Kolaborasi Ambyar Alexa dan Bella

1746 Kata
Hari ini hari weekend, Alice pergi bersama teman-teman komunitas JCAK-nya 'Janda Cantik Awet muda dan Kaya raya, katanya sih mau berburu cogan bule di pantai. Hari ini Alice tak mau diganggu dulu, Bella tak ikut bersamanya. Bella ditinggal di rumah bersama Brayn dan Alexa. Kata Alice sih 'itung-itung latihan jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah'. Dan jika Alice sudah berkata, Brayn pun tak bisa membantah. "Daddy!! Bella mau naik mobil-mobilan yang bisa jalan itu," selesai main dengan Alexa, Bella langsung mendatangi Brayn yang sedang duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Brayn menggendong Bella, membawa Bella ke dalam pangkuannya, "Mobil-mobilan gimana sih, sayang?" tanya Brayn yang kurang mengerti maksud Bella. Bella mendongakkan kepalanya ke atas untuk bisa melihat wajah Brayn, "Bella mau mobil-mobilan yang bisa Bella naikin, Bella mau jalan-jalan keliling komplek ini, daddy," Bella menjelaskan maksudnya pada Brayn dengan suara cadel khasnya. Brayn mengerutkan dahinya bingung, "Bella kan anak perempuan, Bella mana punya mobil-mobilan. Apa lagi kalau mobil-mobilannya sebesar itu," Brayn bingung, mengapa anaknya ini suka sekali meminta hal yang aneh-aneh padanya. Bella mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di d**a, "Daddy pelit banget sih, kan daddy holang kayaaa ... banyak money dimana-mana, masa beliin Bella mobilan aja gak bisa," Bella merajuk dia kesal dengan Brayn yang tak ingin membelikannya mobil-mobilan yang diinginkannya. Brayn menghela nafasnya, baru saja dia ingin menikmati hari libur dengan santai-santai tanpa gangguan siapa pun, tapi Bella datang-datang sudah rewel dan meminta hal-hal aneh padanya. "Sayang, kamu kan perempuan, gak usah mainin gituan deh. Mendingan tuh sama sama aunty Alexa, main boneka atau main masak-masakan aja. Lagi pula nanti kalau dibeli dipakenya cuma sekali, boros tau gitu, buang-buang duit," Brayn menolak membelikan apa yang diminta Bella. Sebenarnya buang-buang duit bukan lah alasan yang sebenarnya. Bella minta mainan yang harganya belasan juta saja Brayn sering membelikannya, walaupun Bella hanya memainkannya sebentar saja. Tapi untuk kali ini Brayn malas untuk pergi membeli apa yang diminta Bella. Brayn malas untuk keluar rumah. Dia ingin bersantai-santai menonton televisi dan memakan cemilan. Bella melengkung kan bibirnya ke bawah, matanya mulai berkaca-kaca, "Daddy jahat!! Gak mau beliin yang Bella mau, padahal uang daddy banyak banget, segunung. Tapi daddy pelit!! Bella bilangin sama oma nanti, biar daddy dimarahi oma," Bella turun dari pangkuan Brayn, dia berjalan sambil menangis. "Bella, sini, sama aunty aja. Aunty mah baik, gak jahat," Alexa datang dan langsung memeluk Bella. "Bella mau apa? Nanti kalau aunty bisa nurutin apa maunya pasti bakalan aunty turutin kok," Alexa bertanya pada Bella. "Bella mau naik mobil-mobilan besar, Bella mau keliling komplek ini, aunty," Bella memberitahu keinginannya pada Alexa sambil menangis sesenggukan. Brayn menoleh, dia ingin melihat ekspresi Alexa yang sok-sokan ingin memenuhi keinginan Bella. Mana mungkin Alexa bisa memenuhi keinginan Bella, uang saja Alexa tidak punya. Alexa terdiam, dia cengo saat mendengar apa yang diminta oleh Bella. Alexa pikir Bella seperti anak-anak lainnya yang menangis bila meminta boneka barbie yang terbuat dari kertas. Tapi dugaan Alexa salah, memang jika anak sultan juga keinginannya pasti yang mahal-mahal. Mana Alexa sanggup membelikannya, uang saja Alexa tak punya. "Aunty ...," Bella menggoyang-goyangkan pundak Alexa yang sedang berjongkok di hadapannya. "Ayo kita beli sekarang, aunty," ajak Bella pada Alexa. Glekkk ... Alexa menelan ludah, mana mungkin dia bisa menuruti permintaan Bella. Alexa harus putar otak agar Bella tak menangis lagi. Telinganya sakit mendengar tangisan dan rengekan Bella. Alexa diam sejenak, dia berpikir keras bagaimana caranya menengah keinginan Bella untuk keliling komplek. "Naik mobil aja ya kelilingnya?" tawar Alexa pada Bella. Bella menggeleng, "Gak mau, Bella bosan naik mobil," tolaknya mentah-mentah. Alexa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Naik motor mau gak?" tanya Alexa kembali. Lagi-lagi Bella menggelengkan kepalanya, "Gak mau, Bella gak mau," Bella kembali menolak, dia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Alexa diam beberapa saat, dia bingung harus melakukan apa, sementara Bella menangis semakin kuat. "Ahaa!! Aunty punya ide, ayo ikut aunty!" Alexa berdiri, dia langsung menarik Bella keluar rumah. "Kita mau beli mobil-mobilan yang bisa dinaikin Bella, aunty?" tanya Bella pada Alexa. Alexa menggeleng, "Bukan, tapi ini lebih seru dari pada naik mobil-mobilan," jawab Alexa semangat. "Tunggu sini aja ya, aunty pergi kesitu bentar," Alexa meninggalkan Bella di teras rumah, sementara dia pergi ke taman belakang rumah. Setelah sampai di belakang rumah, Alexa langsung mengambil sepedanya yang berwarna pink itu. Bukan hanya mengambil sepeda, Alexa juga mengambil tali tambang dan juga kardus bekas televisi yang berukuran sedang. Setau Alexa itu televisi untuk para asisten rumah tangga di rumah Brayn, televisi keluarga Brayn sendiri ukurannya sangat besar, awal ke rumah Brayn saja Alexa begitu terkejut melihat televisi yang begitu besarnya untuk pertama kali. "Ehh jangan lupa pisau," Alexa mengambil pisau yang sudah tergeletak di situ. Entah siapa yang menaruh pisau di luar, Alexa tak peduli. Yang ada Alexa malah bersyukur, dia tak jauh-jauh lagi untuk mengambil pisau ke dapur. Setelah barang-barang yang diperlukan Alexa sudah terpenuhi, Alexa langsung membawanya pergi ke depan. Alexa menaiki sepedanya dengan kardus yang diletakkannya di depan. Pisau dan tali juga sudah dimasukkannya di dalam kardus. Kringg kringgg kringg ... Alexa membunyikan lonceng sepedanya saat dia sudah sampai di hadapan Bella. Bella mengerutkan dahinya bingung, "Ini untuk apa, aunty? Aunty mau mulung?" tanya Bella. "Lahh bocah, mentang-mentang anak sultan. Gue megang kardus dikatain mulung, ett dahh ... kalau bukan bakalan jadi anak gue, uda gue lempar ke Sungai sss juga nih bocah," Alexa menggerutu kesal dalam hatinya. "Ya enggak lah," bantah Alexa. "Uda deh, Bella tenang aja, diam dan liatin aja. Biar aunty yang bekerja," Alexa memarkirkan sepedanya dengan benar. Alexa mengambil tali tambang, lalu dia mengikatkan tali tambang itu ke belakang sepedanya. Setelah itu Alexa membolongi satu sisi kardus televisi yang sudah dibawanya tadi dengan pisau. Setelah berlubang, Alexa mengikatkan satu sisi tali tambang lainnya ke kardus televisi itu. Alexa mengikatnya dengan kuat. "Nahh!! Dah jadi nihh. Hayuk jalan-jalan keliling komplek!" Alexa tersenyum girang, proyeknya sudah jadi. Sekarang saatnya mencoba. Bella menaikkan sebelah alisnya bingung, dia tak tau Alexa sedang melakukan apa. "Bella mau naik mobil-mobilan dan keliling komplek kan?" tanya Alexa dengan senyum lebarnya. Bella mengangguk, "Iya, aunty," jawabnya cepat. "Berhubung kita gak punya mobil-mobilan, dan aunty gak bisa beliin karena mahal. Jadi kita jalan-jalan pakai mobilan kardus aja," Alexa menarik Bella untuk mendekati sepedanya. "Apa?!! Naik kardus? Gimana caranya kardus bisa jalan?" Bella sedikit shock mendengar ucapan Alexa tadi. Alexa menyengir lebar, menampilkan deretan giginya yang putih bersih, "Uda sini, naik aja. Gak usah banyak tanya, nanti juga bakalan ketagihan," Alexa menarik Bella dan memaksa Bella untuk masuk ke dalam kardus. Bella sudah masuk ke dalam kardus. Dia masih memasang wajah bingungnya. Pasalnya Bella benar-benar tak pernah masuk ke dalam kardus sekali pun. Alexa langsung naik ke atas sepedanya, "Are you ready?" tanya Alexa bersemangat. "Re-re-ready," jawab Bella ragu-ragu. "Pegangan yang kuat, pegangan di sisi kanan kiri kardusnya," Alexa mengintruksi Bella. Alexa mengambil ancang-ancang, lalu dengan segenap tenaga yang ia punya, Alexa langsung mengayuh sepedanya dengan cepat. "Aaaaaa!!!!" Bella berteriak kencang saat kardus yang ia naiki berjalan. "Jangan teriak-teriak! Jangan takut! Semuanya uda aman, kardusnya juga tebal dan gak akan koyak, pegangan aja yang kuat dan nikmati indahnya perjalanan kita," di depan Bella Alexa memberikan kata-kata yang bisa menenangkan Bella dari ketakutannya. Alexa tau, Bella pasti merasa takut, karena ini pertama kalinya dia mencoba hal seperti ini. Sebenarnya bukan hanya Bella, ini juga pertama kalinya Alexa mencoba. Bella diam, dia pegangan erat di sisi kanan kiri kardus, Bella mencoba menghilangkan rasa takutnya, dan menikmati pemandangan dari dalam kardus berjalan. "Uda enakkan?!! Uda bisa menikmati kan??! Seru kan?!!!" Alexa bertanya dengan berteriak, kalau Alexa tak berteriak maka dapat dipastikan Bella tak mendengar apa yang dikatakannya. "Seru aunty!!!! Ayo lebih kencang lagi naik sepedanya!!!" balas Bella kembali tak kalah berteriak. Sedangkan di dalam rumah, Brayn yang sedang menonton televisi langsung berlari keluar saat mendengar suara teriakan Bella. "Loh, dimana Bella? Kok gak ada?" Brayn bertanya pada dirinya sendiri. "Duhh mati gue, kenapa Bella teriak-teriak tadi ya? Ada apa sama Bella? Gue harus cari dia," Brayn langsung berlari menuju pintu gerbang, dia sangat cemas dengan keadaan Bella. Dia akan mencari Bella di luar pekarangan rumah. "Ayo aunty!!! Goes lebih kuat lagi!! Bella mau yang balap, biar kena angin kencang!!" Bella merentangkan kedua tangannya, matanya dipejamkannya untuk menikmati udara segar hari ini. Sensasi naik kardus memang sangat beda dan seru dibandingkan naik mobil, sepeda, ataupun motor. Alexa ngos-ngosan, dia benar-benar letih, menggoes sepeda yang menarik kardus berisi Bella bukan lah hal mudah. Berat sudah pasti, Alexa sampai mati-matian menggoes sepedanya dengan kuat agar terus menarik Bella yang ada di dalam kardus. Brayn sudah berada di luar pagar rumahnya, dia melihat ke arah kanan, tapi tak juga menemukan Bella. Setelah melihat ke arah kanan, Brayn langsung melihat ke arah kiri, dan betapa terkejut dan sangat shocknya Brayn saat melihat Bella duduk di dalam kardus yang diikat ke sepeda Alexa dan Alexa mengendarai sepeda dengan kecepatan yang lumayan tinggi. "Bella!!!!! Bella kamu ngapain?!!! Berenti!!!!" Brayn langsung mengejar Alexa dan Bella. "WOY ALEXA!! ANAK GUE ITU!!! BERHENTI!!!! DASAR SINTING!!! LO APAIN ANAK GUE!!!" Brayn berteriak heboh, dia mengejar Alexa dan menyuruh Alexa untuk berhenti. Alexa tak menghiraukan Brayn, jika dia menoleh ke belakang maka berabe urusannya, bisa-bisa Alexa nabrak nantinya. Mendengar suara Brayn, Bella langsung menoleh ke belakang. Dan setelah melihat Brayn mengejar dirinya, Bella langsung tertawa kencang, "Hahaha ... daddy ngejar Bella, ayo daddy kejar Bella terus!!! Ayo daddy, ini benar-benar seru!! Ayo kejar Bella terus!!" Bella berteriak supaya Brayn mendengarnya. Brayn yang sedang mengejar Alexa dan Bella langsung melotot saat mendengar ucapan Bella, "Anjirr, anak gue ada-ada aja ... anak gue yang aneh kolaborasi sama si Alexa yang sinting, jadilah momen diluar nalar ...! Rasanya pengen gue bom aja tuh si Alexa, gak tau apa gue capek ngejar-ngejar dia!!" Brayn menggerutu kesal, dia terus mencerca Alexa sambil berlari dengan nafas yang ngos-ngosan. Alexa tertawa, melihat Brayn tersiksa seperti ini rasanya hatinya sedikit lega dan bahagia. "Ayo daddy!!! Kejar Bella terus!!! Kejar sampai dapat!!!" Bella kembali berteriak sambil cekikikan melihat Brayn berlari ngos-ngosan mengejar dirinya. "Aunty Alexa emang top!! Bella bahagia banget naik kardus jalan gini!! Lebih seru dibandingkan naik mobil-mobilan!!" Bella berteriak memuji Alexa. Alexa tertawa, "Pasti dong!!! Aunty Alexa gitu loh!! Calon mami kamu nihhh, bukan kaleng-kaleng," Alexa juga ikut membanggakan dirinya sendiri. "Kamu dihukum dulu ya, Brayn. Biasanya kamu yang selalu buat aku nyesek, sekarang aku buat kamu ngos-ngosan lewat anak kamu sendiri. Wkwkwk ... rasain tuhhh," Alexa tertawa dalam hati. Dia senang melihat Brayn seperti ini. Rasanya kekesalan Alexa karena ucapan menyakitkan Brayn setiap hari, saat ini sedikit terbalaskan saat melihat Brayn ngos-ngosan mengejar dirinya dan Bella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN