Ini Bukan Mimpikan?

1196 Kata
"Jam segini, gue harus ngantar koran nih ke kafe. Uda telat juga, deg-degan gue, takut dipecat," Alexa sedang mengayuh sepedanya dengan cepat. Keringat bercucuran dari dahinya, tapi Alexa tak pernah memperdulikannya. Yang ada dalam pikiran Alexa saat ini adalah cepat sampai, supaya bos kafe tidak komplain dan Alexa tidak diganti. Pengantar koran yang dulu di seruduk kambing itu tidak bekerja lagi. Dia lebih memilih menjadi tukang sate kambing, pasalnya dia sangat benci dengan kambing. Oleh karena itu dia memilih jadi tukang sate, agar dia bisa menyalurkan dendamnya dengan memotong-motong daging kambing lalu memanggangnya. Selain bisa menyalurkan dendamnya terhadap kambing, dia juga merasa diuntungkan karena dapat balasan yang lebih, yaitu pemasukan uang yang lebih banyak. Alexa sudah ngos-ngosan, dia benar-benar sangat lelah, mengayuh sepeda dengan kecepatan ekstra membuat tenaganya terkuras semua. "Hufttt ... akhirnya, akhirnya sampai juga," Alexa memarkirkan sepedanya di tempat parkir paling pojok. Alexa menentang koran yang harus dia setor ke kafe ini. Dengan cepat Alexa langsung bergegas masuk ke dalam kafe, bahkan Alexa tak melihat ke kanan kiri lagi, Alexa hanya fokus ke depan, tujuannya ke ruangan bos kafe. "Alexa!!!" Alexa yang sedang berjalan cepat karena terburu-buru langsung mengerem langkah kakinya. Dia berhenti sejenak. "Alexa ..., sini!!" seorang lelaki melambaikan tangannya pada Alexa. Alexa menyipitkan matanya, dia tak begitu jelas melihat wajah lelaki itu. Karena tak sabar melihat Alexa yang hanya diam saja, lelaki itu langsung bangkit dari duduknya, dia langsung mendatangi Alexa. "Lo ngapain disini? Ayo gabung dulu sama gue, uda lama kita gak ngobrol bareng," lelaki itu menarik tangan Alexa, membawa Alexa menuju mejanya. "Daniel," ujar Alexa dalam hati. Saat ini Alexa hanya bisa diam seperti patung, karena rasa keterkejutannya Alexa masih tetap diam saat Daniel menyeretnya dan membawanya ke meja Daniel. Daniel kembali duduk di dekat seorang wanita yang sejak tadi ada bersamanya. "Duduk dong, Alexa. Lo ngapai berdiri? Gak capek apa berdiri terus?" Daniel menyuruh Alexa untuk duduk. Tapi Alexa masih tetap diam, dia masih diam mematung, Alexa sulit mencerna keadaan. "Dia siapa, Daniel?" tanya seorang gadis yang sejak tadi ada bersama Daniel. "Ini Alexa, sayang. Ini Alexa, pacar aku," Daniel memperkenalkan Alexa pada gadis yang ada bersamanya. Gadis itu memandang Alexa dengan tatapan seriusnya, memandang Alexa dari atas sampai bawah. Gadis itu menaikkan satu alisnya, "Kamu yakin ini pacar kamu, Daniel? tanya gadis itu meyakinkan Daniel. Daniel teranyarnya padanya, lalu kemudian Daniel langsung mengangguk, "Iya, Nada sayang. Ini Alexa, pacar aku," jawab Daniel dengan yakin. "Emang kenapa? kok kamu seperti gak yakin gitu kalau Alexa ini pacar aku," Daniel bertanya pada Nada. Nada langsung menatap remeh ke arah Alexa, "Ya enggak cocok aja gitu, kayak gembel sih lebih tepatnya. Pantas aja kamu lebih memilih aku dari pada dia," jawab Nada tanpa rasa bersalah sedikit pun. Alexa diam, dia sadar saat Nada mengatai dirinya gembel dan tidak cocok untuk Daniel. Alexa menatap tajam ke arah Daniel dan Nada. "Gue bukan pacar Daniel, dan gue bukan siapa-siapa Daniel," ujar Alexa dengan dingin tanpa ekspresi wajah. Daniel yang mendengar ucapan Alexa langsung tak terima. Dia tak pernah menerima jika Alexa tak lagi menganggap dirinya sebagai pacar. "Alexa," tegur Daniel pada Alexa. "Lo pacar gue, dulu, hari ini, dan selamanya. Gue gak suka penolakan. Kalau gue bilang lo pacar gue, ya lo emang pacar gue, gak ada acara sok nolak dan sok kecantikan, pakai nolak-nolak segala," Daniel menatap mata Alexa dengan tajam. Alexa tersenyum miring, "Apa? lo bilang gue pacar lo? Gak salah tuh? Kok demen banget sih lo ngaku-ngaku, seenggak laku itu ya lo, sampai-sampai ngaku jadi pacar gue yang katanya gembel," Alexa menekan kata gembel sambil menatap tajam ke arah Nada. "Ehhh ... biasa aja dong, lo. Gembel jangan songong! Lo gak pantas mandang gue gitu, lo jauh di bawah gue, seharusnya lo sadar diri!" Nada yang kesal melihat Alexa langsung menyambar, dia tak suka kalau Alexa menatapnya seperti itu. Menurut Nada, Alexa itu sombong, merasa sok cantik, padahal Alexa buruk rupa. Baru dianggap pacar oleh Daniel saja sudah belagu. "Kenapa? ada yang salah?" tanya Alexa menantang. "Sayangg ... liat itu pacar kamu, dia kasar banget sih sama aku. Aku gak suka, sayang. Marahi dia, dia itu benar-benar jahat julid dan sinis banget liat akunya," Nada merengek-rengek seperti anak kecil pada Daniel. Dia meminta Daniel untuk membelanya dan memarahi Alexa. Daniel yang dapat pengaduan dari Nada, langsung saja memeluk Nada dengan sayang, Daniel juga langsung mengelus puncak kepala Nada dengan lembut. "Iya, sayang. Dia emang gitu orangnya, songong dan suka iri. Apalagi sama wanita cantik seperti kamu ini. Dia pasti itu banget, makanya dia gak suka liat kamu," Daniel berusaha menenangkan Nada. Mata Alexa membelalak lebar, kilatan amarah terpancar jelas di mata Alexa. "Heh cowok b******k!!!" Alexa membentak Daniel. "Lo ngaku-ngaku jadi pacar gue, dan sekarang lo ngatain gue--" "Lo waras?" lanjut Alexa dengan ketus. "Menurut gue lo emang uda kena gangguan jiwa. Dan menurut gue, lo yang ngefans sama gue, lo yang ngaku-ngaku jadi pacar gue, gue enggak tuh" Alexa bicara dengan sangat percaya diri. "Heh cewek gembel!!" tiba-tiba Nada langsung berdiri dan membentak Alexa. "Lo pikir lo siapa, hah? gaya bicara lo songong banget! Padahal lo cuma gembel! Gak lebih!!" lanjut Nada memaki Alexa. Daniel ikut berdiri, dia langsung memeluk Nada, berusaha menenangkan Nada supaya tidak larut dalam emosi. "Udah-udah, sayang. Jangan dilanjutin. Pacar aku itu emang gitu, suka gak tau diri, padahal harusnya dia bersyukur punya pacar seperti aku, bukannya gak tau diri gitu," Daniel mengelus-elus pundak Nada, berharap kalau Nada bisa tenang mengintrogasi emosinya. Alexa diam, rasa malu, kesal, sedih, sakit hati, marah, bercampur aduk di dalam hatinya. Alexa menatap Daniel dan Nada dengan tatapan bencinya, "Lo berdua emang baj-" "Ada apa ini?" tiba-tiba seseorang langsung merangkul Alexa dari belakang. Alexa yang terkejut refleks langsung berusaha melepaskan rangkulan orang yang tak dikenalnya ini. Tapi orang itu cukup kuat, dia menahan Alexa supaya tidak melepaskan rangkulannya. Kilatan amarah langsung terpancar dari mata Daniel, "Lo siapa?!! lepasin tangan lo dari pacar gue!!" bentak Daniel pada orang itu. Orang itu menaikkan sebelah alisnya, "Pacar?" tanyanya pada Daniel. "Apa saya tidak salah dengar? Bukannya pacar kamu itu yang saat ini sedang kamu peluk?" tanya orang itu pada Daniel. Pertanyaan orang itu langsung menohok di hati Daniel, dan dengan cepat Daniel melepaskan pelukannya pada Nada. "Lepasin tangan lo dari pacar gue!!" bentak Daniel pada orang itu. "Dia bukan pacar kamu," balasnya dingin. "Dia calon istri saya," lanjutnya kemudian. Mata Alexa langsung membelalak lebar saat mendengar ucapan orang yang sedang merangkulnya saat ini. Karena penasaran, Alexa langsung menoleh untuk melihat wajah orang itu. Alexa menelan ludahnya saat mengetahui siapa orang yang saat ini sedang merangkulnya, "B-B-Brayn ...," ujar Alexa terbata-bata. Brayn tetap tenang, dia bahkan tak melihat Alexa sama sekali. Mata Brayn tetap fokus menatap tajam ke arah Daniel. "Saya ingatkan sekali lagi, dia bukan pacar kamu. Dia adalah calon istri saya, Alexa," ucap Brayn dengan tegas. "Dan karena kamu sudah membuat keributan di kafe ini, silahkan kamu keluar dari sini. Karena ini kafe milik saya, saya gak suka melihat pengunjung yang memancing keributan di kafe saya. Kamu membuat pelanggan lain tidak nyaman." Setelah mengatakan itu, Brayn langsung membawa Alexa pergi dari tempat itu. Alexa yang dibawa Brayn pergi begitu saja hanya bisa diam melongo, "Ini bukan mimpi kan?" tanya Alexa dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN