Pagi-pagi Ajak Gelut

1012 Kata
"Loh, kenapa muka kamu? Kok cemberut gitu? Jelek loh kalau gitu," Alice bertanya pada Brayn yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut. "Parah banget tau, ma. Pagi-pagi uda banyak ulat bulu," Brayn mendudukkan dirinya di atas sofa. Alice menatap Brayn dengan wajah bingungnya, "Hah? Maksud kamu apa? Kamu ketemu ulat bulu dimana? Di mobil? Kok bisa sih mobil kamu ada ulat bulunya?" Alice bertanya-tanya dengan rasa penasarannya yang tinggi. Brayn mendengus kesal, "Iss mama ihh, bukan ulat bulu itu, ma," Brayn berdecak kesal karena Alice tak mengerti apa maksud perkataannya barusan. "Ya mama gak tau maksud kamu itu apa. Makanya kalau ngomong yang jelas jangan pake kiasan segala. Kamu mah ngomong bertele-tele, ini bukan belajar Bahasa Indonesia, jadi gak usah pake kiasan segala," Alice mengomel pada Brayn. Dia kesal karena tiba-tiba Brayn datang dengan wajah yang kusut, ditambah Brayn ditanya jawabannya malah tidak enak begitu. "Mama apaan sih? Kok malah ngomel gitu. Uda ah, malas banget aku, aku mau ke kamar aja," Brayn berdiri, dia ingin melangkah pergi menuju kamarnya. "Ehh stop!!!" Alice menarik tangan Brayn dengan cepat. "Apa lagi sih, ma?" tanya Brayn dengan nada lesunya. "Mau kemana sih kamu? Sini aja, duduk sama mama," Alice menarik Brayn hingga Brayn terduduk kembali di atas sofa. "Malas cerita sama mama, gak nyambung. Lebih baik aku tidur aja," Brayn melipat kedua tangannya di atas d**a, matanya memandang ke arah depan. "Ya ampun ... kamu kok gitu banget sih jadi anak? Mama salah ngomong dikit aja protesnya sampe segitunya. Alay banget sih," Alice tak habis pikir dengan Brayn, tak biasanya Brayn sebaperan ini. Brayn diam, dia memutar bola matanya malas. "Uda ayo ceritakan semuanya sama mama. Kenapa kamu bisa sekesal itu, ada apa emangnya," Alice berusaha membujuk Brayn agar mau bercerita padanya. "Mama ... tadi di sekolahan Bella banyak ulat bulu," Brayn mulai bercerita. Alice diam, dia tak ingin bertanya dulu lagi. Jika salah bicara, Brayn akan ngambek lagi. Karena tak dapat respon dari Alice. Dan hanya melihat Alice diam saja sambil memperhatikan bercerita, Brayn inisiatif untuk menjelaskan lebih detail pada mamanya. "Maksudnya itu tadi di sekolahan Bella banyak ibu-ibu yang godain aku loh, ma. Banyak ibu-ibu yang kayak ulat bulu, kegatelan. Aku aja jijik liatnya," Brayn menjelaskan pada mamanya. "Oalahhh ... jadi maksudnya kamu itu kamu digodain sama emak-emak yang ada di sekolahan Bella?" kini Alice mulai mengerti mengapa wajah anaknya cemberut sejak pulang mengantar Bella ke sekolah. "Iya mama, bahkan gurunya Bella tuh kegenitan juga sama aku. Dia terus terang godain aku. Apaan coba gitu, bukannya senang akunya, malah jijik liatnya," Brayn menggerutu kesal saat mengingat-ingat tingkah laku gurunya Bella pada dirinya tadi. "Hahahah ... aduhh ... lucu banget sih kamu, sumpah deh lucu banget. Seharusnya kamu bangga dong, bukan kesal. Itu tuh resiko punya wajah tampan tau, aneh kamu," Alice tertawa saat melihat ekspresi cemberut wajah anaknya itu. "Mama apaan sih?" tanya Brayn kesal. "Bukannya nanggepin yang bagus, malah ketawa-ketawa. Gak lucu tau, ma," Brayn memutar bola matanya malas. "Utuu tuuu tuu tuuu ... sayang anak mama, jangan ngambek lagi ya. Masa gitu aja ngambek sih, kan uda gedek, uda punya anak dan uda mau nikah," Alice mengelus puncak kepala Brayn dengan sayang. Brayn diam, dia tak ingin bicara. "Kok diam sih kamu? Sini peluk dulu, uda lama gak peluk mama kan," Alice memeluk anaknya itu. Awalnya Brayn menolak, tapi saat dipeluk Alice Brayn merasakan kenyamanan tersendiri. Dan akhirnya Brayn membalas pelukan Alice. "Gak nyangka banget ya bentar lagi kamu bakalan nikah. Bakalan jadi suami orang, bukan hanya jadi anak mama dan daddy-nya Bella lagi," Alice mengelus-elus punggung Brayn. Sejak kecil dulu, saat dipeluk Alice Brayn memang suka jika punggungnya dielus-elus oleh Alice. Kata Brayn, itu sangat nyaman, sentuhan mama paling oke. "Ya itu makanya, ma. Jangan nikahin aku aja. Aku jadi anak mama aja lah, gak mau jadi suami orang," balas Brayn seperti anak kecil yang memohon pada mamanya. "Enak aja, enggak boleh lah. Kamu mah terus ngomong gitu. Gak boleh lah, kamu tetap harus menikah. Mama mau berbagi kamu kalau sama Alexa, kalau sama yang lain mama gak mau," ujar Alice tegas. "Jadi mama rela kalau aku nikah sama Alexa? Entar yang kuasai waktu aku tuh Alexa loh, bukan mama lagi," Brayn berusaha menakut-nakuti mamanya. "Ya rela banget lah, mana mama takut. Kan Alexa itu tim mama dan Bella, kita tuh satu tim tau, bukan musuhan," balas Alice dengan yakin. Brayn melepaskan pelukannya pada mamanya, lalu dia menghela nafasnya pasrah. "Uda sana pergi," Alice menyuruh Brayn untuk pergi. Brayn mengerutkan dahinya bingung, "Pergi? Pergi kemana sih, ma? Mama ngusir aku?" tanya Brayn heran. "Ishh bukan. Mana mungkin mama ngusir kamu," Alice mengibaskan tangannya. "Sana pergi jemput Alexa, ajak Alexa jalan-jalan. Kamu dan Alexa harus lebih saling mengenal satu sama lain." "Enggak ah, gak mau. Aku juga uda kenal sama dia kok. Lagi pula dia juga uda kenal sama aku. Untuk apa lagi kenalan? Entar kalau uda nikah juga bakalan kenal, ya kali gak kenal-kenal," Brayn menolak mentah-mentah perintah mamanya itu. "Brayn ... maksudnya mama itu bukan gitu. Maksudnya mama itu agar kalian mengenal sifat masing-masing, agar kalian tau apa yang disukai dan tidak disukai dari pasangan kalian. Agar lebih dekat Brayn, supaya lebih menimbulkan kasih sayang dan cinta diantara kalian," Alice berusaha menjelaskan pada Brayn. Brayn ini memang payah sekali jika disuruh bertemu perempuan. "Aku gak suka semuanya dari dia. Fix deh gak suka, tapi tetap aja dijodohin. Terus aku mau gimana?" tanya Brayn sedikit kesal. "Braynn ... kita uda pernah bicara ini, oke. Kamu dan Alexa memang harus menikah. Kalian juga harus ada jalan bareng agar bisa lebih mengenal satu dengan lainnya," Alice mulai kesal, nada bicaranya mulai tak enak. "Terserah mama deh, aku uda pasrah. Mau disuruh apa aja aku ikut aja, apalah daya ku coba, aku yang punya badan, mama yang mengendalikan," Brayn tersenyum miris. "Ehh, enak aja kamu ngomong gitu. Selama ini kamu suka-suka hati kamu aja mau hidup bagaimana ya. Sekarang mama cuma mau atur perjodohan kamu, itu juga demi kebaikan hidup kamu," Alice tak terima dikatakan seperti itu. Brayn memutar bola matanya malas, "Pagi-pagi aja uda ngajak gelut," ujarnya kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN