"Brayn ... percaya lah, nak. Mama ini ngelakuin yang terbaik buat kamu. Mama juga memilih wanita yang baik untuk kamu. Kamu harus percaya dengan mama, nak," Alice mulai bicara dengan nada lembut agar Brayn luluh hatinya.
Brayn menghela nafasnya pasrah. Jika Alice sudah bicara lembut dengan menggunakan panggilan 'nak', maka Brayn tak akan bisa menolak.
"Iya, terserah mama aja lah. Aku ikut apa kata mama," ujar Brayn pasrah.
"Kalau ikut kata mama, yauda sana jemput Alexa. Ajak Alexa jalan, kalian harus pdkt dulu biar klop," Alice langsung menyuruh Brayn untuk menjemput Alexa.
Brayn menggeleng cepat, "Gak mau, aku gak mau jemput Alexa," tolak Brayn dengan cepat.
Alice mengepalkan tangannya geram, Brayn ini memang benar-benar menguji emosinya saja.
"Kalau kamu gak mau hari ini jalan sama Alexa, lusa kamu akan tunangan sama Alexa," ancam Alice pada Brayn.
Alice menganga lebar, ekspresi Brayn memang benar-benar diluar jangkauannya.
Brayn mengedikkan bahunya acuh, dia tak peduli dengan ucapan mamanya.
"Terserah mama, kan uda aku bilang aku bakalan pasrah," ujarnya tak perduli.
"Aku capek hari ini, libur pengen istirahat," Brayn berdiri di hadapan sang mama.
"Aku capek, aku mau tidur dulu,"
Cuppp ...
"Bye, mama," setelah mengecup dahi Alice, Brayn langsung pergi meninggalkan mamanya itu. Brayn langsung pergi menuju kamarnya.
Alice menatap Brayn dengan raut wajah bingungnya, lalu selang beberapa detik dia menggeram kesal.
"Arghh!! Dasar anak membagongkan!! Menguras emosi emang kalau ngomong sama Brayn!" Alice menghentak-hentakkan kakinya kesal.
*****
Hari ini Alice sibuk menata rumahnya untuk dijadikan tempat Brayn bertunangan.
Wedding Organizer sudah siap sedia sejak tadi membantu Alice menata semuanya. Besok adalah hari yang penting untuk Brayn dan Alexa.
"Mama ... Brayn pulang," Brayn masuk ke dalam rumahnya.
Brayn berjalan dengan santai. Saat pulang kerja begini adalah saat-saat yang melelahkan, jadi dia harus menikmati saat-saat sampai rumah dan saat-saat istirahatnya.
Brayn berhenti berjalan, matanya membelalak lebar, dan mulutnya menganga saat melihat ke arah depan.
"Apa-apaan ini?" tanya Brayn shock.
Semua orang yang sedang bekerja langsung berhenti karena mendengar suara Brayn yang keras. Mereka menoleh ke arah Brayn.
"Apa-apaan ini?!! Kalian ngapain di rumah saya? Saya gak ada manggil kalian, dan saya gak lagi mau ngelaksanakan acara apa-apa, kok kalian suka-suka aja ngehias rumah saya begini. Dapat izin dari siapa kalian?!" Brayn langsung melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada semua orang yang sedang bekerja menghias rumahnya.
"Dari mama,"
Brayn menoleh ke atas tangga, dia melihat mamanya yang sedang memakan ice cream cup turun dengan santainya.
Bryan memasang wajah bingungnya, "Hah? Apa-apaan sih ini ma? Maksudnya mama ngapain buat gini-gini? Emang ada yang mau ulang tahun? Perasaan Bella atau mama ulang tahunnya gak bulan ini deh," Brayn langsung bertanya pada Alice.
Alice tak langsung menjawab pertanyaan Brayn, dia terlebih dahulu fokus menuruni anak tangga sambil memakan ice cream yang sejak tadi ada di tangannya.
Sesungguhnya Brayn geram melihat sang mama yang tak ingin menjawab pertanyaannya dan malah memilih memakan ice cream. Tapi mau bagaimana lagi? Alice itu kan mamanya, sengeselin apa pun tingkah Alice, mana mungkin Brayn berani memarahinya.
Alice sampai di hadapan Brayn, dia masih memakan ice cream dengan santai, sambil memandang Brayn dengan serius.
"Mama ... kenapa sih? Ayo jawab. Kenapa mama buat ginian di rumah?" tanya Brayn sekali lagi.
"Ah, masa kamu tak tau sih jawabannya karena apa," Alice menyandarkan dirinya pada besi pembatas tangga.
Brayn menghela nafasnya lelah, "Enggak, ma. Aku gak tau. Masa iya aku tau sebelum dikasih tau, kan aku bukan peramal."
"Ya mama gak bilang kamu peramal, kamu kan Brayn, bukan peramal," balas Alice santai.
Brayn menggeram kesal, "Mama, jangan bertele-tele deh. Ini mau ada acara apa di rumah? Acara arisan mama?" tanya Brayn dengan kesal.
"Enggak," jawab Alice singkat.
"Acara ulang tahun?" tanya Brayn menebak-nebak lagi.
"Enggak,"
"Acara pengajian?"
"Enggak,"
"Acara reunian?"
"Enggak,"
"Mama!!!!!" Brayn berteriak kesal. Mamanya ini benar-benar pandai sekali menguji kesabarannya.
"Mama, jawab benar dong, ma. Aku gak suka ya gini, mama mau ngapa-ngapain gak ngomong sama aku, aku disini gantinya papa, seharusnya aku juga diajak diskusi. Bukannya malah diam dan ngelakuin apa pun sendiri," Brayn sudah lelah, lelah hati lelah bodi.
"Ini buat acara pertunangan kamu lah," jawab Alice langsung.
Brayn yang tadi sudah melangkah pergi meninggalkan mamanya, langsung saja berhenti dan menoleh ke arah Alice.
"Are you kidding?" tanya Brayn tak percaya.
"No, itu kebenarannya dan kamu harus terima. Besok kamu dan Alexa akan bertunangan. Mama uda atur semuanya, kamu tinggal terima bersih aja. Lagi pula kan kamu sudah setuju semalam, ingat kan?" tanya Alice untuk memutar ingatan Brayn kembali.
"Maaa ... mana mungkin aku tunangan secepat dan semendadak ini. Lagi pula aku pikir semalam mama itu bercanda dan gak akan serius gini," Brayn memelas, dia benar-benar tak menyangka kalau mamanya akan serius dan akan melakukan pertunangan hari ini.
"Kamu tau kan, mama mana mungkin bercanda. Apa lagi kalau masalah pernikahan kamu, ya mana mungkin dijadiin bercandaan," balas Alice.
"Udah lah, jangan khawatir, mama uda siapin semuanya untuk kamu. Mama uda beresin semuanya supaya kamu gak capek-capek lagi. Mulai dari undangan, pakaian, makanan, pengisi acara dan hiburan juga uda mama siapin untuk kamu. Kamu gak usah capek-capek lagi. Sekarang tinggal istirahat, besok kamu akan tunangan dengan Alexa, jadi arus siap-siap juga," Alice menjelaskan pada Brayn, bahwasannya semuanya sudah Alice siapkan untuk Brayn dan Alexa.
Brayn memijat kepalanya yang sudah nyut-nyutan, "Mama, mama bikin aku pusing tau. Aku gak mau tunangan tapi mama uda buat ini semu untuk aku, maksudnya apa sih, ma?" tanya Brayn yang sudah lelah. Dia pusing melihat mamanya yang selalu sesuka hati.
"Kalau bukan sekarang kapan lagi? Mau besok, mau lusa, mau beberapa tahun lagi juga kan kamu tetap akan tunangan dan menikah dengan Alexa. Jadi apa salahnya kalau tunangannya sekarang? Cepat atau lambat sama aja kan, gak akan ada yang berubah. Jadi lebih cepat juga lebih baik," Alice berjalan ke arah sofa. Dia langsung mendudukkan dirinya ke sofa. Untuk mengontrol para pekerja.
"Lanjutkan semuanya, saya mau ini selesai secepatnya. Dan saya mau hasil yang terbaik, jangan sampai ada yang gak bagus, ini untuk momen bersejarah di keluarga saya," Alice menyuruh para pekerja yang sejak tadi diam dan menyaksikan perdebatan antara Alice dan Brayn kembali bekerja.
Brayn menoleh ke arah mamanya sejenak, lalu dia langsung melangkahkan kakinya pergi menuju kamar.
"Hahaha ... Alice dilawan, mana bisa," Alice tertawa.
"Semalam bilangnya iya, ya harusnya jangan ngambek dong kalau uda aku siapin semua," ujar Alice dengan santai.
"Lagi pula besok hanya tunangan, bukan menikah. Jadi gak usah setegang itu seharusnya," lanjutnya kemudian.