"Uda sana pergi," Alice menyuruh Brayn untuk pergi.
Brayn mengerutkan dahinya bingung, "Pergi? Pergi kemana sih, ma? Mama ngusir aku?" tanya Brayn heran.
"Ishh bukan. Mana mungkin mama ngusir kamu," Alice mengibaskan tangannya.
"Sana pergi jemput Alexa, ajak Alexa jalan-jalan. Kamu dan Alexa harus lebih saling mengenal satu sama lain."
"Enggak ah, gak mau. Aku juga uda kenal sama dia kok. Lagi pula dia juga uda kenal sama aku. Untuk apa lagi kenalan? Entar kalau uda nikah juga bakalan kenal, ya kali gak kenal-kenal," Brayn menolak mentah-mentah perintah mamanya itu.
"Brayn ... maksudnya mama itu bukan gitu. Maksudnya mama itu agar kalian mengenal sifat masing-masing, agar kalian tau apa yang disukai dan tidak disukai dari pasangan kalian. Agar lebih dekat Brayn, supaya lebih menimbulkan kasih sayang dan cinta diantara kalian," Alice berusaha menjelaskan pada Brayn. Brayn ini memang payah sekali jika disuruh bertemu perempuan.
"Aku gak suka semuanya dari dia. Fix deh gak suka, tapi tetap aja dijodohin. Terus aku mau gimana?" tanya Brayn sedikit kesal.
"Braynn ... kita uda pernah bicara ini, oke. Kamu dan Alexa memang harus menikah. Kalian juga harus ada jalan bareng agar bisa lebih mengenal satu dengan lainnya," Alice mulai kesal, nada bicaranya mulai tak enak.
"Terserah mama deh, aku uda pasrah. Mau disuruh apa aja aku ikut aja, apalah daya ku coba, aku yang punya badan, mama yang mengendalikan," Brayn tersenyum miris.
"Ehh, enak aja kamu ngomong gitu. Selama ini kamu suka-suka hati kamu aja mau hidup bagaimana ya. Sekarang mama cuma mau atur perjodohan kamu, itu juga demi kebaikan hidup kamu," Alice tak terima dikatakan seperti itu.
Brayn memutar bola matanya malas, "Pagi-pagi aja uda ngajak gelut," ujarnya kesal.
*****
"Ayo lah Brayn, sana ajak Alexa jalan. Mama uda suruh kamu libur hari ini. Kalau bukan untuk jalan dengan Alexa untuk apa lagi coba? Sia-sia tau," Alice mulai ngambek. Bryn ini memang paling bisa buat Alice ngambek.
"Ya kan aku gak minta libur, ma. Aku tanya juga kan tadi sama mama mau libur apa. Tapi mama gak mau jawab pertanyaan aku, yang aneh aku atau mama sih sebenarnya," Brayn menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
"Brayn, ayo lah ... sana jemput Alexa. Hari gini dia uda keliling ini jualan koran. Gak kasian kamu liat calon istri kamu kerja keras begitu?" Alice mencoba membujuk Brayn agar pintu hati Brayn terbuka.
"Kan emang uda kerjaannya sih, ma. Jadi mau diapain lagi coba? Kalau gak ada mama dan aku juga dia selamanya bakalan jadi tukang jualan koran dan jualan bunga keliling kan. Salahnya dimana coba?" Dasar Brayn tak punya hati. Bisa-bisanya dia tak punya rasa kasihan pada Alexa sedikit pun.
Alice menghela nafasnya, "Seharusnya kamu sebagai calon suami itu perhatian sedikit. Harusnya kamu uda nyuruh Alexa untuk gak kerja, kamu suruh aja dia di rumah, atau kasih uang dia buat belanja kebutuhannya,, untuk ke salon, untuk perawatan atau beli skincare. Bukannya malah cuek bebek gini. Gimana sih, kamu?" Alice benar-benar heran pada Brayn, Brayn benar-benar tak punya rasa peduli sama sekali pada Alexa.
"Gak mau, ma. Mama aja sana yang nyamperin dia. Aku gak mau. Mendingan aku tidur di rumah," Brayn menyenderkan tubuhnya ke sofa. Dia mulai menutup matanya sambil membuat kedua tangannya sebagai alas bantalan kepala.
Plakk!!!
"Brayn!!" Alice memukul lengan Brayn sedikit kuat.
"Ihh mama ... apaan sih? Mama kok mukul aku? Malas banget aku gini, di rumah dianiaya terus," Brayn menekuk wajahnya, kedua alisnya sudah hampir menyatu.
"Ya habisnya kamu sih. Kan uda mama bilang, sana kamu susul Alexa, ajak Alexa jalan. Mama ngomong gini kan punya maksud yang baik, biar kalian berdua bisa lebih dekat dan mengenal satu sama lain. Kurang perhatian apa lagi coba mama sama hubungan kalian hah?" Alice bertanya pada Brayn dengan wajah seriusnya.
"Yang ada mama kurang perhatian sama aku. Kan aku gak mau dijodohin sama Alexa, tapi mama maksa. Sekarang yang kurang perhatian mama atau aku? Yang selalu memaksakan kehendak mama atau aku?" tanya Brayn penuh kekesalan.
Alice menatap Brayn tak menyangka, "Ooh ... jadi kamu gitu? Kamu gak ikhlas mau mama jodohin sama Alexa?" tanya Alice meyakinkan Brayn, padahal dia sudah tau jawaban Brayn apa.
"Ya enggak lah, kan uda aku bilang aku gak mau dijodohin, aku gak mau nikah. Mama aja yang terus-terusan maksa aku," jawab Brayn dengan kedua tangan yang dilipat di d**a, mata yang fokus ke depan dan wajah yang ditekuk.
"Oke!! Mama sadar diri! Mama yang ngalah!" Alice langsung berdiri, dia akan pergi meninggalkan Brayn.
"Eeehh!! tunggu, ma," Brayn menarik tangan mamanya yang sudah ingin melangkah pergi.
"Mama mau kemana sih? Kabur lagi? Kayak bocah tau," Brayn menarik mamanya agar duduk kembali.
"Bukan masalah bocah atau enggaknya, Brayn," Alice memandang Brayn.
"Mama ini mama kamu, mama tau mama yang terbaik dan enggak untuk kamu. Mama tau hidup kamu akan lebih berwarna jika kamu menikah bersama Alexa," Alice menjeda ucapannya.
"Mama juga tau, kalau kamu sudah kewalahan menghadapi Bella yang meminta sosok seorang ibu. Mama juga tau kalau hidup kamu itu terlalu datar dan kesepian-"
"Enggak," Brayn memotong ucapan mamanya.
"Siapa bilang kalau hidup aku datar dan kesepian? Aku gak merasa begitu kok. Malah aku ngerasa sendiri itu bahagia. Bella dan mama uda cukup untuk aku, aku gak butuh tambahan orang lain di hidup ku," lanjut Brayn dengan wajah seriusnya.
Alice menghela nafasnya kasar, membuat Brayn mengerti tentang pentingnya pernikahan itu memang hal yang paling sulit.
"Brayn ... percaya lah, nak. Mama ini ngelakuin yang terbaik buat kamu. Mama juga memilih wanita yang baik untuk kamu. Kamu harus percaya dengan mama, nak," Alice mulai bicara dengan nada lembut agar Brayn luluh hatinya.
Brayn menghela nafasnya pasrah. Jika Alice sudah bicara lembut dengan menggunakan panggilan 'nak', maka Brayn tak akan bisa menolak.
"Iya, terserah mama aja lah. Aku ikut apa kata mama," ujar Brayn pasrah.
"Kalau ikut kata mama, yauda sana jemput Alexa. Ajak Alexa jalan, kalian harus pdkt dulu biar klop," Alice langsung menyuruh Brayn untuk menjemput Alexa.
Brayn menggeleng cepat, "Gak mau, aku gak mau jemput Alexa," tolak Brayn dengan cepat.
Alice mengepalkan tangannya geram, Brayn ini memang benar-benar menguji emosinya saja.
"Kalau kamu gak mau hari ini jalan sama Alexa, lusa kamu akan tunangan sama Alexa," ancam Alice pada Brayn.
Alice menganga lebar, ekspresi Brayn memang benar-benar diluar jangkauannya.
Brayn mengedikkan bahunya acuh, dia tak peduli dengan ucapan mamanya.
"Terserah mama, kan uda aku bilang aku bakalan pasrah," ujarnya tak perduli.
"Aku capek hari ini, libur pengen istirahat," Brayn berdiri di hadapan sang mama.
"Aku capek, aku mau tidur dulu,"
Cuppp ...
"Bye, mama," setelah mengecup dahi Alice, Brayn langsung pergi meninggalkan mamanya itu. Brayn langsung pergi menuju kamarnya.
Alice menatap Brayn dengan raut wajah bingungnya, lalu selang beberapa detik dia menggeram kesal.
"Arghh!! Dasar anak membagongkan!! Menguras emosi emang kalau ngomong sama Brayn!" Alice menghentak-hentakkan kakinya kesal.