilas, lalu dia menghela nafasnya kasar, "Iya," jawabnya singkat. Brayn langsung berdiri, dia berjalan mendekati Alexa dan langsung membawa Alexa ke dalam gendongannya. Brayn menggendong Alexa ala bridal style, dia membawa Alexa menuju kamar Alexa. "Senang kan lo, emang dasar cewek licik!" Brayn mencerca Alexa saat jarak dirinya sudah jauh dengan Alice. Alexa diam, dia tak ingin ambil pusing dengan kata-kata Brayn yang selalu menanyakan. Lebih baik dia diam saja, nantikan Brayn yang capek sendiri bicara. "Gara-gara lo gue dimarahi terus sama mama, tiap hari lagi," "Gara-gara lo datang ke kehidupan gue, gue jadi ngerasa kalau mama lebih sayang sama lo. Gue ngerasa seperti anak tiri," "Gara-gara lo juga hidup gue jadi ribet, hidup gue banyak masalah, hidup gue gak bisa tenang!" "Emang lo itu biang keroknya! Lo itu akar permasalahannya!" "Kalau waktu itu lo gak datang ke rumah gue buat antar Bella, pasti gue gak akan dijodohin sama lo!" "Lahhh kamprett, kalau waktu itu gue gak antarin Bella, lo juga yang susah, lo juga yang kehilangan anak kali. Bersyukur harusnya lo, bukan ngedumel," balas Alexa dalam hati. Alexa hanya diam, diam tak ingin berbicara, kalau Alexa ikut angkat bicara pasti tak akan ada selesainya. "Kenapa lo diam aja, hah?!" tanya Brayn pada Alexa. "Keenakan lo gue gendong, kenyamanan lo dekat-dekat gue? Dasar cewek genit!! Sukanya main nyosor-nyosor aja!!" Brayn kembali mengomel sendiri. Sepanjang jalan Brayn marah-marah sendiri, kesal-kesal sendiri, padahal Alexa yang jadi target kemarahannya juga tak ambil pusing, Alexa malah acuh. "Ngomong aja, ngedumel terus, ngomel-ngomel terus sampai mampuss, gak gue dengerin juga. Masuk kuping kanan langsung mental dari kuping kanan juga," Alexa bicara dalam hati. Kasian sekali Brayn, Brayn sudah kebakaran jenggot sejak tadi, sementara Alexa yang menjadi target kemarahannya tetap diam dan tak menghiraukan kicauan Brayn.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN