Jangan Mimpi!

1255 Kata
Pesta pertunangan Brayn dan Alexa sudah berakhir. Semua petugas kebersihan sedang melaksanakan tugas mereka untuk bersih-bersih. Saat ini Brayn sedang berdiri di pinggir kolam renang. Dia hanya diam, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. "Mas," Alexa datang membawakan satu cup coklat panas yang akan diberikannya pada Brayn. Brayn menoleh ke arah Alexa, "Brayn, no mas," bantahnya kesal. Alexa terkekeh kecil, matanya sedikit bengkak karena habis menangis tadi. "Aku buatin coklat panas untuk kamu, nih diminum, cuacanya lagi dingin, enak buat hangatin tubuh," Alexa memberikan cup yang dibawanya pada Brayn. Awalnya Brayn ingin menolak, tapi berhubung dirinya sedang haus dan kedinginan juga, maka alangkah baiknya jika Brayn menerimanya saja. "Makasih," ujar Brayn sambil mengambil cup yang berisi coklat panas dari tangan Alexa. Tanpa berlama-lama, Brayn juga langsung menyeruput coklat panasnya. "Aku yang makasih," balas Alexa dengan seulas senyum di bibirnya. "Terimakasih untuk semuanya, terimakasih untuk lamaran yang romantisnya. Terimakasih juga untuk pembelaan kamu ke aku. Aku benar-benar beruntung punya calon suami yang benar-benar mencintai ku seperti kamu, mas." Uhukk uhukk!! Mendengar ucapan Alexa, Brayn langsung terdesak dan memuntahkan coklat panas yang ada di mulutnya. "Ehh-ehh, mas. Hati-hati, mas. Minumnya pelan-pelan aja. Gak usah se-exited itu juga," Alexa langsung membantu membersihkan kemeja Brayn yang kotor. "Stop! Don't touch me," Brayn menepis tangan Alexa. Alexa mengerutkan dahinya bingung, "Loh kenapa? Aku cuma mau bantuin kamu aja loh," ujarnya sedikit keberatan. "Aku bisa sendiri," Brayn membersihkan kemejanya dengan sapu tangan yang ada di sakunya. "Tapi mas--" "Aku bisa sendiri," ulang Brayn dengan suara sedikit keras. Alexa langsung diam, dia kicep kalau Brayn sudah marah seperti ini. Tapi Alexa bingung, kenapa Brayn harus marah-marah? Kan Alexa tidak melakukan kesalahan apa-apa. "Kok mas mar-" "Dan satu lagi," Brayn memotong ucapan Alexa. "Lo jangan kebaperan ya. Gue ngelakuin itu semua untuk nama baik gue sendiri. Gue gak mau kalau orang-orang tau gue mau nikah karena terpaksa dan bahagia. Yang ada siangan gue yang jingkrak-jingkrak kesenangan ngeliat gue tertekan. Dan untuk pembelaan gue ke lo tadi itu juga hanya karena demi nama baik gue sendiri. Ya kali gue terima-terima aja calon istri gue dihina, gue yang nanggung malunya lah. Makanya gue ngebela lo. Dan gue harap, lo gak kebaperan dengan apa yang gue lakuin tadi," Brayn menatap Alexa serius. Sakit, rasanya hati Alexa sakit. Seperti tertusuk ribuan anak panah. Alexa yang sudah terbang tinggi di awan, dengan waktu singkat langsung dicampakkan ke bawah begitu saja oleh Brayn. Memang benar kata orang-orang, kalau bermimpi jangan terlalu tinggi, nanti kalau jatuh pasti akan sakit. "Tap-" "Gue gak pernah cinta sama lo. Hati gue tetap sama, masih kosong. Gak ada nama lo di hati gue, jangankan ada, nyempil dikit aja kagak. So, buang jauh-jauh harapan lo itu, gue gak bakalan cinta sama lo. Camkan itu baik-baik, Alexa," Brayn berjalan pergi meninggalkan Alexa. "Tunggu!!" Alexa menarik tangan Brayn. Brayn berhenti, dia tak menoleh sedikit pun untuk melihat Alexa. "Apa gak ada sedikit aja celah di hati kamu untuk aku?" tanya Alexa dengan nada sendu. "Hahahaha ...," Brayn tertawa jahat. "Jangan mimpi!!" lanjutnya kemudian. "Brayn, please. Ini gak akan sulit. Sebentar lagi kita akan menikah, kita akan hidup bersama selamanya. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Brayn. Ayo kita sama-sama bangun cinta, sama-sama berjuang dari nol," entah mengapa sejak perlakuan Brayn tadi hati Alexa berubah seratus persen. Alexa yang awalnya hanya ingin hidup senang dengan harta kekayaan Brayn kini menginginkan hal lebih. Sepertinya hati Alexa sudah jatuh ke Brayn, kini Alexa menggunakan perasaan bukan hanya hasrat ingin hidup senang. Jadi wajar saja kan kalau Alexa ingin berjuang lebih keras untuk balasan cintanya dari Brayn. "Gue tekan kan sekali lagi, L-O J-A-N-G-A-N M-I-M-P-I!! ujar Brayn penuh penekanan. Brayn menepis tangan Alexa, dia ingin cepat-cepat segera pergi dari tempat ini. "Brayn, please," Alexa kembali mengejar dan menarik tangan Brayn. Brayn yang sudah tersulut emosi langsung menepis tangan Alexa. "Brayn," Alexa tak henti untuk berusaha menghentikan Brayn. Brayn kembali menepis Alexa dengan sekuat tenaga. Byurrr ... Alexa terjebur ke dalam kolam renang. Brayn tak perduli dengan Alexa yang terjebur ke dalam kolam renang, dia tetap melanjutkan langkahnya untuk pergi meninggalkan tempat itu. "Brayn tolong!!" Alexa meminta tolong pada Brayn. Alexa tak bisa berenang, Alexa juga paling takut jika menyangkut air. Itu karena Alexa takut tenggelam, sebab Alexa tau kalau dirinya tak bisa berenang dan minim selamat jika tenggelam. "Bray!! Tolong!!" Alexa terus berusaha naik ke permukaan agar tubuhnya tak tenggelam. Brayn menyunggingkan bibirnya, "Dasar drama queen," ujarnya kesal. Bahkan dia tak ada niat untuk menolong Alexa sama sekali. "Ak-" Alexa kembali masuk ke dalam permukaan air. Namun dia terus berusaha naik. "Gabisa berenang!!" lanjutnya cepat untuk mempertahankan tubuhnya dan pernapasannya yang sudah banyak terminum air. Alexa terus berusaha agar dirinya tak tenggelam. "Tolong!!" Alexa kembali berteriak. Namun mustahil rasanya bagi orang yang tak bisa berenang untuk selamat dari tenggelam di kedalaman air yang benar-benar dalam. Alexa sudah terminum banyak air, Alexa tak bisa lagi bernafas. Kesadaran Alexa mulai menghilang seiring tubuhnya yang juga sudah tenggelam ke dasar kolam. Brayn berhenti berjalan. Dia ingin memastikan Alexa memang drama queen. Brayn yakin kini Alexa sudah naik ke pinggir kolam, dan sudah mengakhiri dramanya, sebab Brayn tak lagi mendengar suara Alexa. Brayn menoleh kebelakang, "Kemana tuh drama queen?" tanya Brayn pada dirinya sendiri. Brayn menyapu pandang ke segala arah, namun dia sama sekali tak menemukan Alexa juga. Setelah menelusuri semua sudur, akhirnya pandangan Brayn jatuh ke kolam renang. Brayn memicingkan matanya curiga saat melihat ada sesuatu yang sepertinya tenggelam di dasar kolam. "Dia beneran gak bisa berenang?!!" tanpa pikir panjang Brayn langsung berlari sekencang-kencangnya menuju kolam renang. Byurrr ... Brayn menjeburkan dirinya ke kolam renang, Brayn berenang ke arah Alexa. Dia langsung menarik tubuh Alexa dan memeluk Alexa erat. Lalu Brayn berenang ke permukaan dan langsung menuju ketepian kolam renang. Brayn sedikit kesusahan saat mengangkat Alexa ke pinggir kolam. Tubuh Alexa tidak ringan, wajar saja Brayn kesusahan. Setelah berada di tepi kolam, Brayn langsung membaringkan Alexa. Dengan cekatan Brayn langsung memberikan pertolongan pertama pada orang tenggelam, Brayn langsung memompa d**a Alexa agar air yang sudah tertelan Alexa keluar. Brayn terus memompa d**a Alexa sampai air-air yang tertelan Alexa benar-benar keluar. Tapi walaupun air yang tertelan sudah keluar, Alexa masih juga belum sadar. Wajah Alexa juga semakin pucat. "Ini gimana dong? Gue harus ngapai? Ya kali dia mati, bisa mampus gue nantinya," Brayn benar-benar cemas saat ini. Dia bingung ingin melakukan apa lagi supaya Alexa sadar. Brayn diam, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Masa iya sih gue harus kasih dia nafas buatan." Brayn tampak berpikir keras, namun wajah Alexa semakin lama semakin pucat dan sedikit membiru. Alexa juga tak kunjung sadar. "Duhh mampus, mati juga nih bocah ntar lagi," Brayn ketar-ketir sendiri. Dia tak tau ingin melakukan apa. "Ahh udah lah, kasih nafas buatan aja," akhirnya Brayn menyerah. Dibanding harus melihat Alexa meregang nyawa, lebih baik Brayn memberikan nafas buatan untuk Alexa. Brayn mendanga, memandang ke arah langit dengan tangan yang ditadahkannya, "Ya Allah, maafin aku ya. Ini beneran kepepet kok, bukan ambil kesempatan di dalam kesempitan. Semoga gak dosa, aamiin," Brayn mengaminkan doanya. Setelah berdoa, Brayn language mendekatkan wajahnya ke arah Alexa. Dia menatap lekat wajah Alexa, "Sorry," cicitnya pelan. Brayn langsung membuka mulut Alexa, dia juga langsung menutup hidung Alexa. Dan Brayn segera melancarkan aksinya, memberikan nafas buatan untuk Alexa. Sekali tidak berhasil, yang kedua kalinya juga gagal, dan yang ketiga kalinya ... "Uhukk uhukk ...," Alexa terbatuk. Dia mulai membuka perlahan. "Ya Allah, uda sadar. Terimakasih dan minta maaf Ya Allah," dengan gesit Brayn langsung menggendong Alexa ala bridal style dan membawa Alexa masuk ke dalam rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN