Keputusan Alice

1153 Kata
Setelah berada di tepi kolam, Brayn langsung membaringkan Alexa. Dengan cekatan Brayn langsung memberikan pertolongan pertama pada orang tenggelam, Brayn langsung memompa d**a Alexa agar air yang sudah tertelan Alexa keluar. Brayn terus memompa d**a Alexa sampai air-air yang tertelan Alexa benar-benar keluar. Tapi walaupun air yang tertelan sudah keluar, Alexa masih juga belum sadar. Wajah Alexa juga semakin pucat. "Ini gimana dong? Gue harus ngapai? Ya kali dia mati, bisa mampus gue nantinya," Brayn benar-benar cemas saat ini. Dia bingung ingin melakukan apa lagi supaya Alexa sadar. Brayn diam, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Masa iya sih gue harus kasih dia nafas buatan." Brayn tampak berpikir keras, namun wajah Alexa semakin lama semakin pucat dan sedikit membiru. Alexa juga tak kunjung sadar. "Duhh mampus, mati juga nih bocah ntar lagi," Brayn ketar-ketir sendiri. Dia tak tau ingin melakukan apa. "Ahh udah lah, kasih nafas buatan aja," akhirnya Brayn menyerah. Dibanding harus melihat Alexa meregang nyawa, lebih baik Brayn memberikan nafas buatan untuk Alexa. Brayn mendanga, memandang ke arah langit dengan tangan yang ditadahkannya, "Ya Allah, maafin aku ya. Ini beneran kepepet kok, bukan ambil kesempatan di dalam kesempitan. Semoga gak dosa, aamiin," Brayn mengaminkan doanya. Setelah berdoa, Brayn language mendekatkan wajahnya ke arah Alexa. Dia menatap lekat wajah Alexa, "Sorry," cicitnya pelan. Brayn langsung membuka mulut Alexa, dia juga langsung menutup hidung Alexa. Dan Brayn segera melancarkan aksinya, memberikan nafas buatan untuk Alexa. Sekali tidak berhasil, yang kedua kalinya juga gagal, dan yang ketiga kalinya ... "Uhukk uhukk ...," Alexa terbatuk. Dia mulai membuka perlahan. "Ya Allah, uda sadar. Terimakasih dan minta maaf Ya Allah," dengan gesit Brayn langsung menggendong Alexa ala bridal style dan membawa Alexa masuk ke dalam rumah. ***** Brayn membawa Alexa ke dalam rumah, setelah sampai di ruang tamu Brayn langsung meletakkan Alexa di atas sofa. Alice yang sedang lewat dari ruang tamu dan melihat Brayn menggendong Alexa basah-basah langsung berlari menuju Alexa dan Brayn. "Brayn, Alexa kenapa? Kok basah gini?" Alice bertanya dengan penuh kekhawatiran. Brayn diam, dia tak tau ingin menjawab apa. Brayn yakin seratus persen kalau mamanya pasti akan marah-marah padanya. "Brayn jawab!! Ini Alexa kenapa kok sampai bisa pucat banget gini? Alexa juga basah kuyup. Alexa kenapa, Brayn?" Alice langsung memeriksa Alexa yang tergeletak lemas dengan wajah pucat pasi. Mata Alexa sedikit terbuka. Sepertinya Alexa setengah sadar. Mau tidak mau Brayn harus menjawab pertanyaan mamanya, kalau tidak urusannya akan bahaya nantinya. "Tadi Alexa kejebur di kolam renang, ma," jawab Brayn pelan. "Apa?!!! Kok bisa?!!" Alice langsung shock berat. "Tadi Alexa mau cegah aku pergi, terus aku tepis tangannya, aku beneran gak sengaja, Alexa jadi jatuh ke kolam renang," Brayn menjelaskan sebab Alexa tenggelam pada Alice. "Terus kok bisa separah ini? Apa kamu gak langsung tolongin dia?" tanya Alice lagi. Brayn menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Alice melotot, wajahnya sudah memerah seperti tomat. Sepertinya emosi Alice sudah berada di ubun-ubun dan siap untuk meledak. "KOK KAMU b**o SIH?!!! NGAPAI AJA KAMU GAK NOLONGIN ALEXA?!!" Alice langsung membentak Brayn. Alice gak masalah kalau Brayn menolak Alexa, tapi jika masalahnya sudah menyangkut nyawa Alice tak akan biarkan ini begitu saja. Brayn menunduk, dia tau kalau dia salah, "Maaf, ma. Aku pikir Alexa bisa berenang dan dia cuma pura-pura tenggelam. Jadi aku tinggalin Alexa gitu aja, tapi aku mulai curiga saat suara Alexa minta tolong uda gak kedengaran lagi. Dan ternyata Alexa tenggelam beneran," Brayn menjelaskan pada Alice. Plakk!! Bukannya memukul atau menampar Brayn, Alice malah menepuk jidatnya sendiri. Alice benar-benar tak habis pikir dengan kebodohan Brayn ini. Tapi bila dipikir-pikir Brayn itu pengusaha kaya raya, pengusaha sukses, mana mungkin otaknya dangkal. Tapi kalau menyangkut soal perempuan, tiba-tiba saja otak dan kepintaran Brayn itu lenyap seketika. "Pengen ngegebukin, tapi anak sendiri. Ya Allah ... kenapa anak hamba begonya sampai ke tulang rusuk," Alice menggeram kesal. Brayn memang benar-benar membuatnya emosi. "Cepat gendong Alexa ke kamar kamu, biar bibi yang gantiin Alexa," Alice memerintah Brayn. Brayn tak berani lagi membantah. Melihat mamanya saat ini seperti melihat singa betina yang sedang kelaparan. Brayn langsung menggendong Alexa dan membawa Alexa ke dalam kamarnya. Alice juga membuntutinya dari belakang. "Bii!! Bibi!!!" Alice berteriak memanggil asisten rumah tangganya. "Naik ke atas sekarang, bi. Ke kamar Brayn," teriak Alice memerintah asisten rumah tangganya. "Baik, nyonya," asisten rumah tangga Alice, Bi Lastri atau yang kerap dipanggil Bi Las langsung pergi menyusul Alice ke kamar Brayn. Sesampainya di kamar Brayn langsung menidurkan Alexa di atas kasurnya. "Bi, tolong bersihin Alexa dan gantiin dia ya, bi. Pakai baju saya aja. Ambil pakaian dan dalaman yang masih baru, banyak di lemari saya. Setelah ganti pakaian tolong kompres Alexa pakai air hangat ya, bi. Pendingin ruangannya dimatikan aja, Alexa jangan lupa diselimuti pake selimut tebal," Alice menjelaskan apa-apa saja yang harus dikerjakan oleh Bi Las. "Baik, nyonya," Bi Las mengangguk mengerti. "Brayn, ayo ikut mama ke bawah. Kamu telpon dulu dokter, suruh ke sini," Alice langsung pergi meninggalkan kamar Brayn. Brayn menghela nafasnya kasar, perasaannya tidak enak. Mamanya benar-benar marah padanya kali ini. Brayn langsung menelpon dokter pribadi keluarganya dan menyuruhnya untuk datang ke rumah. Setelah selesai menelpon dokter, Brayn langsung turun dan menghampiri mamanya. Brayn berjalan menuju sofa, di situ ada Alice yang sedang duduk bersedekap d**a. Brayn mendudukkan dirinya di atas sofa yang persis posisinya di hadapan Alice. "Kamu tau kesalahan kamu apa?" tanya Alice to the point dengan raut wajah datarnya. Brayn menunduk, "Tau, ma," jawabnya pelan. "Bagus kalau kamu tau, jadi mama harap gak ada lagi perdebatan dengan keputusan mama kali ini." Brayn langsung menatap mamanya, "Keputusan apa maksud mama?" tanyanya serius. "Pernikahan kamu dengan Alexa akan mama percepat. Mama gak mau kalau Alexa ada di dalam bahaya lagi hanya karena kamu. Kalau kalian sudah menikah mama akan lebih leluasa mengamati dan menjaga Alexa, jadi Alexa lebih aman dari kamu yang jahat," Alice menjelaskan pada Brayn. "Enggak, ma! Brayn gak mau!" Brayn langsung menyambar, dia langsung menolak mentah-mentah keputusan mamanya itu. "Gak ada kata tidak mau, Brayn. Kalau mama bilang pernikahan dipercepat, maka akan dipercepat. Tidak ada bantahan dan perdebatan lagi. Itu ud fix," Alice juga tak mau kalah, dia tak ingin keputusannya dibantah. "Maa ... Brayn gak mau," Brayn kembali menolak keputusan mamanya itu. "Dan satu lagi, Alexa akan tinggal di rumah ini sampai kalian menikah. Mama gak mau ambil resiko Alexa celaka lagi," Brayn melotot tak setuju, "Apa? Dia tinggal disini?" tanya Brayn memastikan. Alice mengangguk cepat, "Iya," jawabnya. "Enggak!! Brayn gak mau liat dia ada disini!! Brayn gak setuju dengan semua keputusan mama!" Brayn yang sudah kesal dan tersulut emosi juga langsung menolak mentah-mentah keputusan Alice. Alice berdiri, memandang Brayn dengan lekat dan tajam, "Mama gak peduli kamu setuju atau enggak. Yang pasti gak akan ada yang bisa membantah keputusan mama!" Alice langsung pergi meninggalkan Brayn sendiri. Brayn memandang kepergian mamanya dengan kesal. "Arghh!!! Bodoh!!! Brayn bodoh!! Semuanya jadi berantakan karena kelakuan lo!!" Brayn menjambak rambutnya sendiri. Kesal bercampur emosi mendengar keputusan mamanya yang tak akan bisa di ganggu gugat oleh siapa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN