Alexa sedang mendorong sepedanya dengan riang hati. Dia benar-benar sangat gembira saat kemarin Brayn jelas-jelas berpamitan secara romantis dengannya, ditambah senyum manis Brayn yang jelas-jelas menghipnotis hati Alexa.
"Ya ampunnn ... gak terasa banget sih bentar lagi gua bakalan sold out, gue gak bakalan jomblo lagi chuy. Gue senang banget malah, rasanya emang kayak menang give away mobil gitu. Bahagia banget gak tuh," Alexa terus saja mengoceh sepanjang jalan. Alexa tak henti-hentinya senyum dan berbicara pada dirinya sendiri. Efek bahagia ini pada Alexa benar-benar permanen.
"Uda kebayang gitu rasanya di kepala gue, waktu gue nanti dilamar, dipakein cincin mahal, pakai baju cantik, di hotel mewah, rasanya uda jadi Queen beneran tau." Alexa membayangkan saat dirinya dilamar dan dipakaikan cincin oleh Brayn, rasanya impian Alexa benar-benar akan menjadi kenyataan.
Alexa duduk di bawah sebuah pohon mangga, dia melihat sepedanya yang sudah diparkirkan dengan rapi dihadapannya.
"Sepeda, maafin aku ya. Bentar lagi aku gak bakalan pakai kamu lagi, aku pasti gak bakalan jualan bunga lagi. Brayn pasti gak bakalan kasih istrinya capek-capek kerja. Dia pasti bakalan kasih mobil dan perlengkapan lainnya," Alexa mengelus-elus sepedanya dengan penuh sayang. Dia benar-benar sulit sebenarnya untuk meninggalkan sepeda yang sudah menemaninya sejak lama. Tapi mau bagaimana lagi? Alexa nasibnya sebentar lagi akan berubah. Alexa akan menjadi ratu di keluarga Brayn.
"Alexa ...," Alexa menoleh ke belakang saat namanya dipanggil oleh seseorang.
Alexa menatap sinis pada orang itu, "Ada apa? Ada perlu apa lo nyariin gue sampai kesini?" tanya Alexa sedikit tak suka.
"Ya mau ketemu sama lo, lah," jawab Daniel dengan entengnya.
Mendengar ucapan Daniel yang menurut Alexa sangat tak yang berguna, Alexa langsung menyandarkan tubuhnya ke pohon mangga. Tak lupa Alexa memejamkan matanya perlahan.
Daniel hanya bisa geleng kepala saat Alexa sudah memejamkan matanya.
"Dasar wanita yang sama, wanita yang aneh dan bakalan tetap aneh sampai kapan pun," ujar Daniel dalam hati.
"Lo ngapai sih gitu terus? Lo menghindari gue? Gue mau ngomong hal penting sama lo, Alexa," Daniel mulai bicara pada Alexa.
Alexa diam saja, dia tak merespon Daniel sama sekali. Baginya Daniel ini sudah tak penting lagi.
"Alexa ...," Daniel kembali memanggil Alexa.
Alexa diam, dia tak menyahut, matanya masih tertutup dan tubuhnya masih tersandar di pohon mangga.
"Alexa!!" Panggil Daniel sedikit geram. Dia sudah sangat kesal, Alexa mencueki dirinya.
"Lo denger gue ngomong gak sih?!! tanya Daniel sedikit membentak.
"Enggak!! sana pergi, gue gak dengar apa kata lo. Lo mau ngapain juga gue gak peduli. Sana pergi, pergi ke cewek lo yang banyak sana. Gue mau istirahat, lo gak penting lagi di hidup gue," Alexa langsung mengusir Daniel tanpa basa-basi. Dia mengeluarkan ungkapkan kekesalannya di dalam hati.
Sedangkan Daniel, hatinya sakit mendengar Alexa berbicara seperti itu. Dia tak menyangka kalau Alexa akan bicara sekejam itu padanya. Karena yang Daniel selalu alami, Alexa tak pernah sampai mengeluarkan kata-kata tajamnya seperti ini.
"Lo kenapa sih, Alexa? Kenapa lo ngomongnya sinis gitu ke gue? Lo pikir gue apa? lembut sedikit gak bisa? gue pacar lo, bukan musuh lo," Daniel menekan kalimat 'pacar' saat berbicara.
Alexa menampik senyum miringnya. Tanpa membuka matanya sama sekali, Alexa menjawab, "Lo pikir gue masih mau jadi pacar lo?" tanya Alexa santai.
"Jawabannya enggak," lanjutnya kemudian.
"Gue gak mau jadi pacar lo, lo aja yang selalu nganggap gue jadi pacar lo, gue enggak tuhh. Sana pergi, datangi cewek-cewek yang lo kejar dan lo ajak jalan selama ini. Gue uda mati rasa sama lo dan uda nganggap lo gak ada, semenjak lo selalu menyakiti hati gue dan jalan sama cewek-cewek lain," Alexa mengeluarkan unek-unek di hatinya. Dia benar-benar lega bisa bicara seperti ini pada Daniel. Dan Alexa harap, Daniel tak akan egois lagi, lalu berhenti mengakui dirinya sebagai pacarnya.
Daniel menatap Alexa dengan tatapan tajamnya. Daniel tak pernah suka jika Alexa meminta pisah, bagi Daniel, Alexa akan tetap jadi pacarnya, bagaimana pun itu keadaannya.
"Apa lo bilang? omongan lo itu merujuk pada kata pisah," balas Daniel dengan suara dinginnya.
"Terus lo pikir gue mau?" tanya Daniel lagi.
"Jawabannya enggak!! Gue gak akan pernah mau lo ajak pisah. Mau sebanyak apa pun cewek yang jalan sama gue, lo tetap pacar gue. Itu uda ketentuan sejak awal, dan gak akan pernah bisa diubah. Siapa pun gak akan pernah bisa merubah itu. Lo bakalan tetap jadi milik gue, selamanya," Daniel bicara dengan nada dinginnya. Jika sudah seperti itu, maka itu pertanda kalau Daniel sudah marah.
Mendengar kata-kata Daniel, rasanya hati Alexa mencolos. Dia benar-benar seperti wanita bodoh yang diinginkan hanya karena keegoisan saja.
Alexa membuka matanya, lalu dia langsung duduk dengan tegap.
Alexa menatap Daniel dengan tatapan tajam nan seriusnya.
"Lo pikir lo siapa, hah?" tanya Alexa pelan pada Daniel.
"Lo pikir lo siapa? Emang lo sebegitu berharganya buat gue, hah?" tanya Alexa kembali, tapi Daniel diam, dia tak menjawab apa pun. Daniel hanya balas menatap Alexa dengan tatapan seriusnya.
"Enggak ... bahkan lo gak penting lagi di hidup gue, Daniel. Lo gak berarti lagi di hidup gue. Gue selalu minta putus sama lo, tapi lo yang selalu bersikukuh gak mau pisah sama gue," Alexa menjada ucapannya.
"Dari situ, nampak kan siapa yang berharap dan gak bisa move on?" tanya Alexa pada Daniel.
"Lo yang berharap sama gue, dan lo yang gak bisa ngelupain gue. Lo itu seperti orang yang bodoh, uda ditolak tapi maksa. Kentara sekali kalau lo gak laku, mungkin cewek-cewek yang lo ajak jalan selama ini gak mau jadi pacar lo, mereka cuma mau sama harta lo aja. Itu sebabnya lo gak mau mutusin gue, lo gak mau jadi jomblo kan?" tanya Alexa pada Daniel.
Alexa tertawa sarkas, "Itu namanya lo gak laku!! lo ngarep sama gue, sementara gue benar-benar gak mau lagi sama lo. Hidup lo kok gitu banget sih, miris banget tau gak?" Alexa menampakkan senyum jahatnya.
Wajah Daniel memerah, emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Alexa berhasil membuat dirinya emosi, "En-"
"Apa?" tanya Alexa dengan tatapan remehnya.
"Lo mau pembelaan diri?" tanya Alexa lagi.
"Tapi sayangnya, walaupun lo membela diri, gue tetap nganggap lo sama kok," Alexa mendekati Daniel.
Alexa mendekati wajah Daniel, dia menatap Daniel dengan tatapan seriusnya, "Lo tetap gak berarti di mata gue. Lo tetap jadi orang yang gak pernah gue cintai. Dan mulai detik ini, kita putus!!" Setelah mengatakan itu, Alexa langsung pergi meninggalkan Daniel. Alexa menuntun cepat sepedanya, dia tak ingin lagi mendengar kan Daniel.
"Alexa!!" panggil Daniel berteriak.
Semakin dipanggil Daniel, Alexa semakin mempercepat jalannya. Dia benar-benar tak ingin lagi berurusan dengan Daniel. Ini cukup jadi yang terakhir, dia tak ingin Daniel masuk ke dalam kehidupannya kembali.