Sebentar Lagi Sold Out

1624 Kata
Hari ini Brayn ada rapat di kantornya. Dia juga ada misi lain yang akan dijalankannya. Brayn tetap fokus pada kegiatan menyetirnya. Tak lupa sesekali mata Brayn juga melihat ke kanan dan ke kiri. "Mereka dimana sih? Kok gak keliatan, padahal hari ini gue ingin mengakhiri semua drama ini," mata Brayn memandang awas ke arah kanan dan kiri jalanan. Entah apa yang dicarinya, tapi yang pasti itu adalah hal penting bagi Brayn pastinya. "Perasaan mata gue juga uda pegal deh dari tadi. Mata gue uda gue paksa liat ke arah luar, tapi tetap aja mereka gak keliatan," Brayn kesal sendiri. Lampu hijau berubah menjadi lampu merah, pertanda kalau Brayn harus memberhentikan mobilnya sejenak. Brayn memberhentikan mobilnya. Seraya menunggu lampu merah berubah menjadi hijau kembali, Brayn sedang sibuk dengan kegiatan memainkan ponselnya. "Koran ... koran ... koran ..., bapak ibu beli korannya," mendengar suara tukang jualan koran, Brayn langsung segera meninggalkan kegiatannya dengan ponselnya. Matanya langsung mencari-cari keberadaan sang penjual koran. Suara helaan nafas terdengar jelas saat Brayn menangkap sesosok penjual koran wanita yang berdiri tak jauh dari mobilnya, "Lahh ... ternyata bukan dia. Gue salah orang lagi," raut wajah kecewa terpampang jelas di wajah Brayn. Setelah mengetahui kalau penjual koran itu bukan yang dicarinya saat ini, Brayn langsung kembali melihat ponselnya. Dia kembali menyibukkan diri dengan ponselnya. Tak berapa lama Brayn sibuk dengan kegiatan memainkan ponselnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan di mobil Brayn. Tokk ... tokk ... tokk ... Karena malas, Brayn tak membuka kaca mobilnya. Dia tetap dengan kegiatannya saat ini, memainkan ponsel dengan serius. Tokk ... tokk ... tokkk ... Ketukan itu kembali terdengar, membuat pendengaran Brayn benar-benar terganggu. Karena tak suka, Brayn memutuskan ingin memaki orang yang sedang mengetuk kaca mobilnya dari luar. Brayn membuka kaca mobilnya dengan cepat, "Lo apa-apaan s-" Ucapan Brayn tepotong saat melihat siapa yang sudah mengetuk pintu mobilnya dari luar. "Lo?" mata Brayn sedikit menatap tajam ke arah orang itu. Bukannya takut ditatap tajam oleh Brayn, orang itu malah senyum-senyum sendiri. Dia menunjukkan senyum lebarnya pada Brayn. "Hallo, mas-- ehh, Pak Brayn," Alexa melambaikan tangannya di depan wajah Brayn. "Mau beli bunga? mau dong ya pastinya. Bunganya masih segar-segar semua loh. Bunganya masih wangi-wangi gitu, bisa buat hati kesem-sem deh pokoknya. Harganya juga murah meriah loh, kalau untuk sekelas bapak ini, harganya mah seujung kuku doang," Alexa mulai nyerocos panjang kali lebar. Ilmu marketing yang dipelajarinya secara otodidak kini sedang digunakannya untuk merayu Brayn. Brayn menghela nafasnya kesal, sejak tadi tangannya terus mengelus telinganya yang sejak tadi sakit, sakit karena mendengarkan ucapan Alexa yang menurutnya gak jelas. "Pak, ayolah dibeli. Beli satu juga gak apa-apa kok, walaupun satu juga uda berguna buat orang rendahan seperti aku," Alexa merendah, mungkin saja jika sudah merendah seperti ini Brayn akan memborong semua dagangannya. "Dimana mama dan anak saya?" Brayn menatap tajam ke arah Alexa. Alexa sedikit terkejut saat Brayn tiba-tiba bertanya seperti itu padanya. "Lo pasti tau kan keberadaan mama dan Bella. Dan gue juga yakin, mama dan Bella pasti sering menghubungi lo. Ayo cepat beritahu ke gue keberadaan mama dan Bella. Gue lagi cari keberadaan mereka," Brayn mendesak agar Alexa menjawab pertanyaannya. Alexa yang tampak bingung dan bimbang antara memberitahu atau tidak pun hanya bisa diam dengan wajah bodohnya. "Kenapa lo diam aja? gue yakin kalau lo tau dimana mama dan Bella. Ayo kasih tau, gue mau ketemu sama mama dan anak gue," Brayn terus mendesak Alexa. Alexa bingung, karena didesak Brayn, Alexa langsung panik. Dia tak tahu ingin menjawab apa pada Brayn. "Habis lah gue, gue gak tau mau jawab apa ke ini orang. Gue gak tau juga mau kasih tau atau enggak. Nanti kalau gue kasih tau gue dimarahi lagi sama tante Alice. Restu orang tua kan yang paling penting," Alexa menggerutu dalam hatinya. "Woyy!!" "Ehh iya," Alexa terkejut, dia kembali melihat ke arah Brayn yang sudah mengejutkannya. "Dimana mama dan Bella? Apa susahnya sih tinggal kasih tau ke gue? Kenapa lo nahan-nahan buat kasih info ke gue? Gue cuma mau nemuin mama dan anak gue, gak ada salahnya kan?" tanya Brayn ke Alexa. Alexa langsung menggelengkan kepalanya dengan otomatis. "Kalau begitu sekarang lo harus kasih tau dimana keberadaan mama dan Bel-" Tinn ... tinnnnn ... tinnn ... Tanpa Brayn sadari, ternyata lampu merah sudah berganti kembali menjadi lampu hijau. Semua mobil yang ada di belakangnya kini langsung mengklakson Brayn degan bersamaan. Alexa juga terkejut, dia langsung pergi berlari meninggalkan Brayn. Brayn masih menyempatkan melihat kepergian Alexa, matanya juga langsung membulat sempurna saat menatap ke arah kanannya. Setelah melihat itu, dengan cepat Brayn langsung melajukan mobilnya. Setelah semua pengendara yang ada di belakangnya lewat, Brayn kembali memutar arah, dia melajukan mobilnya ke tempat yang pada saat tadi dia melihat sesuatu. Brayn menelan ludahnya, matanya tak lekat menatap dua orang yang sedang memulung di pinggir jalan itu. "Itu mereka, itu mama dan Bella," Brayn langsung membuka pintu mobilnya, lalu dengan cepat Brayn langsung berlari mengejar mama dan anaknya. "Mama!!!" Brayn langsung memeluk mamanya yang saat ini sedang berpenampilan beda dengan daster compang campingnya. "Mama kenapa sih kabur dari rumah? mama ngapai disini? duit kita banyak, melimpah ruah, ngapain harus jadi pemulung? kalau mau jadi pemulung, jadi pemulung elit aja di rumah, mulung uang-uang kita yang berlimpah itu," Brayn sedikit kesal melihat mamanya ini. Kenapa dengan kekanak-kanakannya mamanya kabur dari rumah. Dan lihat lah ini, bulannya menjadi lebih baik, mamanya malah menjadi semakin buruk. Brayn beralih melihat ke arah Bella yang sedang menunduk. Brayn menghampiri Bella, lalu dengan cepat Brayn langsung memeluk Bella. "Bella juga, Bella ngapai sih pake acara minggat-minggat segala? katanya mau ke mall, tapi nyatanya malah minggat entah kemana. Buat daddy khawatir dan cemas aja," Brayn mengelus puncak kepala Bellla. Brayn mengaku kalau dirinya salah, hati Bella yang masih kecil itu benar-benar lembut dan sensitif, jadi salah Brayn karena lepas kontrol dan langsung memerahi Bella. "Mama, Bella ... ayo pulang, ngapai di jalanan gini? kita punya rumah kan, ngapai di jalanan gini? ayo pulang," Brayn menarik tangan Alice dan Bella. Alice dan Bella diam saja, mereka tak ikut melangkahkan kaki mereka saat Brayn berjalan. Merasa mama dan anaknya tak ikut dengannya, Brayn langsung berhenti, dia menoleh ke belakang. "Ada apa lagi, ma? apa yang mau mama cari disini? udah ayo kita pulang," ajak Brayn pada Alice. Alice diam saja, dia tak merespon Brayn sama sekali. Brayn menghela nafasnya kasar, sesungguhnya Brayn sudah paham apa maksud dari mamanya ini. "Iya, aku setuju," ujar Brayn tiba-tiba. Alice langsung menatap ke arah Brayn, seolah-olah meminta pengulangan dan penegasan kalimatnya kembali. Brayn memutar bola matanya malas, "Iya aku setuju, aku setuju mama jodohkan." Brayn mengulang dan mempertegas ucapannya. Mata Alice langsung berbinar, dia langsung melompat-lompat kegirangan. Alice juga memeluk Brayn dengan penuh kegembiraan. "Yeee!!! akhirnya anak ku gak jomblo lagi, yee!!! ...," Alice bersorak gembira. Bella yang melihat omanya lompat-lompat juga langsung ikut lompat-lompat. "Yeee ... Bella punya mama baru, yeee ...," ujarnya sambil melompat kesenangan. Brayn tersenyum tipis saat melihat kebahagiaan terpancar jelas di wajah mama dan anaknya. "Bahagia mereka ternyata ini, gue rela deh kepaksa nikah demi mereka bahagia," ujar Brayn dalam hati. "Mama, Bella, uda dong. Diliatin banyak orang tau, uda yukk pulang. Aku juga masih banyak kerjaan," Brayn malu karena sejak tadi para pengguna jalan yang lewat memandang mereka dengan tatapan aneh. "Bentar ya, mama pamit sama calon mantu dulu," Alice menggandeng Bella, dia langsung menghampiri Alexa yang sedang menjajahkan dagangannya tak jauh dari tempat mereka berada. "Alexa ...," Alice dan Bella menghampiri Alexa. "Ehh tante, ada apa tante?" tanya Alexa yang tak tau apa-apa. "Kita berhasil!!! ayo kesana!" Alice langsung menarik Alexa dan Bella, dia membawa Alexa dan Bella ketempat Brayn berada. "Brayn, pamit dulu sama calon istri kamu." Brayn menatap kedatangan Alexa dengan wajah kusutnya. "Apa sih, ma? uda ah yuk pulang, jangan banyak basa-basi," Brayn langsung mengajak mamanya pulang. "Iya kita pulang, tapi kamu pamitan dulu sama Alexa, mama gak mau ikut pulang kalau kamu gak mau pamitan sama Alexa dulu," ancam Alice pada Brayn. Brayn berdecak kesal, mamanya ini memang benar-benar pandai membuatnya kesal. "Gue pulang," ujar Brayn singkat. Alice menaikkan sebelah alisnya, "Cuma gitu doang? ayo yang lebih romantis sedikit. Jangan malu-maluin mama deh kamu." Brayn mendengus kesal, kalau bukan karena ada rapat penting, Brayn tak akan mau menuruti kemauan mamanya ini. "Aku pulang dulu ya," ujar Brayn dengan senyum paksanya. Mendengar itu, Alexa langsung senyum-senyum sendiri. Tak bisa Alexa pungkiri kalau hatinya sedang deg-degan saat ini. "Nahh ... gitu dong," Alice tersenyum puas. "Daddy emang best," sambung Bella kemudian. Alice menatap Alexa penuh arti, "Alexa, tante pamit pulang dulu ya. Nanti tante akan kembali ke rumah kamu dengan membawa seserahan lamaran. Kamu tenang aja, kejombloan kamu akan berakhir sebentar lagi," Alice pami pada Alexa. Alexa terkekeh kecil, "Iya, tante, Alexa tunggu." "Kalau begitu tante, Bella dan Brayn pamit dulu ya. Hati-hati kamu disini," Alife memeluk Alexa singkat. Alexa memberikan senyum manisnya pada Alice, Bryan dan Bella. "Iya, tante. Tante hati-hati di jalan ya," balas Alexa ramah. "Bye aunty calon mama ...," Bella melambaikan tangannya pada Alexa. "Sampai jumpa di pelaminan. Bella kawal sampai halal kok," Bella tersenyum imut pada Alexa, menampakkan lesung pipinya yang membuatnya semakin manis. Alexa tersenyum pada Bella, Alexa langsung mengelus singkat puncak kepala Bella. "Iya, sayang. Hati-hati ya." Brayn sudah berjalan masuk ke dalam mobilnya terlebih dahulu. Lalu kemudian Alice dan Bella menyusul dengan tangan yang terus melambai-lambai pada Alexa. Tinn ... Brayn mengklakson sekalis saat mobilnya melaju meninggalkan Alexa sendirian. Setelah kepergian mobil Brayn, Alexa langsung lompat-lompat dan menari kegirangan. "Ye ... yee ... yee ... yee ... sebentar lagi gue sold out!! Bentar lagi jadi kaya!! Yuhuu ... syalalala ... tralalalala ... Asik-asik joss!" Alexa menggoyang-goyangkan tubuhnya tanpa rasa malu. Padahal saat ini dia sedang berada di pinggir jalan. "Akhirnya impian gue bentar lagi tercapai woyy!!" Alexa berteriak girang tanpa rasa malu sedikit pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN