Pagi yang Berantakan

1001 Kata
Sejak kejadian Alexa tenggelam di kolam, Alice langsung memberikan keputusan untuk Alexa yang akan tinggal di rumah mereka sampai hari pernikahan dan pernikahan Alexa dan Brayn juga dipercepat. Awalnya Brayn menolak mati-matian keputusan Alice. Tapi apalah daya seorang Brayn, Brayn hanya seorang anak, tidak mungkin membantah keputusan orang tua. Apa lagi jika mamanya sedang dalam mode marah, maka Brayn tak akan berani membantahnya. Selama Alexa tinggal di rumahnya, hari-hari Brayn jadi terasa lebih berisik dan berat. Brayn tak pernah berharap jika Alexa tinggal bersamanya. Itu bagaikan mimpi buruk bagi Brayn. Mamanya benar-benar memujudkan mimpi buruk Brayn. "Hallo, sayang. Selamat pagi," Alexa tersenyum lebar dan melambaikan tangannya di hadapan Brayn. Padahal Brayn saat ini baru membuka matanya. Brayn baru bangun tidur. Brayn mendengus kesal, "Lo ngapain sih disini? Gue gak bayar lo untuk bangunin gue tiap hari tau gak," Brayn benar-benar tak suka bila Alexa dengan sesuka hati keluar masuk kamarnya. Alexa menyengir, dia menampakkan deretan gigi rapinya, "Untuk bangunin calon suami lah, masa aku kesini untuk makan sih. Kan gak mungkin sih," Alexa menjawab dengan senang hati. Brayn kesal, dia langsung berdiri dan meninggalkan Alexa sendiri. Brayn langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sepertinya hati kesalnya harus di tenangkan dengan sejuknya air. Alexa mengedikkan bahunya acuh, "Yang penting Brayn uda bangun, saatnya siapin sarapan buat Brayn," Alexa langsung berdiri dan keluar dari kamar Brayn. Beberapa saat kemudian, "Maa ... mamaaaaa," Brayn berteriak memanggil mamanya sambil menuruni anak tangga. Alexa yang sedang menata makanan di atas meja makan pun langsung melihat ke arah Brayn, "Mama gak ada, mama lagi arisan," Alexa memberitahukan Brayn. "Dia mam gue, bukan mama lo," balas Brayn sinis. "Kan calon mama mertua, mama aku juga lah," Alexa juga tak mau kalah. "Mana ada arisan pagi-pagi gini. Mama kemana sih?" Brayn terus bertanya pada Alexa. "Mama arisan, pergi pagi karena ada urusan dulu katanya, mau ambil gaun pernikahan aku, kan kita nikahannya uda mau dekat," Alexa menjelaskan kembali pada Brayn. Brayn mendengus kesal, "Sejak kapan mama gue nikah sama bapak lo? Jangan panggil mama gue mama, panggil tante aja," Brayn mengomel tak jelas. Alexa hanya diam dan acuh, dia tak ingin berdebat dengan Brayn di pagi hari. Sementara Brayn, dia langsung duduk di atas kursi makan. Brayn mulai mengambil piring, tapi baru saja Brayn menyentuh piringnya, Alexa sudah merebut piring dari tangan Brayn dan Alexa langsung mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk pauknya. Brayn menatap Alexa tajam, "Ada apa sih sama lo? Lo kenapa coba selalu aja ngerusuhi apa yang gue lakuin? Gak bisa apa lo duduk anteng gitu, jangan selalu mau ikut campur urusan gue," ujarnya kesal. Bukannya merasa bersalah, Alexa malah tersenyum manis pada Brayn, "Kenapa sih, mas? Kan aku mau latihan jadi istri yang berbakti sama suami. Apa salah?" tanya Alexa pada Brayn. Brayn menggeram kesal, "Ya salah lah! Gue gak butuh itu. Mungkin pernikahan kita ini hanya status. Jadi jangan harap lo bisa ngerasain gimana jadi seorang istri. Gue mau dijodohin juga karena mama gue, bukan karena mau nerima lo seutuhnya. So, jangan terlalu mimpi ketinggian ya." Setelah mengatakan itu pada Alexa, Brayn langsung berdiri, dia tak jadi sarapan pagi dan langsung pergi meninggalkan Alexa sendiri. Alexa terdiam, dia selalu menerima kalau Brayn menolaknya terus-menerus dengan omongan dan perilaku yang terkadang juga sedikit kasar. Tapi Alexa selalu saja merasa sakit hati bila Brayn sudah bicara dengan raut wajah serius seperti itu. Alexa tak suka bila Brayn bicara kalau dia tak akan pernah mencintai Alexa. Karena menurut Alexa takdir itu tak ada yang tau, bisa saja di masa depan dan seiring berjalannya waktu cinta Brayn mulai tumbuh dan mereka menjadi keluarga yang bahagia. "Kenapa sih dia selalu aja ngomong gitu? Emang dia gak mikir ya kalau gue juga punya hati? Gue kan juga manusia, nyesek banget tau kalau diomongin gitu terus," Alexa memegang dadanya yang seperti ditusuk ribuan pisau tajam. "Untung aja gue orangnya bodo amatan, sedikit gak tau malu dan pantang menyerah. Kalau enggak mungkin uda nangis gue di pojokan," Alexa menghela nafasnya lelah. "Sabar, Alexa. Ingat jargon lo, 'Pepet terus sampai mampus!!'. Jangan pantang menyerah, Brayn mahhh kecil," Alexa menjentikkan jarinya. "Daniel aja bisa tergila-gila sama lo, masa iya sih Brayn gak bisa. Lo harus berusaha lebih kuat lagi, mangatse!!" Alexa menyemangati dirinya sendiri. Kalau tak ada yang menyemangati dirinya, menyemangati diri sendiri juga gak apa-apa. Alexa memegang piring makanan yang akan dimakan oleh Brayn tadi, dia menatapnya bagaikan menatap lawan bicara, "Oke, Brayn uda pergi dan nih makanan yang uda gue masak sepenuh hati dengan cinta yang dalam dan rasa sayang yang besar sudah diabaikan." "Dari pada gue mewek-mewek gak jelas, sakit hati gak sembuh-sembuh, mendingan gue makan ajalah. Berjuang itu butuh tenaga. Saat lagi sakit hati, makan lebih berfaedah dibanding nangis di pojokan kamar atau nangis diam-diam sambil tenggelamin kepala di bantal," Alexa menyuap makanan ke dalam mulutnya dengan lahap dan bersemangat. "Perut kenyang hati pun ikut gembira," ujar Alexa sambil bernyanyi di sela-sela kunyahannya. Kalau Alexa dengan santainya makan dan melupakan ucapan Brayn yang membuatnya sakit hati tadi, berbeda lagi dengan Brayn. Saat ini Brayn sedang meluapkan kekesalannya dengan marah-marah dan berbicara sendiri di dalam mobil. "Memang si cewek gak tau malu itu benar-benar buat gue setres ya. Muak banget gue liat mukanya tiap gue di rumah. Kalau liat mukanya, bawaanya pengen gue tenggelamin di laut aja tuh cewek. Berisik dan gak tau malu!" Brayn terus marah-marah sendiri, dia kesal dengan Alexa tapi dia meluapkan kekesalannya sendiri di dalam mobil. "Kalau aja bukan karena mama, uda gue usir tuh cewek dari dulu. Buat mood gue ancur aja tiap hari," Brayn menggerutu kesal. Entah mengapa jika mengingat Alexa emosi Brayn meluap-luap. "Mimi irisin, pirgi pigi kirini idi irisin dili kitinyi, mii imbil giin pirnikihin iki, kin kiti nikihnyi idi mii dikit," Brayn mengulang kata-kata Alexa dengan vokal i berserta wajah dan mulut yang sangat jelek. "Prett!! Nikah aja lo sono sendiri!! Gue juga gak mau nikah sama lo kalau bukan karena mama. Ilfil yang ada gue liat lo," Brayn kembali menggerutu. Jika mengingat Alexa, tak ada habis-habisnya Brayn mengeluarkan makian dan kekesalannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN