Bantuan Senior

1171 Kata
"Alexa," Alice memanggil Alexa yang sedang berjualan dipinggir jalan. "Tante?" Alexa langsung menghampiri Alice yang sedang ingin turun dari mobil. "Ikut tante yuk," ajak Alice langsung pada Alexa. Alexa mengerutkan dahinya bingung, "Ikut tante? Mau ngapain?" tanya Alexa penasaran. "Udah ayo, masuk ke dalam mobil, sepedanya titip dulu ke warung ibu itu. Entar tante jelasin sama kamu di dalam mobil," Alice menyuruh Alexa untuk segera menitipkan sepedanya. "Yaudah entar ya tante, Alexa anter sepeda dulu," Alexa langsung menuntun sepedanya menuju warung lontong milik tetangganya itu dan langsung menitipkan sepedanya di warung itu. Setelah selesai menitipkan sepedanya, Alexa langsung kembali menghampiri Alicbe. "Uda?" tanya Alice saat Alexa datang. "Uda, tante," jawab Alexa sedikit ngos-ngosan karena Alexa habis berlari. "Yaudah, yuk langsung aja masuk," Alice masuk dalam mobilnya, Alexa juga ikut masuk ke dalam mobil. Setelah Alice dan Alexa masuk ke dalam mobil, Alice langsung segera menjalankan mobilnya. Ia tak ingin berlama-lama di jalan, Alice ingin cepat-cepat sampai rumah. "Emang kita mau kemana sih, tante?" tanya Alexa yang masih penasaran akan dibawa kemana oleh Alice. "Kita mau ke rumah tante," jawab Alice singkat, Alie masih fokus pada jalanan yang saat ini sedang ramai. Alexa menaikkan sebelah alisnya, "Ke rumah tante? Kok buru-buru banget sih? Emang ada acara apa, tante?" tanya Alexa kembali. "Acara tunangan," jawab Alice yang masih fokus menyetir. Alexa mengerutkan dahinya bingung, "Tunangan? Siapa yang tunangan tante?" tanya Alexa sedikit cemas. "Ya Brayn lah, masa iya tante," Alexa menelan ludah, "Ma-ma-maksud tante Brayn tunangan?" tanya Alexa memastikan. "Iya, Alexa. Besok," Mendengar jawaban Alice membuat jantung Alexa berdetak berpuluh-puluh kali lipat. "Brayn tunangan sama siapa tante? Kok tante izinin sih? Kan Brayn mau nikah sama aku, emang tante uda punya calon mantu baru selain aku?" mata Alexa berkaca-kaca, dia benar-benar sedih mendengar kabar kalau Brayn akan bertunangan besok. Alice menoleh sekilas ke arah Alexa, lalu Alice menepuk dahinya. "Ya sama kamu lah, sayang. Emang yang uda tante jodohin sama Brayn itu siapa kalau bukan kamu? Kamu mah aneh, pikirannya yang enggak-enggak." Jika di rumah ada Brayn yang membuat kepala Alice pusing tujuh keliling, maka saat ini ada Alexa yang siap menggantikan posisi Brayn. Alexa dan Brayn benar-benar cocok, sama-sama selalu membuat Alie pusing tujuh keliling. Alexa menatap Alice tak percaya, "Tante lagi bercanda?" tanya Alexa dengan wajah polosnya. Alice menggeram kesal, "Ya enggak lah, Alexa. Mana mungkin tante bercanda soal beginian," Alexa benar-benar menguji kesabaran Alie. "Kok tunangannya mendadak sih tante? Kan Alexa belum ada persiapan, Alexa belum punya gaun untuk pertunangan besok, Alexa sama sekali gak punya persiapan tante," Alexa menunduk lesu. Brakkk!!!!! Alexa terlonjak keget saat Alice memukul stir mobil dengan tiba-tiba. "Alexa!!!" panggil Alice dengan suara keras. Alexa melihat Alice dengan wajah ketakutan. "Kamu mah aneh tau, ingat Alexa, calon suami kamu itu kaya raya. Calon suami kamu itu pengusaha muda yang sukses, tampan, sempurna dan digemari oleh semua orang," ujar Alice dengan suara lantang. "Kalau gaun untuk tunangan aja kecil ...," Alice menjentikkan jarinya. "Jangankan gaun, tokonya plus desainernya juga bisa dibeli sama Brayn," lanjutnya dengan nada angkuh. Alexa menatap tak percaya saat menyaksikan Alice yang seperti itu, "Bella, Brayn, dan tante Alice ternyata semua sama yah. Gile aja, sekeluarga songongnya sampai ke tulang rusuk uyyy ...," Alexa bicara dalam hati. "Jadi semuanya uda tante siapin?" tanya Alexa pada Alice. "Ya udah lah, masa belum. Kamu sama Brayn tuh tinggal terima bersih aja, tinggal terima enaknya. Uda tante siapin semuanya buat kamu dan Brayn," Alice menjawab dengan bangganya. Alexa mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda bahwa dia sudah mengerti tentang penjelasan Alice. "Emmm ... terus kalau tante uda siapin semuanya buat apa lagi Alexa kesana?" tanya Alexa dengan polosnya. Alice langsung menoleh ke arah Alexa, dia menatap Alexa dengan lama. "Alexa, calon mantu tante, kamu tuh tante bawa ke rumah buat nginap di rumah tante. Karena besok acaranya, jadi kamu harus nginap di rumah tante, sekalian kamu juga harus pendekatan sama Brayn. Kalau Brayn gak mau pendekatan sama kamu, ya kamunya lah yang nyosor duluan, masa iya kalian berdua diam-diaman," Alice menjelaskan panjang lebar pada Alexa. Alexa tersenyum lebar, "Ooohh jadi Alexa uda disuruh tinggal di rumah tante?" "Kalau masalah pendekatan mah tante tenang aja, Alexa bakalan ngelakuin yang terbaik buat hubungan Alexa dan Brayn," Alexa bicara dengan sangat percaya diri. "Sesuai prinsip di hidup Alexa, 'pepet terus, sampai mampus!!'. Alexa gak akan mau menyerah, Alexa pasti bakalan menaklukkan hati seorang Brayn," Alexa bertekad sangat kuat dihadapan Alice. Alice tersenyum senang saat melihat Alexa yang bertekad kuat seperti itu. "Kalau liat kamu, rante jadi ingat perjuangan tante dulu," ujar Alice tiba-tiba. "Soalnya papanya Brayn itu persis banget sama Brayn. Jadi tante yang harus berjuang duluan buat menaklukkan hati papanya Brayn. Persis seperti kamu dan Brayn," lanjutnya kemudian. "Wahhh ... jadi Alexa ketemu sama senior nih tante? Berarti Alexa bisa minta masukan dan solusi plus cara-cara jitu menaklukkan hati seorang pria dari tante dong. Kan tante uda berpengalaman," Alexa kesenangan, dia merasa seperti mempunyai teman satu jurusan yang sudah berpengalaman. Alexa jadi lega, dia bisa punya teman satu jaringan. "Kamu tenang aja, tante mah uda handal banget kalau soal ginian, intinya tuh kamu jangan pantang menyerah. Kamu harus bisa tahan malu plus tahan banting," Alice memberi wejangan untuk Alexa. "Alexa banget itu tante, Alexa uda gak punya malu kalau di depan Brayn," balas Alexa cepat. "Kita uda sampe, buruan turun. Tante mau kasih kejutan buat Brayn," Alice langsung segera turun dari dalam mobil, dan Alexa juga langsung menyusul. Alice dan Alexa secara bersamaan berjalan masuk ke dalam rumah. "Ayo kita naik ke atas," ajak Alice pada Alexa. "Naik ke atas? Mau ngapai tante?" tanya Alexa bingung. Alice mengibaskan tangannya, "Uda deh, jangan banyak tanya, kita naik sekarang," Alice langsung menyambar tangan Alexa. Membawa Alexa naik ke lantai atas. Alice terus menarik tangan Alexa, sampai mereka tiba di depan sebuah kamar. "Ini kamar siapa tante?" tanya Alexa penasaran. "Kamu diam aja dulu, nanti kamu juga bakalan tau kok," jawab Alice yang malas menjelaskan. Tokk tokk tokk!!! Alice dan Alexa menunggu pintu kamar terbuka, namun pintu kamar tak kunjung terbuka. Tokk tokk tokk!! Ceklekk ... Alice mengetuk pintu kamar sekali lagi, dan pintu kamar itu langsung terbuka. "Hallo, Brayn," Alice melambaikan tangannya saat Brayn membuka pintu kamar. Brayn mengerutkan dahinya bingung, "Mama? Ngapain mama kesini?" tanya Brayn bingung. Alice menarik tangan Alexa, membawa Alexa masuk ke dalam kamar Brayn. "Ngapain bawa dia kesini sih, ma?" tanya Brayn tak suka sambil melihat Alexa sinis. Alice perlahan-lahan mundur, Brakk!! Lalu dengan cepat dia menutup pintu dari luar sampai menimbulkan suara bantingan yang kuat. "Mama mau kalian pendekatan di dalam sana!!!" teriak Alice dari luar. "Selamat bersenang-senang kalian berdua!!!" setelah berteriak, Alice langsung pergi meninggalkan kamar Brayn. Alexa tersenyum penuh kemenangan, dia melirik ke arah Brayn dengan senyuman lebarnya, "Senior gue emang paling top dahhh," ujarnya pelan. Brayn balik menatap sinis ke Alexa, "Lo sama mama sama aja, sama-sama diluar nalar!! Jauh-jauh dari gue!! Ogah gue dekat-dekat lo!" Brayn langsung pergi menjauh dari Alexa. Alexa terkekeh kecil, "Inikah yang dinamakan bantuan dari senior?" Alexa bertanya pada dirinya sendiri. "Sangat-sangat membantu," lanjutnya kemudian dengan senyum merekah di bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN