Kepergok Camer

1021 Kata
Alexa menatap remeh ke arah Brayn, "Oohh ... mau coba main-main dengan ku lagi rupanya," Alexa tersenyum miring. Brayn menyesali ucapannya, ucapannya barusan membuatnya masuk ke dalam petaka kembali. "Enggak kok, gu-" Ucapan Brayn terpotong saat tiba-tiba Alexa memeluk dirinya dengan sangat erat. Brayn tak mampu berkata-kata, Brayn hanya bisa diam seperti batu. Alexa memeluk Brayn dengan erat, lalu Alexa membawa Brayn ke arah kasur. Tentu saja Brayn menolak, tapi Alexa ini sangat kuat. Apa lagi kalau sudah bertekad seperti ini. "Lepasin gue!!" Brayn memberontak dipelukan Alexa. Brakk!!! Alexa menjatuhkan dirinya dan Brayn di atas kasur berukuran king size milik Brayn. Alexa menjatuhkan dirinya dengan posisi Brayn yang ada dibawah dan Alexa di atasnya. "Gini aja, aku nyaman dan suka," gumam Alexa sambil memeluk tubuh Brayn yang ada dibawahnya. Brayn terdiam, dia tak tahu lagi ingin bicara apa. Alexa benar-benar mampu membuatnya diam seribu bahasa. "Turun!! Lo emang gak tau mal-" "Sttt!!" Alexa langsung membekap mulut Brayn dengan telapak tangannya. "Iya, I love you too my husband-- eh, calon husband," Alexa memejamkan matanya. Dia nyaman dengan posisi seperti ini. Mungkin Alexa akan tidur sebentar, pasalnya Alexa benar-benar mengantuk. ***** "Eunggh ...," Brayn menggeliat bangun tidur. Matanya yang tertutup perlahan terbuka, rasanya tidurnya kali ini benar-benar sangat pulas. "Nyaman banget sih tidur gue kali ini," Brayn menggeliat kembali, meluruskan otot-ototnya yang sedikit pegal karena baru bangun tidur. "Lap-" Ucapan Brayn terpotong saat melihat seseorang yang ada dalam pelukannya. Posisinya orang itu memeluk Brayn dan Brayn memeluk orang itu seperti bantal gulingnya. "Alexa!!! Ngapain nih bocah meluk-meluk gue?!!" Brayn terkejut, dia benar-benar tak tahu mengapa posisinya bisa jadi seperti ini. "Kok enak banget dia peluk-peluk gue, menang banyak tuh dia," Brayn terus menggerutu kesal, padahal Brayn juga memeluk Alexa tadi. Brayn melepaskan pelukan Alexa di tubuhnya. Bukannya bangun, Alexa malah semakin mempererat pelukannya pada Brayn. "Heh!! Lepasin woy!! Lo gak tau malu ya emang, enak aja lo tidur di kasur gue, pake peluk-peluk gue segala lagi!!" Brayn berusaha melepaskan pelukan Alexa, tapi Alexa benar-benar kuat, Alex terus menahan pelukannya. "Alexa!! Bangun!! Lo apain gue tadi hah?!! Kok gue bisa tidur meluk lo?! Ayo bangun!!" Brayn terus mengguncang-guncangkan tubuh Alexa, tapi Alexa tak bangun sama sekali. "Alexa!! Bangun woy!! Alex-" "Sttt ... aku masih ngantuk, jangan ganggu ih," Alexa malah menutup mulut Brayn dengan jari telunjuknya. Lalu Alexa naik ke atas tubuh Brayn dan memeluk Brayn kembali dengan kencang. "Alexa!! Lo ngapain?! Berat anjir!! Turun woy!" Brayn terus menarik-narik tangan Alexa yang memeluk dirinya erat. "Enggak mau ahh, enak gini. Aku kan sayang kamu," Alexa mengelus-elus pipi Brayn lembut. Brayn menepis tangan Alexa, "Gak ngaruh, njir. Sesak gue lo timpahin. Lo pikir badan lo itu gak berat apa?! Turun buruan!!" Brayn terus mendesak Alexa. Alexa kekeuh tak mau turun, Alexa malah memegang kedua tangan Brayn, dan mengarahkan tangan Brayn untuk menangkup pipinya. "Sayang-sayangan gini kan lebih enak dari pada bertengkar terus," ujarnya kemudian. "Emang dasar cewek gak tau mal-" "Sttt ... iya aku tau kok, aku juga sayang sama kamu," Alexa kembali menutup bibir Brayn dengan jari telunjuknya agar Brayn tak banyak bicara. Ceklekk ... Alice membelalakkan matanya tak percaya, mulutnya sampai menganga lebar melihat sesuatu yang terjadi di hadapannya kali ini. "Aaaaaa ... mama senang banget kalian uda bis seromantis ini!!! Akhirnya mama berhasil, yeeee!!!" Alice melompat-lompat kegirangan, dia sangat senang melihat Alexa dan Brayn bisa seromantis itu. Mendengar suara mamanya Brayn langsung terkejut, sontak Brayn langsung memaksa Alexa untuk turun dari atas tubuhnya. Alexa pun menurut, dia juga malu dengan Alice. Alexa dan Brayn duduk di atas kasur, mereka menatap Alice dengan tatapan yang penuh rasa malu. Alice berjalan menghampiri Alexa dan Brayn dengan senyum sumringah di wajahnya. "Kok udahan sih? Padahal mama senang banget liat progres hubungan kalian yang secepat ini loh. Mama bahagia banget," ujar Alice mengungkapkan kebahagiaannya. Brayn memutar bola matanya jengah, mamanya ini benar-benar mengesalkan. Mengapa dia memilih jodoh untuk Brayn wanita yang seperti ini. Wanita bar-bar, tak tau malu, frontal dan juga agresif. Benar-benar bukan tipe Brayn sama sekali. Jika Brayn sedang kesal, maka berbeda urusannya dengan Alexa. Alexa malah tersipu malu. Pipinya memerah seketika. Alice membuat dirinya malu, Alexa benar-benar ingin bersembunyi ke dalam lubang semut sekarang. Tertangkap basah oleh calon mertua benar-benar peristiwa yang memalukan bagi Alexa. "Alexa, pipi kamu merah seperti tomat gitu. Kenapa? Kamu malu ya sama tante?" Alice bertanya sambil menggoda Alexa. Alexa menunduk, dia benar-benar malu dengan Alice. Alice yabg seharusnya hanya tau kalau Alexa wanita baik-baik dan tidak punya sifat yang jelek, kini Alice malah sudah mengetahui Alexa yang bersifat bar-bar dan agresif seperti ini. Entah mau di taruh mana muka Alexa saat ini. Alice mengibaskan tangannya, "Duhh ... uda deh jangan malu-malu gitu. Tante maklum kok kalau kamu harus sedikit bar-bar buat ngadepin Brayn," Alice menaik turunkan alisnya. "Anak tante yang satu ini kan emang gitu, payah banget tau kalau di deketin sama cewek, sampai banyak yang mikir kalau dia itu homo. Tante malah bersyukur banget kalau kamu main nyosor-nyosor gini dan gak ada malu-malu sama Brayn, jadi ada yang bisa menaklukkan Brayn. Terimakasih banget ya, Alexa," Alice mengelus puncak kepala Alexa penuh sayang. Brayn melotot, menurutnya mamanya ini adalah mama teraneh di dunia. Bisa-bisanya melihat anaknya dilecehkan malah mamanya sangat bahagia, bukannya malah marah. Aneh bukan? Brayn jadi curiga kalau mamanya sedikit terganggu kejiwaannya semenjak ketemu dengan Alexa. "Mama apaan sih? Kok malah bahagia liat anaknya dilecehin sama Alexa, aneh mama tau. Bukannya belain aku dan marahin Alexa. Gak jelas banget sih," Brayn berdiri, rasanya kepalanya benar-benar pusing melihat tingkah mamanya yang semakin lama semakin aneh. "Udah lah, mama jadiin anak aja tuh si cewek bar-bar gak punya malu itu. Mendingan aku aja yang pergi, gila lama-lama aku dekat-dekat dia," Brayn pergi meninggalkan mamanya dan juga Alexa. Alice memandang kepergian Brayn dengan tawa gelinya. Sementara Alexa, dia sedikit cemas dengan kemarahan Brayn kali ini. "Udah deh, kamu santuy aja. Brayn mah emang gitu orangnya, nanti juga bakalan balik lagi," Alice menepuk pundak Alexa untuk menenangkannya. "Gitu ya tante?" tanya Alexa dengan polosnya. "Ya iya lah gitu, masa ya iya gini," balas Alice dengan tawa renyahnya. "Yukk keluar, kita makan," Alice menarik tangan Alexa untuk keluar dari kamar Brayn.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN