Jadi Calm Sehari

1101 Kata
Flashback on, Alexa diam, rasa malu, kesal, sedih, sakit hati, marah, bercampur aduk di dalam hatinya. Alexa menatap Daniel dan Nada dengan tatapan bencinya, "Lo berdua emang baj-" "Ada apa ini?" tiba-tiba seseorang langsung merangkul Alexa dari belakang. Alexa yang terkejut refleks langsung berusaha melepaskan rangkulan orang yang tak dikenalnya ini. Tapi orang itu cukup kuat, dia menahan Alexa supaya tidak melepaskan rangkulannya. Kilatan amarah langsung terpancar dari mata Daniel, "Lo siapa?!! lepasin tangan lo dari pacar gue!!" bentak Daniel pada orang itu. Orang itu menaikkan sebelah alisnya, "Pacar?" tanyanya pada Daniel. "Apa saya tidak salah dengar? Bukannya pacar kamu itu yang saat ini sedang kamu peluk?" tanya orang itu pada Daniel. Pertanyaan orang itu langsung menohok di hati Daniel, dan dengan cepat Daniel melepaskan pelukannya pada Nada. "Lepasin tangan lo dari pacar gue!!" bentak Daniel pada orang itu. "Dia bukan pacar kamu," balasnya dingin. "Dia calon istri saya," lanjutnya kemudian. Mata Alexa langsung membelalak lebar saat mendengar ucapan orang yang sedang merangkulnya saat ini. Karena penasaran, Alexa langsung menoleh untuk melihat wajah orang itu. Alexa menelan ludahnya saat mengetahui siapa orang yang saat ini sedang merangkulnya, "B-B-Brayn ...," ujar Alexa terbata-bata. Brayn tetap tenang, dia bahkan tak melihat Alexa sama sekali. Mata Brayn tetap fokus menatap tajam ke arah Daniel. "Saya ingatkan sekali lagi, dia bukan pacar kamu. Dia adalah calon istri saya, Alexa," ucap Brayn dengan tegas. "Dan karena kamu sudah membuat keributan di kafe ini, silahkan kamu keluar dari sini. Karena ini kafe milik saya, saya gak suka melihat pengunjung yang memancing keributan di kafe saya. Kamu membuat pelanggan lain tidak nyaman." Setelah mengatakan itu, Brayn langsung membawa Alexa pergi dari tempat itu. Alexa yang dibawa Brayn pergi begitu saja hanya bisa diam melongo, "Ini bukan mimpi kan?" tanya Alexa dalam hati. Flashback off. "Masuk," Brayn memerintah Alexa untuk masuk ke dalam mobilnya. Bukannya masuk, Alexa malah diam, dia sibuk melamun, matanya fokus memandang Brayn. Alexa masih belum percaya kalau ini adalah sebuah kenyataan. Brayn mendengus kesal, dia sangat benci menunggu. "Masuk!!" bentak Brayn sedikit kuat. Alexa langsung terlonjak kaget karena bentakan suara Brayn yang cukup keras. "Ehh ... iya, ada apa? gimana, eumm ... maksudnya apa ya?" Alexa salah tingkah, dia sampai malu untuk menatap wajah Brayn lagi. Brayn menatap tajam ke arah Alexa, "Masuk!!" bentak Brayn sekali lagi. Alexa masih sama, dia tetap terlonjak kaget, tapi kali ini Alexa tak bersikap bodoh lagi, dia langsung masuk ke dalam mobil Brayn. Melihat Alexa sudah masuk ke dalam mobil, Brayn langsung ikut masuk ke dalam mobil dan Brayn langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hening, suasana itu lah yang bisa digambarkan saat ini. Keadaan dalam mobil Brayn benar-benar hening. Tak ada suara sedikit pun yang terdengar. Alexa menoleh ke samping, dia melihat Brayn yang sedang fokus menyetir. "Duhhh ... ganteng banget dia woy, gue jadi terpesona. Siapa pun tolong gue!! Jantung gue mau copot!!" Alexa berteriak histeris dalam hati. Alexandre tersenyum, "Gile aja, gak nyangka gue kalau dia bilang ke Daniel gue calon istrinya," ujar Alexa dalam hati. "Eumm ... Bray-, ehh mas Brayn maksudnya," Alexa sedikit bingung ingin memanggil Brayn dengan sebutan apa. "Makasih ya mas, uda mau belain aku tadi," Alexa berterimakasih pada Brayn. Setelah Alexa pikir-pikir, Brayn itu lebih tua darinya, oleh sebab itu Alexa harus lebih sopan dalam memanggil Brayn, bisa saja nanti Bryan kabur hanya gara-gara dirinya kurang sopan. Brayn menaikkan sebelah alisnya, "Mas?" tanya Brayn pada Alexa, tanpa melirik ke arah Alexa sama sekali. "Kamu pikir saya anak mama kamu apa? jangan sok dekat kamu." Jlebbb ... Rasanya hati Alexa seperti tertusuk ribuan pisau tajam. Dirinya yang sejak tadi sedang terbang dengan bunga-bunga indah karena ulah Brayn di kafe tadi, tiba-tiba langsung jatuh begitu saja. Sakit. Satu kata yang menggambarkan perasaan Alexa saat ini. Alexa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia sudah kalah malu, tapi dia harus tetap mencoba berjuang demi cintanya akang Brayn. "Hehe ... maaf, tapi kan kamu lebih tua dari aku, jadi wajar dong kalau aku panggil kamu dengan sebutan mas," Alexa tertawa paksa. "Lagi pula aku cuma mau ngucapin makasih aja kok. Mungkin kalau tadi kamu gak datang dan bilang ke Daniel aku adalah calon istri kamu, aku gak tau aku bakalan jadi apa disana tadi," sambung Alexa kemudian. "Jangan kepedean kamu ya. Saya ngelakuin itu tadi cuma sebatas kasihan saja. Saya kasihan sama kamu sebagai cewek yang gak dianggap. Saya juga gak mau kalau nanti pas di pernikahan saya sama kamu, banyak isu-isu buruk tentang kamu. Itu bisa mempengaruhi citra saya sebagai pengusaha muda yang selalu disegani oleh semua orang." Brayn menjelaskan alasan mengapa dia membela Alexa tadi, tanpa melihat ke arah Alexa sama sekali. Pandangan Brayn tetap fokus pada jalan. Glekkk ... Alexa menelan ludah saat mendengar penjelasan Brayn tadi. Alexa memang sudah menjelma sebagai wanita kuat yang tak malu-malu. Tapi insiden bersama Daniel tadi membuat mentalnya down. Alexa juga sedikit belum terbiasa dengan sikap dingin dan galaknya Brayn. Sejak mendengar penjelasan Brayn yang menyakitkan itu Alexa hanya bisa diam. Brayn memang pandai membuatnya diam seribu bahasa. Sepanjang perjalanan Alexa dan Brayn hanya diam. Lebih tepatnya Alexa tak ingin banyak omong lagi. Mentalnya belum siap untuk menerima kata-kata yang menusuk dari Brayn lagi. Hari ini cukup, dia akan menjadi wanita lembut dan kalem sehari. Besok baru ia akan menjelma menjadi wanita yang kuat, blak-blakan, dan tak malu-malu lagi. "Ehhh!!! lupa!!! ada yang yang ketinggalan!!! ada yang ketinggalan!!!" Alexa berteriak histeris. Hari ini, saat Alexa memilih menjadi wanita lemah lembut nan kalem sehari, kebodohan dan kecerobohan Alexa malah kumat kembali. Brayn yang sedang menyetir tak terganggu sama sekali, dia tetap tenang dan fokus pada jalanan. "Mas Brayn!! ada yang lupa! ada yang ketinggalan!! ayo balik lagi!!! tamat lah riwayat aku!!!" Alexa berteriak histeris sambil memegangi kepalanya yang rambutnya sudah acak-acakan. "Apa?" tanya Brayn singkat dengan pandangan lurus ke jalanan. "Sepeda aku ketinggalan di kafe itu. Mampus dehh ... gak bisa dagang lagi aku. Duhhh ... gimana nih?" Alexa benar-benar sangat cemas, sejak tadi dia sudah grusah-grusuh tak tenang. Brayn memutar bola matanya malas, "Uda diamankan sama pegawai saya," ujar Brayn tenang. Alexa mengerutkan dahinya bingung, "Hah? pegawai? maksudnya pegawai apaan? sepeda aku ketinggalan di kafe tadi, bukan di kantor kamu." "Kafe itu punya saya, semuanya sudah aman," Brayn menjelaskan pada Alexa dengan raut datarnya. Alexa melotot dengan mata besarnya, "Hah? serius itu punya kamu?" tanya Alexa yang masih belum yakin. "Apa menurut kamu saya bercanda?" Brayn kembali bertanya tanpa memandang wajah Alexa. "Ya ampun!!! Jadi selama ini tuh bos aku calon suami sendiri. Astatangg ... gak nyangka bener ihh," Alexa tersenyum lebar pada Brayn. "Tebakan gue bener kan, kalau kampungan bakalan tetap kampungan," ujar Brayn dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN