Pertunangan

1623 Kata
Hari ini adalah hari pertunangan Brayn dan Alexa. Hari ini adalah hari yang paling dinanti-nanti kan oleh Alexa dan Alice. Dan hari ini juga adalah hari yang sesungguhnya tak diinginkan oleh Brayn, namun karena sang mama, ia harus rela berkorban untuk melamar seorang wanita hari ini. Semua tamu undangan sudah hadir, suasana pertunangan ini tampak sangat ramai oleh orang-orang penting yang berasal dari rekan bisnis Brayn. "Alexa, kamu uda siap belum?" tanya Alice pada Alexa. Alexa menarik nafasnya, lalu menghembuskannya secara perlahan. Sesungguhnya Alexa benar-benar merasa gugup saat ini. "U-u-udah, tante," jawabnya sedikit terbata-bata. "Sebentar lagi sudah masuk ke acara inti, kamu harus bersiap-siap. Siapkan hati dan siapkan mental," Alice memberitahu Alexa agar Alexa tak salah tingkah nanti saat berasa diatas pelaminan. Ini hanya acara tunangan saja, tapi Alice sudah menggunakan semacam pelaminan untuk Alexa dan juga Brayn. Alice tidak perduli kalau dirinya terkesan lebay hanya untuk acara seperti ini saja, tapi yang terpenting bagi Alice adalah kebahagiaan Brayn. Brayn itu orang yang terpandang, dan Brayn juga satu-satunya anak Alice. Jadi, apa pun alasannya itu, Alice akan menyiapkan semua keperluan pertunangannya dan pernikahan Brayn dengan sangat mewah. Tak perduli berapa budgetnya, uang Alice dan Brayn tidak akan habis hanya karena pesta mewah pertunangan ini. "Oke para hadirin semuanya, kita akan masuk ke acara inti. Untuk Brayn dan Alexa, kita persilahkan naik ke tempat yang sudah disediakan," sang pembawa acara sudah memanggil Alexa dan Brayn untuk naik ke atas pelaminan. Alexa menoleh ke arah Alice, dan Alice tersenyum untuk menenangkan Alexa. "Sana naik, gak usah gugup. Kamu dan Brayn ratu dan rajanya saat ini. Jangan pikirin orang lain, fokus pada Brayn aja," Alice memberi sedikit wejangan agar Alexa tak begitu gugup. Alexa akan diantar langsung oleh Alice untuk menuju pelaminan. Sementara Brayn, dia akan ditemani oleh rekan kerja sekaligus temannya. "Pak, bapa sudah dipanggil tadi. Sekarang waktunya bapak untuk naik ke sana," Arya berusaha menyadarkan bosnya yang sedang melamun ini. "Iya saya tau, saya gak b***k untuk mendengar panggilan si MC tadi." Arya menelan ludahnya gugup. Dia bingung ingin mengatakan apa lagi, jika dia memaksa dan menyuruh Brayn untuk segera naik, maka dia akan merasa tak enak hati untuk memerintah bosnya ini. Kalau dia tak mengingat akan dan langsung mengajak Brayn untuk menuju pelaminan, maka Brayn sendiri akan malu, sebab para tamu undangan sudah menanti-nanti kedatangan Brayn dan Alexa. "Maaf, pak, tapi semua tamu undangan sudah menantikan kedatangan bapak dan ibu Alexa. Jika bapak menunda lagi, maka bapak akan menjadi pusat perhatian dan pusat omongan para tamu undangan," Arya berusaha membuat Brayn mengerti dengan keadaannya saat ini. Brayn menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dia menghembuskannya secara perlahan. "Baik lah, ayo," ajak Brayn pada Arya. Ya, Arya lah yang akan menemani Brayn untuk naik ke atas pelaminan. "Kok Pak Brayn kayak tertekan gitu sih? Padahal kan calon istrinya cantik, kelihatannya juga baik. Seharusnya Pak Brayn bersyukur dapat yang seperti Buk Alexa," Arya bertanya-tanya dalam hati. Brayn sudah berjalan menuju pelaminan, di dampingi oleh Arya di sampingnya. Sementara itu, saat ini Alice sedang menguatkan Alexa. Alice sedang meyakinkan Alexa untuk tidak gugup. Alice menggenggam tangan Alexa erat, "Ayo, kita naik sekarang. Kehadiran kamu dan Brayn sudah dinanti-nanti oleh tamu undangan," Alice berjalan, membuat Alexa otomatis ikut berjalan di sampingnya. "Jangan takut, Alexa. Kamu benar-benar cantik malam ini, tunjukkan pada Brayn kalau kamu pantas menjadi istrinya," Alice menyemangati Alexa yang sudah terlihat gugup. Arya sudah mengantar Brayn ke pelaminan, begitu juga dengan Alice yang sudah mengantar Alexa. Saat ini, di pelaminan pertunangan itu sudah terlihat dua insan manusia yang berpenampilan sangat sempurna bak raja dan ratu. Alexa benar-benar mempesona dan menyihir semua mata yang melihat padanya. Gaun berwarna putih tulang panjang dengan tangannya hanya menutupi sedikit bahu yang didesain mewah nan elegan itu benar-benar sangat cocok dan sempurna melekat di tubuh Alexa. Aura kecantikan Alexa semakin memancar dengan tatanan rambut rapih dan make up yang simpel di wajah cantiknya. Brayn juga tak kalah sempurna dari Alexa. Penampilan Brayn malam ini benar-benar menyihir para tamu undangan wanita yang hadir, Brayn juga membuat iri para tamu undangan pria yang merasa kalah tampan olehnya. Saat ini Brayn mengenakan setelan jas yang tampak senada warnanya seperti Alexa. Postur tubuh Brayn yang tinggi, tegap, dan proposional membuat pakaiannya melekat sempurna ditubuhnya. Paras Brayn yang memang tampan dengan hidung mancung, kulit putih, pandangan mata tegas dengan bola mata berwarna cokelat dan juga rahangnya yang tegas membuat aura kepemimpinan Brayn keluar begitu saja. Ditambah lesung pipi di pipi kanan Bryan yang terlihat jika Brayn tersenyum, benar-benar membuat dirinya semakin berkarisma dan manis. Di atas pelaminan, Alexa dan Brayn tak berhenti untuk saling menatap. Entah apa yang tersirat dalam pikiran mereka masing-masing, tapi yang pasti mata mereka berdua tak lepas dari satu sama lain. "Next, kita langsung masuk ke momen yang uda kita tunggu-tunggu. Untuk princess Bella," pembawa acara itu melihat ke arah Bella dengan senyum manisnya. "Silahkan beri cincin itu untuk daddy dan calon mommy kamu sekarang," pembawa acara itu sudah mempersilahkan Bella untuk mengantar cincin pada Brayn dan Alexa di atas sana. Bella melihat ke arah Alice, "Iya, sayang. Uda sana buruan antar, kamu uda cantik gini harus percaya diri. Kamu uda benar-benar seperti princess loh, gih buruan antar ke daddy," Alice sedikit merapikan tata telak cincin yang saat ini dibawa Bella. "Iya, oma. Bella benar-benar deg-degan tau, doain Bella ya oma," Bella pamit pada Alice, lalu dia berjalan perlahan menuju Brayn dan Alexa. Saat ini Bella juga ikut menjadi pusat perhatian, parasnya yang cantik dan imut membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencubit pipi Bella. Bella naik ke atas pelaminan, "Daddy, ini cincinnya," ujar Bella berbisik pada Brayn. Brayn dan Alexa masih saling pandang, mereka juga tidak sadar dengan kehadiran Bella. "Dad, ini cincinnya uda Bella bawain," bisik Bella sekali lagi. Karena tak ada respon dari Brayn, Bella menjadi kesal sendiri. "Daddy!! Ini cincinnya uda Bella bawain, daddy pandang-pandangan terus sih sama aunty, Bella dicuekin aja," Bella menarik-narik ujung jas Brayn. Brayn tersontak, dia langsung terkejut saat Bella menarik pakaiannya. Semua tamu undangan yang datang tertawa melihat Bella dan Brayn. Begitu juga dengan Alice yang sedikit malu di bawah sana. "Sepertinya pasangan ini sedang berbunga-bunga para hadirin, terlihat jelas dari acara saling pandang mereka yang bahkan merasa seperti dunia milik mereka berdua," ujar pembawa acara itu seloroh. "Ehh-- iya, sayang. Daddy ambil ya, kamu boleh balik," Brayn tersenyum kikuk, lalu dia langsung mengambil cincin dari Bella. "Nah, gitu dong, dad. Bella malu tau dari tadi diliatin banyak orang," cicit Bella pelan. "Kamu cantik sekali, sayang. Wajar kalau kamu jadi pusat perhatian," balas Brayn dengan senyum manisnya. "Makasih ya, sayang," ucap Brayn pada Bella. "Sama-sama, dad. Bella turun dulu," Bella langsung turun dari pelaminan. "Oke, hadirin kita lanjut. Untuk Brayn, ini adalah hari yang spesial untuk kamu. Ini adalah hari mu, maka sampaikan lah apa yang ingin kamu sampaikan pada Alexa. Ekspresikan semua perasaan yang ingin kamu utarakan," ujar sang pembawa acara. Brayn menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dia menghembuskannya secara perlahan. Saat ini Brayn dan Alexa benar-benar sangat gugup. "Brayn, lo uda terlanjur tercebur basah disini. So, lo harus lanjutin secara sempurna. Yang hadir disini semua rekan bisnis dan saingan-saingan bisnis lo, lo harus terlihat bahagia di depan mereka. Kalau tidak, mereka akan meremehkan lo pastinya. Jalani aja, lakukan semuanya seperti yang seharusnya. Saat ini bukan drama lagi, disini penentuan lo harus milih terlihat bagus atau milih dipermalukan. So, jalani seperti yang semestinya, lo harus bisa!!" Brayn bertekad pada dirinya sendiri. Dia menyemangati dirinya sendiri dalam hati. Brayn menatap tepat di manik mata Alexa. Begitu juga Alexa, perasaan cemas dan takut bercampur aduk di hatinya saat ini. Alexa takut kalau Brayn akan menolak pertunangan ini secara mentah-mentah saat ini juga, seperti di drama dan sinetron-sinetron yang Alexa lihat. Brayn menatap Alexa dengan serius, dengan cepat Brayn berlutut, lalu Brayn langsung memegang tangan Alexa. Alexa melotot tak percaya. Dia benar-benar tak menyangka dengan apa yang dilakukan Brayn saat ini. Alice juga sama, dia membelalakkan matanya lebar sambil menutup mulutnya yang menganga, semua ini diluar ekspektasi Alice. Sorakan menggoda dari para tamu undangan yang baper sudah memenuhi udara. "Alexa," panggil Brayn pada Alexa. Alexa tak bisa berkata-kata lagi, bahkan untuk menjawab panggilan Brayn saja lidahnya sudah keluh. "Will you marry me, Alexa?" Bryan mengucapkan kalimat itu dengan tegas. Tak ada keraguan yang tersirat dari ucapannya barusan. Alexa tersenyum bahagia, sangking bahagianya saat ini Alexa malah ingin menangis. "Yes, I will," Alexa menjawab dengan sedikit gemetaran. Karena semua ini benar-benar tak seperti yang Alexa pikirkan. Mendengar jawaban Alexa, Brayn langsung tersenyum manis, menampilkan lesung pipinya yang membuat para tamu undangan wanita menjerit histeris. Brayn berdiri, dia langsung memakaikan cincin ke jari manis Alexa, dan, Cuppp ... Brayn langsung mengecup mesra dahi Alexa. Semua orang yang hadir bertepuk tangan mengiringi kebahagiaan Alexa dan Brayn. Alexa tersenyum bahagia, tanpa disangka-sangka air matanya keluar. Air mata bahagia Alexa atas apa yang selalu diimpikannya yang akan tercapai sedikit lagi. "Woww ... semuanya benar-benar berjalan dan mengalir penuh cinta. Semua tamu undangan benar-benar dibuat baper oleh pasangan yang satu ini. Dan untuk para tamu undangan, karena sudah baper-baperan, pasti laper dong. Para tamu undangan dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia," pembawa acara langsung melanjutkan ke acara selanjutnya. Brayn masih menggenggam erat tangan Alexa untuk menguatkan Alexa yang saat ini sedang menangis bahagia dan haru. Sementara itu, di bawah Alice juga tak kalah terharu. Alice juga menangis bahagia. Dia benar-benar bahagia melihat anak satu-satunya kini sudah ingin melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Dan yang membuat Alice sangat bahagia adalah perlakuan Brayn yang benar-benar diluar nalar Alice. Alice sama sekali tak memikirkan dan berharap kalau Brayn akan melakukan hal seromantis itu pada Alexa. Brayn tidak kabur di acara pertunangan ini saja Alice sudah sangat-sangat bersyukur. Tapi ternyata semuanya berjalan sangat lancar dan diluar ekspektasi Alice, Brayn benar-benar menguat perjuangannya tidak sia-sia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN