Rencana Pertunangan

1009 Kata
"Brayn, jadi kapan waktunya?" tanya Alice yang baru saja duduk di samping Brayn yang sedang santai membaca koran. Brayn menaikkan sebelah alisnya bingung, "Maksudnya apa, ma? kapan waktunya apa sih?" tanya Brayn bingung. Alice menggeser posisinya, kali ini lebih dekat dengan Brayn, "Ya kapan waktu kita ngelamar Alexa lah. Mama gak mau nunggu lama-lama lagi. Kalau bisa minggu depan kamu uda nikah sama Alexa," jelas Alice dengan semangat. Brayn memutar bola matanya malas, "Kok sepertinya mama banget sih yang semangat? emangnya mama yang mau nikah? Brayn lagi sibuk ngurusin kantor, gak akan bisa ada waktu kosong. Tahun depan aja deh, ma," Brayn melanjutkan kegiatan membaca korannya. Dia benar-benar malas jika pembicaraan ini mengarah ke pernikahan, Brayn belum siap menikah. Alice melotot tak percaya saat Brayn mengatakan kalau pernikahannya dilaksakan tahun depan saja. "Kamu mau ngibulin mama, hmm ...? enak aja tahun depan. Mungkin aja bulan depan mama uda gak hidup lagi, umur gak ada yang tau. Apa lagi mama uda tua. Mama cuma kepengen liat kamu menikah aja kamu gak bisa mewujudkannya? parah banget sih kamu kalau gitu konsepnya." Nada bicara Alice sudah terdengar tak enak, kentara sekali kalau Alice saat ini sedang kesal dan menahan amarahnya. Brayn menghela nafasnya kasar, "Iya, ma. Terserah mama aja kapan, mama bahagia aku juga bahagia kok," Brayn langsung meletakkan korannya di atas meja, lalu Brayn langsung pergi meninggalkan mamanya sendirian. Alice menatap kepergian Brayn dengan raut wajah bingungnya. "Emang aku salah ya? perasaan aku cuma pengen Brayn cepat-cepat menikah. Umur Brayn sudah dewasa, sudah waktunya dia menikah. Bahkan teman-teman Brayn saja sudah banyak yang punya anak, aku juga kan pengen punya cucu," Alice bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia hanya bisa menduga-duga bagaimana perasaan Brayn saat ini. Alice diam sejenak, pikiran-pikiran aneh mulai muncul dipikirannya. "Apa aku egois, memaksakan kehendak untuk Brayn cepat-cepat menikah?" Alice berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi aku cuma pengen Brayn itu punya pendamping hidup, itu aja. Hidup Brayn terlalu datar tanpa warna, tanpa cinta. Kalau bukan aku yang mencari jodoh untuk Brayn, aku pastikan Brayn pasti gak akan nikah selamanya," Alice mulai goyah, hati dan pikirannya tampak tak sejalan. Beberapa menit Alice diam dan merenungkan semuanya, keputusannya mulai goyah saat ini. Alice mengibaskan tangannya, "Alah uda lah, apalagi yang mengganjal coba? Maksudnya aku ini kan niatnya baik, aku bukan punya maksud yang aneh-aneh juga, aku cuma punya niat yang baik supaya Brayn cepat menikah. Aku gak mau Brayn jadi lajang tua. Aku juga pengen cepat-cepat nimang cucu," Alice mulai meyakinkan dirinya sendiri. Dia benar-benar tidak akan goyah lagi saat ini. Sudah cukup pikiran aneh-aneh yang ada di kepalanya, sekarang saatnya dia fokus ke depan, dia harus fokus terhadap misinya untuk menikahkan Brayn secepatnya. "Aku yang ngatur kan? Aku yang mamanya disini, aku yang harus turun tangan langsung. Biar aja Brayn cuek bebek, masih ada aku juga. Aku yang bakalan nyiapin semua keperluan tunangannya Brayn dan Alexa. Kalau bisa aku juga bakalan nyiapinnya secara cepat, biar nikahnya juga cepat," Alice tersenyum senang. Tak ada lagi keraguan di dalam hatinya, kini dia sudah mantap dan yakin kalau keputusan ini yang terbaik untuk Brayn. "Tapi aku gak mau acara tunangan Bryan itu biasa aja. Aku mau buat pesta pertunangan yang benar-benar mewah. Brayn itu bos besar, aku juga bergaul di lingkungan elit, relasi ku dan Brayn itu bukan orang-orang sembarangan. Jadi aku gak mau terlihat biasa saja, aku akan buat pesta pertunangan yang luar biasa," Alice mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri. Senyum itu tak pernah pudar dari wajahnya. "Kalau pesta pertunangan yang mewah, pasti gak bakalan bisa selesai dalam waktu yang singkat. Aku harus pinter-pinter nih ngurusnya. Gak apa-apa juga lah waktunya sedikit lama, yang penting kan jadinya nanti bakalan luar biasa." Alice benar-benar puas dengan buah pemikirannya ini. Dia sangat semangat untuk mengatur segala keperluan pesta pertunangan anak sematawayangnya ini. Sementara di lain tempat, saat ini Brayn sedang duduk menyandar di spring bad yang berukuran king size miliknya. Brayn duduk sambil memikirkan sesuatu, kentara sekali dengan raut wajahnya yang sedikit bimbang, bingung dan gusar. Hal yang dipikirkan Brayn tak jauh-jauh juga dari soal perjodohannya. Sesungguhnya Brayn belum menerima dengan ikhlas tentang perjodohan ini. Brayn menerimanya karena Brayn tak ingin mama dan anaknya pontang-panting di jalanan. Brayn tau sekali kalau mamanya ini keras kepala. Jika mamanya minta A, maka harus A, gak akan pernah menjadi B. "Gini banget ya nasib gue, rasanya gue pengen banget hidup bebas tanpa wanita. Gue ingin hidup bebas tanpa ikatan apa pun. Sendiri juga gue bahagia, gue gak kesepian kok. Mama aja yang selalu anggap gue kesepian. Gue lebih nyaman sendiri, gue belum bisa menerima orang asing masuk ke kehidupan gue." Brayn tampak bingung, sesungguhnya dia ingin menunda rencana pernikahan ini, kalau bisa menundanya sampai 2 atau 3 tahun ke depan. Tapi mamanya sangat berantusias dalam hal ini. "Gimana ya caranya buat mama mengerti kalau gue belum siap. Butuh mental baja untuk menghadapi orang asing di hidup kita, gak mungkin baru kenal uda bisa nerima dan legowo gitu aja. Dan yang paling utama, gue gak mau nikah, gue masih mau sendiri. Gue gak mau repot dengan hal-hal tentang rumah tangga yang membosankan. Rumah tangga yang gitu-gitu aja, gak ada menariknya. Masih lebih menarik kerjaan kantor menurut gue." Begitu lah Brayn. Banyak yang mengatakan Brayn tidak normal, Brayn suka pada sejenisnya sendiri. Semua itu mereka bilang karena yang mereka tau, Brayn tidak pernah suka dan dekat pada wanita, selain sekretarisnya. Brayn benar-benar orang yang dingin dan cuek. Banyak wanita yang mengejar-ngejar Brayn, tapi dia selalu menolaknya mentah-mentah. "Pusing gue, belum apa-apa mama uda bicarakan soal tunangan aja. Belum apa-apa mama uda semangat banget gitu, gue jadi gak mood. Gue jadi bingung mau ikuti kata hati atau kata mama," Brayn menggaruknya tengkuknya yang tak gatal. "Kalau ngikut kata hati, gue gak mau dulu tunangan. Tapi kalau ikut kata mama, gue harus segera tunangan, lusa juga oke kalau mama mah. Gue yang belum siap mental, gue yang belum siap luar dalam," Brayn benar-benar tertekan saat ini. Biasnya Brayn hanya memikirkan soal pekerjaan saja. Tapi kali ini Brayn harus memikirkan nasib perjodohannya. Bahkan menurut Brayn, urusan pekerjaan lebih mudah dari pada urusan percintaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN