Acara inti pertunangan sudah selesai, saat ini waktunya Alexa dan juga Brayn menyambut para tamu undangan.
"Ma, liat itu, itu kan mantannya Daniel yang pas SMA itu kan?" tanya Wawan pelan pada Santi, istrinya.
Ternyata Wawan dan Santi masuk ke daftar tamu undangan yang Alice undang. Wawan dan Santi pernah bekerja sama dengan perusahaan Brayn. Tapi Wawan dan Santi tadi datang terlambat, itu sebabnya Wawan dan Santi tidak menyaksikan acara inti saat Brayn melamar Alexa.
"Iya, pa. Itu cewek miskin si penjual koran itu kan? Kok bisa sih dia nikah sama pengusaha kaya raya seperti Pak Brayn ini? Pakai pelet apa dia ya," Santi juga menatap tak percaya saat melihat Alexa di gandeng oleh Brayn untuk menyapa para tamu.
"Ma, itu mereka uda jalan ke arah kita. Ayo siap-siap," Wawan berbisik pada Santi.
Santi dan Wawa langsung merapikan tampilan mereka, mereka tak ingin terlihat ada yang kurang saat bertemu dengan pengusaha terkenal dan sukses seperti Brayn.
"Ehhh, pak Brayn," Wawan dan Santi langsung berjabatan tangan dengan Brayn saat Brayn datang menghampiri mereka.
Brayn tersenyum ramah, "Silahkan dinikmati hidangannya, pak," ujar Brayn basa-basi.
Alexa menelan ludah saat melihat Santi dan Wawan yang sedang memandangnya tak suka.
"Itukan mama papanya Daniel. Kok mereka bisa disini sih?" Alexa bertanya pada dirinya sendiri.
"Grogi gue ketemu mereka. Pandangan mereka ngerih banget, alamat bakalan nyinyirin gue nih sepertinya," sambung Alexa dalam hati.
"Ehh Pak Brayn, Pak Wawan, Bu Santi," saat Brayn dan Wawan sedang berbincang-bincang tiba-tiba datang dua pasangan yang sudah dipastikan kalau mereka adalah rekan kerja Brayn.
"Gimana kabarnya, Pak Brayn? Jarang ketemu eh tau-taunya uda ngundang tunangan aja," Rian dan istrinya, Sari langsung menjabat tangan Brayn dan Alexa secara bergantian.
"Iya nih, bentar lagi uda nikah aja, pak. Jadi ngiri, doain ya bentar lagi kita nyusul bapak," Adit dan kekasihnya, Zea juga bergantian menjabat tangan Brayn dan Alexa.
Alexa benar-benar canggung. Ini pertama kali dirinya berdampingan dengan orang-orang penting seperti Brayn dan rekan-rekan kerjanya.
"Kamu cantik, loh," puji Zea pada Alexa yang sejak tadi hanya dia dan tersenyum canggung.
"Terimakasih," balas Alexa malu-malu.
"Pak Brayn ini memang sangat pintar memilih calon istri," ledek Rian pada Brayn.
"Tapi sepertinya lebih pintar Pak Adit deh, calon istri Pak Adit benar-benar sempurna dilihat dari sisi mana pun," celetuk Santi tiba-tiba.
Semua mata langsung tertuju pada Santi. Ucapan Santi tadi benar-benar sangat ambigu.
Karena jadi pusat perhatian Santi langsung tersenyum canggung, "Maksud saya Buk Zea itu memang benar-benar sempurna untuk Pak Adit. Sudah cantik, baik, pintar, lulusan kampus terkenal di luar negri, dan pandai berbisnis lagi. Benar-benar cocok dan sempurna," Santi menjelaskan maksud ucapannya tadi.
"Oh ya? Zea lulusan kampus luar negri, Dit?" tanya Rian yang memang sudah dekat dengan Adit. Jika bicara, Rian dan Adit lebih suka tidak menggunakan bahasa formal. Apalagi ini bukan acara kantor.
"Iya, Zea lulusan kampus ternama di luar negeri," jawan Adit sambil mengelus puncak kepala Zea dengan sayang.
"Kalau Buk Alexa lulusan kampus mana nih?" tanya Rian berbasa-basi.
Alexa yang sejak tadi diam menunduk langsung mengangkat kepalanya seketika. Alexa benar-benar bingung ingin menjawab apa.
Brayn menoleh ke arah Alexa, dia melihat wajah Alexa yang ketakutan.
Sesungguhnya Brayn tak ingin ikut campur masalah pribadi Alexa, tapi mau bagaimana lagi, Brayn dan Alexa dalam acara ini ditakdirkan untuk satu paket. Jadi kalau Alexa malu, Brayn juga pasti akan malu. Lebih baik Brayn membantunya untuk menjawab pertanyaan rekan-rekan bisnisnya ini.
"Buk Alexa gak kuliah deh setau saya, Buk Alexa hanya seoarang penjual koran dan bunga keliling yang suka mangkal di lampu merah," Santi langsung menyambar pertanyaan Rian.
Alexa memejamkan matanya sejenak, rasanya hati Alexa sakit saat dirinya dipojokkan oleh Santi. Bukan kemauan Alexa untuk tidak kuliah dan terlahir dari keluarga susah. Ini sudah takdir Alexa, mau tidak mau Alexa harus menjalaninya dengan ikhlas.
Suasana menjadi canggung. Rian merutuki mulutnya yang sudah bodoh menanyakan pertanyaan itu pada Alexa. Sedangkan Santi dan Wawan tersenyum penuh kemenangan melihat Alexa yang mati kutu.
Brayn menatap tajam ke arah Santi dan Wawan. Berani sekali mereka bicara seperti itu di depan Brayn.
Brayn menatap Alexa sekilas, ada raut wajah sedih yang terpancar di wajah Alexa.
"Wahh ... kenapa bapak dan ibu bisa sangat mengenal calon istri saya ini ya?" tanya Brayn dengan santai tanpa sepercik emosi.
"Iya, saya benar-benar mengenal Buk Alexa. Dia teman sekolah Daniel, anak saya waktu SMA," jawab Wawan cepat.
Brayn menyunggingkan bibirnya dengan satu alis yang diangkat, "Daniel? Daniel yang mantan Alexa dan sampai saat ini masih belum terima Alexa putuskan?" tanya Brayn dengan santai.
Santi dan Wawan langsung diam, tatapan tajam mereka lontarkan ke Alexa, bukan ke Brayn.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak Brayn. Tapi bapak kan seorang pengusaha sukses dan terkenal, kok bapak mau sih punya istri yang pendidikannya hanya sampai SMA saja, terus pekerjaannya hanya pedagang jalanan yang kemana-mana pakai sepeda dan mangkal di lampu merah lagi. Dunia bapak dan Alexa sepertinya benar-benar sangat tidak seimbang dan jauh berbeda," Santi yang tersulut emosi langsung mengeluarkan unek-unek di hatinya.
Semua orang yang ada di situ menatap Santi tidak percaya. Berani sekali Santi berkata seperti itu pada Brayn, itu namanya gali lubang kuburan sendiri.
Sementara Alexa, dia sudah menunduk malu. Harga dirinya benar-benar diinjak-injak oleh Santi.
Brayn terkekeh kecil. Kini pusat perhatian beralih pada Brayn. Ekspetasi mereka semua Brayn akan marah sejadi-jadinya. Jadi bila Brayn tertawa seperti ini, itu diluar ekspektasi mereka.
"Mohon maaf Ibu Santi, apa semua yang di dunia ini harus dinilai dengan uang, harta dan kedudukan?" tanya Brayn dengan senyumnya.
"Kalau saya pribadi saya tidak mementingkan itu semua. Saya sendiri sudah kaya raya, bahkan untuk tujuh turunan juga harta saya tidak akan habis. Jadi untuk apa saya mencari wanita pembisnis? Wanita yang baik luar dalam seperti Alexa yang saya butuhkan," Brayn menjelaskan pada Santi dan semua orang yang ada disitu.
"Saya ini mencari istri, Ibu Santi, bukan mencari ladang uang. Mama saya juga cari menantu, bukan cari ATM berjalan. So, jangan sama-sama kan mama saya dan saya dengan anda dan suami anda itu. Saya tau kok, dulu kalian menyuruh anak kalian untuk memutuskan Alexa karena Alexa bukan lah gadis yang berasal dari keluarga kaya raya," lanjut Brayn tanpa emosi. Namun Brayn menatap serius ke arah Santi dan Wawan.
"Dan satu lagi, Alexa ini gadis yang pintar. Mungkin bila diadu kepintaran Alexa dan anak anda, anak anda akan kalah. Hanya saja yang disayangkan Alexa bukan berasal dari keluarga berkecukupan yang bisa melanjutkan pendidikannya dengan sesuka hati. Sekolah SMA saja Alexa karena beasiswa. Itu sebabnya, saya akan mengubah hidup calon istri saya yang penuh perjuangan ini supaya menjadi lebih bahagia. Saya akan jadikan dia sebagai ratu di hidup saya. Selama ini Alexa sudah cukup berjuang, sebentar lagi dia akan menikmati hidup bersama dengan saya, calon suaminya," Brayn menggengam tangan Alexa, lalu Brayn membawa Alexa dalam pelukannya.
Semua mata menatap takjub pada Alexa dan Brayn. Mereka takjub melihat Brayn yang benar-benar gentle untuk melindungi calon istrinya itu.
Alexa merasa terharu, dia merasa kalau masih ada orang yang menginginkan dirinya di dunia ini.
Alexa menunduk, tanpa sadar air mata jatuh di pipi mulus Alexa.
Brayn yang mengetahui Alexa nangis langsung memegang dagu Alexa.
"Jangan lihat kebawah my queen. Lihat ke depan, you are my queen. Air mata kamu gak pantas jatuh hanya karena mulut tak berpendidikan dari orang-orang yang gila harta. Hati baik mu lebih dari segalanya. Lihat semua ini, kamu adalah calon istri ku. Calon istri Brayn, tidak perlu takut, aku selalu ada untuk mu," Brayn mengelus lembut puncak kepala Alexa. Mendekap Alexa seolah menyalurkan kekuatan pada Alexa.
Alice yang sejak tadi mengamati keributan itu dari awal hanya bisa menjerit-jerit kesenangan. Dia bahagia melihat anaknya yang ternyata bisa gentle dan bisa menjadi pelindung untuk calon mantunya.
"Aaaa ... daddy and aunty benar-benar sweet. Bella jadi bapel, Bella juga mau dong ikutan peluk-peluk sama aunty and daddy," Bella juga tak kalah histeris melihat aksi manis sang daddy.
Alice tersontak, dia sadar kalau Bella menyaksikan adegan romantis yang tak seharusnya disaksikannya.
Alice langsung menutup kedua mata Alice dengan kedua tangannya, "Bella, jangan ngintip. Anak kecil gak boleh liat adegan pake tanda plus."
"Iiih omaaaa ... bukain, Bella mau liat dlama Koleaa," Bella berusaha membuka tangan Alice yang menutup matanya. Tapi tenaganya masih kalah kuat dengan tenaga Alice.
"Terimakasih, untuk semuanya," bisik Alexa yang masih ada di dalam dekapan Brayn.
Semua orang tersenyum senang melihat drama romantis gratis dari Brayn dan Alexa. Sementara Wawan dan Santi, mereka sudah pergi meninggalkan rumah Brayn. Mereka pergi dengan menanggung rasa malu.