Satu Hari Lagi

1031 Kata
Satu hari lagi Alexa dan Brayn akan menikah. Semuanya terjadi begitu singkat dan cepat. Dan semuanya juga ulah Alice, Alice memang sengaja mempercepat proses pernikahan Brayn dan Alexa. Mungkin orang-orang mengira kalau persiapan pernikahan Alexa dan Brayn tidak rumit dan terlampau santai. Tapi percaya lah, dibalik semua argumen-argumen itu ada Alice yang pontang-panting mengurus semua yang dibutuhkan di pernikahan Alexa dan Brayn. Alice sudah mengurus semuanya, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Tamu-tamu undangan juga sudah Alice undang. Tamu undangan tidak banyak, hanya keluarga, temen dekat Alice dan Brayn serta rekan-rekan bisnis Brayn saja. Pernikahan Brayn dan di Alexa akan dilaksanakan di sebuah hotel bintang lima. Gaun pernikahan untuk Alexa juga sudah selesai dan siap digunakan besok. "Alexa, coba nih gaunnya, uda pas belum ke kamu?" Alice memberikan gaun untuk akad pernikahan Alexa dan Brayn besok. "Uda Alexa coba waktu itu, dan uda cocok juga di badan Alexa, ma," jawab Alexa. "Gak mau nyoba lagi? Siapa tau badan kamu semakin gemuk atau semakin kurus," Alice kembali menawarkan Alexa untuk mencoba gaunnya. Alexa menggeleng, "Enggak, ma. Alexa takut nanti gaunnya kotor lagi. Alexa kan lagi susah buat makai gaun ginian, kaki Alexa belum sembuh total. Jalan aja masih susah," Alexa menjelaskan pada Alice alasan dirinya tak ingin mencoba gaun pernikahan itu. Alice menepuk jidatnya, "Oiya ya, mama lupa sama kaki kamu." "Brayn!!! Brayn!!" Alice berteriak memanggil Brayn. Saat ini Brayn ada di dalam kamar. Entah apa yang Brayn sedang lakukan, yang pasti Alice ingin Brayn turun saat ini juga. "Brayn!!! Braynn!!! Turun sini!!" Alice kembali teriak. "Anjirr ... ini mah keluarga toa namanya. Gak cucunya, gak omanya, kalau teriak bisa buat gendang telinga aku pecah," ujar Alexa dalam hati. "Bi ... Bi Las ...," karena tak mendapatkan jawaban dari Brayn, Alice beralih memanggil Bi Las. Bi Las datang dengan sedikit berlari kecil, "Iya, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Bi Las bertanya pada Alice. "Bi, tolong panggilkan Brayn kesini. Brayn lagi di kamar, bilang di suruh turun secepatnya. Ada yang mau saya sampaikan sama dia," Alice memerintah Bi Las untuk memanggil Brayn. Bi Las mengangguk mengerti, "Baik, nyonya. Saya ke atas dulu," setelah mengatakan itu, Bi Las langsung berjalan menaiki tangga untuk memanggil Brayn yang saat ini ada di kamar. Tokk tokk tokk ... Bi Las mengetuk pintu kamar Brayn. "Permisi, tuan," Tak ada jawaban dari Brayn sama sekali. Bi Las kembali mengetuk pintu kamar Brayn. Tokk tokk tokk ... "Permisi, tuan," Bi Las kembali memanggil Brayn dari luar. Karena kembali tak ada sahutan dari Brayn, Bi Las kembali mengetuk pintu kamar Brayn dengan kuat. Tokk tokk tokk!! "Per-" "Iya sabar!" sahut Brayn dari dalam kamar. Brayn memakai kaosnya, sejak tadi dia sedang santai menggunakan headset di telinganya. Mendengarkan lagu-lagu yang bisa membuat pikirannya tenang sejenak. Ceklekk ... Brayn membuka pintu kamarnya, "Ada apa, bi?" tanya Brayn to the point. "Maaf, tuan, tuan dipanggil sama nyonya. Kata nyonya Alice, tuan harus turun ke bawah untuk menemuinya, sekarang juga. Ada yang ingin dibicarakan nyonya Alice dengan tuan," Bi Las langsung menyampaikan pesan Alice pada Brayn. Brayn mengerutkan dahinya bingung, "Mau nyampein apa?" tanya Brayn pada dirinya sendiri. "Bibi juga gak tau, tuan. Kalau begitu bibi permisi dulu ya, tuan. Bibi mau melanjutkan pekerjaannya di dapur," setelah selesai menyampaikan pesan Alice pads Brayn, Bi Las langsung pergi meninggalkan Brayn. "Ya elah, gue juga gak nanya sama dia kali. Dia aja yang merasa ditanyain. Gue juga ngomong sendiri tadi," Brayn mengedikkan bahunya acuh. Terkadang Bi Las memang terlalu peka. Brayn berjalan menuruni tangga, ia akan menemui mamanya saat ini. Jika tidak ditemui dengan segera, Brayn yakin mamanya akan ngamuk. "Ada apa, ma? Kok manggil Brayn kesini?" Brayn bertanya pada Alice. "Sini dulu, duduk sini," Alice menepuk sofa tepat sebelah kanannya. Sebelah kiri Alice sudah diisi oleh Alexa. Brayn menurut, dia langsung duduk di tempat yang dikatakan mamanya tadi. "Brayn, kamu tau kan kalau Alexa kakinya belum sembuh?" Alice bertanya pada Brayn. Brayn mengangguk, "Iya tau, ma," jawabnya singkat. "Nah, berarti kamu tau dong apa tugas kamu?" Alice kembali bertanya pada Brayn. Brayn mengerutkan dahinya bingung, "Tugas? Tugas apaan, ma? Sejak kapan mama kasih tugas ke Brayn?" Brayn bertanya penuh kebingungan. Alice mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oke, berhubungan kamu gak tau apa tugas kamu, mama akan kasih kamu tugas sekarang." "Tugas kamu itu simpel kok, tugas kamu itu cuma menggendong Alexa besok kalau Alexa kesusahan berjalan," Alice memberitahu tugas untuk Brayn. Brayn membelalakkan matanya tak percaya, "Hah? Aku?" Brayn menunjuk dirinya sendiri. "Gendong dia?" Brayn menunjuk ke arah Alexa. "Ogah!!" lanjutnya kemudian. Alice mengepalkan tangannya geram, Brayn benar-benar sangat mampu membuat emosinya naik ke ubun-ubun. "Brayn! Sekali aja jangan ngebantah omongan mama bisa gak? Sehari aja manut sama apa yang mama bilang bisa gak sih?! Mama lama-lama gemas deh liat kamu, pengen nabok kamu pakai batu bata jadinya," Alice meluapkan kekesalannya pada Brayn, dia langsung memarahi Brayn. Brayn mendengus kesal, "Selalu aja deh aku yang dimarahin, dia tuh gak pernah dimarahin sama mama," Brayn menunjuk Alexa dengan mulut manyunnya. "Ya gimana Alexa gak mama sayang coba? Alexa tuh nurut apa kata mama, Alexa manut aja apa yang mama bilang. Lah kamu? Kamu taunya melawan dan ngebantah aja. Mau jadi anak durhaka kamu? Mau mama kutuk jadi batu kamu?" Alice mengancam Brayn. Brayn langsung menggeleng cepat, "Enggak lah, ma. Iya-iya, Brayn lakuin tugas dari mama besok," akhirannya Brayn menerima tugas dari Alice. "Nahh ... kalau dari tadi kayak gitu, nurut dan ngebantah apa kata mama kan adem kan? Tenang kan? Gak ada lagi mama yang ngomel-ngomelin kamu," Alice bicara panjang lebar pada Brayn. "Iya-iya, ma. Uda deh jangan ngomel lagi. Sakit nih kuping Brayn dengarnya," Brayn mengelus kedua telinganya. "Nihh!! Kamu baca dan hafalin. Jangan buat malu mama besok ya," Alice memberikan secarik kertas pada Brayn. "Apa ini, ma?" tanya Brayn bingung. "Kamu liat aja sendiri," Brayn membaca tulisan yang ada di kertas yang tadi diberikan oleh Alice. "Saya terima nikah dan kawinnya, Alex-" Brayn langsung berhenti membaca. "Untuk apa sih mama kasih ini ke aku?" tanya Brayn kesal. "Ya untuk kamu hafalin lah, biar kamu jangan malu-maluin besok," jawab Alice enteng. Brayn mendengus kesal, dia langsung pergi meninggalkan Alice dan Alexa. "Ada-ada aja sih si Brayn itu, aneh," gumam Alice. "Iya, aneh banget, ma," ujar Alexa menimpali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN