"Brayn, hari ini kamu cuti dulu ya," Alice duduk di samping Brayn yang saat ini masih memakan sarapan paginya.
"Cuti gimana sih, ma? Cuti untuk apa? Aku uda rapih gini, uda siap-siap berangkat ke kantor kok di suruh cuti sih, mama ini aneh banget. Lagian untuk apa cuti coba? Gak ada hal yang penting juga," Brayn masih bingung dengan permintaan mamanya ini. Tumben sekali mamanya menyuruhnya untuk mengambil cuti.
"Ya cuti lah, kamu libur dulu hari ini yah. Gak ada rapat penting kan?" tanya Alice pada Brayn.
"Ya enggak sih, ma. Tapi libur untuk apa?" tanya Brayn lagi pada mamanya.
"Ya pokoknya kamu libur dulu lah hari ini, mama nanti jelasin ke kamu. Jangan ke kantor pokoknya. Mama mau antar Bella dulu, setelah antar Bella baru mama jelaskan sama kamu," Alice bangkit dari duduknya.
"Bella, ayo sayang. Kita berangkat sekolah. Nanti kamu telat lagi," Alice mengajak Bella untuk segera berangkat ke sekolah.
"Oma, Bella mau diantar sama daddy. Bella mau go to school with daddy. Boleh ya oma, kan Bella jarang diantar sama daddy. Padahal teman-teman Bella semua pada diantar daddy atau mommy mereka. Bella kadang suka iri," Bella menunduk lesu. Awalnya dia tak ingin mengatakan ini, tapi mau bagaimana lagi? Gejolak di hati Bella sudah menggebu-gebu. Bella ingin juga diantar oleh orang tuanya.
Alice menatap iba pada gadis kecil nan manis di hadapannya itu, "Kalau begitu tanya sendiri sama daddy kamu. Kalau daddy kamu mau antar kamu ke sekolah, kamu boleh pergi sama daddy," Alice menyuruh Bella sendiri yang meminta pada Brayn, sebab Bella dan Brayn belakangan ini terlihat sedikit renggang. Brayn sangat sibuk, dan Bella juga sedikit takut mengganggu Brayn, Bella tak ingin kena marah Brayn lagi.
Bella menatap Brayn yang ada di hadapannya dengan takut-takut, "Emmm ... dad, dad mau antar Bella go to school enggak?" tanya Bella takut-takut pada Brayn.
Brayn menatap Bella dengan tatapan seriusnya, sampai-sampai Bella mengalihkan pandangannya karena takut dengan sorot mata Brayn.
"Enggak," jawab Brayn dengan singkat.
Jlebbb ...
Rasanya hati Bella sakit sekali, seperti tertusuk ribuan anak panah yang tajam.
Bella menatap Brayn dengan mata yang berkaca-kaca, dan bibir yang sudah melengkung ke bawah.
"Enggak salah lagi!!! Daddy bakalan antar princess Bella go to school," Brayn tiba-tiba langsung bangkit menuju tempat duduk Bella. Dengan cekatan, Brayn langsung menggendong Bella.
"Mana mungkin sih dad nolak kamu, sayang. Kamu kan my princess yang benar-benar dad cintai, mana mungkin dad buat sedih orang yang dad cintai," Brayn mengelus puncak kepala Bella yang saat ini ada dalam gendongannya.
Bella memeluk erat tubuh Brayn, "Thanks daddy, i live you so much."
Cuppp ...
Bella mengecup singkat pipi Brayn di akhir ucapannya.
"Yaudah, dad. Ayo kita berangkat ke sekolah sekarang. Mau kapan lagi? Bella nanti telat," Bella mengajak Brayn untuk langsung pergi mengantarnya ke sekolah.
"Salim ke oma dulu dong," Brayn mendekatkan dirinya ke Alif, supaya Bella bisa menyalim Alice.
Bella menyalim tangan Alice, "Bella pergi dulu ya, Oma. Oma hati-hati di rumah, jangan rindu Bella. Bye Oma," Bella melambaikan tangannya pada Alice.
Alice tersenyum manis, "Iya, sayang. Belajarnya yang bagus ya, jangan main aja. Hati-hati di jalan," Alice mengelus puncak kepala Bella dengan lembut.
Brayn mengambil tas Bella yang tergeletak di atas sofa, lalu Brayn membawa Bella menuju mobilnya.
"Hati-hati, Brayn," peringat Alice pada Brayn.
"Iya, mama," sahut Brayn sambil berjalan keluar rumah.
Brayn menaruh Bella di depan agar dirinya lebih leluasa bercerita pada Bella.
Tinn tinnn
Brayn membunyikan klakson mobilnya saat mobilnya sudah keluar dari pekarangan rumahnya.
Brayn membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, tak perlu buru-buru, karena waktunya tidak mepet.
"Bella, Bella senang gak diantar sama dad ke sekolah?" tanya Brayn pada Bella.
Bella mengangguk cepat, "Ya senang dong, dad. Biar teman-teman Bella pada tau kalau Bella punya daddy yang tampan, soalnya Bella sering diejek gak punya daddy dan mommy," jawab Bella seraya curhat pada Brayn.
Brayn tersenyum miris, sebenarnya dia tak tega melihat anaknya ini yang selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya. Tapi mau bagaimana lagi? Bryan juga gak bisa berbuat lebih.
"Emang Bella pengen banget ya punya mommy?" tanya Brayn hati-hati pada Bella.
"Ya pengen banget lah, dad. Bella mau punya mami. Panggilnya mami aja, gak usah mommy," Bella menjawab dengan antusiasnya.
"Loh, kenapa gitu? Kan cocoknya daddy and mommy," balas Brayn.
"Gak apa-apa, dad. Mami lebih cocok untuk aunty Alexa. Aunty Alexa tuh galak-galak gitu, kayak Kanjeng Mami, jadi Bella panggilan mami aja, no mommy," Bella menjawab dengan apa adanya.
Brayn tersenyum geli, yang dikatakan Bella memang ada benarnya. Alexa itu wanita galak, frontal, dan tak punya rasa malu.
"Emang kamu mau kalau dad nikah sama aunty Alexa?" Brayn memancing Bella.
"Ya mau dong, dad. Galak-galak gitu aunty Alexa kan bidadari, baik tau," jawab Bella dengan polosnya.
Brayn menganggukkan kepalanya, sekarang dia sudah tau keinginan sang anak itu apa.
Beberapa menit Brayn dan Bella menghabiskan waktu untuk berbincang di perjalanan, saat ini mereka sudah sampai di sekolah Bella.
Brayn membuka pintu mobilnya, lalu dia keluar dan langsung membukakan pintu mobil untuk Bella.
"Thanks, dad," ucap Bella dengan manisnya.
"Ayo masuk, sayang," Brayn menuntut Bella menuju kelasnya. Kali ini Brayn akan mengantar Bella sampai ke dalam kelas.
"Oohh ... itu papanya Bella ya? Ternyata tampan banget ya, jarang kelihatan. Dari pakaiannya sih sepertinya bos, wajar aja sih kalau jarang ke sekolah Bella. Kan sibuk kerja,"
"Papanya Bella itu sendiri kan? Dengar-dengar Bella juga gak punya mama. Berarti papa Bella single daddy dong,"
"Wahhh ... pagi-pagi uda cuci mata aja, langsung dihadapkan sama yang hot-hot gini."
"Ehh itu Bella, papanya ganteng banget ihh ... mulai sekarang kamu harus baik ya sama dia, biar mama bisa dekat sama papanya,"
"Mass ... gila aja ya, tampan mu melewati batas,"
Kira-kira begitulah ocehan para ibu-ibu yang sedang mengantar anaknya juga. Mereka sangat histeris melihat Brayn dan Bella. Apa lagi dengan penampilan Brayn saat ini. Penampilan Brayn yang tegap tinggi dan berbadan proporsional dengan jas kantornya, rambut yang rapih, wajahnya yang putih cerah, bibirnya yang merah merona, kacamata mahal yang bertengger di hidung mancungnya, dan jam tangan mahal yang ada di tangannya. Semuanya membuat para ibu-ibu itu terpanah.
"Good morning, Bella," sapa guru Bella yang masih gadis dan terlihat cantik.
"Good morning, mis, Renata," balas Bella dengan senyum manisnya.
"Selamat pagi, pak," Renata tersenyum manis pada Brayn.
"Pagi," jawab Brayn simpel.
"Bapak itu orang tuanya Bella ya?" tanya Renata basa-basi pada Brayn.
"Iya, saya daddy-nya Bella," Brayn menjawab seadanya.
"Wahh ... mamanya Bella ada, pak?" tanya Renata lagi.
"Sok akrab sekali wanita ini," Brayn menggerutu dalam hati.
"Tidak, saya single," jawab Brayn datar.
"Wahhh beneran, pak? Ternyata kita sama ya, sama-sama lagi sendiri," Renata tersenyum sumringah saat mengetahui Brayn tak punya istri.
"Bapak tampan sekali, sama seperti Bella yang benar-benar cantik,"
"Ngomong-ngomong, kata orang-orang Bella mirip sama saya loh, pak. Kata orang-orang saya cocok jadi mamanya Bella," dengan tak tau malu Renata berbicara gamblang pada Brayn.
"Pagi-pagi gini gue uda digodain sama cewek-cewek kurang belaian. Astaga, bahaya sekali cewek-cewek ini," ujar Brayn kesal dalam hati.
"Bella, sayang. Dad mau pulang dulu ya, kamu yang baik-baik belajarnya," Brayn mengelus puncak kepala Bella dengan sayang. Dia mengabaikan apa yang dikatakan Renata tadi.
"Iya, dad. Dad hati-hati di jalan," Bella memeluk Brayn.
"Sini dad kiss dulu," Brayn sedikit berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Bella.
Cupp ...
"Bye, sayang. Dad pulang dulu ya," Brayn mencium Bella dengan sayang.
Renata yang menyaksikan itu hanya bisa senyum-senyum sendiri, melihat Brayn memperlakukan Bella dengan sangat manis, rasanya ia pun ingin diperlakukan seperti itu oleh Brayn.
"Wahh ... manis sekali, andai saya punya suami seperti bapak, pasti hidup saya akan sangat bahagia dengan anak seperti Bella yang melengkapi keluarga," ujar Renata tiba-tiba.
Brayn memutar bola matanya malas, "See you, Bella," tak memperdulikan Renata sama sekali, Brayn langsung pergi meninggalkan kelas Bella.
"Pagi-pagi gini uda ketemu banyak ulat bulu, bikin mood gue anjlok aja," Brayn menggerutu kesal sambil berjalan cepat menuju mobilnya. Ibu-ibu di sekolah Bella benar-benar ganas, bahkan mereka dengan terang-terangan menggoda Brayn.