Sesampainya di rumah, Brayn langsung mendudukkan Alexa di sofa. Sementara Bella, Bella disuruh Brayn masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
"Bi!!! Bibi!!" Brayn berteriak memanggil Bi Las, asisten rumah tangganya.
Beberapa detik Brayn menunggu sahutan, tapi Brayn tak mendengar sahutan dari Bi Las sama sekali.
"Bi Las!! Kesini sekarang!! Ada yang penting," Brayn kembali berteriak, namun tak kunjung ada jawaban dari Bi Las.
"Awww ...," Alexa meringis kesakitan, matanya sudah berkaca-kaca. Sepertinya Alexa akan menangis.
Brayn hanya melihat Alexa sekilas, lalu dia kembali memanggil Bi Las, "Bi!!! Bibi!!!!" Brayn kembali berteriak, namun tak kunjung ada jawaban dari Bi Las.
"Arghhh!!! Kemana sih Bi Las," Brayn menggeram kesal. Dia langsung berjalan keluar rumah.
"Pak Kum, sini," Brayn berdiri di teras rumah, dia memanggil satpam rumahnya yang sedang duduk di pos satpam.
Pak Kumis, atau yang kerap di sapa Pak Kum itu langsung berlari mendatangi Brayn.
"Ada apa, pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Kum dengan sopan.
"Bi Las mana? Kok dari tadi dipanggil gak nongol-nongol?" Brayn bertanya pada Pak Kum.
"Oooh, Bi Las lagi ke minimarket buat belanja kebutuhan dapur, pak. Tadi pas bapak pergi Bi Las pamitan sama saya. Katanya bahan-bahan dapur uda kosong, jadi dia langsung belanja aja ke minimarket," Pak Kum menjelaskan pada Brayn dengan detail.
Brayn menghela nafasnya kasar, "Yasudahla, kalau begitu saya minta tolong sama bapak, tolong bapak panggilkan tukang urut untuk kaki terkilir ya, bawa kesini secepatnya," Brayn meminta tolong Pak Kum, pasalnya Brayn tak tau dimana ada tukang urut.
Pak Kum langsung mengangguk cepat, "Wooo ya siapp, kalau tukang urut ya saya uda hapal, pak. Bapak tunggu aja di rumah, biar say bawa tukang urutnya ke rumah," Pak Kum menyengir lebar.
Brayn menganggukkan kepalanya, "Oke, tolong cepat ya, pak. Soalnya ini benar-benar urgen."
"Siapp!!! Laksanakan, komandan!!!" Pak Kum memberi hormat pada Brayn.
Brayn menggeleng-gelengkan kepalanya, satpamnya ini memang ada-ada saja, "Yaudah, makasih ya, pak," setelah mengucapkan terimakasih, Brayn langsung masuk ke dalam rumah kembali.
"Walaupun kaya raya dan punya segalanya, tapi Pak Brayn itu benar-benar sopan. Dia gak pernah lupa mengucapkan kata maaf dan terimakasih. Salut saya liatnya," Pak Kum berjalan menuju motornya, Brayn memang selalu menjadi panutan bagi para pekerjanya. Salah satunya adalah Pak Kum, Pak Kum selalu belajar banyak dari kebaikan hati Brayn.
Brayn kembali masuk ke dalam rumah, dia melihat Alexa yang sedang merintih kesakitan. Kali ini Alexa sudah menangis, mungkin Alexa sudah tak tahan lagi merasakan sakitnya.
"Lo nangis?" tanya Brayn pada Alexa.
Alexa menatap Brayn, dia tak ingin menanggapi Brayn lagi. Merasakan sakit karena jatuh saja dia sudah begitu tersiksa, dia tak mau lagi merasakan sakit karena kata-kata Brayn yang menusuk ke hati, jantung dan pikiran.
"Cengeng banget sih, lo. Gitu aja nangis," Brayn mengatai Alexa.
Alexa langsung memandang Brayn dengan tatapan tajamnya, "Enak aja lo bilang gue cengeng!! Karena bukan lo sih yang ngerasain! Coba aja kalau lo yang ngerasain, gue jamin lo teriak-teriak histeris!!" Alexa menggerutu dalam hati. Dia tak ingin bicara langsung pada Brayn, dia tak ingin dulu berdebat dengan Brayn.
Brayn diam, dia melipat kedua tangannya di d**a.
"Apa lo liat-liat gue sinis gitu? Mau gue colok tuh mata lo?" Brayn langsung menggertak Alexa yang sejak tadi menatap sinis ke arahnya.
Alexa masih menangis, dia tak ingin membalas hujatan Brayn.
Brayn melenggang pergi, dia meninggalkan Alexa sendiri.
Alexa melotot tak percaya melihat kepergian Brayn, "Emang dasar cowok gak peka!! Gue uda mau mampuss gini bukannya ditolongin malah ditinggalin!! Gue sambet juga tuh orang lama-lama," Alexa langsung mencak-mencak setelah kepergian Brayn.
"Emang dasar cowok gak punya akhlak!! Masa gak ada rasa kasihan dan perikemanusiaannya sih?! Lihat orang kesakitan bukannya di tolongin, masa iya dia gak tau arti toleransi dan saling bantu membantu! Percuma pengusaha sukses dan kaya raya, tapi rasa keperluannya gak ada! Pikirannya minim bang-"
"Sini kaki lo," ucapan Alexa terpotong saat tiba-tiba Brayn datang membawa baskom berisi air dan juga kotak P3K.
Alexa diam mematung, dia masih memandangi wajah Brayn tak percaya.
"Siniin kaki lo!! Lo mau diobatin gak?!" dasar Brayn, ingin baik hati dan membantu Alexa saja harus pakai marah-marah dan ucapan ketus dulu.
Alexa tersontak kaget saat Brayn memarahinya, "I-i-iya," Alexa membenarkan posisi kakinya perlahan. Kaki Alexa itu terkilir, digerakkan saja sangat sakit. Itu sebabnya Alexa menggerakkan kakinya dengan sangat lamban.
Brayn memutar bola matanya malas, menunggu adalah hal yang paling membosankan bagi seorang Brayn.
"Uda," ujar Alexa saat selesai memperbaiki posisi kakinya.
Setelah Alexa sudah memperbaiki posisi kakinya, Brayn langsung bertindak untuk membersihkan luka di lutut Alexa.
"Awww ... sakitt, pelan-pelan dong," Alexa meringis kesakitan saat Brayn membersihkan lukanya.
Brayn memutar bola matanya jengah, "Mana ada sih orang luka gak kesakitan. Kalau ada juga mah itu namanya kebal, gak usah lebay deh," Brayn kembali mencerca Alexa. Alexa sudah kesakitan begini saja Brayn masih sanggup-sanggupnya mengeluarkan kata-kata pedasnya.
Alexa melihat Brayn dengan serius, "Kalau lo gak julid aja, gak punya mulut pedas, pasti kegantengannya nambah terus tiap detik. Apa lagi punya lesung pipi, buat semua orang mabuk kepayang saat liat senyuman lo," Alexa bicara dalam hati.
"Tapi boro-boro senyum, minimal sehari gak usah marah-marah aja lo gak bisa. Emang dasar kulkas," lanjut Alexa dalam hati.
Brayn membersihkan luka Alexa dengan cekatan, gini-gini Brayn dulu cita-citanya jadi dokter, tapi sayang aja gak kesampaian karena dia harus meneruskan perusahaan milik keluarganya.
Plakk!!!
"Aduhh!!! Sakit tau!! Sakit banget, jangan ditekan dong!!" karena merasa kesakitan, Alexa refleks memukul pundak Brayn.
"Anjirrr, apaan sih lo? Gak tau terimakasih ya lo? Masih untung juga gue mau bantuin lo bersihin nih luka. Kalau enggak, uda gue tinggalin aja lo tadi," Brayn tak terima dirinya dipukul oleh Alexa.
"Ya maaf, kan enggak sengaja. Itu mah refleks kali. Maklum lah kalau manusia merasa disakiti refleksnya suka ngeselin," Alexa meminta maaf pada Brayn, dia benar-benar tak sengaja tadi.
Brayn mendengus kesal, dia tak ingin menanggapi Alexa lagi. Brayn kembali fokus pada luka Alexa.
"Nahh, uda selesai. Lo bisa lari-larian sekarang," Brayn sudah selesai membalut luka Alexa.
Alexa melotot tak percaya, mana mungkin dia bisa lari dengan kaki yang terkilir.
"Kaki aku terkilir, liat itu uda bengkak. Sakit banget tau," Alexa mengadu pada Brayn.
Brayn melihat kaki Alexa sekilas, "Gak peduli juga tuh gue," setelah mengatakan itu Brayn langsung pergi menaiki tangga. Bisa dipastikan kalau Brayn kembali ke kamarnya.
Alexa menatap kepergian Brayn dengan kesal hati. Mengapa Brayn tak ada pekan-pekanya sama sekali?
"Kenapa sih dia gitu banget? Hatinya terbuat dari batu kali ya? Gak pernah tuh dia langsung baik hati sama gue, kesel ahh liatnya," Alexa memajukan bibirnya kedepan, Brayn memang lihai membuat hati Alexa kesal.
"Assalamualaikum,"
Alexa melihat ke arah pintu, ternyata ada Pak Kum dengan seorang ibu-ibu di sampingnya yang sedang berjalan menuju Alexa.
"Kenapa, Pak Kum? Nyari Brayn? Di atas dia," Alexa langsung memberitahu dengan sukarela.
Pak Kum langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak kok, mbak. Saya mau ngantar Mak Ipeh ini," Pak Kum menunjuk ibu-ibu yang ada disebelahnya itu.
Alexa menaikkan sebelah alisnya, "Mak Ipeh? Mak Ipeh itu siapa? Kesini mau cari siapa? Mau ngapain?" Alexa langsung memberikan banyak pertanyaan pada Pak Kum.
"Mak Ipeh kesini tuh mau cari mbak lah. Tadi Pak Brayn yang nyuruh, kata Pak Brayn suruh panggil tukang urut ke rumah, soalnya mbak Alexa lagi terkilir kakinya," Pak Kum langsung menjelaskan semuanya pada Alexa.
Alexa diam membatu, "Hah? serius nih dia yang manggil tukang urut kesini?" tanya Alexa dalam hati.
"Kalau gitu mahh gue tarik lagi aja deh kata-kata gue yang tadi. Diganti aja jadi 'Brayn mahh baik banget ihh, pengertian banget sama calon istrinya' nahh uda cucok tuhh," Alexa tertawa dalam hati.
"Emang Brayn tuh gak bisa ditebak yah orangnya. Kadang ngeselin, kadang jahat, kadang juga bisa banget buat hati aku kretek-kretekk," Alexa berteriak histeris dalam hati. Dia benar-benar bahagia karena apa yang dilakukan Brayn untuknya hari ini.
"Mbak? Mbak jadi diurut gak? Kok malah senyum-senyum sendiri, kayak orang lagi kesurupan gitu," Pak Kum langsung menegur Alexa. Pak Kum ngerih sendiri melihat Alexa senyum-senyum sendiri.
"Enak aja, Alexa gak kesurupan ya, pak. Alexa cuma lagi mabuk aja," Alexa membantah ucapan Pak Kumis.
Pak Kumis langsung melotot, "Apa?!! Mbak Alexa mabuk?!! Duhh dosa tau mbak, haram minum-minuman keras yang memabukkan."
"Iss, bapak, bukan itu, pak,"
"Terus mabuk apaan, mbak?" tanya Pak Kum dengan raut wajah seriusnya.
"Ya mabuk cinta lah, ya kali mabuk minuman keras," Alexa tertawa cekikikan.
Pak Kum memutar bola matanya malas, generasi bucin ini benar-benar membuat telinganya panas.
"Uda deh, gak usah kebanyakan ketawa mulu. Buruan, jadi gak mbak diurutnya?" Pak Kum sudah mulai jenuh dengan tingkah absurd Alexa.
Alexa terkekeh kecil, "Hehe ... jadi dong, pak. Yukk sini Mak Ipeh, pijat kaki Alexa yang terkilir ini, Pak Kum uda kepanasan liat orang bahagia, maklumlah dia kan jomblo," Alexa langsung memanggil Mak Ipeh untuk segera mengurut kakinya yang sedang terkilir.
Rasanya dimabuk cinta itu benar-benar sangat nyata, bahkan Alexa yang awalnya kesakitan karena kakinya yang terkilir dan bengkak saja tiba-tiba bisa tersenyum bahagia, hanya karena terbayang wajah Brayn seorang. Mabuk cinta memang sedahsyat itu ya.