Hari ini adalah hari pernikahan Brayn dan Alexa. Tapi acara akad nikah Brayn dan Alexa akan dilaksanakan pukul 10.00 WIB nanti, dan saat ini jam masih menunjukkan pukul 03.00 WIB.
Brayn gusar, dia tak bisa tidur dan terus gelisah. Entah mengapa jantung Brayn terus deg-degan sejak tadi malam.
"Duhh ... gue kenapa sih? Kok deg-degan gini?" Brayn bertanya pada dirinya sendiri.
"Gue presentasi di depan rekan bisnis gue yang uda famous dan benar-benar sukses aja masih tetap tenang dan gak deg-degan sama sekali. Masa iya sih, cuma mau nikah dan berhadapan dengan penghulu aja gue sedeg-degan ini," Brayn memegang dadanya yang sejak tadi deg-degan.
"Duhh ... bisa malu deh gue kalau Alexa tau," Brayn cemas, dia takut kalau nanti dia grogi dan salah-salah mengucap ijab kabul. Pasti orang-orang akan menertawakannya. Apalagi Alexa, Alexa pasti orang yang paling nomor satu menertawakannya nanti.
"Gimana dong ini? Gue jadi parno sendiri," Brayn gusar, sejak tadi dia terus bergeser ke kanan dan kiri. Tidur saja dia tak tenang.
"Ahh uda lah, ambil aja deh kertasnya tadi. Mendingan gue hapalin aja, dari pada gue malu nantinya," Brayn berdiri, dia mengambil secarik kertas yang semalam diberikan oleh Alice untuknya.
""Saya terima nikah dan kawinnya Alexa Jemia Queen Anderson binti Mahendra Anderson dengan maskawin tersebut dibayar tunai," Brayn membaca isi tulisan di kertas itu.
Brayn diam, dia mengerutkan dahinya, "Kok nama dia ada Queen-nya sih? Ikut-ikutan nama gue yang ada King-nya," Brayn bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Terus kalau dipikir-pikir nama dia juga kok cantik banget ya. Seperti nama-nama orang kaya gitu, padahal orang tua aja gak punya, hidup dia juga susah dan sebatangkara," Brayn tampak berpikir keras.
"Yang gue tau sih dia pernah cerita ke mama kalau orang tuanya uda pada meninggalkan. Dan nama papanya juga bukan seperti nama orang kampung atau pedesaan. Nama papanya juga setara dengan nama-nama pengusahaan sukses," Brayn merasa ads yang janggal di kehidupan Alexa ini.
"Gue yakin, dia terlahir bukan dari orang sembarang. Gue juga yakin kalau orang tua dia itu kaya raya dan seorang pembisnis juga," Brayn menduga-duga, dari apa yang Brayn tangkap sejak tadi, Brayn dapat menyimpulkan kalau Alexa bukan terlahir dari orang biasa. Hanya saja Alexa yang tak mengetahui seluk beluk keluarganya.
Jika Brayn tidak bisa tidur, itu juga terjadi dengan Alexa saat ini. Dia juga tidak bisa tidur dan sangat gugup.
"Gimana ya pernikahan gue nanti? Dari sekian banyaknya teman-teman gue, hanya Daniel seorang yang gue undang," Alexa tampak berpikir, apakah keputusan untuk mengundang Daniel itu benar atau salah.
"Tapi, gue sih maunya Daniel datang. Dan gue mau kasih tunjuk ke dia kalau gue gak selemah yang dia pikir. Bahkan gue uda move on dari dia dan gue akan segera menikah."
"Tapi, kalau kedatangan Daniel justru bakalan buat rusuh dan keributan nantinya gimana? Soalnya waktu acara pertunangan aja mama dan papa Daniel buat kericuhan yang benar-benar hebat," Alexa tampak cemas sendiri. Memikirkan apakah pernikahannya akan lancar atau tidak besok.
"Ahh tapi udah lah. Gak usah dipikirin. Toh juga undangannya terlanjur uda dikasih ke Daniel kan. Dan Daniel juga pasti uda baca. Iya kali gue ambil lagi, kan gak lucu," Alexa kembali acuh. Dia pasrah dan berserah pada yang kuasa. Semoga besok pernikahannya lancar tanpa hambatan.
*****
Saat ini Daniel sedang duduk di jendela kamarnya. Dia sedang memegang secarik undangan pernikahan Alexa dan Brayn.
"Jadi Alexa benar-benar uda mau menikah? Dan lelaki yang waktu itu benar-benar calon suami Alexa?" Daniel bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa Alexa menikah secepat ini? Apa dia benar-benar uda move on dari gue?" tanya Daniel pada dirinya sendiri.
"Gue kan uda pernah bilang sama Alexa, sampai kapan pun dia akan tetap jadi pacar gue. Jadi, gak ada alasan untuk Alexa menikah dengan lelaki itu," Daniel memandang lurus ke depan.
Daniel mengepalkan tangannya kuat, "Gue gak mau Alexa menikah dengan lelaki lain!! Alexa cuma milik gue seorang, gue yang ada bersama dia sejak SMA. Dan gue juga yang berhak atas diri Alexa," Daniel bertekad, dia tak akan membiarkan Alexa menikah dengan Brayn.
Daniel menatap tajam undangan pernikahan Alexa dan Brayn yang ada di tangannya, lalu Daniel meremas undangan itu sampai tak terbentuk lagi.
"Gue gak akan biarin lo nikah sama orang lain, Alexa. Seperti yang uda gue bilang sejak dulu, lo harus tetap jadi 'pacar' gue selamanya!" Daniel mengambil sweater dan kunci mobil. Lalu Daniel langsung melompat keluar dari jendela.
"Gue bakalan gagalin pernikahan lo, Alexa!" Daniel masuk ke dalam mobil. Dia langsung membawa mobilnya pergi dari pekarangan rumahnya.
Tujuan Daniel saat ini adalah rumah Brayn. Daniel tau kalau Alexa ada di rumah Brayn. Awalnya Daniel melihat undangan pertunangan Alexa dan Brayn yang tertuju untuk mama dan papanya. Daniel melihatnya sejak dua hari yang lalu. Daniel mengetahui alamat rumah Brayn juga dari undangan itu, dan sejak itu Daniel terus mengintai Alexa.
Beberapa menit Daniel lalui di perjalanan. Daniel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.
Kini Daniel sudah sampai di dekat rumah Brayn. Daniel sengaja tak memarkirkan mobilnya dekat rumah Brayn, agar tak ketahuan nantinya.
Daniel keluar dari dalam mobil, dia langsung berjalan menuju samping rumah Brayn.
Setelah sampai di dinding samping pagar rumah Brayn, Daniel langsung memanjang pagarnya dengan lihai.
Brukk ...
Daniel melompat turun dari atas pagar. Dan karena beberapa terakhir ini Daniel sudah mengintai Alexa, Daniel jadi tau kamar Alexa yang mana.
Daniel langsung bergegas menuju kamar Alexa. Dia berjalan mengendap-endap supaya tak diketahui orang.
Sesampainya di depan jendela kamar Alexa, Daniel langsung mengetuk-ngetuk jendela kamar Alexa.
Tokk tokk tokk!!
Alexa yang tidak tidur langsung terkejut saat tiba-tiba jendelanya ada yang mengetuk dari luar.
"Siapa yang ngetuk-ngetuk jendela gue dari luar?" Alexa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tokk tokk tokk tokkk!!
Alexa diam, dia kembali mendengar suara jendela yang diketuk dari luar.
"Siapa sih itu? Siapa coba yang iseng banget ngetuk-ngetuk jendela gue jam segini. Gak guna banget isengnya," Alexa kesal, dia tak suka dengan hal-hal semacam ini.
Tokkk tokk tokk tokk!!
Jendela Alexa kembali diketuk dari luar.
"Apa Brayn ya?" tanya Alexa pada dirinya sendiri.
Alexa tersenyum, "Ooh ... iya kali, Brayn. Kalau di novel-novel kan gitu, cowoknya datangi ceweknya lewat jendela kamar. Brayn kali ini mah," Alexa berdiri, dia akan membuka jendelanya untuk memastikan apakah itu Brayn atau tidak.